
Dylan merapikan penampilannya di cermin. Ia mengambil ransel yang tergeletakan di kasur. Kemudian melangkah keluar dari kamar.
Sebelum turun ke lantai satu lelaki ini memeriksa kamar sang ibu yang ada di sebelah kamarnya. Rania sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Dylan bergegas pergi ke bawah.
Pemuda ini melangkah memasuki ruang makan. Ternyata ibunya di sana. Menyiapkan sarapan bersama Alika.
“Ibu tadi aku cariin di kamar,” ucap Dylan saat sampai di samping sang ibu.
Rania tersenyum, “Ibu sudah turun dari tadi. Bantu Tante Alika membuat sarapan.”
“Ibumu ini keras kepala juga ya, Dylan.” Pemuda itu menoleh pada ibu tirinya, “Tante bilang, nggak usah ikut memasak. Saya sama pembantu lain saja, tapi dia bersikeras ingin bantu juga.”
“Ibu memang begitu, Tante. Dia nggak akan diam saja mau tinggal di mana pun. Apa lagi memasak adalah kesukaannya.”
“Oh, gitu.” Alika mengangguk, “pantas saja ketika Tante cicip masakan ibumu memang enak, tapi Tante takut dia kelelahan saja.”
“Nggalah, memasak saja nggak bikin saya kelelahan Alika.”
“Lain kali, Mbak duduk saja menunggu. Biar pembantu di sini yang bekerja.”
Rania mengangguk patuh.
“Oh, iya, Dylan ayo duduk! Sarapan dulu. Kamu mau ke kampus ‘kan?” dylan mengangguk, “nah, isi dulu perutnya agar fokus nanti belajar. Saya mau panggilkan Mas Arga buat sarapan bersama kita.”
Ketika Alika melangkah pergi meninggalkan meja makan. Alexa datang dengan menguncir rambutnya. Ia tersenyum pada Rania sebelum terpukau dengan masakan di depannya.
“Ini pasti yang masak bukan Mommy,” tebak Alexa.
“Tante Alika sama Ibu gue yang masak,” balas Dylan yang telah duduk di kursinya.
“Tuh ‘kan. Ada campur tangan Ibu juga.” Alexa menarik satu kursi dan lantas duduk berhadapan dengan Dylan, “soalnya Mommy jarang masak sarapan seperti ini, Bu.”
“Hus, jangan bongkar rahasia Mommy semua dong, Sa!” tegur Alika yang baru datang bersama Arga.
Alexa hanya tertawa manja pada sang ibu. Arga segera duduk di kursinya setelah dipapah oleh Alika. Pria itu memperhatikan satu-persatu orang yang duduk.
“Saya sangat senang. Keluarga kita dapat berkumpul lagi.” Arga menatap Rania dan Dylan bergantian, “terima kasih Rania, Terima kasih Dylan, kalian sudah mau tinggal bersama saya dan keluarga.”
“Sama-sama, Yah. Ayah sudah bolehkan juga Ibu ikut tinggal dengan aku,” balas Dylan sekenanya.
“Kamu senang Ayah juga senang, Nak.” Arga tersenyum, “hari ini Ayah ingin melakukan pengobatan lagi di rumah sakit. Mungkin akan menginap beberapa hari. Kalian yang akur di rumah ya.”
“Pasti dong, Dad.” Alexa yang dari tadi menyimak bersuara lagi, “memangnya kita mau berantem apa.”
“Sudah, ayo kalian makan sarapannya! Nanti telat ke kampus,” perintah Alika pada kedua anaknya itu.
Rania yang dari tadi memperhatikan Arga cepat mengalihkan pandangan sebelum pria itu menyadarinya. Ia lantas mengambil makanan dan memindahkan ke piring miliknya.
•••
Terlebih dahulu sebelum mulai berjalan Dylan memanaskan mesin motornya. Alexa yang baru keluar dari rumah membelokkan langkah mendekati lelaki itu.
“Bareng aku saja!” Dylan menoleh saat suara tak asing bicara padanya, “dari pada naik motor ‘kan.”
“Nggak usah, terima kasih. Gue pergi naik motor saja. Sudah biasa.”
Alika menghela napas, “Kakak sekarang ini kita saudara. Jangan sungkan lagi sama aku. Kita bareng ya?”
“Berangkat bersama saja Dylan sama adikmu,” ujar Arga yang datang dengan dibantu kursi roda yang didorong sang istri.
Dylan dan Alexa yang masih mengobrol menoleh ke belakang.
__ADS_1
“Kalian ‘kan searah. Satu kampus malah.”
“Nanti saat pulang aku mau mampir ke rumah lama Ayah. Susah kalau naik mobil. Alexa jadi repot.”
Alexa menggeleng cepat, “Aku nggak repot. Nanti aku antar ke kontrakannya.”
“Tuh, Alexa sudah menyanggupi kok, Dy.” Tambah Alika yang berdiri di belakang Arga.
Bola mata lelaki itu bergerak kesana- kemari. Mencari cara agar tetap bisa pergi dengan motor kesayangannya.
“Ibu mau ke restoran? Aku antar ya!” ujar Dylan membuat semua orang yang ada di situ menoleh pada Rania.
“Kamu mau kerja, Ran?” tanya Arga yang melihat mantan istrinya memakai seragam pelayan.
Wanita yang sudah rapi ini menganggukkan kepala, “Iya, Mas. Saya ngga mungkin meninggalkan pekerjaan.”
“Nggak usah bekerja, Mbak. Mas Arga yang akan menanggung biaya hidup kalian,” ucap Alika turut serta membujuk.
“Iya, kamu bisa lebih bersantai. Anggap saja ini penebus kesalahan saya.”
“Saya nggak bisa, Mas. Maaf bukannya saya sombong, tepi saya nggak mau hidup di atas pijakan orang.” Rania mendekati putranya, “ayo antar Ibu!”
“Ayo, Bu!” Dylan memberikan satu helm pada Ibunya.
“Ibu, Dylan, ayo barang aku saja. Sekali ini saja, please!” Alexa mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Rania terlihat kasihan pada Alexa, “Iya, kita bareng kamu.”
“Yey, ayo-ayo!” Alexa menarik tangan Dylan dan Rania untuk mengikutinya.
“Kamu nggak pernah berubah, Ran. Selalu mandiri dan nggak mau menyusahkan orang lain.” Arga bergumam dalam hati sembari melihat kepergian anak dan mantan istrinya.
Apa lagi sekarang saat ibu sudah turun dan Dylan harus pindah duduk di depan, bersebelahan dengan Alexa yang fokus menyetir.
“Aku sedih sebenarnya saat tahu kalau kita ini adik-kakak. Padahal perasaan aku lebih dari itu,” ujar Alexa menoleh pada Dylan sekilas.
“Gue bersyukur, karena gue nggak akan bisa membalas perasaan lo itu.”
Mimik wajah Alexa berubah murung mendengar ucapan Dylan.
“Nggak bisa kamu buka sedikit hati buat aku?”
Dylan menoleh, “Jangan bahas perasaan lo lagi ke gue. Bagaimanapun sekarang kita saudara. Perasaan yang lo punya sudah nggak benar.”
Gadis ini menatap lurus ke jalan. Ia sedih dengan Dylan yang terus menyadarkannya akan kenyataan hubungan mereka.
“Berhenti! Sudah sampai di depan fakultas gue.”
Alexa terkejut dan mengerem mendadak. Hingga dahi lelaki ini terbentur dashboard.
“Maaf, kamu nggak apa-apa?” tanya Alexa berusaha membantu melihat dahi Dylan.
Lelaki itu menepis tangan Alexa, “Gue nggak apa-apa.”
Dylan tergesa-gesa turun dari mobil adik tirinya. Namun, gadis itu juga ikut turun. Kebersamaan mereka jadi tontonan bagi Mahasiswa yang ada di sekitar lokasi itu. Ada pula yang langsung bergosip.
“Hati-hati! Semangat belajarnya! Dadah.” Alexa berteriak dengan melambaikan tangan.
Dylan tidak peduli. Ia terus berjalan memasuki gedung fakultas menuju kelas.
•••
__ADS_1
Elina berlari memasuki kelas. Ia berhenti di depan meja Luna dengan napas yang ngos-ngosan. Gadis ini mencoba mengatur napas sambari membungkuk memegangi kedua lutut.
Luna yang sedang menggambar di mejanya menoleh saat mengetahui sahabat karibnya ini telah datang.
“Seperti habis dikejar orang sekampung saja lo. Nyolong apa lo?” tanya Luna yang menggoda Elina.
“Sembarangan. Gue bukan habis nyolong.” Elina menarik kursi mendekat pada Luna, “gue bawa info buat lo.”
Luna menyerongkan duduk menghadap Elina, “Info apa? Awas ya kalau nggak penting.”
“Info ini sangat penting. Lo mau tahu apa yang barusan gue lihat?”
“Gue?”
“Ih!” Elina memukul sekilas sahabatnya, “bukan.”
“Ya terus apa? Cepat! Gue penasaran.”
“Tadi saat gue jalan ke sini. Gue lihat Alexa semobil sama Dylan. Mereka datang bersama.”
“Hah?” Luna terkejut, “lo serius?”
“Iya, dua rius. Tumbenan Dylan nggak naik motor, tapi malah nebeng mobil cewek itu. Apa mungkin mereka jadian?”
Luna menggeleng, “Nggak mungkin. Kata Dylan, dia nggak suka sama Alexa.”
“Siapa tahu dia berubah pikiran.”
“Wuaaaa!” Luna seketika menangis tanpa air mata, “Dylan nggak boleh jadian sama siapapun. Dylan punya gue!”
“Sabar-sabar!” Elina mengusap-usap punggung gadis di sebelahnya ini.
Luna berhenti menangis, “Masa iya kemarin dia perhatian sama gue. Sekarang jadian sama yang lain?”
“Kita ‘kan nggak tahu isi hati seseorang.”
Luna mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Kemudian menekan nomor seseorang.
Dylan yang baru sampai di kelas menunda duduk karena handphone miliknya berbunyi. Ia lantas mengeluarkan benda pipih itu dari saku jaket.
Pemuda ini tersenyum tipis saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ia menekan gambar hijau dan menempelkan posel di telinga.
“Halo?"
[Kita putus!] ucap Luna kemudian mematikan sambungan telepon.
Dylan menjauhkan ponsel. Dahi lelaki ini mengerut melihat handphone-nya sendiri. Dia bingung dengan Luna yang mendadak telepon dan hanya berbicara seperti itu.
“Memangnya kalian sudah jadian?” tanya Elina yang dari tadi menyimak pembicaraan.
“Belum.”
Elina menepuk dahi atas kebodohan sahabatnya ini, “Malu-maluin saja lo.”
“Gue kesal!” Luna mencebikkan bibir.
“Nggak panas,” ujar Elina setelah memeriksa dahi Luna, “gue kira lo masih sakit. Sampai gila begini.”
Gadis itu menertawakan kelakuan Luna.
•••
__ADS_1