
“Luna?”
Gadis yang memejamkan mata itu, lantas membuka mata kembali. Kedua mata membulat saat melihat Dylan ada di depannya.
“Kamu lagi apa di sini?”
“A-anu... permisi gue mau pulang,” balas Luna yang kesulitan memutar sepedanya karena salah tingkah di depan Dylan.
Dylan tidak tinggal diam. Kesempatan bertemu dengan Luna tidak akan dia lepas begitu saja. Laki-laki ini menggenggam sebelah pergelangan tangan Luna. Membuat gadis itu berhenti dan menoleh padanya.
“Kamu masih marah?”
Luna menggeleng, “gue nggak pernah marah. Maaf, boleh lepaskan? Gue mau pulang.”
Dylan tetap mengenggam tangan gadis itu. Ia menganggap angin lalu permintaan Luna.
“Aku nggak akan membiarkan kamu pergi. Dengarkan aku ngomong dulu, Lun! Aku sama Ibu sudah meninggalkan rumah Ayah. Aku menolak perjodohan itu. Mana bisa aku dan Alexa menikah sedangkan aku hanya menganggap dia sebatas adik. Hatiku cuma terisi sama kamu. Bisa ‘kan kita seperti dulu lagi?”
Luna menghela napas dan mengalihkan pandangan.
“Sia-sia dong gue berkorban kalau lo tetap tinggalin, Om Arga?” Luna menatap kembali wajah Dylan, “kenapa lo tinggalkan Om Arga? Dia itu orang tua lo. Kalau lo tinggalin dia demi gue. Gue merasa bersalah Dylan.”
“Ini bukan karena kamu saja. Ayah terlalu banyak menyimpan rahasia. Aku sudah kasih dia kesempatan, tapi dia masih mengecewakan aku dan Ibu. Kamu juga dengar sendiri bukan, kalau Tante Alika mengusirku karena nggak mau menerima perjodohan itu. Ini bukan salahmu. Nggak ada hubungannya denganmu. Aku berhak menolak atau menerima perjodohan karena kedepannya aku yang jalanin bukan mereka.”
Luna bergeming dan tertunduk. Ia prihatin dengan masalah hidup Dylan. Apa lagi Luna memang sangat menyanyagi lelaki itu.
“Luna!” Dylan maju selangkah, kemudian menggengam kedua tangan Luna. Hal ini membuat Luna mendongakkan wajah, “kamu mau ‘kan kita pacaran lagi? Aku nggak mau orang yang aku sayang terlepas lagi.”
“Boleh nanya?” izin Luna dengan matanya yang berkaca-kaca.
Dylan mengerutkan dahi “Boleh, tanya apa?”
“Kok kamu bisa so sweet begini?” tanya Luna dengan wajah hampir menangis.
Dylan tersenyum mendengar pertanyaan konyol kekasihnya. Ia melingkarkan tangan memeluk tubuh kecil Luna yang masih duduk di jok sepeda.
Gadis yang terpeluk ini membalas pelukan Dylan dengan menempelkan pipi ke dada lelaki itu.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku.”
“Itu harus dijawab?”
“Iya, karena itu adalah sebuah pertanyaan.”
“Jawabanya karena itu ke kamu. Kalau ke yang lain mana mungkin.”
Kedua sudut bibir Luna tertarik hingga membentuk setengah lingkaran. Setelah beberapa menit berpelukan Dylan lebih dulu menyudahi.
“Ayo mampir dulu! Makan masakan Ibuku. Masakan Ibuku enak banget.”
__ADS_1
Luna turun dari sepeda dan membiarkan Dylan menuntun sepedanya ke dalam halaman rumah.
“Aku tahu itu, Tante Rania ‘kan juga masak di rumahku saat kalian tinggal bersama keluargaku, tapi aku masih kenyang baru saja habis makan.”
•••
Luna berjalan dipinggir-pinggir gedung fakultas kedokteran. Dia sudah mencari Dylan di kantin, tapi tidak ada. Dihubungi handphone-nya tidak aktif.
Baru akan masuk koridor ponsel milik rumah berdering. Ia buru-buru mengambil benda pipih di dalam tas. Senyuman Luna mengembang ketika melihat nama yang tertulis di layar ponsel.
“Hallo, Dy! Kamu di mana?”
[Aku ada di Laboraturium habis peraktek, sayang. Kamu langsung ke kantin saja. Kita ketemuan di sana.]
Pipi Luna memerah saat lelaki yang dikenalnya selama ini sangat kaku dan tidak banyak bicara itu mengucapkan kata sayang padanya.
“Gemesnya,” gumam Luna pada panggilan yang masih terhubung.
[Hah, apa Lun? Kamu ngomong apa?]
Luna menggeleng walau Dylan tidak melihatnya, “bukan apa-apa. Aku OTW ke kantin.”
Gadis ini, lantas menyimpan kembali ponsel ke dalam tas, kemudian berlari kecil menuju kantin.
Luna sampai lebih dulu di sana. Ia menempati meja yang kosong. Tidak lama Dylan berserta kedua sahabatnya datang. Luna kira mereka akan berduaan saja. Tahunya, malah membawa pasukan. Padahal Luna sudah tega meninggalkan Elina main sendiri.
Luna menggelengkan kepala, “Belum, gue baru sampai satu menit yang lalu.”
“Ya sudah gue saja yang pesan. Kalian mau pesan apa?” tanya Javier yang duduk bersebelahan bersama Dylan.
“Biar punya Luna gue saja yang pesankan.” Dylan melipat jas putih yang baru dilepasnya. Ia menyimpan jas itu ke dalam tas, “kamu makan apa, Lun?”
“Bakso!” sorak Luna, “minumnya samakan saja sama kamu.”
Dylan mengangguk dan pergi bersama Javier mendekati penjual. Hanya beberapa menit makanan itu siap dan keempat orang ini sudah menyantap makanan mereka masing-masing.
“Gue baru ingat, kalian sudah tahu belum?” tanya Javier sebelum menyampaikan maksud dan tujuannya.
Luna yang akan memasukan pentol bakso ke dalam mulut menoleh, “Tahu apa?”
Dylan hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Si Ken, punya gebetan. Mana nasibnya sama dengan Dylan. Dikejar-kejar cewek.” Javier tertawa, “nggak nyangka gue muka pas-pasan ada yang naksir juga.”
“Sembarangan lo! Muka gue ganteng. Buktinya ada yang naksir. Percuma lo yang suka dibilang orang ganteng, tapi gebetan saja nggak punya.”
“Sebentar-sebentar, maksud lo apa tadi nasibnya sama seperti Dylan? Jadi, cewek ngejer cowok itu jelek?” Luna menuntut penjelasan.
“Santai main friends. Ini mentang-mentang pada lagi isi tenaga ngegas semua.”
__ADS_1
“Makanya lo kalau ngomong dipikir dulu,” ujar Dylan memberi nasihat.
“Memang nggak ada otak Javier mah,” celetuk Kendro asal ceplos saja.
“Nggak jelek kok, Lun. Cuma lucu saja lihatnya. Gue pun nggak sangka kalau spesies seperti lo ada lagi. Gue kira cuma lo satu-satunya di dunia.”
Sembari memakan batagor Kendro berucap lagi, “Tapi ini ekstrim lebih dari Luna. Mana gue nggak suka.”
“Kenapa nggak suka?” tanya Luna pada Kendro.
“Iya aneh emang si Indro ini, padahal ceweknya cantik,” ucap Javier.
“Soalnya gue dengar-dengar itu cewek mengejar gue cuma dijadikan bahan taruhan.”
Luna terkejut mendengar penjelasan lelaki itu.
“Makanya, gue malas banget terimanya.”
“Lo tahu dari mana?” tanya Javier.
“Itu kata si Panjul sama Ucup,” jawab Kendro memplesetkan kedua nama teman sekelasnya.
Selagi ketiga orang itu mengobrol Dylan sibuk membuka ponsel yang baru dia keluarkan dari saku celana.
“Alexa?” gumamnya setelah membaca tulisan di layar.
Luna yang mendengar, lantas menatap kekasihnya.
“Alexa kenapa?”
Dylan mendongakkan pandangan, lalu menggeleng.
“Nggak kenapa-kenapa cuma dia kirim pesan.”
Setelah sekian lama Alexa baru mengirimkan pesan pada Dylan lagi. Lelaki ini lekas membaca pesan singkat itu.
Alexa
Hai, apa kabar kakak? Semoga kamu baik saja. Aku sudah lama nggak melihatmu. Sengaja aku menjauh demi mengubah perasaan ini. Aku kirim pesan mau kasih tahu kakak kalau Daddy masuk rumah sakit. Keadaan Daddy terus menurun. Aku harap kakak bisa jenguk Daddy karena Daddy terus menyebut nama Kakak.
Dylan tertegun setelah membaca pesan itu. Luna menjadi khawatir pada pemuda di depannya ini.
“Apa kata Alexa?” Dylan masih bergeming, “kenapa kamu diam saja?”
Javier yang ada di sebelah Dylan mencoba mengintip pesan itu. Ia berhasil membacanya, lalu menyampaikan pada Luna dan Javier.
Luna pindah duduk ke samping kekeasihnya. Memeluk dari samping dan mengucapkan kalimat positif agar Dylan bisa lebih tenang.
•••
__ADS_1