Housemate

Housemate
Ciuman Pertama


__ADS_3

Alexa berhenti berlari saat tiba di ruang baca. Ia memperhatikan sekeliling ruangan itu sembari mengatur pernapasan. Namun, matanya tak menangkap sosok Dylan dan Luna ada di sana.


“Sepertinya tadi mereka memang masuk ke sini. Mengapa nggak ada?” gerutu Alexa yang berdiri di depan pintu masuk.


“Hei, Nak. Jangan menghalangi jalan!” teriak seorang wanita berambut pendek yang duduk di meja penjaga perpustakaan.


Alexa menoleh ke belakang. Ia baru sadar orang-orang susah lewat karenanya. Dia lantas bergeser, lalu mendekat ke meja penjaga perpustakaan.


“Bu, saya mau bertanya.”


“Tanya apa?” tanya wanita itu ketus.


“Lihat seorang laki-laki tingginya segini dan perempuan tingginya segini?” Alexa bertanya dengan mengukur tinggi menggunakan tangan.


“Nak, kamu lihat orang-orang itu?” wanita penjaga perpustakaan ini menunjuk ke mahasiswa dan mahasiswi yang sedang duduk membaca. Alexa hanya mengangguk setelah mengikuti intruksinya, “begitu banyak orang di sini. Saya nggak memperhatikan mereka apa lagi sampai mengukur tingginya.”


Gadis berambut panjang tergerai ini menghela napas, “Kalau begitu terima kasih, Bu.”


Alexa memutuskan untuk keluar saja. Percuma bertanya, tetapi tidak mendapat jawaban yang pasti. Akhirnya, gadis itu segera meninggalkan perpustakaan.


Dylan sedari tadi masih mengawasi adik tirinya dari sela buku, “Dia sudah pergi.”


Luna yang dari tadi sibuk menggaruki bagian tubuh yang terasa gatal tiba-tiba bersemangat mendengar ucapan Dylan.


“Benarkah?” Luna memajukan kepala ke depan rak buku, “gue juga mau lihat.”


“Dia sepertinya sudah benar-benar keluar dari perpustakaan ini,” ucap Dylan tanpa menoleh pada Luna.


Luna berdeham dan mengangguk, “Gue juga lihat. Alexa sudah nggak terlihat lagi di sini.”


Kedua orang itu tidak sadar kalau sedikit lagi pipi mereka bisa saling menyentuh.


Luna menoleh, “Gue rasa kita sudah bisa keluar sekarang.”


“Hem!” Dylan mengangguk, “gue rasa juga sudah...”


Perkataan Dylan terhenti karena saat ikut menoleh ke arah Luna. Posisi mereka yang sangat dekat membuat bibir saling menempel.


Mereka sama-sama melebarkan mata dan mematung untuk beberapa detik. Luna mengedip-ngedipkan mata sebanyak dua kali. Hal ini berhasil menyadarkan Dylan dan membuatnya membuang muka ke arah lain.


Luna pun begitu. Ia berjongkok membelakangi lelaki di dekatnya ini. Gadis ini memejamkan mata dengan pipi yang bersemu memerah. First kiss-nya diambil tidak sengaja oleh Dylan. Namun, bukannya marah dia merasa ingin teriak karena terlalu bahagia.


Berbeda dengan Luna yang senyum-senyum sendiri, Dylan malah merasa bersalah atas perlakuannya yang tidak sopan pada wanita. Dia rasa itu sangat lancang. Belum lagi lelaki ini baru pertama kali mencium gadis yang seumuran dengannya.


“Maaf.”


Ucapan Dylan membuat senyum di wajah Luna memudar. Gadis ini hanya terdiam menunggu perkataan berikutnya.


“Maaf banget gue ngelakuin itu. Gue tahu lo pasti marah sekarang, tapi gue benar nggak sengaja.” Dylan memohon tanpa berani menatap Luna.


Kedua orang itu masih saling memunggungi.


Luna menggigit bibir bawah, lalu melepaskan kembali. Sebenarnya ini bukan masalah besar bagi gadis yang memang menyukai Dylan.


“Nggak masalah.” Dahi Dylan mengerut, “gue sudah maafkan. Lagi pula gue nggak marah. Gue tahu lo nggak sengaja.”

__ADS_1


Walau agak aneh menurut Dylan, tetapi dia sudah dapat bernapas lega. Luna tidak marah padanya.


“Kalau begitu kita bisa pergi sekarang?”


“Lebih cepat lebih baik. Di sini banyak nyamuk.”


Dylan berdiri. Ia masih ragu untuk menoleh ke belakang, “Ayo, ikuti gue!”


Luna menoleh ke belakang dan melihat Dylan sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya. Gadis ini cepat bangkit dan berlari mengejar Dylan.


Dylan menoleh ke kanan dan kiri saat tiba di luar. Alexa sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Pemuda itu menghembuskan napas panjang, lalu menoleh ke samping saat Luna sampai di sisinya.


“Lo cepat banget jalannya. Capek gue ngikutin,” keluh Luna yang mengatur napas.


“Maaf, gue lupa kalau kaki lo pendek.”


Gadis itu mengerutkan bibir mendengar ejekan keluar dari mulut Dylan. Baru saja membuat berbunga-bunga sekarang sudah menjatuhkan lagi.


“Gue nggak bawa motor. Nggak apa-apa kalau kita naik angkot saja?”


Luna menggeleng, “Nggak apa-apa, gue juga sudah biasa naik angkot.”


“Kalau begitu, ayo!”


Kali ini Dylan menunggu Luna untuk berjalan beriringan menuju gerbang kampus yang masih sangat jauh.


•••


Dylan membawa sebuah kotak berukuran sedang keluar dari kamar. Ia meletakkan di atas meja bertumpuk dengan kardus yang sudah dari tadi siap.


“Jadi, lo bakal menetap di sana selamanya?”


Dylan kembali berjalan ke dalam kamar, “Iya, sekarang semua orang tua gue di sana.”


Gadis ini berdiri di depan pintu kamar Dylan. Memperhatikan lelaki ini memasukan baju ke dalam koper.


“Terus rumah ini bagaimana? Baru juga dikontrak ‘kan?”


Lelaki itu memperhatikan sekeliling kamar. Kemudian menatap Luna.


“Biarkan saja kosong seperti ini dulu. Ibu sudah terlanjur menyewa untuk setengah tahun. Lagian masih bingung mau diapakan barang-barang yang lain.”


Dylan melanjutkan membereskan pakaian.


“Kenapa nggak dijual saja? Lumayan uangnya.”


Ucapan Luna berhasil membuat Dylan berpikir, "Benar juga, mungkin bisa ganti uang Ayah yang gue pinjam.”


Kemudian lelaki ini berdiri dan menggeret koper keluar kamar. Luna terus membuntutinya.


“Lo senang tinggal dengan mereka sekarang? Maksudnya bersama bokap dan keluarga barunya.”


Dylan melepaskan koper, lalu menoleh pada Luna.


“Di benak gue sejak dulu. Ingin bertemu Ayah dan bisa berkumpul lagi bertiga. Bukan bersama berlima seperti sekarang.” Dylan menghela napas dan menatap ke arah jendela, “tapi mau bagaimana lagi, Ayah ternyata punya kehidupan baru dan gue bersama Ibu harus bisa menerimanya.”

__ADS_1


“Lo belum jawab pertanyaan gue.” Dylan kembali menoleh, “senang atau nggak?”


“Senang.” Dylan menjawab tanpa senyuman, “ayo bantu gue lagi!”


Lelaki itu berjalan masuk ke dalam kamar ibunya. Luna tahu Dylan tidak benar-benar bahagia di sana. Andai pemuda itu mau lebih terbuka padanya. Mungkin dia sudah memberi solusi.


Dari pada memikirkan yang tidak pasti Luna akhirnya menyusul Dylan masuk ke kamar.


•••


Satu jam berkemas mereka sudah menyelesaikan semua itu. Ada 4 kardus dan 1 koper. Lebih banyak barang mikir Dylan.


Sekarang mereka sedang menyantap makanan yang dipesan lewat aplikasi ojek online. Dari tadi belum sempat untuk makan siang.


“Lo nggak jadi ke rumah gue hari ini? Bhiru pasti sudah menunggu.”


Dylan menoleh pada barang bawaannya. Kemudian melihat Luna dengan mimik wajah sendu.


“Maaf gue nggak bisa tepati janji sekarang. Bilang ke Bhiru kalau gue ke sana lain kali.” Dylan menujuk kardus-kardus dengan dagu, “lo lihat sendiri banyak barang yang harus gue bawa pulang.”


Luna menghembuskan napas, “Mau bagimana lagi. Nanti gue bakal bilang ke anaknya. Terus lo bawa barang itu pakai apa?”


“Taksi saja. ‘kan lo tahu sendiri gue nggak bawa motor.”


Gadis itu mengangguk saat paham. Dylan memperhatikan Luna yang tidak menyendok makanan lagi.


“Habiskan! Jangan sampai tersisa, mubazir.”


“Hah, iya.” Luna kembali memasukan nasi dan lauk ke dalam mulut.


Sudah ada setengah jam Bhiru berdiri dan mondar-mandir di teras rumah. Namun, yang dia tunggu-tunggu tak kunjung tampak.


Ketika Luna datang bersama tukang ojek anak laki-laki berbaju karakter super hero itu lantas berlari untuk membukakan pagar.


“Sudah dibayar pakai saldo ya, Mas.” Luna menyerahkan helm pada ojek online itu.


Pria yang memakai jaket berwarna hijau ini mengangguk dan menerima helm, “Iya Mbak. Terima kasih.”


Luna mengangguk, lalu menghampiri Bhiru yang tumben sekali menyambutnya.


“Kakak sendiri saja?”


“Iya memang mau sama siapa lagi?”


“Kak Dylan nggak jadi ke sini?”


Luna menggeleng, “Dia sibuk membereskan barang di kontrakan dan memindahkan ke rumah Ayahnya.”


“Dia mau tinggal bersama Om yang waktu itu?” Bhiru mengikuti langkah Luna untuk masuk ke rumah.


“Iya, bagaimanapun itu ‘kan ayah kandungnya.” Luna menghentikan langkah, mengusap kepala Bhiru sekilas, “pesan dari Kak Dylan, lain kali dia main ke sini. Dia juga minta maaf ke kamu karena nggak bisa menepati janji.”


Setelah itu Luna berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar.


•••

__ADS_1


__ADS_2