Housemate

Housemate
Ayah Datang


__ADS_3

“Bilang apa?”


Luna dan Dylan menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba bergabung ke pembicaraan mereka.


Dylan menggeleng, “Bukan apa-apa, Bu. Ini Luna kepo.”


Rania mengangguk sambil melangkah mendekati Luna dan Dylan. Sedangkan Luna mencebikkan bibir.


“Kok jam segini Ibu sudah pulang?” tanya Dylan berusaha mengalihkan pembicaraan agar Rania tidak menanya lagi.


“Sebenarnya Ibu memang pulang jam lima sore, tapi sering mengambil lembur. Lumayan tambahan uangnya untuk modal usaha,” jelas Rania pada sang anak.


“Pantas saja waktu itu Ibu sempat pingsan.” Dylan mengusap-usap bahu Rania, “jangan diforsir Bu kerjanya?”


“Iya, Tante. Nanti kalau kerja terus Tante sakit. Aku ‘kan nggak mau calon mertuaku sakit,” tambah Luna.


“Ngawur!” celetuk Dylan.


Sedangkan Luna senyum-senyum saja pada lelaki itu.


“Kalian nggak usah khawatir Ibu sehat-sehat saja. Ibu juga bisa jaga kesehatan.” Rania tersenyum, “Ibu tinggal dulu. Mau masuk.”


Dylan mengangguk. Kedua orang itu memperhatikan Rania yang melangkah masuk ke rumah. Kemudian Luna menatap ke arah Dylan.


“Tadi lo mau ngomong apa? Sudah nggak ada Tante Rania ayo lanjut lagi.”


“Maaf, gue sibuk mau lanjut cuci motor.” Dylan kembali asyik dengan kendaraan roda duanya itu.


“Dylan! Gue ‘kan penasaran. Kenapa lo nggak akan pacaran dan menikah dengan Alexa?”


Lelaki itu tidak menggubris pertanyaan Luna. Ia sengaja membiarkan saja tanpa menjawab. Daripada masalah ini tambah tersebar.


Gadis ini merengut tidak mendapatkan jawaban. Kemudian dia melangkah pergi dengan wajah masam.


•••


Sebuah mobil mewah berwarna putih melaju masuk ke dalam perkomplekkan Bunga Asri. Di mana itu adalah kawasan rumah Wardana.


“Kamu yakin di sekitar sini rumahnya?” tanya Arga pada pria yang menyopir mobilnya.


“Iya, Pak. Saya sendiri yang memotret cowok itu. Sebentar lagi kita sampai,” jawab Andre yang begitu yakin kalau dia masih sangat ingat rumah Dylan.


Arga terus menatap lurus ke depan. Pria yang memakai pakaian sangat rapi ini sudah tidak sabar ingin bertemu mantan istri dan anaknya.

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat Luna yang sudah berpiama berdiri di depan pintu kamar adiknya. Sedari tadi dia memperhatikan Dylan yang sedang berkemas-kemas.


Rencananya, Dylan serta sang ibu akan pindah besok ke kontrakan baru. Luna sangat merasa kehilangan lelaki itu. Tidak ada yang bisa dia jahili dan tumpangi lagi kalau ke kampus.


“Sedang apa, Lun?” pertanyaan yang datang dari seorang wanita membuat Luna menoleh.


Gadis menampilkan senyum terpaksa, “Lagi lihat Dylan beres-beres, Tante.”


Rania menoleh ke dalam, lalu menatap Luna kembali. Terlihat jelas kesedihan di mata gadis itu. Rania mengulum senyum. Kemudian maju beberapa langkah mendekati Luna.


“Jangan sedih!” Wanita ini mengusap-usap punggung Luna, “kontrakan Tante nggak jauh dari sini. Kamu boleh main setiap hari.”


“Benar Tante?”


“Nggak boleh!”


Baru saja Luna ingin menguntai senyuman. Namun, tolakan dari dalam membuat gadis itu merengut lagi.


“Jahat lo! Kata Tante saja gue boleh main ke rumah lo.”


Dylan menghentikan kegiatannya sebentar, “Tapi gue nggak bolehin. Lo pasti bakal recokin gue lagi.”


“Dylan nggak boleh ngomong begitu! Bagimanapun keluarga Luna sudah baik dengan kita.” Rania menegur anaknya.


Luna menunjuk-nunjuk ke lelaki yang terdiam ini setelah mendapat nasihat dari Rania.


Luna tersenyum sambil mnganggukkan kepala. Setelah berkata seperti itu Rania melangkah masuk ke kamar membantu anak laki-lakinya ini untuk membereskan pakaian.


Suara bel rumah yang berbunyi membuat semua penghuni di dalamnya menoleh. Namun, cuma Sinta yang berjalan keluar untuk membuka pintu.


“Apa benar ini rumah Dylan?” tanya pria bertaxado itu.


“Maaf, Pak. Ini rumah suami saya, tapi memang ada ponakan saya yang namanya Dylan sedang menumpang di sini.”


“Oh iya, maaf Ibu. Maksud saya apa benar Dylan sedang menumpang tinggal di sini?”


Sinta mengangguk, “Mau bertemu Dylan?”


“Saya minta tolong dipanggilkan Dylan dan Ibunya, Rania.”


“Kalau boleh tahu bapak ini siapanya Mbak Rania?”


“Teman lama.”

__ADS_1


Sinta membulatkan bibir dengan mengangguk. Tanda dia paham sekarang. Kemudian wanita itu mempersilakan Arga dan Andre untuk duduk dulu di ruang tamu. Sedangkan Sinta bergegas masuk untuk mencari Rania dan Dylan.


“Ada siapa, Ma?” tanya Wardana di ruang keluarga yang sedang bermain catur dengan anak bungsunya.


“Tamunya Mbak Rania, Pa.”


Setelah tahu pria berkumis tipis itu mengangguk saja. Sinta melanjutkan langkah ke kamar Bhiru. Ia tahu tadi Rania bilang ingin membatu Dylan berkemas.


“Mbak, ada tumu untuk kamu.” Sinta bicara di depan pintu hingga tidak peduli dengan Luna yang ada di sebelahnya.


“Tamu?” Rania berpikir, “siapa malam-malam begini bertamu?”


“Sudah, coba Mbak temuin dulu. Siapa tahu ada yang penting ingin dia sampaikan.” Sinta melihat ke arah Dylan, “dia juga mencarimu, Dylan.”


Dylan bergeming sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Baru akan mencegah ibunya untuk tidak menemui orang itu, tetapi Rania sudah pergi bersama Sinta.


“Lo nggak ikut turun? Tamunya juga cari lo,” tanya Luna yang masih setia memantau Dylan.


Lelaki ini lantas berdiri dan berlari keluar dari kamar. Luna juga mengikutinya dari belakang.


“Rania!” Arga refleks berdiri dengan tatapan terpukau melihat mantan istrinya.


Begitupun wanita itu. Ia juga sangat terkejut bisa bertemu lagi dengan mantan suaminya. Berbeda dengan Dylan yang tiba-tiba menatap tidak suka pada kedatangan Arga.


Sedangkan Sinta dan Luna memperhatikan dari ruang keluarga. Luna dilarang Sinta untuk mendekati Dylan di sana. Padahal gadis ini ingin selalu ada di sebelah lelaki itu.


“Dari mana kamu tahu rumah saya?” tanya Rania dengan mata mulai berkaca-kaca.


“Anak buah saya pernah memantau Dylan. Jadi, saya meminta dia untuk mengantarkan saya bertemu denganmu dan anak kita.”


“Anak kita?” gumam Sinta membuat Luna menoleh padanya.


“Maksudnya apa, Ma?” Dahi Luna berkerut, “Dylan anak Om itu?”


“Sttttt!” Sinta meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Menyuruh Luna untuk membungkam suara.


Akhirnya Luna fokus saja menyimak pembicaraan Ibu dan anak yang menemui tamu misterius.


“Dari mana kamu tahu anak kita bernama Dylan?” tanya Rania.


Arga melihat ke arah Dylan yang memperhatikannya saja sedari tadi.


“Kamu nggak cerita ke Ibumu, Nak?” pertanyaan Arga berhasil membuat Rania menoleh pada Dylan. Begitu pun Dylan yang lekas menatap Ibunya.

__ADS_1


“Kamu sudah tahu itu Ayahmu, Nak?” bola mata wanita ini bergerak-gerak menatap wajah Dylan, “jawab!”


•••


__ADS_2