Housemate

Housemate
Luna Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Dylan mengambil potongan foto yang mencuat dari halaman buku. Ia menatap foto yang tidak jelas rupanya itu.


“Apa ini benar Ayah?” lelaki itu bergumam, “mengapa ibu nggak pernah mau memberitahu gue semua tentang Ayah. Walau dia sudah nggak ada.”


“Dor!”


Dylan tersentak dan menjatuhkan foto di tangan. Ia menoleh ke belakang. Seketika geram saat tahu siapa yang mengejutkannya.


Luna tertawa kesenangan melihat reaksi Dylan. Kemudian dia terdiam dan berebut untuk mengambil foto yang terjatuh ke lantai. Namun, sayang Dylan lebih dulu mendapatkan. Lelaki itu lekas menyimpan ke dalam tas.


“Foto siapa itu?” tanya Luna yang berdiri di samping Dylan.


“Bukan siapa-siapa.”


“Hm, foto gebetan lo ya?” Luna mengacungkan jari telunjuk ke depan lelaki itu, “atau foto Alexa. Diam-diam lo suka ‘kan.”


“Nggak usah aneh-aneh deh pemikirannya.” Dylan menutup ransel dan memakainya, “gue sudah bilang kalau gue nggak suka sama Alexa. Dia cuma gue anggap teman.”


Luna menghalangi jalan Dylan, “Terus lo suka sama siapa?”


Dylan berhenti melangkah dan menatap gadis di depannya dengan tajam.


“Masa lo nggak punya gebetan?”


“Gue mau fokus kuliah dan membahagiakan ibu dulu. Soal perasaan gue itu belakangan.”


Setelah menyampaikan itu Dylan bergeser dan melanjutkan langkah. Luna mematung, lalu menarik sudut bibir membentuk bulan sabit.


“Dylan bareng!” Gadis ini mengejar lelaki yang sudah jauh melangkah di depannya.


Sampai di halaman rumah dan melihat Dylan sedang menyalakan mesin motor Luna dengan cepat menyambar satu helm lagi yang ada di depan pemuda itu.


“Gue mau bareng lo.” Saat Luna ingin memasang helm ke kepala lelaki itu menarik helmnya, “apa sih?”


“Lo nggak usah bareng gue. Lo mau gosip itu makin menjadi-jadi?”


Luna menarik helm lagi dan segera memakainya, “Menurut gue nggak apa-apa. Sekalian gue jadi famaous.”


Dylan mengulurkan satu tangan ke dahi gadis di hadapannya. Ia merasakan suhu tubuh Luna.


“Panas, pantas saja otak lo geser.”


Luna yang mendengar itu menggigit bibir bawah dan menatap Dylan dengan kesal.


“Enak saja. Gue ini sehat, tapi otak gue memang sudah geser saat kenal lo.”


Pemuda itu bergidik ngeri. Luna malah tertawa kesenangan. Ia tidak peduli kalau Dylan terus menolak memberinya tumpangan. Dia tetap naik ke boncengan.


“Kesambet apa lo?” Dylan menoleh ke belakang saat pinggang dipeluk gadis itu, “perasaan kemarin masih normal.”

__ADS_1


“Kesambet cintanya kamu, Mas.”


Dahi Dylan berkerut. Namun, seketika mendapat tepukan di bahu.


“Ayo jalan! Nanti kita telat lagi.”


•••


“Elin... Elin...” Dengan berlari menyusuri koridor fakultasnya Luna mengejar Elin yang ada di depan.


Gadis yang tidak bosan mengepang dua rambutnya itu menoleh ke belakang. Ia membenarkan kacamata yang sempat menurun.


“Ada apa, Lun?”


Luna tidak berhenti-henti tersenyum, “gue tadi habis menumpang motor Dylan lagi dong.”


“Lo nggak takut banyak yang lihat? Gosip lo sama Dylan itu baru saja mereda. Nanti kalau jadi hot lagi bagaimana?”


“Nggak apa-apa dong. Dari pada Dylan digosipkan sama Alexa. Mending sama gue.”


Elina merasa ada yang tidak beres dengan pemikiran sahabatnya itu. Ia menoleh ke kiri dan kanan, banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Gadis berkacamata itu menarik lengan Luna untuk menjauh dari keramaian.


“Lo sehat-sehat saja ‘kan, Lun?” Elina menyentuh-nyentuh wajah gadis di depannya. Bermaksud memeriksa suhu tubuh Luna.


Luna menepis kedua tangan yang mengacak-acak wajahnya, “Gue sehat. Lo sama Dylan pertanyaannya sama saja.”


“Habisnya, lo tumben senang banget terlibat masalah sama Dylan. Biasanya pasti ngomel-ngomel.” Elina memberi jeda pembicaraan, “jangan bilang lo...”


Gadis yang masih memakai sling bag itu mengedipkan mata berkali-kali dari balik kacamata.


“Coba cubit gue!” Elina mengulurkan sebelah tangan ke depan Luna.


Dengan patuh Luna mencubit hingga gadis itu memekik kesakitan.


“Ini bukan mimpi.”


Luna mendengus, “Memang ini bukan mimpi, tapi sebuah kenyataan.”


“Lo seriusan suka sama itu cowok?”


Luna mengangguk semangat, “Seriuslah, gue sadar nggak ada yang harus gue benci dari dia. Dia itu cowok baik, bertanggung jawab, sopan, walau agak nyebelin kadang-kadang. Gue juga beberapa hari ini merasakan deg-degkan berlebihan setiap dekat Dylan. Satu lagi, saat dia ngurus anak kecil dengan sangat cekatan. Ugh, hati gue rasanya langsung meleleh.”


“Bagus sih kalau lo sudah bisa move on sepenuhnya dari Brian, tapi ini bakal timbul masalah baru.”


Luna yang sedang menghayal kebahagian tiba-tiba menatap serius Elina, “Apa?”


“Alexa. Lo tahu Alexa suka Dylan.”


“Tapi Dylan nggak suka Alexa. Dia sendiri yang bilang.”

__ADS_1


“Memangnya Dylan suka sama lo?”


Gadis berambut sebahu itu bergeming. Ia perlahan menggelengkan kepala.


“Belum tahu sih, tapi gue akan bikin dia suka sama gue.”


“Caranya?”


“Ada deh. Ini gampang buat gue yang serumah sama dia.”


“Lo sama dia serumah?”


Luna menutup mulut karena keceplosan. Gadis itu memilih meninggalkan Elina. Sedangkan gadis berkepang dua itu lekas menyusul sahabatnya.


•••


Siang ini Dylan, Kendro dan Javier sedang menikmati makan siang di sebuah Kafe yang tidak jauh letaknya dari kampus mereka. Namun, tidak lama ketiga lelaki itu kedatangan sosok perempuan yang sudah tidak asing lagi, yaitu Alexa.


Gadis itu meminta untuk bergabung. Karena tidak enak untuk menolak mereka mengizinkan Alexa untuk makan satu meja.


“Gue lagi butuh kerjaan nih.” Dylan membuka percakapan saat sedang menyantap pesanan yang sudah datang dari tadi.


“Di perusahaan bokap gue lagi nggak ada, Lan,” jawab Javier sebelum melahap lagi makanannya.


“Restoran bokap dan nyokap gue juga nggak ada lowongan kerja. Lo mau kerja apa?” tambah Kendro sesudah menyeruput jus di depannya.


Dylan menghentikan makan, “Apa saja sih yang bisa gue kerjain. Gue lagi butuh banget uang untuk sewa rumah baru. Nggak enak ‘kan kalau merepotkan saudara gue itu.”


Alexa masih menyimak saja pembicaraan itu hingga dia ikut menimpali, “Kalau kerja di peternakan mau nggak?”


Dylan menoleh pada Alexa, “Nggak apa-apa, Sa. Peternakan bokap lo ada lowongan?”


“Belum tahu sih, tapi aku usahakan ada. Dari pada kamu susah cari kerja. Gajinya juga lumayan kok.”


Lelaki itu bergeming. Kendro menyenggol lengan Dylan, lalu menyeletuk.


“Ambil saja, katanya butuh pekerjaan.”


“Kalau Dylan kerja di peternakan Daddy berarti bisa lebih dakat dengan aku. Nanti akan aku suruh Daddy kasih gaji yang banyak agar Dylan cepat keluar dari rumah itu,” ujar Alexa di dalam hati.


“Bakal tabrakan nggak ya sama jam kuliah gue?” Alis pemuda itu menaut saat menatap Alexa.


“Kamu bisa kerja sesuai jam kosong saja. Nanti aku tanyakan Daddy ya.”


Dylan tersenyum tipis, “Terima kasih.”


“Sama-sama.” Alexa membalas dengan senyum lebar.


“Sudah nggak usah bahas pekerjaan lagi. Makanannya dihabisin! Habis ini kita masih ada jam,” ucap Javier menunjuk makanan di depannya.

__ADS_1


•••


__ADS_2