
“Kakak! Buka pintunya!”
Bhiru yang ada di depan pintu sedari tadi berteriak. Siswa kelas 2 SMP itu tampak audah kesal karena tidak da satu pun orang membukakan pintu untuknya.
“Kak Luna!”
Dylan mengerjapkan mata saat samar-samar mendengar suara Bhiru di luar sana. Ketika mengedarkan pandangan lelaki itu menangkap sosok Luna tertidur di dekatnya. Posisi mereka hanya dibatasi Zayn yang tidur di tengah.
Pemuda itu lekas menarik tangannya yang tertimpah tangan Luna. Dylan juga segera duduk. Pergerakkan lelaki itu membuat Luna bangun.
“Ini jam berapa ya?” tanya Luna merapikan rambut.
Dylan melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar Luna, “Sudah jam lima. Oh iya, itu sepertinya Bhiru sudah pulang.”
“Lo buka gih!”
Dylan menghela napas. Tanpa membantah dia berjalan keluar dari kamar menuju lantai dasar. Ketika membuka pintu coklat besar itu Dylan melihat Bhiru sedang berbincang dengan seorang wanita yang tidak dia kenal.
“Akhirnya dibuka juga. Bhiru sudah lumutan tahu Kak nunggunya,” protes anak laki-laki berseragam putih biru itu.
“Maaf, baru bangun tidur.”
Bhiru terlihat acuh dan langsung masuk ke dalam rumah. Wanita dengan rambut digerai itu tersenyum ke arah Dylan.
“Permisi, saya mau cari Luna. Tadi pagi menitipkan Zayn ke sini.”
“Oh, Mbak ini ibunya Zayn?” wanita itu mengangguk.
“Silakan masuk dulu, Mbak!” Dylan memberi jalan untuk wanita itu, “saya panggilkan Lunanya dulu.”
Ibu dari bayi laki-laki itu mengangguk dan duduk menunggu kedatangan Luna di ruang tamu.
__ADS_1
Dylan kembali masuk ke kamar Luna. Ia mendapati Luna sedang bermain handphone di samping Zayn.
“Itu ibu dari bayi ini sudah datang. Dia cari lo.” Dylan meraih tas yang tergeletak di kasur.
“Serius lo?”
Dylan mengangguk dan melangkah keluar dari kamar. Luna dengan cepat menggendong zayn dan membawa perlengkapan yg sudah dimasukkan ke tas. Gadis itu tergesa-gesa turun ke lantai dasar.
•••
“Ini semua foto dan informasi yang saya dapat, Pak.”
Seorang laki-laki meletakkan amplop coklat ke atas meja. Pria paruh baya itu tersenyum.
“Terima kasih Andre.”
Pria itu mengeluarkan isi amplop dan melihat beberapa hasil potretan di sana. Seorang gadis membuka pintu dan membuat fokus kedua lelaki itu tertuju padanya.
“Iya, Sa. Cepat kemarin. Daddy punya informasi tentang laki-laki itu.”
Alexa tersenyum lebar, lalu berlari kecil mendengar ucapan dari sang ayah.
“Mana?” Arga memberikan foto yang ada di tangannya ke sang putri, “ini kamu bisa lihat sendiri.”
Alexa memperhatikan semua foto yang diambil dari beberapa sudut. Ada juga foto-foto Dylan saat di rumah.
“Menurut informasi yang saya dapat. Mereka tinggal serumah, Non.” Andre mencoba menerangkan pada putri atasannya.
“Aku tahu itu, Om.” Alexa memperhatikan lelaki usia 35 tahun itu, “gadis itu saudara Dylan yang memberi Dylan dan ibunya tumpangan.”
“Nama anak itu Dylan?” celetuk Arga tiba-tiba yang membuat Alexa menoleh dan mengangguk.
__ADS_1
“Iya, Daddy. Kenapa?” Dahi Alexa berkerut saat Arga malah menggelengkan kepala. Pria itu menyuruh anak buahnya untuk lanjut menerangkan.
“Maaf, Non.” Fokus Alexa teralihkan kembali ke Andre, “menurut tetangga di lingkungan itu mereka bukan saudara, tapi orang tua mereka adalah teman lama, Non.”
Alexa terdiam. Otaknya seketika berpikir kalau masih ada peluang untuk kedua orang itu benar-benar memiliki hubungan. Dia juga menyadari kalau Dylan sudah berbohong. Namun, pertanyaannya mengapa Dylan sangat menutupi itu?
“Mereka pacaran sungguhan?” tanya Alexa yang terus diperhatikan sang ayah.
“Maaf, Non. Untuk itu saya kurang tahu. Saya belum dapat informasi yang akurat. Kalau saya lihat dari cara interaksi mereka seperti memang ada sesuatu antara kedua orang itu.”
Seketika gadis cantik itu murung dan menunduk. Arga yang mengerti perasaan putrinya segera berdiri dan merangkul Alexa.
“Kamu jangan bersedih. Itu belum jelas sayang.”
Alexa mendongak, kemudian menatap tajam Arga.
“Kalau mereka itu benar pacaran bagaimana Daddy? Aku nggak ada kesempatan lagi untuk bersama Dylan.” Mata Alexa berkaca-kaca. Gadis itu seperti ingin menangis.
“Jangan khawatir sayang. Kalau itu benar, status mereka baru pacaran. Kamu masih bisa mendapatkannya. Daddy akan bantu lelaki itu jadi milikmu.”
Gadis ini tersenyum, “benar daddy? Dylan bisa jadi milik aku?”
Arga mengangguk dengan tersenyum memberikan harapan luas untuk sang putri yang berharap bisa mendapatkan cinta sejatinya.
•••
Note:
Maaf, pendek dulu lanjutannya. ngebleng aku sudah lama nggak dilanjut wkwk 🤣
Makasih yang masih mau ngebaca cerita ini. Jangan lupa terus support!
__ADS_1