
“Sini kamu ikut aku dulu!”
Seorang wanita yang di sanggul rambutnya menarik pria berkemeja flanel untuk mendekati meja makan.
“Ada apa sih sayang?”
“Kamu harus lihat ini.” Mereka berhenti di ruang makan, “Tara!”
Wanita ber-dress putih dengan mode 90-an itu berseru keras. Sedangkan lelaki di sebelahnya terpukau dengan penampakan banyakan sekali makanan.
“Ini semua yang masak kamu?” tanya pria itu.
“Iya, Mas.” Wanita yang lebih rendah darinya ini menganggukkan kepala, “aku masak sebanyak ini spesial karena ini hari ulang tahunmu. Anggap saja ini kadonya.”
“Terima kasih ya, Sayang.” Pria itu menggenggam tangan sang istri, “kamu jadi pendamping hidupku saja sudah kado yang terindah untukku.”
Pipi wanita itu bersemu merah. Ia menundukkan kepala karena tidak berani menatap sang suami.
“Kamu bisa saja, Mas.” Wanita ini mencubit lengan lelaki itu hingga memekik kesakitan.
“Sakit, sayang.” Pria itu menatap istrinya penuh cinta. Semua itu terlihat dari tatapannya yang tulus, “Arga akan selalu mencintai Rania. Begitu seterusnya sampai maut memisahkan kita.”
Rania mendongakkan pandangan. Menatap Arga penuh harap. Ia selalu mengaminkan ucapan-ucapan baik lelaki itu. Sebagai perempuan Rania ingin terus bersama orang yang dia cintai seumur hidupnya.
Arga melihat ke arah meja makan, “Bisa kita mulai makan?”
Rania tertawa pelan, lalu menganggukkan kepala. mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Wanita itu mulai menyiapkan makanan ke atas piring.
“Kamu harus coba cumi asam manis bikinan aku.”
“Aku tahu pasti rasanya enak,” balas Arga yang begitu paham dengan masakan sang istri.
“Sok tahu kamu.” Rania meletakkan piring yang sudah berisi makanan, “dimakan dulu baru berkomentar."
Arga mengangguk, kemudian lekas menyantap makanan di depan mata. Sedangkan Rania yang duduk di sebelah Arga menunggu reaksi yang akan ditunjukkan.
“Hmm...” Arga memejamkan mata, “apa aku bilang. Ini enak sekali sayang.”
Rania tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan gigi putihnya. Pria itu memeluknya dari samping.
“Pak!”
Dylan mengibaskan tangan ke depan wajah Arga. Dari tadi dipanggil lelaki itu tidak menggubrisnya.
__ADS_1
“Eh.” Akhirnya pria tua ini tersadar. Ia lantas mendongak menatap Dylan.
“Makanannya nggak enak ya, Pak?” tanya Dylan memastikan.
Arga melihat ke arah kotak bekal, lalu berganti menatap Dylan. Ia menggelengkan kepala perlahan.
“Nggak, masakan Ibu kamu sangat enak. Mengingatkan saya pada seseorang.” Arga tertawa hambar, “kalau boleh tahu nama Ibu kamu siapa?”
Dahi Dylan berkerut. Memikirkan mengapa bosnya itu jadi ingin tahu nama ibunya.
“Nama Ibu saya Rania Samaira, Pak.”
Tiba-tiba tangan Arga bergetar. Nyaris saja kotak bekal itu terjatuh kalau Dylan tidak buru-buru menangkapnya.
“Bapak kenapa? Sakit?” tanya Dylan meletakkan bekal yang baru dimakan sedikit itu ke bangku.
Bukannya menjawab pertanyaan pemuda itu Arga lekas berdiri dan memeluk Dylan.
“Anakku,” gumam pria ini.
“Hah, Bapak bilang apa?”
Mata pria itu berkaca-kaca. Ia memeluk Dylan dengan erat. Seingat Arga waktu dia pergi meninggalkan Rania. Wanita itu masih mengandung. Sekarang putranya ada di depan mata.
“Maafkan Ayah, Nak.” Suara Arga bergetar. Kedua mata pria ini berkaca-kaca, “bagaimana kabar ibumu?”
“Ayah sudah menyia-nyiakan kamu dan ibumu.”
Dylan memberontak meminta pelukannya dilepaskan. Arga mengalah, dia memberi jarak.
“Maksud Bapak apa? Kata Ibu, Ayah saya sudah meninggal. Walau sebenarnya saya juga nggak percaya karena selama ini nggak pernah melihat makam Ayah, tapi Ayah saya nggak mungkin Bapak. Bapak punya anak dan istri.”
Alexa baru saja menginjakkan kaki di depan pintu pepondokkan. Ia bermaksud mau menemui ayahnya. Namun, suara berisik dari arah belakang pondok membuat kaki gadis itu tergerak untuk melangkah ke sumber suara. Tanpa kedua lelaki itu tahu Alexa ikut mendengarkan percakapan.
“Rania itu istri saya dulu, Dylan. Waktu itu saya pergi meninggalkan dia waktu mengandung kamu. Jadi, bagaimanapun saya. Kamu tetap anak kandung saya.”
“Kalau iya anda Ayah saya mengapa dulu anda pergi meninggalkan Ibu?” mimik wajah lelaki ini mulai berubah sedih dan masih tidak percaya dengan fakta yang dia dapat, “Ibu itu susah hidupnya sejak anda pergi. Ibu membesarkan saya sendiri. Banting tulang agar anaknya terus tumbuh dan mendapatkan pendidikan tinggi. Di mana anda saat Ibu saya berjuang untuk terus hidup?”
Arga menangis hingga pipi sudah basah dengan air mata.
“Semua ada penjelasannya Dylan. Ayah terpaksa melakukan itu untuk hidup yang lebih layak.”
“Oh jadi anda lebih mementingkan kehidupan anda sendiri dari pada istri dan anak anda?” Dylan menggelengkan kepala tidak percaya akan hal yang didengarnya.
__ADS_1
“Kalau kamu ada di posisi Ayah maka kamu akan mengerti.”
“Saya tahu sekarang mengapa Ibu menganggap anda sudah mati. Harusnya saya pun begitu. Tidak berharap anda masih ada dan bisa berkumpul lagi.”
“Dylan, saya nggak seburuk yang kamu kira. Jangan benci saya! Saya sangat rindu denganmu.”
Arga ingin memeluk lagi anak laki-laki itu. Namun, Dylan melangkah mundur dan akan pergi, tatapi mereka baru sadar kalau Alexa berdiri dengan pipi yang basah.
“Alexa?” perlahan Arga menurunkan tangannya.
Dylan tidak memedulikan gadis itu. Ia segera melangkah pergi dari tempatnya.
“Daddy maksudnya apa? Dylan anak Daddy? Jadi selama ini Daddy sudah menikah? Mengapa harus Dylan anak Daddy?” banyak pertanyaan Alexa lontarkan sampai-sampai Arga bingung menjawabnya.
•••
Luna yang sedang bermain ponsel di teras rumah tersenyum saat melihat motor kepunyaan Dylan masuk ke halaman rumahnya.
Gadis itu buru-buru menghampiri sang pujaan hati yang akhir-akhir ini mengisi hatinya.
Dylan melepas helm dari kepala, lalu menunduk dalam.
“Tumben pulang kerjanya cepat? Pasti kangen sama gue 'kan? Sudah bukan hal aneh lagi. Gue ‘kan memang ngangenin.”
Pemuda yang masih duduk di atas jok motor ini tidak menghiraukan perkataan Luna. Gadis itu menjadi terdiam.
“Kok lo nggak jawab sih?
Luna melihat bahu Dylan bergetar. Suara isakan keluar dari mulutnya. Gadis yang rambutnya tergerai ini menjadi khawatir.
“Lo kenapa? Kok malah nangis.”
Dylan tetap tidak menjawab. Karena merasakan ikut sedih Luna tidak bicara lagi.
“Sini!”
Gadis itu menarik kepala Dylan perlahan ke bahunya. Ia mengusap-usap kepala lelaki itu.
“Sudah, semuanya akan baik-baik saja.” Luna juga menepuk-nepuk pelan punggung Dylan. Kali ini Dylan tidak menolak dipeluk gadis itu, “walau gue juga nggak tahu penyebab lo menangis seperti ini.”
•••
Note:
__ADS_1
ayo vote yang banyak biar aku semangat ngelanjutnya 🤣
makasih bagi kalian yg sudah baca dan support ❤