
Dylan meregangkan otot-otot dengan bergerak ke kiri dan kanan. Akhirnya, setelah dari tadi membantu menangani pasien UGD mulai sepi. Belum ada pasien masuk lagi. Lelaki itu pikir dia bisa untuk istirahat sejenak.
Pria itu menarik kursi, duduk bersandar di sana. Tangan dia lipat di depan dada, kemudian memejamkan mata. Javier dan Kendro tidak terlihat di sekitar lelaki itu. Sekarang sudah pukul 12 malam. Wajar kalau semua kelelahan dan butuh istirahat.
Deana melangkah masuk ke ruang UGD dengan membawa nampan berisi alat medis yang sudah steril. Ia menatap Dylan yang tertidur dengan duduk.
Gadis ini berjalan lebih cepat untuk menyimpan bawaannya, kemudian mencari sesuatu di sana. Deana melangkah menghampiri Dylan kembali. Ia menyelimuti pria itu.
“Kasihan pasti kecapean,” gumam Deana sembari menatap wajah Dylan yang tertidur.
“Dea ngapain lo?” pertanyaan dari seorang yang baru masuk ke ruang UGD itu membuat Deana terkejut sedikit.
Deana meletakkan jari telunjuk di depan bibir, “Sttt... jangan berisik! Kalau dia bangun bagaimana? Sepertinya, dia kecapean.”
Gadis yang ternyata teman Deana ini, menarik perempuan berambut panjang sebahu itu untuk menjauh dari Dylan.
“Lo tahu ‘kan kalau Dylan itu sudah menikah?”
Deana mengehela napas, menatap malas teman yang berdiri di depannya.
“Gue tahu Vani. Istrinya itu cewek yang dulu digosipin sama Dylan ‘kan? Semua orang di kampus gue rasa juga tahu.”
“Terus kenapa masih lo pepet?” tanya Vani.
“Siapa tahu dia niat bercerai terus jadi suami gue.”
Vani membelalakan mata, “Sarap lo ya? Mau jadi pelakor?”
Deana malah tertawa melihat reaksi teman akrabnya itu, “Sudahlah, gue mau tidur di ruangan koas."
Gadis berjas putih itu melangkah keluar UGD. Vani mengekoringnya untuk keluar juga dari ruangan yang sama.
“Kita masih ada tugas jaga malam. Jangan tidur dulu!”
Suara Vani yang sedikit berteriak itu mengusik tidur Dylan. Lelaki ini melihat selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menoleh kembali ke arah pintu, tetapi yang dia dapati adalah kedatangan Javier dan Kendro.
“Sendirian Lan di sini?” tanya Javier melihat UGD sepi.
Dylan mengangguk, “Nggak, bertiga sama kalian.”
Perkataan Dylan membuat Javier mencebikkan bibirnya.
•••
Malam ini Dylan dapat tidur di ruang. Ia jadi rindu sosok Luna yang selalu membuat harinya berisik. Sekarang dia akan terlebih dulu menjemput Luna di kantor. Kata ibu, Luna selalu pulang pukul lima sore. Sedangkan saat ini masih pukul empat. Masih ada satu jam lagi.
Setengah jam lelaki itu menempuh perjalanan dan akhirnya sampai di depan kantor Luna. Dylan harus menunggu beberapa menit lagi sampai pekerja dipulangkan.
Tidak sengaja Dylan bertemu dengan Arjun yang kebetulan keluar dari dalam gedung. Pria berjas hitam ini menghapiri Dylan yang duduk di atas motor.
__ADS_1
“Suaminya Luna ‘kan?”
Dylan mengangguk dan tersenyum tipis, “Iya, Pak. Bapak yang waktu itu?”
“Iya.” Arjun melihat-lihat motor yang dipakai oleh Dylan, “motor sudah diservis?”
“Sudah, Pak. Nggak apa-apa, motor saya masih baik-baik saja.”
“Iya syukurlah. Mau menjemput Luna?”
Dylan mengangguk lagi. Namun, pembicaraan mereka terputus saat Luna datang dengan meneriaki nama Dylan sembari belari kecil.
“Jangan lari-lari nanti jatuh!” ujar Dylan ketika istrinya sudah ada di sampingnya.
“Aku nggak akan jatuh. Aku nggak nyangka kamu jemput. Sudah selesai koasnya?” Luna bertanya dengan wajah yang berseri-seri.
“Untuk hari ini sudah selesai.”
“Ekhem!” Arjun sengaja bantuk dan membuat Luna serta Dylan menoleh, “saya pamit pulang dulu.”
Luna tertawa kecil, “Ada Pak Arjun. Maaf Pak, saya tadi tidak terlalu memperhatikan.”
“Nggak apa-apa, Lun. Saya pergi dulu.”
Arjun pun bergegas pergi dari sana menuju parkiran, mencari mobilnya.
“Dia bosmu?” tanya Dylan membuat Luna mengalihkan pandangan ke arahnya lagi.
Dylan mengangguk mengerti. Menyerahkan helm pada istrinya. Setelah Luna naik jok belakang. Dylan melajukan kembali kendaraannya.
Luna melepas pelukan di pinggang suaminya ketika motor Dylan berhenti di depan rumah. Lelaki itu melepas helm dan turun lebih dulu. Dahinya mengerut saat melihat Luna tidak ikut turun bersamanya.
“Ayo, turun!”
Wanita ini menggeleng dan mengulurkan tangan ke atas tepat di depan Dylan. Pria yang mengerti maksud dari istrinya, lantas menyampirkan tas ke bahu, lalu mengangkat tubuh Luna. Ia menggendong wanita itu.
Luna mengulas senyum. Ia tidak segan memeluk Dylan begitu erat. Dylan melangkah untuk masuk ke rumah.
“Luna kok digendong. Dylan itu pasti capek sayang,” ucap Rania yang berpapasan dengan Rania.
“Nggak apa-apa, Bu. Aku nggak capek.”
“Ya sudah sana, pada mandi dulu!"
Dylan melangkah lagi masuk ke dalam kamarnya. Satu-persatu sepatu Luna, lelaki itu lepaskan, kemudian menurunkan istrinya di atas kasur.
Pria itu membuang tas ke atas kasur. Ia membiarkan Luna masih memeluk lehernya. Mereka saling tatap dengan jarak yang lumayan dekat.
“Aku rindu,” ucap Luna bernada manja.
__ADS_1
“Sudah berapa kali kamu bilang itu?”
“Rinduku nggak bisa dihitung. Terlalu banyak sampai nggak ada tempat untuk menampungnya.”
Dylan tertawa mendengarkan ucapan Luna yang sedikit berlebihan.
“Kok kamu tertawa sih? Aku ‘kan serius.”
“Seserius apa?”
“Seserius aku cinta kamu.”
Dylan tergelak lagi. Namun, kali ini Luna juga ikut tertawa. Lelaki itu mengecup sekilas bibir tipis istrinya.
Luna merasakan tangan Dylan menelusup masuk ke dalam rok yang dia pakai, tetapi wanita itu segera turun dari kasur.
“Aku mau mandi dulu.” Setelah itu Luna melangkah keluar dari kamar.
•••
Tidak terasa sudah sebulan Luna berkarja di perusahaan yang bergerak di bilang properti. Hari ini dia baru saja mengambil gaji pertama.
“Luna!”
Wanita ini menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang yang sudah tidak asing. Ia buru-buru menutup tas yang tadi terbuka karena baru saja meletakkan uang.
“Iya ada apa Mina?” tanya Luna begitu sopan.
Mina teman satu devisi dengan Luna ini melangkah lebih dekat ke depan meja wanita itu, “Karena hari ini gajian rencannya kami dan para karyawan lain pengin keluar karokean. Kamu mau ikut?”
Luna antusias saat mendengar ajakan temannya ini. Ia mengangguki tanpa terlebih dulu meminta izin pada Dylan.
“Nggak minta izin suamimu dulu?”
Ketika Mina mengingatkan baru-lah Luna sadar akan hal itu, “Oh iya, ya sudah saya telepon suami dulu.”
Wanita dengan tatanan rambut dicepol itu dengan senang hati menunggu kepastian dari Luna. Ia tetap berdiri di sana.
Sambungan telepon tersambung, tetapi Dylan tidak mengangkat ponselnya.
“sepertinya suamiku masih sibuk, Na.” Keluh Luna dengan wajah murung, “aku kabari Ibu saja.”
Selesai menelepon ibu wajah Luna seperti senang. Mina menebak temannya ini mendapat izin.
“Saya ikut, Na. Kata Ibu, nggak apa-apa karena ini ramai-ramai. Asal jam sembilan saya harus sampai rumah.”
“Bagus deh, jam lima kumpul di lobby. Lagi pula kita nggak sampai tengah malam. Besok ‘kan harus bekerja lagi.” Mina mengulas tesenyum, “saya permisi dulu.”
Luna mengangguk dan tersenyum. Mina kembali ke meja kerjanya yang tidak jauh dari tempat Luna.
__ADS_1
•••