
Sebuah kendaraan roda dua berhenti di depan rumah mewah. Itu adalah Dylan dan sepeda motornya. Sudah lama lelaki ini tidak mengunjungi rumah ayah dan ibu tirinya. Mumpung libur kuliah, dia menyempatkan untuk menjenguk Alika. Tidak lupa membawakan parsel buah sebagai buah tangan.
Dylan menekan bel rumah berkali-kali dan mengucapkan salam. Menunggu sekitar semenit baru pintu rumah terbuka. Seorang pembantu rumah tangga menyambutnya.
“Den Dylan, mau bertemu Ibu?” tanya pembantu itu.
Dylan mengangguk, “Tante Alika ada ‘kan Bi?”
“Ada Den di kamarnya bersama Non Alexa.” Pembantu itu membuka pintu lebih lebar, “silakan masuk, Den!”
Setelah diizinkan untuk masuk lebih dalam Dylan melangkahkan kedua kaki menuju kamar Alika yang sudah dia hafal letaknya.
Hingga sedikit lagi akan sampai Alexa tiba-tiba keluar dari kamar. Gadis berambut lurus dan panjang sepinggang ini tersenyum senang atas kedatangan kakak tirinya.
“Kakak mau datang ke sini kok nggak bilang-bilang?” tanya Alexa yang sudah menghampiri lelaki itu.
Dylan memberikan parsel ke tangan Alexa, “Sengaja biar nggak merepotkan lo. Gue ke sini mau jenguk Tante Alika. Beliau bisa dijenguk ‘kan?”
Alexa menganggukkan kepala, “Bisa Kak. Masuk saja ke dalam. Mommy sedang menonton Tv.”
“Oke.”
“Aku ke belakang dulu.” Alexa menggerakkan tangan yang memegang parsel buah, “aku mau letakkan ini di dapur.”
Dylan mengangguk. Dia dan Alexa melangkah berbeda arah. Dylan membuka pintu kamar perlahan sembari mengucapkan salam.
Alika membalasnya dan menoleh ke arah pintu. Wanita itu tersenyum, “Dylan. Sini Nak, duduk di dekat Mommy!”
Pemuda ini menutup pintu dan lekas menghampiri Alika. Ia duduk sesuai dengan intruksi wanita yang tidak bisa dibilang muda lagi itu.
“Bagaimana kabarmu dan Ibu?” tanya Alika berbasa-basi.
“Kami sekeluarga baik, Tan. Tante bagaimana kabarnya? Kata Alexa, Tante sedang sakit. Jangan telalu dipikirkan tentang meninggalnya Ayah, Tan. Ini sudah takdirnya.”
Wanita yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengangguk pelan, “Syukurlah, tubuh Mommy sekarang sudah membaik. Mommy pun sedang mencoba untuk lebih rela kehilangan Daddy-mu.”
“Syukurlah kalau Tante mulai sehatan. Dijaga pola makannya Tante. Jangan sampai telat!”
Alika mengambil sebelah tangan anak tirinya, “Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan Mommy saja? Seperti Alexa.”
Dylan yang merasakan canggung itu hanya mengangguk. Alika tersenyum sembari menepuk-nepuk tangan Dylan.
“Tadinya saya berpikir kamu mau menikah sama Alexa.” Dylan mendongakkan kepala saat kata-kata itu terucap oleh Alika, “tapi kamu sudah mempunyai kekasih. Daddy-mu juga nggak suka Alexa menikah denganmu. Saya nggak bisa berbuat apa-apa lagi demi membahagiakan Alexa.”
__ADS_1
Dylan menarik tangan yang masih ibu tirinya ini pegang, “Yang aku lihat Tan-eh, Mom. Kalau Alexa sudah lebih dewasa sekarang. Dia tampak mulai move on. Aku selalu doa ‘kan semoga Alexa bisa dapat lelaki yang lebih baik dari aku.”
Alika jadi berkaca-kaca mendengarnya. Ia tahu sesulit apa Alexa bisa sampai ke tahap ini.
“Kamu harus janji sama Mommy! Kamu dan Alexa harus terus akur walau Alexa bukan adik kandungmu. Tolong bantu Mommy menjaga adik perempuanmu itu.”
Dylan tersenyum, lalu menganggukkan kepala.
“Tenang saja, Mom. Aku sudah menganggap Alexa adik aku sejak dulu. Maka keamanan dia juga tanggung jawab saya. Jadi, Mommy nggak perlu cemas masalah ini.”
Alika beberapa kali menepuk-nepuk bahu Dylan. Decitan pintu terdengar dan tak lama suara Alexa menyusul membuat Dylan dan Alika menoleh.
“Asyik benar. Lagi pada ngomongin apa?” tanya gadis yang membawa nampan berisi minuman dan sepiring buah telah dikupas, “gosipin aku ya?” godanya.
“GR sekali kamu. Siapa juga yang gosipin kamu,” balas Alika yang terdengar mengejek Alexa.
Alexa meletakkan nampan di atas nakas, “Siapa tahu ‘kan. Ya sudah kalau nggak gosipin aku juga nggak masalah.”
Dylan tersenyum mendengar ucapan adiknya.
“Itu diminum, Kak! Aku buatkan jus jeruk dan buahnya untuk Mommy. Buah itu dari Kak Dylan loh, Mom. Harus dimakan nanti Kakak sedih.” Alexa kini duduk di atas kasur tepat di bawah kaki ibunya.
Alika tersenyum seperti menahan tawa, “Iya nanti Mommy makan. Jangan nangis ya, Dylan.”
Alexa tertawa mendengarkan ibunya menggoda Dylan. Sedangkan lelaki itu hanya senyum-senyum malu.
•••
Luna hari ini resmi lulus dari Universitas-nya. Dia tidak terikat lagi oleh pembelajaran. Sekarang tinggal ke jenjang yang lebih tinggi. Yaitu berkarier.
“Luna habis ini mau lanjut S2 atau cari kerja?” tanya Seorang lelaki lebih muda dari ayahnya.
Luna tersenyum, “Luna nggak kuat Om kalau harus belajar lagi. Luna berpikir mau cari kerja saja sambil bantu Papa.” Pria yang diketahui adalah adik dari papanya ini tertawa setelah mendengar jawaban keponakan sendiri.
Luna menghadap ke arah pintu. Memperhatikan halaman rumahnya. Namun, tidak ada yang berdiri di depan pagar. Gadis itu sedang menunggu kedatangan Dylan. Kemarin ketika acara di kampus Dylan menyempatkan diri untuk datang dan saat ini lelaki itu belum juga muncul batang hidungnya.
Luna meletakkan gelas berisi minuman berwarna ke meja. Ia lekas berlari keluar saat melihat Rania turun dari ojek.
“Tante, Dylan mana?” tanya Luna saat Rania memasuki halaman rumahnya.
“Sudah dari satu jam yang lalu dia bilang mau ke rumah kamu. Tante pikir dia sudah sampai. Tante baru sempat datang setelah tutup warung.”
“Terus Dylan ke mana?” Luna menjadi cemas.
__ADS_1
“Coba kamu telepon dulu! Siapa tahu dia pergi ke mana dulu gitu,” saran Rania membuat Luna sedikit hilang rasa khawatirnya.
Luna mengangguk, lalu mengajak Rania untuk masuk bertemu Mamanya. Gadis ini mengambil ponsel yang ada di dalam kamar, kemudian berlari ke balkon untuk melihat ke arah depan rumah.
Handphone Luna dekatkan ke telinga hanya operator yang menjawab sambungan telepon Dylan.
“Kamu ke mana sih, Dy?”
Luna menatap layar ponsel yang telah mati. Tidak lama dia mendengar suara klakson kendaraan. Gadis ini melihat Dylan datang serta kedua sahabatnya dan Alexa ada di dalam mobil bersama Brian.
“Luna itu Dylan datang sayang!” teriak Sinta dari lantai dasar.
Gadis bergaun sebatas lutut itu tergesa-gesa menuruni anak tangga. Wajahnya yang khawatir kini terlihat berseri-seri.
Sesampai di halaman rumah Luna memelankan langkan dan berhenti. Ia menatap Dylan yang berdiri di depannya. Para teman-teman yang datang bersama Dylan juga tidak ada yang berbicara semua ini membuat Luna bingung.
“Kamu ke mana saja sih? Kata Tante Rania, kamu sudah pergi dari sejam yang lalu ke rumah aku, tapi sampai Ibumu itu datang kamu juga belum sampai.”
“Maaf, aku menjemput mereka dulu.”
Luna menoleh ke belakang. Tatapan gadis ini bertemu dengan Elina yang berdiri di dekat keluarga besar Luna. Makin bingung Luna mengapa semua orang ikut keluar.
“Ada yang mau Kak Dylan omongin sama kamu,” ucap Alexa membuat Luna menoleh ke arahnya. Gadis yang berdiri di belakang Dylan itu tersenyum.
Luna menatap Dylan serius, “Mau ngomongin apa?”
Pemuda itu merogoh saku jaket. Ia mengeluar kotak periasan berwarna merah. Sebelum menyampaikan niatnya Dylan menghela napas terlebih dulu.
Dylan menatap gadis yang hanya setinggi dadanya itu, “Luna mungkin aku belum mapan secara materi, tapi aku berjanji nggak akan membuat hidupmu susah. Selama dua setengah tahun kita kenal dan setahun ini berpacaran. Aku sudah yakin untuk menjadikanmu pendamping hidup selamanya.”
Lelaki itu membuka kotak periasan yang ternyata berisi cinci, “Will you marry me?”
Mata Luna berkaca-kaca. Kedua tangan menutup mulutnya. Ia tidak menyangka akan dilamar secepat itu.
“Terima-terima-terima!” sorak orang dari belakang Luna dan tidak lama disusul sorakan dari teman-temannya.
“Yes!”
Luna berlari dan melompat menaiki tubuh Dylan. Untungnya lelaki itu siap untuk menangkapnya. Luna hampir membuat jantung keluarganya copot.
“I love you Dylan. I love you! Love you! Love you!” Berkali-kali gadis yang ada di gendongan Dylan ini mengucapkan kalimat cinta di depan telinganya.
Dylan memeluk erat sang pacar sembari tersenyum dia membalas, “I love you more.”
__ADS_1
Orang-orang bertepuk tangan meramaikan sore hari itu yang sangat berkesan bagi Luna.
•••