Housemate

Housemate
Bukan Saudara Kandung


__ADS_3

Kalau sudah sore seperti ini Jakarta pasti sangat ramai. Banyak orang yang kembali dari selesai bekerja atau sekolah. Dylan dan Luna harus rela ikut bermacet-macetan.


“Lun, kita ke rumah aku dulu ya.” Dylan menatap kekasihnya melalui spion motor.


Luna mengangguk, “Memang mau ngapain?” Ia bertanya dengan suara yang dikeraskan.


“Kemarin Ibu belikan baju untuk Tante Sinta. Dia suruh aku bawa, tapi aku lupa karena tadi pagi buru-buru ke kampus,” jelas Dylan dengan suara setengah berteriak.


Klakson kendaraan lain yang kadang tak berhenti dan suara mesin membuat suara mereka susah untuk terdengar.


“Tante Rania repot-repot amat.”


“Kata Ibu itu untuk kado ulang tahun Mamamu.”


Ketika jalan kembali normal Dylan melajukan lagi motor matic miliknya membelah jalanan Ibu Kota.


Luna baru ini datang ke rumah Dylan selama lelaki itu tinggal bersama ayah kandung. Rumah besar ini membuat Luna cukup terpukau. Gadis itu turun dan menyerahkan helm pada Dylan.


Dylan membawa Luna ikut masuk ke dalam rumah. Ia mempersilakan Luna untuk duduk dahulu.


“Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu.” Dylan membuang ransel ke sofa, “sudah nggak tahan kalau harus lari ke atas.”


Luna mengulum bibir, lalu menganggukkan kepala. Gadis itu sangat susah menahan hasrat ingin tertawa. Tidak menyangka Dylan kelakuannya lucu juga.


Setelah mendapat persetujuan kekasihnya, Dylan berlari ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari kamar ayahnya.


Lima menit berlalu, pemuda itu sudah keluar lagi dari dalam kamar mandi. Ia membenarkan sabuk pinggang sembari berjalan pelan. Namun, tidak sengaja dia mendengar Arga dan Alika menyebut-nyebut namanya. Dylan menguping dan mengintip dari sela pintu yang terbuka.


“Harusnya bagus dong, Mas. Kalau Alexa kita jodohkan saja bersama Dylan. Kamu nggak mau ‘kan Alexa stres seperti kemarin-kemarin karena hanya cintanya nggak terbalas?” Alika berbicara dengan berdiri di depan suaminya.


Arga yang ada di kursi roda itu menggeleng, “Nggak bisa Alika! Alexa itu adiknya Dylan.”


“Kamu jangan menutup mata kalau mereka itu nggak sekandung. Mereka nggak ada hubungan darah sama sekali. Kalau mereka menikah harta milik Alexa juga akan milik Dylan. Anakmu itu nggak akan terlantar seperti dulu.”


Mulut Dylan terbuka, pemuda ini baru tahu kalau Alexa bukan anak ayahnya, lalu siapa ayah kandung Alexa?


“Nggak! Kalau saya bilang nggak ya nggak. Saya akan membagi dua harta peninggalan ini untuk mereka.”


“Saya nggak setuju. Kalau kamu nggak mau menikahkan mereka. Semua harta peninggalan orang tuaku akan aku berikan pada Alexa. Dylan nggak akan dapat sepeserpun.”


“Nggak bisa seperti itu selama ini saya yang mengelola usaha ayahmu. Saya yang mempertahankan semua yang ayahmu punya agar nggak lenyap begitu saja. Anak saya juga harus dapat pembagian!”


“Kamu cuma mempertahankan sedangkan semua milik Ayah saya. Kamu hanya orang luar, Mas.”


“Ingat Alika kalau bukan karena saya mungkin nama baik keluargamu ini telah rusak. Saya yang memperbaiki kesalahan laki-laki breng*sek itu. Ayahmu sampai memohon pada saya.”

__ADS_1


Alika tertegun, “Tapi kamu juga mengincar harta Ayah bukan? Kamu mau sama saya karena saya kaya, iya ‘kan? Saya tahu semuanya. Saya mendengar pembicaraanmu dengan orang yang ada di telepon, tapi saya nggak ada mengadukanmu ke Ayah.”


Dylan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ternyata masih banyak yang Arga sembunyikan darinya.


“Heh tukang menguping!” teriakan Alexa membuat Dylan, Arga dan Alika menoleh pada sumber suara.


Gadis yang baru sampai di rumah itu menujuk ke arah Dylan. Luna juga terkejut karena ulah perempuan itu. Luna dengan erat meremas tali ransel yang dia pakai.


Alexa tidak menyadari sosok Luna yang duduk di ruang tamu. Gadis ini, lantas berjalan menghampiri Dylan.


Alika dan Arga bergegas keluar dari kamar. Keempat orang itu saling tatap sekarang.


“Mom, Dad, ini cowok menguping kalian,” ucap Alexa menunjuk Dylan.


Dylan menatap Arga dan Alika dengan penuh pertanyaan di kepala. Arga tampak khawatir kalau Dylan mendengar sumua percakapan dirinya dan Istri.


Karena penasaran ada keributan di rumah itu Luna perlahan coba mendekati keluarga yang sedang berkumpul di depan kamar.


“Aku mau tanya ke kalian. Apa benar Alexa bukan anak kandung Ayah?” tanya Dylan yang ingin memastikan apa yang baru dia dengar.


Alexa tampak bingung dengan pertanyaan saudara laki-lakinya. Sedangkan Arga ragu akan menyampaikan jawaban.


“Iya, benar.” Alika menyambar begitu saja, “Alexa bukan anak kandung Ayahmu. Kalian nggak sedarah.”


Alexa sampai terkejut mendengarnya, “Benaran, Mom? Jadi, aku boleh dong masih suka sama Dylan.”


“Boleh sayang. Bahkan Mom dan Dad akan menjodohkan kalian.”


“Nggak!” bersamaan Dylan dan Arga menolak keputusan sepihak Alika.


Baru saja akan tersenyum Alexa sudah kembali lesu. Dylan menoleh ke Arga yang mendukungnya.


“Aku nggak cinta sama Alexa, Tante. Lagi pula saya sudah punya pacar.” Dylan menatap ibu tirinya ini dengan tajam.


“Saya juga nggak merestuin! Alexa dan Dylan itu kakak-adik. Walau mereka nggak sedarah sekalipun. Mereka berdua anak saya!”


“Daddy kenapa nggak merestui saja? Aku cinta sama Dylan sejak lama. Kalau kami menikah aku sah jadi anak Daddy seutuhnya.”


Arga menatap Alexa penuh kesabaran, “Sayang, kamu memang anak Daddy. Saya yang membesarkanmu. Kamu anak Daddy seutuhnya tanpa menikah dengan Dylan. Sadar kamu! Dylan ini kakakmu.”


Alexa meneteskan air mata. Ia juga menggeleng pelan. Dia masih tidak bisa menerima kalau Dylan menjadi kakaknya saja seumur hidup.


“Kalau kamu nggak mau menikah dengan Alexa berarti kamu nggak akan mendapatkan pembagian harta warisan. Sekarang juga kamu pergi dari rumah saya!” Alika menunjuk ke luar.


“Aku nggak butuh harta, Tante. Karena aku ada di sini bukan untuk memungut harga kalian. Aku ke sini demi Ayah. Ayah yang selama ini aku rindukan. Aku akan pergi bersama Ibu meninggalkan rumah kalian.”

__ADS_1


“Jangan, jangan pergi, Nak!” Arga yang menangis mengalangi jalan Dylan menghunakan kursi roda, “Alika, saya mohon padamu. Jangan usir anak saya dan Ibunya!”


“Jangan pergi!” Alexa juga membantu Arga memohon pada Dylan.


Ketika keadaan sedang kacau Luna mendekat pada kerumunan itu. Dylan menyadari kedatangan Luna. Gadis berambut sebahu ini sudah menangis sedari tadi. Ia mengusap pipi yang basah. Mencoba tersenyum menatap orang-orang yang kini melihat ke arahnya.


“Dylan jangan tinggalkan keluargamu! Menikah saja sama Alexa agar keluarga kalian tetap utuh. Bukannya selama ini kamu cari Ayahmu ‘kan? Masa kamu mau meninggalkan beliau sekarang. Apa lagi beliau sedang sakit keras.”


Dylan menggelengkan kepala mendengarkan ucapan Luna.


“Aku ikhlas melepasmu untuk Alexa. Mungkin, kita memang bukan jodoh.” Luna tersenyum pada Alexa, “selamat, semoga langgeng. Aku pamit pulang dulu.”


Luna berjalan pergi sembari masih menangis deras. Mana ada orang yang benar-benar ikhlas memberikan orang yang paling dia cinta. Apa lagi selama ini dia sudah berjuang untuk mendapatkan orang itu.


“Semua ini gara-gara kalian!” Dylan menatap benci pada ketiga orang di hadapannya, “Luna tunggu!”


Dylan mengejar Luna sampai ke teras rumah. Ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu. Hal ini berhasil menghentikan langkah Luna.


“Ada apa lagi?” tanya Luna menatap sendu kekasihnya, “mulai hari ini kita nggak ada hubungan. Kita putus!”


“Kamu nggak bisa memutuskan sepihak begitu dong. Aku nggak mau putus!”


“Kita harus putus karena kamu mau menikah dengan Alexa. Alexa itu bukan adikmu. Kalian bisa menyatukan dua keluarga dengan resmi sekarang.”


“Nggak ada yang mau menikah! Kalau pun aku mau menikah nantinya itu sama kamu bukan Alexa.” Dylan menarik gadis kecil itu ke dalam pelukan, “Luna coba mengertilah, aku ini cintanya sama kamu.”


Luna mendorong tubuh Dylan sampai pelukkan mereka terlepas. Gadis ini juga menarik tangan yang dari tadi Dylan genggam.


“Kalau kamu memilihku, kamu akan kehilangan Ayahmu Dylan. Sadar! Kita nggak bisa jadi satu. Jangan temui aku lagi!”


Lagi, Dylan memegang lengan Luna saat gadis itu ingin pergi.


“Lepas! Aku mau pulang.” Gadis ini tidak berhenti memberontak.


“Aku antar ya?”


“Nggak! Aku bisa pulang sendiri.” Luna menggigit tangan pemuda itu hingga menjerit kesakitan. Setelah berhasil lepas Luna berlari pergi.


Luna berpapasan dengan Rania yang baru pulang bekerja. Namun, gadis itu tidak membalas sapaan ibu dari kekasihnya ini.


“Luna kenapa?” tanya Rania.


Namun, bukannya menjawab Dylan malah memeluk sang Ibu.


•••

__ADS_1


maaf ada guncangan 😭🙏🏻


__ADS_2