Hot CEO Dan Gadis Pelakor

Hot CEO Dan Gadis Pelakor
Dimana David?


__ADS_3

Saat malam tiba Tari tersenyum manis melihat lingerie seksi dalam lemari nya. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya merona begitu juga dengan hatinya yang berdebar-debar seperti anak ABG yang bakal berjumpa dengan doi.


Dirinya memandang tubuhnya yang sudah terlihat sangat berisi. Perut nya yang semakin besar karena usia kandungan Tari sudah menginjak bulan ke 8.


Ya, sudah 4 bulan berlalu semenjak David menginap di rumah Tari di kampung. Sekarang mereka sudah pindah di salah satu mension milik keluarga James di Indonesia bersama dengan orang tua David. Sedangkan untuk bunda Lina dan Yogi mereka berdua masih ingin berada di kampung karena Yogi belum lulus sekolah SMP jadi mau tak mau mereka harus menunggu beberapa bulan lagi untuk bisa memindahkan sekolah Yogi.


Malam ini Tari ingin memberikan kejutan untuk David dengan berdandan seksi. Itu semua dilakukannya agar David semakin mencintai nya. Kepribadian David yang berubah menjadi hangat, perhatian dan protektif pada Tari membuat wanita cantik yang pernah mengalami patah hati itu jatuh ke dalam pesona David.


Tari menyentuh bola voli nya yang semakin besar bahkan ASI nya sudah mulai merembes keluar dari bola volinya. Tari awalnya bingung dan juga takut karena ia tak tahu tentang hal itu. Setelah mama Margaret menjelaskan bahwa tak sedikit ibu hamil yang lebih dulu keluar ASI nya. Itu adalah hal yang wajar. Mendengar hal tersebut Tari BI bernafas lega.


Wajahnya merona ketika mengingat David yang menyedot setiap ASI yang keluar. Pria itu terlihat begitu senang dan menikmati akan aktivitas itu. Ah .. Tari sangat merindukan David! Dimana kamu sayang? Kenapa belum juga pulang?


Tari menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Biasanya David akan pulang jam segini tapi kenapa laki-laki itu tak juga menunjukkan batang hidungnya.


Tari mengambil ponselnya guna menelpon David akan tetapi tak di jawab. 


"Mungkin David sedang sibuk. Makanya dia tidak menjawab telepon dari ku! Ah .. kenapa tiba-tiba hati ku gelisah begini?!" Gumam Tari menyentuh dadanya yang berdebar kencang.


Tari berjalan memutari sekeliling kamarnya karena bosan. Tangan lentiknya mengelus perut besarnya seraya tersenyum lembut.


"Sebulan lagi kamu akan hadir di Duni ini sayang! Kamu akan menjadi anak yang paling bahagia karena kehadiran mu telah di tunggu-tunggu oleh banyak orang. Terutama Daddy dan mommy! Baik-baik di dalam sana sayang ya! Mommy dan Daddy sangat menyayangi mu!" Tari tersenyum lembut mengelus perut besarnya.

__ADS_1


Tari meringis pelan saat merasakan tendangan dari baby boy! Ah .. ternyata anaknya itu merespon baik perkataan nya.


"Kamu tahu aja kalau mommy lagi ngomong! Hihihi .. mommy jadi tidak sabar untuk segera bertarung nyawa untuk melahirkan kamu sayang!" Gumam Tari tersenyum manis walaupun perutnya sakit karena baby boy sangat lasak.


"Kenapa kamu tidak berhenti menendang sayang? Cup .. cup .. tenang di sana ya sayang! Jangan tendang lagi, nanti kalau Daddy tahu dia marah loh!" Lanjut Tari meringis pelan mengusap perutnya.


Karena lelah berjalan Tari pun memilih duduk di kasur. Dirinya tak bisa tidur karena setiap malam David selalu membacakan cerita untuk baby boy yang berada dalam perutnya. Dilihatnya ke arah jarum jam yang ternyata sudah jam 10 malam namun David tak juga pulang. Suami tampannya belum pulanh membuat hati Tari berubah gelisah.


Tari mencoba menelpon David berkali-kali namun tak juga di angkat. Tari menjadi sangat khawatir. Dia segera mengambil gardigan panjang untuk menutupi tubuhnya yang berbalut lingerie seksi. Niat hati ingin memberi kejutan sekaligus servis yang baik untuk David tidak jadi karena sampai sekarang suaminya itu belum juga pulang.


Tari keluar dari kamarnya. Dengan langkah pelan dirinya berjalan karena perutnya yang semakin besar membuat Tari kesusahan bergerak. Tari menuruni anak tangga dengan hati-hati. Di liriknya kiri kanan tak juga melihat orang-orang yang berlalu lalang. Biasanya mertua perempuan nya akan selalu duduk bersantai menonton sinetron suara hati seorang istri bersama dengan mertua laki-lakinya. Namun sekarang tidak ada, kemana semua orang? Itulah pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


Tari melihat pelayan senior yang biasanya selalu menemani Margaret kemanapun pergi pun segera memanggil pelayan tersebut.


Apa aku terlihat seperti ibu tiri yang kejam batin Tari bertanya-tanya.


"Iya nona." Pelayan senior itu menjawab dengan suara yang terbata-bata karena gugup.


"Tenanglah bibi! Aku masih suka daging sapi bukan manusia." Canda Tari menepuk pelan pundak pelayan senior itu yang terlihat kaku dan tegang.


Namun candaan itu tak membuat wanita tua itu tertawa bahkan tersenyum sedikit pun membuat Tari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Bibi! Apa bibi tahu kemana semua orang pergi? Mama dan papa juga tidak ada di ruang tamu? Begitu juga dengan suami ku yang belum pulang? Bukankah biasanya suamiku akan pulang jam 8 malam bersama dengan suami bibi yang selalu menjadi sopir nya menemani kemanapun suami ku pergi?!" Pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan oleh Tari pada wanita tua itu. Keringat dingin membasahi kening dan juga tangan pelayan senior itu.


Tari menatap wajah pelayan senior itu dengan tatapan penuh selidik. Sepertinya ada yang tidak beres di sini.


"Katakan yang sejujurnya, Bibi! Kalau tidak aku akan sangat marah padamu?!" Tegas Tari dengan wajah dinginnya membuat pelayan senior itu menunduk ketakutan.


"Bibi, katakan apa yang terjadi? Kenapa mension sangat sepi? Dimana semua orang?" Tanya Tari dengan suara dingin nya.


"Saya tidak tahu nona!" Pelayan tersebut menjawab dengan tergagap membuat Tari kesal.


Tari bertanya sekali lagi dengan suara yang lembut namun lagi-lagi pelayan itu tak menjawab nya. Tari yang tak ingin ambil pusing karena takut akan berakibat buruk pada baby boy pun hanya bisa menghela nafas panjang. Tak ada gunanya dia bersikap seperti polisi yang mengintrogasi tersangka karena bagaimanapun dirinya tak bisa bersikap kasar pada orang yang lebih tua darinya.


Tari berjalan meninggalkan pelayan senior itu yang menunduk ketakutan. Dirinya berjalan keluar mension guna menunggu kepulangan suami tercintanya.


Sedangkan pelayan senior tadi menatap punggung Tari yang sudah menjauh dengan tatapan yang sulit di artikan. Matanya memerah hingga tanpa sadar menitikkan air matanya ketika mengingat sesuatu yang buruk baru saja terjadi.


Maafkan saya nona batin pelayan itu sedih.


Tari menunggu di depan mension memeluk dirinya sendiri. Berharap seseorang datang dan memeluknya dari belakang seperti biasa. Tapi sekarang orang itu tidak pulang atau bahkan menghubungi nya.


"Nona, sebaiknya Anda masuk ke dalam karena sebentar lagi akan turun hujan!" Ucap salah satu bodyguard keluarga David.

__ADS_1


Tari tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya disini saja menunggu suami saya pulang!" Balas Tari sopan.


__ADS_2