
Luna mengayunkan kedua kaki yang menggantung ke lantai. Ia menatap ke tanaman-tamana di depannya. Merasakan ada pergerakan dari sini kanan Luna menoleh dan ternyata itu Dylan.
Gadis ini dengan cepat membuang muka, “Mau apa ke sini?”
Dylan berhenti di samping Luna, “Cuma mau bilang terima kasih sudah dilukis sebagus itu.”
“Kan sudah bilang lewat pesan untuk apa diulang lagi?” tanya Luna tanpa menatap Dylan.
Lelaki yang masih berdiri ini tiba-tiba duduk di sebelah Luna tanpa dipersilakan terlebih dulu.
“Lo masih marah? Kata Elin lo nggak mau sahabatan sama gue.” Dylan membenarkan posisi duduk sedikit menyerong ke arah Luna, “maaf ucapan gue lewat video call itu membuat tersinggung. Gue cuma nggak mau lo merasa dipermainkan.”
Luna menoleh, “Tapi perasaan gue sudah terlanjut dalam. Lo nggak punya perasaan sedikit pun ke gue?”
Dylan termenung. Kemudian dia menggeleng pelan. Luna menghembuskan napas berat dan mengalihakan pandangan ke depan lagi.
“Kak, aku cariin tahunya di sini. Ngapain sih sama cewek aneh ini?”
Dylan dan Luna sama-sama mendongakkan kepala.
“Harusnya gue ya yang tanya, ngapain lo di sini. Keluarga gue nggak undang lo juga,” ujar Luna dengan sinis.
“Dylan itu ‘kan kakak aku. Nggak apa-apa dong aku ikut. Lagi pula ibu yang ajak.”
Dylan menggerakan tangan ke kiri dan kanan berkali-kali, “Bohong, ibu nggak pernah ajak dia. Alexa sendiri yang memaksa untuk ikut. Mungkin ibu nggak enak sama Ayah dan Tante Alika maka itu mengizinkan Alexa ikut.”
Luna hanya menyimak penjelasan dari Dylan. Lelaki itu tampak serius menjelaskan. Seperti dia tidak rela kalau Luna sampai salah paham.
“Kok begitu sih sama aku?” Alexa memukul lengan Dylan, “aku itu cuma menjaga pergaulanmu."
Dylan menoleh, “Memangnya pergaulan gue lagi salah sekarang? Ibu yang melahirkan gue saja nggak melarang kalau mau berteman dengan Luna. Sudah-lah Alexa, lo nggak usah belaga mau melindungi gue. Gue tahu semua yang lo pengin.”
“Sudah kalian jangan bertengkar di sini!” bentak Luna yang merasa terganggu, “mending kalian keluar. Pergi dari sini!”
Dylan kembali menatap Luna, “Tapi masih ada yang mau gue omongin.”
__ADS_1
“Nggak ada yang harus lo omongin lagi sama gue. Lo juga pergi bawa adik lo itu! Gue lagi mau sendiri,” ucap Luna menatap lurus ke depan.
“Ayo kita pergi!” Alexa menarik salah satu lengan Dylan, “kamu dengar kan kita sudah diusir sama cewek aneh itu.”
Dylan mengikuti ajakan Alexa. Ia berjalan keluar dari taman dengan mata masih saja memperhatikan Luna yang sekarang duduk sendirian.
•••
Sedari pukul 6 Dylan sudah tiba di kampus. Padahal hari ini dia ada kelas di pukul 9. Lelaki itu sengaja pergi cepat demi menjauhi Alexa yang terus berusaha mencuri perhatiannya.
“Woi ngelamun saja!”
Dylan yang menopang dagu tersentak saat bahunya ditepuk kuat oleh Javier.
“Lo bikin jantung gue hampir copot.”
Javier hanya tertawa dan duduk di depan Dylan. Ia memperhatikan piring dan gelas kotor di depan sahabatnya itu.
“Tumben nggak sarapan di rumah?”
“Sebenarnya gue sudah datang dari jam 6 dan ada di kantin ini sudah dua jam setengah.”
“Gue serius. Males banget di rumah yang penuh rengekan Alexa. Rasanya gue pengin pindah saja ke kontrakan. Walau hidup susah senggaknya gue sama Ibu tenang.”
“Kenapa nggak coba pindah lagi?”
“Mana mungkin meninggalkan bokap begitu saja. Beliau sudah nggak seperti dulu. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat Ayah makin lemah.”
Javier ikut menopang dagu, “Serba salah. Oh iya, kalau sama Luna sudah baikan? Kata lo kemarin di chat mau makan malam ke rumah Luna. Bagaimana reaksinya bertemu lo?”
“Luna masih marah.” Dylan menghela napas, “gue merasa aneh deh.”
Dahi Javier mengerut, “Apanya yang aneh?”
“Dulu pengin banget Luna yang berisik itu jauh-jauh dari hidup gue. Sekarang dia nggak ada gue merasa sepi.”
__ADS_1
Javier tertawa terbak-bahak membuat Dylan menatapnya bingung.
“Itu namanya lo sedang kehilangan. Lo suka ‘kan Luna?”
Dylan menggelengkan kepala.
“Sudah nggak usah bohongin perasaan sendiri.”
“Gue memang nggak suka,” ujar Dylan yang masih berusaha menepis perasaan terhadap Luna.
Javier menepuk dahi, “Sama perasaan sendiri lu nggak peka. Polos banget teman gue satu ini.”
Lelaki yang diejek Javier ini mengerutkan bibir. Javier menegakkan tubuh, lalu menatap serius sepasang mata Dylan.”
“Lo jawab jujur ya?”
Dylan mengangguk setuju, “Iya.”
“Kalau barada di dekat Luna lo merasa bahagia?”
“Dulunya gue risi sekarang rasanya lebih senang saja kalau ada dia.”
Javier menggosok-gosok dagu, “Lo pengin selalu bisa buat dia bahagia?”
Kali ini Dylan mengangguk ragu. Javier memukul meja dan bergaya layaknya sang pemanah.
“Fix lo suka sama Luna. Sudah tembak saja sekarang."
Dylan menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Siapa yang mau ditembak?” tanya Kendro yang baru saja datang dan bergabung duduk bersama kedua sahabatnya.
“Itu Dylan suka Luna, tapi dia nggak sadar sama perasaan sendiri,” jelas Javier.
“Wih...” Kendro bersorak, “gas, man! Jangan kasih kendor. Gue yakin Luna juga suka sama lo.”
__ADS_1
Dylan menunduk sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
•••