
Sinta sedikit terkejut saat menata meja makan dan Rania datang menghapirinya. Wanita satu anak itu sudah rapi dengan seragam kerja.
“Kamu mau bekerja, Mbak?” tanya Sinta, lalu meletakkan tekok ke meja.
“Iya, Sin. Saya harus bekerja. Saya dan Dylan berencana ingin mengontrak rumah sendiri dan membuat usaha seperti dulu.”
Sinta mendekati Rania, “Kenapa Mbak? Mbak dan Dylan nggak betah tinggal di rumah saya dan Mas Ardan?”
“Bukan begitu, Sinta. Saya dan Dylan sangat betah tinggal di rumah kalian. Apa lagi kalian begitu ramah bak keluarga sendiri, tapi ‘kan kami juga nggak enak menumpang terus-terusan. Nanti jadi merepotkan kalian terus.”
Wanita yang masih menggunakan celemek itu mengusap-usap sebelah pundak Rania.
“Kami nggak merasa direpotkan, Mbak. Kami memang sudah menganggap kalian seperti bagian keluarga kami. Apa lagi kalau perjodohan Dylan dan Luna terjadi ‘kan? Kita jadi besan.”
Rania tersenyum tipis, “Maaf sebelumnya, soal anak-anak kita, saya nggak bisa memaksa Dylan akan menikah dengan siapa. Karena saya membebaskannya menentukan pendaping hidup.”
Sinta bergeming. Ia jadi memikirkan nasib Luna. Bagaimana kalau Dylan tidak suka pada putrinya itu. Mana Luna juga tidak mau dijodohkan dengan Dylan.
“Kamu marah?”
Pertanyaan Rania menyadarkan Sinta kembali ke alam nyata.
“Nggak, Mbak. Saya nggak marah.” Kedua sudut bibir wanita ini tertarik ke atas, “Mbak mau kerjakan? Kalau begitu ayo sarapan dulu!"
Sinta menarik satu kursi untuk Rania duduk. Rania tidak menolak tawaran sarapan dari Sinta, karena kebetulan dari semalam dia belum makan.
•••
Selesai pelajaran pertama dan masih ada jam kosong sekitar tiga jam, Dylan memutuskan untuk ke peternakan. Hari ini adalah kerja perdananya.
Sesampainya di tempat kerja. Lelaki itu langsung diberi tugas untuk membersihkan kandang. Apa pun itu tugasnya akan Dylan kerjakan demi membantu sang ibu.
“Dylan!”
Dylan terhenjat kaget dan mengarahkan selang air yang menyala ke arah orang itu.
__ADS_1
“Aaa... Dylan! Aku basah,” teriak seorang gadis yang menjadi sasaran Dylan. Dengan cepat lelaki itu menjauhi selang air yang dia pegang.
“Maaf, maaf, Alexa. Gue nggak sengaja.” Lelaki ini menunjukkan ekspresi penyesalan.
Alexa terdiam sebentar, lalu tertawa geli setelahnya. Gadis itu tidak marah sama sekali. Padahal rambut dan bajunya sedikit basah.
“Kamu nggak marah?”
Alexa menggelengkan kepala dan tersenyum, “Untuk apa marah? Ini mengasyikkan.”
“Sini!”
Alexa merebut selang air dari tangan Dylan secara paksa. Kemudian mengarahkan pada lelaki itu. Hal hasil Dylan berlari-lari menghidari percikan air.
“Alexa berhenti! Gue basah nih.”
Gadis itu malah tertawa melihat Dylan berusaha menjauh dari semprotan selangnya.
“Kalian kenapa malah bermain-main?” suara berat itu berasal dari pintu kandang.
Dylan dan Alexa berhenti bermain dan menoleh ke arah pintu.
Dengan cepat Dylan mematikan keran yang tersambung selang itu agar air tidak terbuang sia-sia.
“Maaf, Pak. Lain kali saya nggak mengulanginya lagi,” ucap Dylan menundukkan pandangan.
Arga tidak terlihat marah. Pria itu melangkah mendekati kedua orang itu.
“Maaf, Daddy. Jangan marahi Dylan. Ini salah aku yang mengajak Dylan bermain air.”
Arga tersenyum, “Nggak apa-apa sayang. Daddy nggak marah pada kalian. Cuma tadi Daddy sempat heran saja kalian malah bermain-main.”
“Aku iseng ganggu Dylan, Dad.”
Pria berkemeja hitam itu menggelengkan kepala, “Ayo, kamu ikut Daddy!”
__ADS_1
“Oke!” Alexa menautkan telapak tangan pada tangan Arga, “ayo, dad!”
“Teruskan kerjanya Dylan!”
Dylan mengangguk, “Baik, Pak.”
Alexa dan Arga berjalan santai menunju pondokkan sambil berbincang ringan.
“Daddy mau bilang ke kamu.” Alexa menoleh ke arah Arga.
“Bilang apa Dad?”
“Soal gaji Dylan yang dikasih lebih awal Daddy sudah menyiapkannya.”
Kedua pupil mata gadis itu membesar. Wajah berseri-seri, betapa bahagianya keinginan selalu dituruti sang ayah.
“Are you serious?”
“Yes, buat kamu apa yang nggak serius. Daddy pikir juga kalau Dylan punya uang pasti dia cepat pergi dari rumah perempuan itu bukan?”
Alexa mengangguk semangat, “Benar banget, Dad. Akhirnya Dylan sama cewek itu nggak akan serumah lagi.”
Arga menghentikan langkah begitu juga dengan putri semata wayangnya ini. Mereka berdiri di depan pintu masuk pondok.
“Untuk alasan. Bilang saja Dylan, special person.” Arga mengucapkan kalimat itu dengan nada menggoda Alexa.
“Daddy...” Alexa mengayun-ayunkan sebelah lengan Arga.
Pria yang masih tampak tampan diusianya yang tidak bisa dibilang muda itu, tertawa kecil.
“Sudah-sudah, kamu ambil uangnya di dalam!”
“Oke!” Alexa melepas gandengan pada lengan sang ayah. Gadis itu berlari masuk ke dalam pondok.
Arga memutar posisi berdirinya. Ia menatap pepohonan yang ada di depan.
__ADS_1
“Ini perasaan saya saja atau dia memang mirip dengan wanita itu?” gumam Arga sambil melamun.
•••