Housemate

Housemate
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Luna terngangak saat melihat Dylan mengeluarkan motor dari garasi rumahnya. Lelaki itu berhenti mendorong motor dan memarkirkan sementara kendaraan itu di sebelahnya.


“Pantas saja dicariin motornya nggak ada. Ternyata disembunyikan,” ujar Luna yang berdiri tidak jauh dari Dylan.


Lelaki itu memasang helm ke kepala, “Kalau nggak disembunyikan dulu. Lo pasti tahu gue ada di sini.”


“Awalnya gue kira kedua sahabat lo bohong kalau lo mau kasih gue surprise.” Luna memainkan sebelah kaki sambari menundukkan kepala, “ternyata mereka benar.”


“Makasudnya Kendro dan Javier?”


Luna menegakkan kepala lagi, “Iya, tapi yang kasih tahu Ken.”


“Ember banget mulutnya,” gumam Dylan. Pemuda ini menaiki kendaraan roda duanya. Ia akan bersiap untuk pulang.


Mesin motor lelaki itu telah menyala. Luna berlari kecil menghampiri Dylan. Gadis itu memberikan selembar foto polaroid.


“Buat gue?”


Luna mengangguk dan memberikan ke telapak tangan cowok di hadapannya itu.


“Ini kenang-kenangan kita. Lo selalu bisa lihat muka cantik gue,” ujar Luna dengan meletakkan kedua jari telunjuk menusuk pipi. Tidak tertinggal juga senyum manisnya.


Dylan memandangi foto yang hanya terdiri dari dirinya dan Luna. Ia menoleh ke gadis yang masih ada di sebelahnya ini.


“Kok cuma kita berdua? Kenapa nggak kasih gue yang full keluarga lo?”


Gadis itu menggeleng, “Itu saja. Biar lo bisa jatuh cinta sama gue. Sering-sering dilihat ya!”


Dylan mendengus, lalu meletakkan foto itu di selipan motor. Luna sampai menautkan alis melihat tindakan lelaki itu.


“Kenapa nggak di simpan ke tas?”

__ADS_1


“Nggak penting,” balasnya, lalu melanjukan motor keluar dari perkarangan rumah Luna.


Gadis ini menekuk wajah. Bibirnya sampai maju-maju karena kesal.


“Dasar cowok tak berprikewanitaan!”


•••


Sesampai di rumah Dylan melihat mobil yang biasa Alika gunakan untuk bulak-balik rumah sakit terparkir di halaman rumah mewah itu. Ada juga beberapa mobil yang tidak biasa ada di rumah itu. Lelaki ini tebak pasti ayah sudah diizinkan pulang.


Dengan cepat Dylan melepaskan helm, mencabut kunci motor, dan berlari ke dalam rumah. Ia membuka pintu besar yang tidak dijaga oleh pekerja lagi. Ketika melihat ke arah ruang tamu ternyata keadaan rumah sedang ramai.


Arga duduk di kursi roda. Rania, Alika, dan Alexa juga ikut berbicang dengan para tamu. Pria yang memakai syal di leher itu menoleh pada Dylan.


“Nak, sudah pulang? Sini!”


Perlahan Dylan melangkahkan kaki mendekat pada ayahnya. Para tamu memandangi Dylan. Lelaki itu melemparkan senyum tipis. Ia berusaha ramah pada semua orang.


Para tamu menganggukkan kepala. Rania yang menyimak ucapan mantan suaminya tidak protes. Walau perkataan itu banyak bohongnya.


Dylan berlutut di sebelah Arga, “Ayah baru pulang tadi?”


Pria itu mengangguk disertai senyum.


“Maaf, aku tadi nggak bisa jemput Ayah atau sambut di rumah,” tutur Dylan dengan wajah sendu.


Arga mengusap wajah putranya, “Nggak apa-apa. Ayah mengerti pasti kamu punya kesibukan juga.”


“Anak durhaka, Ayahnya mau pulang ke rumah dia malah nggak ada di rumah. Keluyuran terus. Banyak bergaul sama cewek nggak benar itu sih,” ujar Alexa dengan suara kecil, tetapi masih dapat Dylan dan Arga dengar.


Dylan menoleh ke arah sang adik, “Maksud lo apa?”

__ADS_1


“Lo kebanyakan gaul sama Luna.” Alexa menatap Arga yang ada di depan, “Dad, Luna itu nggak baik untuk pergaulan Kakak.”


“Tutup ya mulut lo itu!” Dylan menunjuk-nunjuk gadis itu, “Luna itu anak baik-baik. Gue sama Ibu kenal keluarganya."


Arga jadi tidak enak dengan tamu-tamunya. Kedua anak itu malah bertengkar.


“Lihat Dad! Dia malah membela cewek itu,”adu Alexa pada sang ayah.


“Sudah-sudah jangan ribut! Nggak enak sama tamu Daddy.”


Alika menarik tangan sang putri agar berhenti bertengar. Alexa malah protes pada ibunya.


Dylan berdiri dan membenarkan tali ransel yang tersandang di bahu. Ia menunduk menatap Arga.


“Aku ke kamar dulu.” Anak laki-laki itu tersenyum pada tamu, “permisi.”


Rania ikut pergi menyusul anak semata wayangnya.


•••


Suara musik dari kotak musik yang Luna pandangi itu dari tadi melantun lembut. Memang cocok menemani saat ingin tidur.


Dari tadi gadis itu memandangi kotak musik yang ada di atas nakas. Dagu dia topang dengan sebelah tangan dan kedua kaki ditekuk naik. Sesekali gadis ini tersenyum bahkan terkadang tertawa sendiri.


Malam semakin larut, tetapi Luna masih memikirkan Dylan. Membayangkan wajah lelaki itu memang kesukaannya. Apa lagi saat lelaki itu terpergok berdebar ketika gadis ini memeluknya. Luna malah terkikik geli sendiri.


Irama dari kotak musik berhenti berdendang.


“Fix dia suka gue.” Luna tertawa dan berbaring telentang di kasur.


Gadis itu memandangi langit-langit kamar. Ia menarik selimut sampai ke leher. Luna senyum-senyum sendiri dengan tangan meremas selimut. Ia tersipu malu, lalu menutupi wajah menggunakan selimut.

__ADS_1


•••


__ADS_2