Housemate

Housemate
Jatuh


__ADS_3

“Brian nembak Luna?” celetukkan Javier saat makan siang itu membuat Dylan tersedak makanan sampai batuk-batuk.


“Pelan-pelan,” ujar Kendro memberikan minuman yang tadi mereka pesan bersama. Lelaki ini beralih melihat ke Javier, “seriusan lo? Bukannya dulu Brian nolak Luna?”


Dylan menyimak sembari meminum air yang ada di dalam gelas.


“Serius, ini lo lihat sendiri.” Javier menunjukkan handphone miliknya, “di sosmed sudah tersebar beritanya.”


Kendro menoleh pada Dylan, “Lo tahu masalah ini?”


Lelaki yang ditanya itu menggeleng, “Luna nggak pernah cerita kalau Brian sudah menyukainya.”


“Aneh banget.” Javier meletakkan ponsel di atas meja dan lanjut menghabiskan soto ayam yang tinggal setengah porsi, “dulu ditolak mentah-mentah sekarang malah ditembak balik. Benar ya karma itu ada.”


“Yang gue tahu Brian itu kecintaan banget sama Alexa ‘kan? Lo pada ingat yang di perpustakaan itu.” Sembari makan Javier mengangguki, “nah, aneh banget kalau dia tiba-tiba suka Luna.”


“Kan gue bilang, dia itu kena karma.”


Dylan bergeming dengan terus mendengarkan ucapan kedua sahabatnya. Sebenarnya, sambari makan dia memikirkan juga mengapa Brian bisa tiba-tiba menyatakan cinta pada Luna. Ia takut kalau Luna akan jadi bahan lelucon lagi untuk Brian.


Pemuda ini melepas sendok hingga berdenting mengenai piring. Tindakkannya membuat Javier dan Kendro menoleh.


“Lo kenapa?” tanya Kendro.


“Gue harus pergi.” Dylan meraih ransel yang ada di bangku. Ia mengeluarkan uang dari dalam saku kemeja, “tolong bayarin!”


Setelah menyerahkan uang itu ke kendro Dylan bergegas lari meninggalkan kantin. Padahal makanannya belum habis.


“Kenapa sih tuh bocah?” tanya Kendro. Namun, Javier hanya menjawab dengan mengedikkan kedua bahu.


Sedangkan di tempat berbeda. Luna sedang berjalan santai sendirian sambil memikirkan pernyataan yang lebih kepaksaan tadi pagi Brian sampaikan padanya.


“Aneh banget si Brian. Apa tadi pagi salah sarapan? Tiba-tiba maksa pacaran. Ditolak malah marah-marah. Memangnya hati gue ini terbuat dari karet yang elastis, gampang kalau mau dibuang atau pungut lagi.”


Luna berhenti melangkah saat dia melihat ban motor ada di hadapannya. Ketika mendongakkan kepala gadis itu tersenyum melihat Dylan datang tanpa dia yang datangi duluan.


“Mau jemput gue ya? Tahu saja kalau gue sudah selesai kelas.”


“Lo benar di tembak Brian?”

__ADS_1


Mata Luna membesar. Kemudian dia menganggukkan kepala.


“Semuanya benar, tapi gue nggak terima. Sudah gue tolak. Gue ‘kan sukanya sama lo sekarang.”


Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan oleh Dylan saat mendengar penjelasan Luna.


“Luna!”


Panggilan dari suara yang sudah tidak asing lagi membuat Luna dan Dylan menoleh ke orang itu.


“Brian?”


“Sudah gue bilang jangan dekat-dekat Dylan! Lo itu pacar gue sekarang. Ayo gue antar pulang.”


“Nggak mau!” Luna berlari kecil mendekat ke sisi Dylan. Ia memeluk erat lengan pemuda itu, “gue ‘kan sudah bilang. Gue nggak mau jadi pacar lo. Gue nggak suka sama lo lagi. Gue mau pulang sama Dylan saja.”


Lelaki yang juga ada di atas motor itu mengulurkan tangan untuk meraih Luna, “Cepat sini!”


“Nggak mau!” teriak gadis itu dengan masih memeluk sebelah lengan Dylan. Ia masih bersembunyi di balik tubuh pemuda ini.


Dylan menepis tangan Brian yang ada di depannya, “Lo dengarkan dia nggak mau. Jangan di paksa!”


Dylan menoleh ke Brian. Dengan tatapan tajam dia mulai berbicara lagi.


“Luna ini saudara gue. Kalau ada apa-apa sama dia itu juga jadi tanggung jawab gue.”


Brian tertawa, “Saudara? Memang lo pikir gue nggak tahu. Orang tua kalian cuma teman lama yang baru bertemu lagi. Lo sama Luna itu nggak ada hubungan apa-apa.”


“Dari mana lo tahu?”


“Gue tahu dari mana itu bukan urusan lo. Awas! Serahkan Luna sama gue. Karena gue sebagai pacarnya lebih berhak antar dia pulang.”


Lelaki yang masih dipeluk Luna ini lengannya menoleh menatap gadis itu. Luna menggeleng dan menunjukkan wajah sedih.


Dylan mengambil helm satu lagi dan memasangkan ke kepala Luna, “Naik! gue yang antar lo pulang.”


Seketika senyuman mengembang di wajah gadis ini.


“Lo nggak dengar apa yang gue bilang?” Brian menarik kerah kemeja yang Dylan pakai, “Luna pulang sama gue.”

__ADS_1


Lelaki ini menepis kasar tangan Brian, “Luna berhak menentukan dia mau pulang sama siapa. Gue nggak pernah memaksa seperti yang lo lakuin.”


Brian mendengus. Ia beralih melihat ke Luna yang sudah duduk di jok belakang motor Dylan.


“Lun, lo harus pulang sama gue. Gue ini ‘kan pacar lo.” Brian menarik-narik lengan baju Luna.


“Nggak mau!” Luna menepis tangan lelaki itu. Kemudian memeluk pinggang Dylan, “gue nolak lo jadi pacar.”


Dylan segera memutar arah motor dan melanju meninggalkan Brian yang masih menggerutu di atas motor gede itu.


“Sialan si Dylan! Kalau Alexa sampai tahu gue gagal dan membiarkan mereka dekat. Bisa-bisa gagal jadi pacarnya.” Brian lantas buru-buru mengejar kedua orang itu.


“Dylan berhenti!”


Klakson terus Brian tekan agar motor di depannya segera menepi. Namun, Dylan tidak menghiraukan panggilan itu.


“Dylan kembalikan pacar gue!” Brian menarik baju pemuda yang masih berusaha fokus mengendari motor ini, “Luna itu pacar gue. Turunkan dia sekarang!”


Apa yang mereka lakukan membuat laju kendaraan jadi tidak seimbang. Terkadang hampir menabtak orang yang sedang berjalan.


“Brian jangan begini. Nanti kita jatuh,” teriak Luna yang masih berpegangan kencang.


“Gue nggak akan berhenti mengejar sebelum lo turun.”


“Lepas!” Dylan berusaha melepaskan genggaman Brian dari bajunya hingga dia tidak fokus pada jalan yang ada di depan.


“Awas!”


“Aaaa!” beberapa mahasiswi yang ada di lokasi kejadian berteriak.


Brian mengerem kendaraan roda duanya dengan tangan memegang robekan dari kemaja Dylan. Motor yang Dylan dan Luna tumbangi jatuh dan terseret cukup jauh.


“Aggh...” Dylan merintih memegangi lengan kiri yang terasa sakit. Dia melihat ke kanan dan kiri, “Luna!”


Tak jauh darinya, Luna terkapar di atas rerumputan. Helm masih menempel di kepala gadis itu. Dylan berusaha bangun untuk mengecek keadaan Luna.


Tidak lama orang-orang berdatangan menolong mereka.


•••

__ADS_1


__ADS_2