Housemate

Housemate
Tempat Kerja Baru Luna


__ADS_3

“Akh, sakit!”


Luna merintih kesakitan memegangi bokongnya.


Dengan sigap Dylan menahani motor agar tidak roboh menimpah Luna yang sudah ada di bawah. Lelaki itu dengan cepat membenarkan posisi motor, lalu turun untuk menolong istrinya.


“Kamu itu hati-hati dong kalau bawa mobil! Lihat ulahmu membuat orang celaka." Seseorang memarahi sopir dari dalam mobil.


“Maafkan saya, Tuan.” Sopir itu menunduk-nunduk, “saya tadi mengantuk sampai lupa mmengerem.”


“Lain kali hati-hati. Kalau masih mengantuk mengapa nggak bilang saat di rumah? Saya bisa suruh yang lain. Kamu tahu bukan hanya orang lain yang celaka saya juga bisa celaka karena kelalaianmu.”


“Iya maafkan saya, Tuan. Saya nggak akan mengulanginya lagi.”


Karena sudah terlalu kesal pria berjas itu, lantas mengambil tas kerja dan segera keluar dari mobil. Ia berjalan mendekati Luna dan Dylan.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Dylan yang sudah membantu Luna untuk berdiri.


Luna mengangguk sembari memegang pinggang, "Sakit sedikit, tapi nggak apa-apa."


“Maaf ya, bagaimana ada yang luka?” Dylan dan Luna bersamaan menoleh pada pria yang bertanya itu, “mau saya antar ke rumah sakit?”


Luna cepat menggerakan tangan ke kiri dan kanan, “Nggak perlu, saya nggak apa-apa kok, Pak. Cuma agak sakit saja sedikit tadi. Sekarang sudah nggak.”


“Syukurlah kalau baik-baik saja. Maaf ya, ini akibat sopir saya mengantuk. Dia sampai nggak sadar kalau sudah tiba di depan kantor.”


“Iya nggak apa-apa, Pak.” Dylan ikut menyauti.


Pria berjas hitam ini memperhatikan motor milik Dylan yang tadi sempat tertabrak. Motor sedikit penyok di plat nomor.


“Motor kalian rusak.” Luna dan Dylan yang tidak menyadari itu melihat ke arah yang ditunjuk pria berjas ini, “mau saya teleponkan bengkel langanan saya? Biar diperbaiki.”


Dylan menggeleng cepat, “Nggak usah, Pak. Cuma penyok sedikit. Nanti biar saya saja yang bawa ke bengkel.”


Luna mendongak untuk menatap suaminya yang sedang bicara dengan orang yang dia juga tidak kenal.


“Kamu yakin?”


“Yakin.”


“Aduh, saya jadi nggak enak sama kalian. Ini semua gara-gara sopir bodoh!” pria itu menggerutu sendiri.


“Kamu masuk gih! Nanti telat dimarahin antasanmu,” ucap Dylan pada Luna yang masih berdiri di sebelahnya.


Luna mengangguk, lalu mengulurkan tangan kanan untuk meminta tangan Dylan. Ia mencium punggung tangan suaminya.


“Aku masuk ya?”


Dylan mengangguk dan mengusap kepala Luna, “Iya, semangat kerjanya.”


“Hati-hati di jalan!” Luna melambaikan tangan ke suaminya, kemudian sedikit menundukkan kepala, “permisi, Pak!”


Pria berjas yang belum diketahui namanya ini melihat Luna berlalu pergi sesudah berpamitan juga padanya.


“Saya juga permisi,” ujarnya pada Dylan.


Dylan hanya mengangguk dengan mengulas senyum tipis. Pria tadi mengejar Luna dan berusaha menyamai langkah mereka.

__ADS_1


“Kamu karyawan di sini?”


Luna sedikit terkejut dan menghentikan langkah.


“Iya, Pak. Saya HRD baru di perusahaan ini. Baru hari ini mulai bekerja. Bapak juga karyawan di sini?”


Pria itu tertawa kecil, “Saya juga bekerja di sini. Saya Arjun Pradana. Manajer Keuangan di perusahaan ini.” Ia mengulurkan sebelah tangan.



Luna terkejut dan segera membalas uluran itu, “Oh Bapak ini manajer. Saya Luna, Pak.”


Arjun tersenyum ramah, “Semoga kamu betah ya kerja di sini. Maaf sekali lagi atas insiden tadi.”


“Iya nggak masalah, Pak.” Luna memperhatikan sekitar, “saya permisi ke ruang manajer HRD dulu.”


Pria itu mengangguk, “Silakan.”


Mereka berpisah saat Luna lebih dulu meninggalkan Arjun untuk bertemu atasannya.


•••


Dari jarak yang tidak terlalu jauh Dylan melihat kedua sahabatnya menghampiri. Lelaki yang baru selesai memarkirkan motor itu, lantas menyimpan kunci ke dalam saku celana, kemudian turun dari kendaraannya.


“Bagaimana nilai sudah keluar?” tanya Dylan yang mendekati kedua sahabatnya.


Javier menggeleng, “Belum, katanya sih setengah jam lagi. Wajar sih tahun ini banyak yang ikut koas.”


“Sambil nunggu kita nongki-nongki di kantin yok!” ajak Kendro, “bosan gila gue di sini. Sudah dari setengah jam yang lalu.”


“Salah siapa buru-buru ke kampus,” balas Dylan yang membuat Kendro memajukan bibir.


“Gue kepikiran ini juga. Bagaimana kalau kita koas di tempat yang berbeda?” tanya Javier.


“Kalau gue sih nggak masalah yang penting jangan terlalu jauh saja dari rumah,” jawab Dylan.


Kendro mengangkat kedua tangan, “Ya allah jangan pisahkan saya dengan Dylan. Karena Dylan adalah sumber saya mencontek paling akurat. Amin...” Sesudah berdoa lelaki ini mengusapkan tangan ke wajah.


“Yee! Dasar tukang nyontek.” Javier menoyor kepala Kendro hingga pemuda itu meruntuki Javier.


Mereka terus berbincang hingga sampai ke kantin. Dari ketiganya hanya Javier yang memesan makanan karena belum sempat makan siang. Sedangkan Dylan dan Kendro hanya memesan segelas kopi latte.


“Jadi, Luna sekarang sudah kerja?” tanya Kendro mengulang penjelasan Dylan barusan.


Dylan mengangguk saja.


“Hati-hati istri lo kepincut bos ganteng,” ujar Javier yang tertawa dengan masih menguncah makanan.


Kendro mengambil tanpa permisi kerupuk yang ada di piring Javier, “Lo nggak boleh begitu. Nanti Dylan kepikiran bagaimana?” kemudian dia melahap kerupuknya.


“Bercanda gue.” Javier menatap Dylan, “maaf, Lan. Lagi pula Luna ‘kan cinta mati sama lo. Kalau bahasa kekiniannya bucin. Mana mungkin bisa kepincut cowok lain ‘kan?”


“Nggak apa-apa. Gue juga nggak menganggap serius ucapan lo.”


“Tuh dengar!” Javier menyeprot Kendro yang tadi mengompor-ngompori malah tertawa.


•••

__ADS_1


Sedari tadi Luna masih berkutik di depan mesin fotokopi yang tidak mengerti untuk dia pergunakan.


Arjun yang ingin melangkah ke arah dapur jadi berbelok saat melihat Luna berdiri sendirian di depan mesin fotokopi. Ia menghapiri wanita itu.


“Kamu lagi apa di sini sendirian?”


“Eh, Bapak!” Luna terkejut atas kemunculan Arjun, “ini saya mau fotokopi, tapi kayaknya mesin ini rusak."


Pria itu tertawa geli, lalu berpindah ke sisi yang lain untuk mendekati mesin fotokopi.


“Ini nggak rusak Luna.” Arjun mwnadahkan tangan, “sini! Yang mana mau difotokopi.”


“Ini, Pak!” Luna memberikan kertas yang ada di dalam map, “saya jadi merepotkan Bapak.”


“Nggak apa-apa. Lagian saya nggak sibuk.” Arjun mengutak-atik mesin fotokopi itu, “kamu kenapa nggak minta tolong sama OB. Ini tuh tugas mereka.”


“Oh begitu ya, Pak.” Arjun tertawa lagi mendengar jawaban polos Luna, “saya pikir karena ini mudah untuk dilakukan, saya mencoba mengerjakannya sendiri.”


“Lain kali suruh saja salah satu OB di sini. Jangan biar ‘kan mereka menganggur. Membantu karyawan di sini tugas mereka. Selain membersihkan kantor, membuat minuman, dan membersihkan kamar mandi.”


Luna mengangguk-anggukkan kepala, “Baiklah, kalau begitu Pak. Saya paham sekarang.”


Gadis ini memperhatikan Arjun yang masih mengerjakan tugas Luna.


“Kalau sama Bapak mengapa mesin ini berfungsi?”


Arjun menoleh, “Karena tadi kamu salah cara pengerjaannya. Lihat sini! Seperti ini.”


Pria itu menunjukkan cara yang benar untuk menggunakan mesin fotokopi itu pada Luna.


“Kalau kamu masih ada yang kurang paham. Jangan segan untuk bertanya pada saya! Lagi pula ruang kerja kita nggak terlalu jauh.”


“Baik, Pak.” Luna menyetujui saja sekarang. Namun, dia masih tidak yakin akan bertanya pada Arjun nantinya.


Arjun menyerahkan hasil fotokopi ke tangan Luna, “Segitu cukup?”


Gadis ini menerima kertas-kertas penting itu dan menganggukan kepala.


“Cukup, Pak. Terima kasih banyak.” Luna mengulas senyum yang membuat Arjun ikut tersenyum padanya.


“Kalau begitu saya ke dapur dulu. Mau buat kopi."


Luna menggaruk kepala yang tidak gatal, “Bukannya buat kopi tugas OB. Mengapa Bapak nggak suruh mereka?”


Arjun tersenyum kecil, “Kamu sudah bisa membalikan kata-kata saya.”


Gadis ini sedikit tertawa.


“Kalau soal membuat minum saya lebih senang bikin sendiri. Kopi bikinan sendiri lebih cocok di lidah saya.”


“Oh begitu.”


Arjun mengedikkan dagu sekali, “Saya tinggal dulu.”


Luna menatap kepergian atasannya itu. Walau posisi Arjun lebih tinggi dari Luna ternyata laki-laki itu sangat ramah dan tidak angkuh. Kalau banyak orang baik di tempat kerja barunya. Luna pasti akan betah kerja di sini.


•••

__ADS_1


vote yang banyak ya geng 🙏🏻❤


Terima kasih.


__ADS_2