
“Lo suka Dylan ya?”
Mendengar pertanyaan itu Deana tertawa geli. Gadis ini masih fokus mengobati luka pada pasien.
“Kenapa sih orang-orang mikirnya seperti itu. Nggak lo, nggak sahabat gue.” Deana menggelengkan kepala pelan.
“Terus kenapa lo nggak suka gue?” tanya Kendro lagi yang membersihkan dahi pasien.
Pasien yang setengah sadar itu hanya bergeming menyimak obrolan dari kedua dokter koas ini.
“Nggak suka lo bukan berarti gue suka Dylan ‘kan?”
“Lo kelihatan lagi usaha dekatin Dylan, tapi ingat, De! Dylan itu sudah punya istri.”
“Gue cuma mau berteman nggak lebih dari itu, tapi Dylan susah untuk didekati. Lo tahu sendiri Dylan ini pintar. Siapa tahu bisa bantu-bantu gue buat laporan.” Deana tertawa kecil dengan mengakhiri pekerjaannya.
“Nih ya, gue juga tahu kalau Dylan punya istri. Gue lagi nggak usaha rebut dia dari istrinya. Jadi, jangan berpikiran gue serendah itu!”
Deana menatap pasien yang baru saja dahinya selesai diobati oleh Kendro, kemudian gadis ini melangkah ingin pergi. Namun, Kendro dengan cepat mencekal tangan gadis berambut dicepol itu.
“Gue suka sama lo, De. Apa lo nggak mau punya hubungan lebih sama gue?” tanya Kendro yang mendapat senyuman dari gadis di hadapannya.
Perlahan Deana menepis tangan Kendro, “Gue lagi nggak mau merajut hubungan asmara sama laki-laki manapun. Gue cuma mau fokus menyelesaikan koas dan lanjut ke tahap-tahap berikutnya sampai bisa mengambil dokter spesialis.”
“Pacaran nggak akan mengganggu semua cita-cita lo itu.”
“Siapa bilang? Pacaran bisa buat galau, susah tidur, dan tekanan batin. Gue pernah merasakan semua itu dan itu sangat menganggu terhadap prestasi gue. Jadi saat ini gue lagi nggak mau punya hubungan semacam itu. Gue harap lo paham.”
“Bagaimana sudah dibersihkan lukanya?” tanya seorang dokter mengejutkan mereka, “apa ada tulang yang patah?”
Deana cepat tanggap. Gadis ini lekas menjawab pertanyaan dokter itu, “Bagian kaki sepertinya patah dokter. Kita harus lakukan rontgen agar lebih pasti.”
“Baiklah, segera kita bawa pasien ini.”
Kendro masih terpaku di tempatnya hingga dokter itu memanggilnya.
“Ken, mengapa kamu malah melamun?”
Pria ini menggaruk kepala yang tidak gatal sembari menunduk cengengesan.
“Ayo bantu saya dan Dea!”
“Baik, Dok.” Kendro lekas mencari kursi roda untuk pasiennya.
•••
“Dor!” Javier menepuk bahu Kendro. Lelaki yang sedari tadi melamun sembari mengaduk minuman di atas meja ini tersentak, lalu refleks menoleh ke belakang.
“Ke kantin nggak ngajak-ngajak.” Javier dan Dylan mengambil tempat duduk masing-masing, “muka lo ngapa melas gitu?”
“Iya, lagi ada masalah? Kena marah dokter pembimbing lo ya?” tambah Dylan yang menerka-nerka.
Kendro menggelengkan kepala, “Gue lagi broken heart.”
__ADS_1
Javier mencebikkan bibir, “Yaelah, laga lo selangit.”
Dylan hanya tertawa mendengar ucapan para sahabatnya.
“Gue serius ya. Kalian ini bukannya perihatin sama sahabat sendiri,” ujar Kendro yang mulai sewot.
“Oke, lo broken heart karena apa?” tanya Dylan.
“Pasti nggak jauh-jauh dari Dea. Benar ya, Dea itu sukanya sama Dylan?” tebak Javier yang membuat Kendro menggeleng.
“Loh, kalian kok bisa menyangka Deana suka gue?” Dylan bingung karena teman-temannya bisa berpikir seperti itu.
Javier menepuk pundak Dylan, “Lo nggak peka banget, Dy. Kelihatan jelas Dea lagi dekatin lo.”
Dahi Dylan sampai mengerut mendengar penjelasan Javier. Namun, Kendro cepat membantah.
“Dea itu nggak suka sama Dylan.”
Javier sampai mendelik mendengernya dan Dylan tersenyum karena dia benar.
“Tuh ‘kan, itu cewek nggak suka sama gue.”
“Dea bilang dia berusaha dekat dengan Dylan ingin berteman dan bisa bantu dia buat laporan,” lanjut Kendro menjelaskan.
“Terus lo melas gitu karena apa?”
“Dea menolak pernyataan cinta gue. Dia nggak mau pacaran menganggu prestasinya. Dia bilang, mau fokus sama pekerjaan dokter ini dulu.”
Javier yang meneguk minuman milik Kendro ini menunjuk-nunjuk setuju, “ Benar, kata Dylan. Lo pepet saja terus. Kita koas masih lama cuy. Jadi, besar kemungkinan bisa buat Dea nyaman dulu sama lo.”
Kendro merasa termotivasi dengan ucapan kedua sahabatanya itu.
•••
Sore ini di sebuah persimpangan jalan di Jakarta terlihat antrean panjang kendaraan yang mengakibatkan macet panjang.
Javier yang akan kembali pulang ke rumah menggerutu di atas motornya, karena terjebak dalam kemacetan itu.
Lelaki ini membuka kaca helm, “Ada apa sih di depan?”
Javier mencoba melajukan pelan motor melewati cela-cela yang ada. Berharap bisa sampai ke depan dan lepas dari macet. Namun, belum sampai di posisi paling depan sudah tidak ada jalan lagi untuk dia lewat.
“Ada apa sih, Pak?” tanya Javier pada orang yang ada di dalam sebuah mobil.
“Katanya, ada yang kecelakaan Mas.”
“Kecelakaan?” gumamnya.
Karena penasaran Javier mematikan mesin motor dan mencabut kuncinya. Ia turun dari kendaraan roda dua itu, lalu melapas helm. Javier berlari ke depan.
Orang-orang berkumpul di depan sana. Javier mencoba melihat korban kecelakaan itu. Seorang anak kecil terkapar tidak berdaya.
“Permisi, sudah menghubungi ambulan?” tanya Javier ke salah satu orang.
__ADS_1
“Sudah, Mas. Ambulan dalam perjalanan.”
Javier merasa ini tanggung jawabnya sebagai dokter. Ia mencoba masuk ke kerumunan orang itu dan meletakkan helm di jalan. Ia menatap sebentar wanita berhijab yang menangis sembari memanggil nama anak laki-laki yang dipenuhi darah ini.
“Maaf, Mbak. Izin ‘kan saya melakukan pertologan pertama.”
Dengan air mata yang membasahi pipinya, wanita berhijab ini menatap Javier penuh harap. Ia menyetujui apa yang akan lelaki itu lakukan pada adik kecilnya.
Javier sebisa mungkin membuat anak laki-laki ini untuk sadarkan diri terlebih dulu sampai ambulan datang. Ia memakai ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Setelah lima menit mata anak laki-laki itu terbuka sedikit. Orang-orang yang melihat seketika mengucap syukur. Tidak lama ambulan pun datang. Korban dibawa masuk ke ambulan.
“Terima kasih, Mas. Sudah menyelamatkan adik saya,” ucap wanita itu yang berhasil membut Javier terpesona.
Cepat Javier tersadar dan mengangguk, “Saya ikuti pakai motor dari belakang ya, Mbak.”
“Iya boleh, Mas.” Wanita berhijab ini berlari masuk ke ambulan untuk menemani adiknya.
Javier melajukan motor setelah kendaraan lain mulai bergerak lagi dari kemacetan.
•••
Dari monitor di depannya Dylan dapat melihat pergerakan calon anak pertamanya.
“Alhamdulilah, Pak-Bu. Bayinya sehat dan lengkap. Perkembangan dari si bayi juga cukup pesat,” ucap seorang dokter wanita yang sedang memeriksa kandungan Luna.
Luna yang berbaring di atas brankar itu tersenyum senang mendengar ucapan sang dokter. Usia kandungannya saat ini 6 bulan. Perut Luna sudah tambah besar sekarang.
Dokter menyelesaikan pemeriksaan dan membereskan alat-alat medisnya.
“Saya tinggal dulu, Pak-Bu. Saya akan tuliskan resep beberapa vitamin untuk Ibu Luna.”
Luna menganggukkan kepalanya. Dylan masih setia berdiri di samping brankar istrinya.
Wanita berdress berwarna kuning itu mengulurkan tangan ke depan suaminya. Dylan membatu Luna untuk bangun dan duduk.
“Alhamdulillah ya, anak kita sehat-sehat saja. Kenapa sih tiap chek up kamu nggak mau tahu kelamin anak kita?” tanya Luna menegadah menatap Dylan yang lebih tinggi.
“Karena bagiku nggak penting. Laki-lai atau perempuan aku terima. Biar surprise juga.”
Luna tersenyum, “Iya deh. Selesai ini kita ke rumah Mama ya? Aku rindu Mama dan Bhiru.” Wanita ini mengusap-usap perutnya.
Dylan menggangguk, lalu mengulas senyuman manis.
“Permisi, Pak-Bu.” Dokter wanita tadi datang lagi. Ia mengulurkan selembar kertas, “ini resep yang harus ditebus.”
Dylan menerimanya, “Terima kasih, Dokter.”
Setelah selesai urusan dengan dokter kandungan Dylan membantu Luna untuk turun dari atas brankar dan keluar dari ruang periksa dengan Luna memeluk sebelah tangan suaminya itu.
Luna tidak pernah menyangka akan dipertemukan oleh laki-laki seperti Dylan. Awalnya, dia tidak nyaman tinggal bersama orang asing yang malah membawanya ke takdir sekarang ini. Menikah oleh mantan teman satu rumahnya.
•• Selesai ••
__ADS_1