
Dylan melihat ke arah handphone yang bergetar dan menyala “Mau apa coba cewek bucin itu telepon gue berkali-kali gini. Tumben banget.”
“Kenapa, Lan?” tanya Javier berusaha mengintip tas sahabatnya ini.
“Bukan apa-apa.” Dylan merejeck sambungan telepon, “ibu telepon. Padahal kita ‘kan mau presentasi.”
“Matiin aja ponsel lo!” saran dari Javier diikuti oleh Dylan.
“Ayo woi maju!” teriak Kendro yang sudah di depan bersama teman yang lain.
Dylan berdiri dengan mata menunduk menatap makalah yang dia pegang. Lelaki itu menyusul Javier untuk ke depan.
Sedangkan Luna kesal dengan telepon yang malah di rejeck oleh Dylan.
“Sekarang nggak bisa dihubungi!” Ingin sekali Luna membanting ponsel, tetapi tidak jadi karena tidak ada uang untuk beli yang baru, “gue ‘kan mau tuker makalah kita.”
Gadis ini terus memasuki gedung fakultas kedokteran. Ia berniat akan menanyakan kelas Dylan pada mahasiswa yang melintas di koridor.
“Maaf, mau tanya.” Seorang laki-laki yang sedang berbincang dengan teman perempuannya, menoleh, “tahu Dylan Priansyah nggak?”
“Oh, yang rumahnya terbakar itu ya?” Luna cepat mengangguk.
“Benar. Tahu kelasnya di mana?”
“Kalau tidak salah hari ini di ruangan 12, Mbak.” Luna mengangguk paham, “dari sini lurus saja. Terus naik ke lantai 2. Sebelah kiri, dua kelas dari tangga.”
“Terima kasih banyak, Mas.” Luna tersenyum pada wanita sebelah lelaki itu, “permisi mbak.”
Luna menyimpan ponsel ke saku, lalu berlari menuju kelas Dylan yang ada di lantai 2.
Dylan baru menyadari kalau tugas yang dia pegang saat ini bertuliskan nama Luna. Ini bukan makalah miliknya.
"Gawat," gumam lelaki itu saat sampai di depan.
"Gawat kenapa, Lan?" tanya Javier yang tidak sengaja mendengar suara Dylan.
Pemuda itu menatap Javier, lalu beralih melihat ke arah sang Dosen.
“Bu, saya boleh izin dulu?” tanya Dylan pada Dosen berkacamata itu.
Wanita yang duduk di kursi pengajar itu menurunkan kacamata, kemudian menatap Dylan begitu tajam.
“Mau ke mana lagi kamu? Ini sudah waktunya presentasi.”
“Ada masalah sama makalah yang di tangan saya ini.” Dylan mengacungkan makalah berjilid merah itu.
“Kenapa sama makalah kita?” tanya Jihan, teman sekelompok Dylan.
“Itu... anu...” Kendro dan Javier menatap Dylan penuh curiga.
__ADS_1
“Ini ruang 12.” Luna menunjuk pintu yang tertempel nomor. Gadis itu melihat-lihat ke dalam. Tidak sengaja mata Luna dan Dylan saling bertemu, “Dylan!”
Luna melambaikan makalah di tangan kepada cowok itu. Dylan yang ditatap aneh dengan teman-temannya ini lekas berlari keluar dari kelas.
“Eh kamu mau ke mana?” teriak Dosen perempuan ini.
“Lima menit, Bu. Saya ada urusan dulu.” Dylan menjawab tanpa menoleh lagi ke belakang.
Mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu penasaran. Beberapa dari mereka mengintip Kedua orang yang ada berdiskusi itu. Begitupun dengan kedua sahabat Dylan. Mereka melihat-lihat keluar kelas.
Dylan menarik Luna sedikit menjauh dari kelasnya. Gadis ini melepas paksa tangan yang digenggam erat pemuda itu.
“Sakit tahu.”
“Makalah kita tertukar.” Dylan langsung to the point.
“Sudah tahu. Makanya gue ke sini. Mau tuker balik makalah kita.” Luna menunjukkan makalah yang dia bawa.
“Tunggu!” Dylan menoleh ke belakang, teman-teman di kelas tiba-tiba bersembunyi saat Dylan melihat ke arah mereka. Lelaki itu memposisikan tubuhnya dan Luna membelakangi kelas, “sini tukeran.”
Akhirnya mereka saling menukar makalah itu. Untung saja belum ada yang tahu kalau makalah milik Dylan tadi berbeda. Kalau tidak hancur sudah presentasi hari ini.
“Gara-gara lo ini, bikin gue capek saja harus lari-lari ke kelas lo. Lo enak tinggal keluar kelas sedikit,” ujar Luna tidak terima atas kesialan hari ini.
“Enak saja. Lo sendiri yang nggak lihat-lihat dulu. Asal ambil saja tadi.”
“Ngaca! Lo juga sama saja.” Luna menghela napas, “capek harus balik ke kalas lagi.”
“Lo anter gue dulu ke kelas ya!”
“Nggak bisa.”
Luna cemberut, “Kok lo gitu sih. Tega banget biarkan cewek capek.”
“Gue ada presentasi.”
“Dylan!” ketika namanya dipanggil lelaki ini menoleh, “waktumu mengobrol sudah habis. Ayo masuk! Kita mulai pelajaran.”
“Baik, Bu.” Dylan menoleh lagi kepada Luna, “sudah sana balik ke kelas lo!”
Tanpa ada belas kasihan Dylan meninggalkan Luna sendirian di tempat. Pintu kelas ditutup oleh pemuda itu. Perlakuan lelaki itu membuat Luna kesal.
•••
Elina tercengang melihat Luna yang meneguk es teh langsung dari gelas. Gadis itu tidak menggunakan pipet, benda pajang yang berfungsi untuk menyeruput minuman itu telah ia buang.
Luna berhasil menghabiskan satu gelas besar es teh tanpa memedulikan orang lain yang berlalu-lalang di kantin itu.
“Habis lari maraton berapa meter? Haus benar sepertinya.” Elina tertawa pelan sehabis mengejek sahabatnya itu.
__ADS_1
Luna mengatur napas, “Tenggorokkan gue rasanya kering habis ke kelas Dylan tadi. Mana gedung fakultasnya lumayan jauh. Untung saja makalah gue masih diterima sama Dosen.”
“Dylan? Siapa Dylan?”
Luna refleks menutup mulut dengan telapak tangan. Ia menggelengkan kepala.
“Bukan siapa-siapa. Nggak penting.”
“Oh begitu lo sekarang? Main rahasia-rahasia sama gue?”
“Bukan begitu, tapi gue belum bisa cerita sekarang.” Elina menatap Luna kesal, “oke-oke, gue cerita. Jangan ember lo ya?”
“Janji.” Elina mengacungkan jari kelingking ke depan Luna, “gue ‘kan memang nggak pernah ember.”
Luna mengaitkan jari kelingkingnya pula sebentar, “Iya gue percaya sama lo.”
Gadis itu mencondongkan tubuh ke depan Elina hingga perutnya merapat ke meja, “jadi, Dylan ini ibunya adalah teman Papa gue. Sekarang dia dan ibunya tinggal di rumah gue. Tadi kita ke fotokopi bareng, eh karena warna jilid makalah itu sama akhirnya tertukar. Terpaksa gue cari dia di kelasnya.”
Luna menjelaskan dengan suara dikecilkan agar tidak terdengar oleh orang lain.
“Hah, jadi lo sekarang tinggal satu atap sama cowok lain?”
Luna cepat membekap mulut Elina. Suara gadis itu begitu keras. Mana kantin sedang ramai-ramainya.
“Bisa nggak lo ngomongnya santai saja?” Elina mengangguk dan Luna melepaskan bekapan, “nanti gue dapat gosip yang aneh-aneh lagi.”
Luna kembali menjauhkan tubuh dari meja.
“Iya, maaf.” Elina memajukan sedikit bibir dan menaikan kacamata, “gue cuma kaget saja. Ternyata Luna yang polos bisa tinggal bersama...”
“Lagi pula gue nggak cuma berdua. Ada orang tua gue dan dia, ada Bhiru juga.” Sela Luna cepat sebelum Elina melanjukan kata-katanya.
“Orangnya ganteng nggak?” Elina menyeruput es teh yang tinggal setengah.
“Lo masih ingat cowok UKK yang nolong gue?”
Elina mengangguk saja.
“Itu orangnya.”
Untuk kedua kali Elina terkejut, “Itu sih cakep banget, Lun.”
“Percuma cakep kalau ngeselin.”
“Jangan terlalu benci sama orang. Nanti bisa suka loh,” ujar Elina berusaha menggoda.
Luna hanya bergidik geli membayangkan dia yang berbalik mengejar-ngejar Dylan.
“Sudahlah.” Luna berdiri dari bangku, “gue mau pesan makan dulu.”
__ADS_1
“Pesanin gue ketoprak ya! Sedang saja jangan pedas-pedas,” teriak gadis berkepang dua ini dari bangkunya.
•••