
Malam yang terlihat cerah dengan banyaknya taburan bintang di langit menemani Dylan yang sedang duduk-duduk santai di teras rumahnya yang baru.
Rumah ini tidak tingkat dan besar seperti rumah lamanya. Namun, ada sebuah kios kecil di bagian depan yang bisa Rania tempati untuk berdagang.
“Tungguin gue!”
Teriakan seorang gadis membuat Dylan duduk dengan tegak. Persis sekali dengan suara Luna. Lelaki ini mencari dari mana datangnya suara itu. Namun, ketika sebuah sepeda yang ditumpangi anak laki-laki melintas Dylan pun melihat seorang gadis yang juga menaiki sepeda mengejar sepeda di depannya.
Bahu Dylan menurun saat mengetahui ternyata itu bukan suara yang dia harapkan. Dylan teringat saat Luna tidak berhenti bicara demi mengajaknya berbincang.
Gadis itu memang lucu dengan keanehan dan tidak tahu malunya. Kadang Dylan jadi berpikir ada ya perempuan seperti Luna itu.
Sedang memikirkan Luna, lelaki ini tersadar dari pikirannya yang sudah ke mana-mana.
“Ah, ngapain juga gue memikirkan dia. Sekarang hidup gue sudah tenang tanpa suara berisik cewek itu.”
Tiba-tiba lagu break my heart dari Dua Lipa terdengar berdendang dari dalam saku celana Dylan. Pemuda ini merogoh saku untuk mengeluarkan handphone yang berdering.
Tertera nama Cewek Berisik di layar ponsel lelaki itu. Artinya, Luna mencoba menghubungi Dylan. Pemuda ini menjauhkan layar smartphone-nya karena gadis di seberang sana ingin melakukan panggilan video call, lalu lelaki itu menggeser ikon hijau di layar.
“Ada apa malam-malam video call gue?” tanya Dylan tanpa basa-basi.
“Dih, galak banget masnya.” Luna memajukan bibir, “cuma lagi kangen saja. Memangnya lu nggak kangen sama gue?”
“Nggak!”
Kali ini Luna cemberut. Namun, beberapa detik kemudian dia tersenyum lagi.
“Tunjukin rumah baru lo dong!”
Rania jalan mendekat pada Dylan, tetapi dia berhenti di depan pintu saat melihat Dylan sedang video call bersama seseorang.
“Ayo, cepat!”
Dylan menghela napas, “Nih.”
Lelaki itu mengerak-gerakkan ponsel agar Luna dapat melihat penampakan luar rumah kontrakan yang baru.
“Ih, ada Tante Rania!” seru Luna yang membuat Dylan menoleh ke belakang.
“Ibu ngapain di situ?” tanya Dylan. Lelaki ini menyerongkan posisi duduknya.
Rania tersenyum dan perlahan melangkah, lalu duduk di kursi bambu yang juga Dylan tempati.
“Ibu mau panggil kamu untuk masuk dan tidur. Ini sudah terlalu malam. Besok ‘kan kamu harus kuliah. Ternyata kamu sedang video call sama Luna.”
Dylan menatap layar ponsel yang masih menyala, “Nggak tahu nih, Bu. Cewek berisik ini video call malam-malam. Bukannya tidur.”
“Namanya juga kangen calon suami.” Rania yang mendengar ucapan gadis di dalam ponsel itu tertawa kecil, “selamat malam calon mamer!”
Wanita yang rambut dicepol ala kadarnya itu tersenyum. Ia melambaikan tangan ke arah layar ponsel.
__ADS_1
“Malam Luna, kamu kok belum tidur.”
“Belum Tante. Sebentar lagi, masih kangen sama Dylan.”
Rania menoleh pada anak lelakinya. Kelihatan sekali Dylan risih dengan perkataan Luna.
“Tante, besok Luna boleh ke sana?”
“Nggak boleh,” jawab Dylan cepat.
“Yee...” gadis itu bersorak, “nanyanya ke Tante bukan ke lo.”
Rania dibuat tertawa lagi dengan ulah kedua anak itu, “Boleh kok sayang. Main saja.”
“Asyik!” Luna menunjukkan ekspresi bahagia, “sepulang kuliah Luna ke sana sama Dylan, Tante.”
“Iya, sayang. Sekarang istirahat sana! Takutnya Luna kesiangan.”
“Siap, Tante. Dadah, good night calon mamer dan calon suami.”
“Good night, Luna,” balas Rania sembari tersenyum-senyum.
Setelah melambaikan tangan Luna memutus sambungan video call-nya. Dylan kembali menyimpan handphone ke dalam saku.
“Luna itu terang-terangan ya suka sama kamu.” Dylan bergeming, “sebenarnya kamu suka juga nggak sih?”
“Sudahlah, Bu. Ayo kita masuk!”
Lelaki ini berdiri lebih dulu. Kemudian Rania juga ikut berdiri.
“Aku nggak pernah beri dia harapan.”
“Bagus.” Rania menepuk bahu Dylan sekilas, “ayo masuk!”
•••
“Sebenarnya kamu suka juga nggak sih?”
Pertanyaan Rania tadi malam jadi terus berputar-putar di kepala Dylan. Lelaki itu menyeruput minumannya dengan cepat.
“Aku cariin ternyata kamu di sini? Kok nggak ikut kumpulan jurnalistik?”
Dylan berhenti meyeruput jus dan mendongakkan pandangan untuk melihat siapa yang bertanya padanya.
Itu Alexa, dia baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Dylan. Lelaki ini kembali menyeruput jus sebentar sebelum menjawab pertanyaan yang gadis itu lontarkan.
“Lagi malas.”
“BT soal gosip lo dan Luna itu dimuat ke buletin?”
Dylan menggeleng, “Malas saja.”
__ADS_1
Buletin untuk bulan ini sudah menyebar dari kemarin dan benar terdapat gosip Dylan dan Luna bulan lalu. Sudah basi, tapi masih saja diberitakan. Namun, Dylan tidak masalah lagi dengan itu. Dia juga bingung bisa menanggapi kabar itu lagi dengan lebih tenang.
“Daddy cerita kalau dia ke rumah kamu. Kamu kenapa nggak mau ikut Daddy tinggal bersamaku dan Mommy. Aku berharap kita bisa tinggal berdua.”
Pemuda ini menoleh, “Lo pikir semudah itu meninggalkan Ibu. Ayah nggak ngajak Ibu juga. Maka itu gue nggak bisa.”
“Jadi kalau Ibumu ikut tinggal kamu juga mau?”
Dylan kembali menghadap ke depan, “Iya, bagaimanapun gue harus sama Ibu terus.”
Alexa tersenyum. Senyumanya menghadap ke Dylan.
“Kamu tipe aku banget.” Dylan menatap gadis itu lagi, “sayang banget sama orang tua. Katanya, kalau laki-laki sangat menyayangi ibunya dia akan sangat menyanyangi istrinya juga.”
Alexa menopang dagu, “Sayang kita saudara.”
“Masih ada kok orang yang begitu selain gue. Lo saja yang belum nemu.”
“Tapi aku maunya kamu.” Alexa tersenyum tipis, “aku saudaramu ‘kan mulai sekarang. Jadi kamu harus menuruti perintahku. Ini juga demi kebaikanmu.”
“Apa?”
“Jangan punya pacar!”
Dylan mendengus serta mengalihkan wajah, “Ada-ada saja.”
“Jaga dong perasaan adikmu. Aku masih suka sama kamu, Dy.” Alexa berbicara dengan volume yang agak dikeraskan.
Dylan melihat ke sekitarnya. Takut-takut orang di kantin mendengar pembicaraannya dengan Alexa.
“Jangan kuat-kuat ngomongnya. Belum ada orang yang tahu kita saudara. Kecuali keluarga lo dan Luna.”
“Nggak apa-apa. Aku nggak malu kok punya saudara kayak kamu.” Alexa membenarkan tali ransel, “aku pulang duluan ya.”
Dylan mengangguk saja.
“Bye.” Alexa melambaikan tangan dan perlahan berdiri.
Gadis itu berjalan meninggalkan Dylan. Namun, baru beberapa langkah Alexa berhenti saat tidak sengaja melihat Luna jalan ke arahnya.
“Kenapa balik lagi?” tanya Dylan melihat gadis berambut panjang itu menghampirinya kembali.
“Ada yang ketinggalan.”
“Apa?” Dylan memperhatikan meja untuk melihat barang apa yang Alexa tinggalkan.
Cowok ini mendongak, “Nggak ad—“
Perkataan Dylan terputus saat tiba-tiba Alexa membungkuk di depan lelaki ini dan mengecup pinggir bibirnya. Luna yang melihat kejadian itu spontan berhenti melangkah. Hatinya terasa teriris. Kaki seperti susah untuk digerakkan lagi.
“Itu,” jawab Alexa sembari tersenyum, kemudian dia berlari pergi.
__ADS_1
Pemuda itu tidak berkata apa-apa selain melihat kepergian Alexa.
•••