Housemate

Housemate
Brian Menembak


__ADS_3

Tok... tok...


Ketukan dari pintu utama membawa Sinta yang ada di kamar segera melesat ke ruang tamu.


“Sebentar!” teriaknya sembari menguncir rambut asal.


Ketika pintu besar itu terbuka terlihatlah seorang pria berjas berdiri sambil tersenyum ke arah Sinta. Ia sangat mengenal pria ini.


“Selamat sore, boleh saya bertemu Rania?”


Dia adalah Arga, ayah kandung dari Dylan. Pria itu memang datang lagi ke rumah Sinta dan keluarga. Namun, dia belum mengetahui kalau wanita yang dia cari sudah tidak tinggal di situ lagi.


“Maaf sebelumnya, Mas.” Dahi Arga mengerut mendengar permintaan maaf dari Sinta, “Mbak Rania sudah nggak tinggal di sini lagi. Baru saja kemarin mereka pindah rumah.”


“Mereka pindah?” Sinta mengangguk, “kamu nggak membohongi saya ‘kan?”


“Untuk apa saya bohong?”


“Kalau begitu Rania pindah ke mana? Kamu pasti tahu.”


“Saya nggak tahu!” Sinta ingin menutup pintu, tetapi Arga cepat menahan dengan tangannya, “dia nggak ada memberi tahu saya.”


“Mana mungkin kamu nggak tahu. Saya tahu kamu merahasiakannya pada saya. Saya mohon beritahu saya, Bu.”


Sinta berusaha keras ingin menutup pintunya. Namun, Arga masih saja bersikeras menahan pintu itu agar tidak merapat.


“Pergi anda dari sini atau saja akan teriaki maling. Agar semua warga datang untuk membawa anda ke kantor polisi.”


“Saya nggak akan pergi sebelum Ibu kasih tahu saya keberadaan Rania.”


“Tolong! Ada maling!” Sinta benar-benar berteriak. Teriakannya membuat Arga panik dan memperhatikan sekitar.


Lengahnya lelaki itu dimanfaatkan Sinta untuk mendorong pintu lebih kuat. Akhirnya wanita itu berhasil merapatkan pintu dan segera menguncinya.


Arga berdecak sebal. Jarinya hampir saya terjepit. Pria itu melangkahkan kaki menghampiri mobil yang terparkir di depan pagar.


“Bagaimana Bos?” tanya Andre saat melihat wajah kusut majikannya.


“Mereka sudah pindah dari sini.” Arga membuka pintu mobil, “ayo kita pulang saja!”


Andre mengangguk dan lantas masuk ke dalam mobil kembali. Selang beberapa menit kepergian Arga. Dylan dan Luna datang dengan mengendari motor.


Sinta yang sudah masuk ke dalam kembali mengintip dari jendela setelah mendengar suara anak perempuannya. Ibu dua anak ini segera keluar dari rumah.


“Terima kasih sudah antar sampai rumah.” Luna menyerahkan helm pada Dylan setelah turun dari motor.


Dylan menyimpan kembali helm miliknya, “Sama-sama. Besok jangan main lagi ke rumah gue! Ngerepotin saja lo.”

__ADS_1


“Ih!” Luna menepuk pundak lelaki itu sampai sang empunya meringis, “itu omongan yang nggak sopan tahu.”


“Iya, maaf.”


“Luna, Dylan, kalian nggak bertemu pria yang mobilnya terparkir di sini ‘kan?” Sinta menunjuk-nujuk tempat mobil tadi berhenti.


Kedatangan Sinta membuat kedua orang itu bingung dan sesekali saling pandang.


“Orang yang mana, Ma? Dari kami sampai nggak ada mobil di sini,” jelas Luna.


“Syukurlah.” Sinta mengelus dada, “itu ayahmu datang lagi Dylan.”


“Hah? Jadi laki-laki itu ke sini lagi, Tante?” Sinta mengangguki saja, “untuk apa dia kemari?”


“Untuk apa lagi kalau bukan mencari ibumu.”


“Terus Tante bilang apa?”


“Tante bilang kalian sudah pindah. Dia bertanya pindah ke mana, tapi Tante nggak kasih tahu itu. Pesan ibumu selalu Tante ingat. Kamu harus hati-hati kalau bertemu.”


“Iya, Tante. Terima kasih sudah menjaga rahasia.”


Sinta tersenyum, “Sama-sama, Nak.”


“Aku nggak mau kalau Ibu bertemu Ayah akan sedih seperti kemarin.”


“Benar kamu. Jaga ibumu dengan baik.”


“Hati-hati ya, sayang.” Bersamaan dengan ucapannya Luna beringis karena terkena pukul oleh sang Ibu.


Dylan tidak menanggapi itu. Pemuda ini memutar arah kendaraannya saja.


“Aku pamit, Tante. Assalammulaikum.”


“Waalikumsalam.”


Luna melambaikan tangan mengantarkan kepergian Dylan. Sinta menatap putrinya.


“Jangan begitu frontal menyukai orang. Kalau dia nggak suka kamu bagimana?”


“Luna yakin kok, Ma. Dylan itu suka Luna, tapi dia masih malu-malu.” Setelah berbicara seperti itu Luna tertawa kecil dan melangkah masuk ke rumah.


Sinta menggelengkan kepala mendengar ucapan begitu percaya diri putrinya. Sebenarnya sikap Luna tidak jauh-jauh dari sifat Sinta di waktu muda.


•••


Brian berhenti di depan pintu kelas. Saat ini kelas belum begitu ramai. Cuma ada beberapa orang di dalam. Namun, tujuan lelaki itu mengarah pada Luna dan Elina yang sedang duduk berdua dengan Luna sibuk menggambar.

__ADS_1


Lelaki ini jadi teringat kesepakatannya dengan Alexa.


“Oke, Kalau kamu bisa jauhin Luna dari Dylan. Hari ini juga kamu jadi pacaraku.”


“Serius sekarang juga kita jadian.”


Alexa mengangguk, “Iya, tapi kalau mereka masih tetap bersama jangan pernah berharap jadi pacar aku.”


Brian tersadar kembali dari lamunannya saat seseorang yang ingin masuk ke kalas menyenggol pundaknya.


“Maaf, Yan. Gue nggak sengaja.” Orang itu ketakutan saat mengetahui siapa yang disenggolnya.


“Nggak apa-apa,” balas Brian tidak seperti biasanya. Ia bukan tipe orang cepat memaafkan. Kesempatan langka ini dimanfaatkan untuk cepat-cepat masuk oleh mahasiswa itu.


Lelaki berbadan besar dan tinggi ini melangkah memasuki kelas mendekati meja Luna.


“Itu Dylan ya?” tanya Elina yang mendapat anggukan Luna.


“Iya, ini Dylan. Cakep banget.” Luna senyum-senyum saat melukis wajah Dylan.


Tiba-tiba Brian menarik buku gambar milik Luna sampai wajah itu tercoret oleh pensil yang Luna pegang.


“Apa-apan ini.” Luna berdiri, “kenapa lo gambar cowok lain?”


Dahi Luna mengerut, “Suka-suka Luna mau gambar apa. Kembalikan buku gambar Luna.”


“Lo mau ini?” Brian mengoyang-goyangkan buku gambar itu di depan wajah Luna.


“Sini Brian, kembalikan!” Luna berupaya meraih buku miliknya.


Elina yang melihat juga ikut kesal. Gadis itu berdiri dan mengulurkan tangan ke atas untuk membantu mengambil buku gambar sahabatnya. Namun, Brian merobek buku itu. Luna dan Elina terdiam dibuatnya.


“Apa-apaan lo? Kenapa buku gue disobek?”


“Karena gue nggak suka, kalau lo suka sama Dylan. Hari ini kita pacaran.”


Luna dan Elina sama-sama terdiam. Luna tidak habis pikir dengan sikap Brian yang tiba-tiba berubah.


“Bukannya dulu lo nolak gue? Kenapa sekarang malah minta gue jadi pacar lo?” tanya Luna dengan Alis tertaut.


“Gue sudah berubah pikiran. Sekarang lo pacar gue. Sebagai pacar lo harus patuh sama ucapan gue. Mulai hari ini lo nggak boleh berdekatan dengan Dylan lagi.”


Luna bergeming lagi. Jadi pacar Brian memang impian Luna sejak satu tahun belakangan ini, tetapi perasaan itu sudah tergantikan dengan menyukai Dylan.


“Woi semua!” Brian berteriak hingga mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu menoleh padanya, “mulai detik ini gue dan Luna sudah resmi jadian.”


Mereka bersorak sambari bertepuk tangan. Tidak sedikit juga yang mengucapkan selamat untuk Luna dan Brian.

__ADS_1


Elian menyenggol lengan Luna. Gadis itu menoleh dan hanya menatap temannya yang seperti bertanya padanya.


•••


__ADS_2