Housemate

Housemate
Patah Hati


__ADS_3

Aktifitas rumah sakit sudah berjalan seperti biasa. Belum terlalu ramai karena masih pukul tujuh pagi. Dylan berjalan ke arah ruangan yang sudah ditentukan untuk briefing pagi ini. Sebelum semua dimulai mereka hurus berkumpul dan bicara sebentar.


Dylan memasuki sebuah ruangan cukup besar yang sudah diisi oleh beberapa teman sejurusannya.


“Eh, ini Dylan!” ujar Kendro menyambut kedatangan sahabatnya.


Javier yang sedang membaca buku kesehatan menolehkan kepala. Mereka bertiga mendapat rumah sakit yang sama. Dylan bersandar pada meja di sebelahnya.


“Lecek banget muka lo. Habis begadang?” tanya Kendro.


Javier tertawa kecil dan menutup buku tebal itu, “Sepertinya dia pratekkan film kiriman gue.”


“Film apa sih, Lan?” tanya Kendro yang memang tidak diberi tahu.


“Bukan itu, semalem baru tidur beberapa jam. Terus ada maling dikompleks rumah gue. Akhirnya ikut ngejar maling sampai jam empat pagi. Karena takut kesiangan gue nggak tidur lagi.”


Javier tertawa mendengar cerita Dylan, “Nggak apa-apa dapat pahala. Kalau yang itu sudah dilakuin juga?”


Dylan mengangguk saja.


“Kalian ini nggak ada yang ngasih tahu gue. Film apaan?” tanya Kendro sampai tersungut-sungut.


“Kepo banget ini bocah,” celetuk Javier.


“Film cara buat lo,” jawab Dylan yang tidak terlalu keras karena takut terdengar yang lain.


“Idih, parah banget lo, Vier. Meracuni otak Dylan yang masih polos. Berarti benar ya kata anak di kelas kalau lo bandar bo*kep.”


Javier menoyor dahi Kendro, “Sembarangan gue bukan seperti itu. Gue punya beberapa.”


“Bagi dong!”


Baru saja akan mengeluarkan ponsel seorang dokter dan dosen pengawas masuk ke rungan mereka.


Dylan buru-buru menyimpan ransel dan memakai jas miliknya. Semua yang ada di ruangan satu berbaris dengan tertib.


Di ruangan itu hanya ada sekitar tujuh orang yang Dylan kenal karena memang sekelas dengan dirinya. Sedangkan lima lainnya dari kelas yang berbeda.

__ADS_1


Dosen serta dokter yang datang memberi arahan apa yang harus mereka lakukan hari pertama memulai koas.


•••


“Lun, ayo makan siang bersama!” ajak salah satu karyawati yang sudah mulai dekat dengan Luna.


Luna yang dari tadi fokus pada komputer di depannya mengalihkan pandangan sebentar.


“Duluan saja! Ini masih nanggung. Aku sekitar 10 menit lagi.”


“Oke, nanti nyusul saja di kantin.”


Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menatap layar komputer.


Sedang mencoba untuk mengerjakan lagi tugasnya yang belum selesai. Seorang pria mendekati meja Luna.


“Masih bekerja saja?”


Luna mengangguk tanpa melihat siapa yang berbicara, “Iya tinggal sedikit lagi selesai.”


Merasa curiga dengan siapa dia berbicara sebenarnya, Luna menocoba mendongak. Begitu terkejut saat mengetahui kalau itu Arjun.


“Pak Arjun? Maaf Pak bicara saya dari tadi nggak sopan.”


Arjun menggeleng pelan, “Nggak masalah. Bagaimana kamu mau makan siang bersama saya di restoran depan?” laki-laki ini mengulang pertanyaannya.


Luna jadi berpikir. Kalau ditolak dia juga tidak enak, tetapi tugasnya belum selesai.


“Maaf Pak, saya nggak bisa. Masih ada tugas yang harus saja bereskan secepatnya.” Pikir Luna juga segan kalau berjalan berdua saja dengan laki-laki lain.


“Itu ‘kan bisa ditunda dulu. Nanti kamu kerjakan juga nggak masalah. Saya nggak suka loh ditolak.”


Luna menggaruk kepala yang tidak gatal. Tak sengaja Arjun melihat cincin yang gadis itu gunakan di jari manis.


“Itu cincin pernikahan atau tunangan?” tanya pria ini memberanikan diri.


Gadis itu menurunkan tangan dan melihat cincin yang melekat di jarinya. Luna tersenyum pada Arjun.

__ADS_1


“Ini cincin pernikahan saya, Pak. Kemarin tertinggal di kamar mandi rumah. Maka itu nggak saya gunakan.”


Seketika Arjun nampak lesu. Dari awal melihat Luna, dia mulai tertarik. Ternyata wanita ini sudah ada yang memiliki.


“Suami saya itu loh Pak yang kemarin mengantarkan saya. Bapak masih ingat ‘kan?”


Arjun mencoba mengingat kejadian kemarin. Mulanya dia mengira pria itu kakak Luna. Kenyataan lelaki yang motornya Arjun tabrak itu adalah suami Luna.


Pria berjas ini menganggukkan kepala, “Iya saya ingat. Oh itu suamimu. Kalian kelihatan serasi.”


“Makasih, Pak. Dia teman satu kampus saya dulu.” Luna terlihat malu-malu menceritakan.


“Motor suamimu bagaimana? Sudah diperbaiki?”


Luna mengangguk, “Sudah dibawa ke bengkel, Pak.”


“Kalau begitu saya pergi dulu. Baru ingat ada janji sama seseorang. Semangat bekerja!” Pria ini pergi dengan meninggalkan kebingungan di pikiran Luna ssekarang.


“Makan siangnya nggak jadi?” Luna jadi bertanya sendiri, “makan siang sendiri sajalah di kantin.”


Wanita ini mengemasi barang-barangnya sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang kerja.


Arjun tidak mendatangi orang yang dia bilang memiliki janji dengan dirinya. Pria itu melangkah ke arah kamar mandi, lalu memasuki kamar mandi pria dan menguncinya.


Ia melepas kancing jas yang sedang dirinya pakai, kemudian menggulung lengan sebatas siku. Setelahnya, memutar keran dan membasuh kedua tangan di air yang mengalir.


Matanya menatap cermin yang ada di depan. Ia jadi teringat pertama kali melihat Luna. Pesona wanita itu berhasil membuka pintu hati Arjun setelah sekian lama menutup hati karena dikecewakan oleh seorang gadis. Sekarang dia harus menelan kekecewa kembali dan lebih parahnya kecewa sebelum berjuang.


“Baru berharap akan bersamamu, tapi saya harus berusaha melupakanmu.”


Arjun mematikan keran setelah selesai. Kepala dia tundukkan dengan tangan memegang pinggir wastafel.


Cukup lama manajer itu ada di dalam kamar mandi hingga dia memutuskan untuk keluar.


•••


Vote dulu woi. ntar tak lanjut lagi kalau dah banyak votenya 😁

__ADS_1


__ADS_2