Housemate

Housemate
Alexa Susah Move On


__ADS_3

BRAK


Alexa memukul meja di hadapannya. Brian yang duduk di depan gadis itu sampai terkejut. Mereka jadi tatapan pengunjung kafe yang lain.


“Bagaimana sih kamu. Begitu saja nggak becus. Dylan sama Luna itu masih dekat. Setelah menyatakan cinta kamu masih tetap anggap Luna pacar nggak?”


“Gue selalu mepetin dia, tapi Luna sendiri yang menghindar dari gue. Dia sudah nggak tertarik sama gue lagi.” Brian mencondongkan tubuh ke depan, “Dylan itu sekarang saudara lo. Untuk apa lo masih usaha pengin bersamanya terus?”


“Sebelum hati gue bisa terima ini semua. Gue nggak mau lihat Dylan pacaran sama cewek lain.”


“Sadar Alexa, lo nggak akan bisa menikah sama dia. Suatu hari nanti Dylan pasti menyukai orang lain. Dari awal dia juga gak respect sama lo.”


Alexa tertunduk. Otaknya memikirkan ucapan Brian. Gadis ini pun sadar kalau dia dan Dylan itu ditakdirkan bersaudara. Numun, hati berkata lain. Dia ingin sekali memiliki Dylan sebagai pendamping hidup.


Brian perlahan mengambil sebelah tangan gadis di depannya. Ia menggengam dengan lembut tangan Alexa.


“Mungkin Dylan memang nggak bisa jadi kekasih lo, tapi gue sangat cinta sama lo. Dari pada lo berharap dengan Dylan mending sama gue saja. Kita pacaran!”


Alexa menarik tangan yang masih dipegang oleh Brian. Ia mendongak kembali.


“Dengarkan aku baik-baik! aku nggak suka sama lelaki manapun kecuali Dylan. Aku mencintai Dylan bukan kamu. Karena aku nggal bisa miliki dia semua cewek juga nggak boleh miliki dia.”


Brian menggeleng pelan. Ia tidak percaya tentang apa yang barusan didengarnya.


“Jadi, lo cuma manfaatkan gue? Lo janjiin gue bisa pacaran sama lo itu bukan karena lo juga suka? Tapi karena biar Dylan nggak ada yang dekatin?”


“Ya iyalah, kamu pikir aku suka kamu benaran? Gila saja. Aku suka Dylan bukan suka kamu.”


Brian memakai tas kembali, lalu berdiri. Ia akan bersiap pergi dari kafe itu.


“Lo urus saja sendiri masalah lo itu. Gue sudah nggak mau berurusan dengan lo. Gue kecewa!” setelah melontarkan kalimat terakhir lelaki besar dan tinggi itu lantas berjalan keluar ruangan meninggalkan Alexa.


“Pergi saja sana kamu. Aku nggak butuh bantuanmu!” teriak Alexa lagi-lagi membuat pengunjung kafe menatap aneh padanya.


•••


Sedari tadi Dylan memerhatikan Luna yang sedang menyantap es krim di tangan. Gadis itu makan dengan lahap hingga tidak menyadari kalau dirinya diperhatikan.


“Kenapa para cewek suka dengan yang manis?” pertanyaan Dylan berhasil membuat Luna menoleh.

__ADS_1


“Karena yang manis itu enak. Apa lagi dingin seperti es krim ini.” Luna mengulurkan cup es krimnya, “mau?”


Dylan menggeleng, “Lo habiskan saja.”


Luna kembali melahap es krim. Ia menatap penjual es krim dung-dung di depannya yang sedang mangkal. Kemudian dia menoleh pada Dylan.


“Boleh, nambah?”


Lelaki yang sedang melihat suasana jalan kompleks yang tidak seberapa ramai ini segera menatap ke arah Luna.


“Boleh, bilang saja ke penjualnya. Nanti gue yang bayar semua.”


Gadis itu tersenyum, lalu berlari mendekati gerobak penjual es krim keliling ini.


Setelah membawa satu cup es krim lagi. Luna kembali duduk di samping Dylan.


“Kalau dipikir-pikir kita ini seperti sedang nge-date ya?” ujar Luna diiringi tawa diakhir.


“Nge-date apanya?” Dylan mendongak melihat pohon besar tepat di atas tempat dia dan Luna duduk, “mana ada nge-date di pinggir jalan dan duduk di bawah pohon sambil makan es krim.”


Dylan kembali menatap ke arah gadis itu, “Ini lebih mirip nongkrong.”


“Hidup ini sudah pahit. Makan yang sedikit manis agar kehidupan seimbang.” Luna tersenyum sampai memperlihatkan deretan gigi.


Luna berhasil membuat Dylan tersenyum mendengar ucapannya. Lelaki ini menerima es krim pemberian gadis itu.


“Begitu dong, kalau senyum ‘kan tambah cakep.”


Baru juga mendapat pujian Dylan sudah memupus habis senyuman itu. Dia menghadap ke jalan sambari menyantap es krim.


“Bagaimana?” Luna menyenggol lengan Dylan, “es krimnya enak ‘kan?”


“Enak, tapi terlalu manis.”


•••


Seperti biasa rumah besar dan mewah itu diramaikan oleh pembantu yang sering lalu-lalang. Sementar Arga, si tuan rumah masih ada di rumah sakit bersama istrinya.


Dylan masuk ke dalam rumah setelah dibukakan pintu oleh penjaga di depan. Ia melangkah menuju lantai dua. Ketika melewati kamar Alexa, lelaki ini menghentikan laju kaki. Ia mengintip lewat pintu kamar yang terbuka sedikit.

__ADS_1


Di dalam Alexa sedang menangis dengan tisu berserakan. Entah sudah habis berapa lembar tisu gadis itu sedari tadi.


“Alexa kenapa?” gumam Dylan.


“Aku susah coba hapus perasaan, tapi nggak bisa. Kenapa harus jadi saudara ya tuhan?” Gadis itu menyandarkan kepala pada tepi ranjang, “aku cinta kamu, Dylan.”


Dahi pemuda itu mengerut saat mendengar penuturan sang adik.


“Dylan?”


Lelaki ini terkejut karena aksi intip-mengintipnya ketahuan Alexa. Ia menutup pintu dan lantas mempercepat langkah ingin masuk ke kamar sendiri.


Namun, Alexa mengejar pemuda itu hingga dia berhasil memeluk pinggang Dylan dari belakang. Langkah kaki lelaki itu akhirnya berhenti padahal sedikit lagi sampai di kamarnya.


“Perasaan aku ke kamu masih sama. Sangat mencintai.” Dylan bergeming untuk beberapa detik meresapi perkataan Alexa.


Kemudian lelaki itu berbalik dengan melepaskan pelukan.


“Perasaan lo itu sudah salah Alexa. Berapa kali gue harus ingatkan, kita ini saudara sekarang. Kita anak dari Ayah yang sama!”


Dylan berusaha tegas sekarang pada gadis itu. Alexa malah menangis sampai mengeluarkan suara.


“Sudah!” lelaki ini mengosok-gosok telapak tangan di lengan sang adik, “begini Alexa. Dari awal gue nggak punya perasaan sama lo. Gue anggap lo itu cuma teman dan kebetulan kita ditakdirkan jadi kakak dan adik. Perasaan gue ke lo sekarang hanya sebatas saudara. Jadi, lebih baik lo cari orang yang memang tulus mencintai lo.”


Alexa melangkah mundur, “Aku nggak bisa. Kenapa kamu nggak bisa suka juga sama aku? Kamu bilang sekarang kalau kamu suka sama Luna!”


“Gue nggak suka sama siapa-siapa Alexa!” Dylan membentak hingga membuat Rania yang memasuki rumah sepulang bekerja terkejut, “lo jangan ikut sampur sama perasaan gue! Gue memang nggak suka sama lo. Mau diapakan lagi? Sekarang juga gue nggak boleh suka sama adik sendiri.”


“Kenapa-kenapa harus lo saudara gue?” gadis ini memukul-mukuli dada Dylan. Lelaki itu tidak diam saja, dia memegang kedua tangan gadis ini untuk berhenti memukulinya.


Alexa menarik tangan dengan kasar. Gadis yang pipinya sudah basah itu berlari masuk ke kamar dengan masih emosi pada takdir yang diterimanya.


Dylan menghela napas, kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.


“Lagi-lagi bertengkar. Kapan bisa akur anak-anak itu?” ujar Rania yang masih berdiri di tempat.


•••


maafkan kalau makin aneh 😭🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2