
Halo kakak author up lagi nih 😘🥰
Beri Semangat dong buat author dengan cara LIKE KOMENTAR VOTE DAN BERI RATING 5 YAH KAKAK 🙏 Agar author semangat up up dan up.
...****************...
Sudah seminggu pasca kelahiran baby Diego ke dunia. Tari sudah tak lagi di rawat inap, wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu sudah pulang dua hari yang lalu. Tari tersenyum senang saat melihat putra kecilnya itu sedang asyik menyusu padanya.
"Lihatlah sayang. Diego sangat kehausan, sampai-sampai aku merasa geli karena dia menyedot ASI nya sangat kuat!" Tari tersenyum geli dengan mata tertutup karena dirinya merasa geli di bagian ujung dadanya yang kini berada dalam mulut bayi mungil itu.
"Iya, Sayang. Dia laki-laki yang pintar! Apa kamu tidak lihat saat dia membuka mata. Tatapan nya itu sangatlah tajam." David terkekeh geli sambil mencium pipi Tari. Dia merasa gemas melihat wajah Tari yang kegelian karena ulah putra mereka.
"Dav, apa tidak masalah kamu di rumah aja. Sudah satu Minggu loh, kamu libur!" Tari berucap lembut sambil merebahkan kepalanya di bahu David.
"Tidak apa-apa sayang. Aku ambil cuti selama satu bulan agar bisa bermain dan membantu mu mengurus Diego!" ujar David sambil mengelus pucuk kepala Tari.
"Tapi .."
"Aku menghabiskan masa remaja ku untuk belajar berbisnis. Saat aku menduduki bangku SMA aku sudah bekerja sebagai kepala divisi keuangan di kantor papa. Setelah lulus SMA jabatan ku naik menjadi wakil CEO. Saat kuliah aku sudah membangun perusahaan ku sendiri dan saat aku lulus kuliah aku sudah membangun perusahaan D.J group di tambah anak cabang dimana-mana. Sudah cukup aku bekerja keras di luar rumah saat muda dan sekarang waktunya aku bersantai di rumah menemani anak dan istri ku!" jelas David panjang lebar membuat Tari kagum dengan sosok suaminya.
"Bukankah itu filosofi dari Jack Ma 'habiskan masa muda mu di luar rumah dan habiskan masa tua mu di rumah karena itu adalah seni kehidupan?" Tari mengingat bahwa pernah membaca quote tersebut di sebuah artikel.
"Benar! Dan aku mempraktekkan seni tersebut." David membenarkan ucapan Tari.
"Kamu memang hebat!" Tari mengangkat jempolnya membuat David langsung menggigit jempol Tari.
__ADS_1
"Haduh .. sayang kamu kok kayak singa main gigit." Tari mengerucutkan bibirnya membuat David terkekeh kecil.
"Sayang bibir nya biasa aja. Jangan di majuin nanti bisa-bisa aku terkam lubang semut mu walaupun masih berdarah!" David mengerlingkan matanya membuat pipi Tari merona.
"Oek oek oek." Tari segera merubah posisi baby Diego, karena dia tahu kalau Diego merengek pasti meminta ASI yang sebelahnya.
"Sayang .. kenapa dia selalu minta minum dari dua tempat?" David mengernyitkan dahinya karena tak mengerti.
"Kata bunda kalau bayi itu harus di beri mimik dari dua dada, karena kalau tidak bayi nya akan menangis dan juga dada ku bisa sakit sebelah kalau tidak di keluarkan ASI nya!" Tari menjelaskan sesuai penjelasan Bun Lina hingga David menganggukkan kepalanya.
"Kamu ngerti?"
"Enggak!" jawab David polos membuat Tari menepuk jidatnya. Mereka berdua kembali mengobrol bahkan tak jarang tertawa saat melihat mata baby Diego Ter dan menatap David. Bayi mungil itu belum bisa melihat dengan jelas tapi dia seolah memiliki insting yang tajam saat memandang orang-orang di sekitarnya.
"Sayang aku keluar dulu, ya." ucap David saat melihat arah jarum jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
"Aku mau membereskan masalah Ella dulu!" Tari yang mendengarnya pun hanya bisa menghela nafas panjang karena David benar-benar marah pada Ella dan Alex.
"Kenapa kamu begitu marah Ella dan Alex berciuman sedangkan kamu dulu melakukan hal lebih dari ciuman." Tari tak habis pikir saat mengingat adik iparnya itu tak berani keluar kamar sudah seminggu karena takut bertemu dengan David.
"Seburuk-buruknya seorang pria di masa lalu atau masa sekarang. Mereka tidak akan membiarkan adik mereka berada di jalan yang sama dengan mereka. Aku sebagai kakaknya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Ella selain suaminya kelak," tegas David membuat Tari tersenyum kecil, karena semenjak menikah David sudah berubah banyak.
"Baiklah, pergilah sayang. Tapi ingat! Jangan terlalu kasar pada Ella dan Alex karena bagaimanapun mereka adik-adik mu. Lakukan apa yang menurut mu memang benar tapi aku minta jangan ada kekasaran." David menganggukkan kepalanya, dia juga tak berniat untuk berbuat kasar pada Ella maupun David.
"Aku pergi dulu. Tidak akan lama! Ingat jangan sampai telat makan siang dan jangan makan makanan yang di larang oleh dokter!" David keluar dari kamar menuju ke kamar Ella.
__ADS_1
David mengetuk pintu kamar Ella hingga membuat si pemilik kamar membukakan pintu.
"Kakak." Ella segera memeluk erat tubuh David, dia tahu sang kakak sedang marah. Oleh sebab itu dia mencoba menenangkan David.
"Ikut kakak!" David melepaskan pelukannya lalu berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Ella mempercepat langkahnya, dia menggandeng tangan David berharap kakak nya itu berbicara dengan nya.
"Kakak masih marah, ya. Ella janji akan jelasin semuanya tapi kakak jangan dingin begini," rengek Ella masuk ke dalam mobil. Dia masih saja menggandeng tangan David.
"Restoran MW!" titah David pada sopirnya.
Selama perjalanan Ella mencoba berbagai cara untuk menjelaskan kronologi kejadian tersebut.
"Lalu apa harus kamu mencium Alex hanya untuk menunjukkan kalau kamu juga laku. Apa begitu, El?! Kamu itu wanita jadi tidak seharusnya kamu bersikap tak wajar seperti itu! Apa dengan berbuat seperti itu kamu merasa hebat." David berucap tegas sambil menatap dingin Ella yang menundukkan kepalanya.
"Jawab, El!"
"Tidak kak." Ella menutupi wajahnya dengan tangan. Gadis itu menangis sesenggukan karena untuk pertama kalinya David marah padanya.
"Kau tidak perlu berdebat dengan mereka, kau tidak perlu membuktikan pada mereka bahwa kau laku. Berlian meskipun jatuh ke dalam lumpur dia tetap akan di sebut berlian. Tidak peduli berlian itu mahal atau murah, laku atau tidak. Dan untuk pertama kali kau telah membuat kakak kecewa dengan perilaku mu yang rendah itu." David menatap lurus ke depan, dia tak ingin melihat wajah Ella karena takut pertahanan nya akan luruh. Ella harus di hukum itulah pikir David.
"Kakak .." Ella duduk di pangkuan David, gadis itu memeluk erat tubuh sang kakak.
"Hiks .. Ella salah .. Ella janji tidak akan berbuat seperti itu lagi .. tapi Ella mohon jangan marah lagi!"
__ADS_1
"Kalau kakak marah sama Ella, siapa nanti yang bakal sayang sama Ella .. hiks." Hati David terenyuh mendengar ucapan Ella. Memang benar kalau selama ini cuma David dan orang tuanya yang menyayangi Ella sedangkan orang tua kandung Ella lebih memilih karir mereka daripada merawat Ella. Ibunya seorang dokter dan ayah Ella adik dari Margaret merupakan seorang profesor ternama di Amerika.
Bersambung