
“Sebenarnya kami sangat menyayangkan kamu keluar dari kantor ini Luna. Skill kerja kamu bagus, padahal kamu masih baru.”
Luna tersenyum mendengar pendapat manajer HRD yang kini sedang berbincang dengannya.
“Mau bagaimana lagi, Pak.” Luna menyentuh perut, “suami saya meminta untuk saya segera mengundurkan diri dari pekerjaan dan fokus pada calon bayi kami.”
Manajer itu mengangguk, “Iya saya paham. Kalau kamu masih mau balik ke sini setelah melahirkan saya nggak keberatan.”
“Terima kasih banyak Pak atas kepercayaan penuhnya terhadap saya.” Luna lekas berdiri dan manejer itu pun mengikutinya.
Mereka saling berjabat tangan, “Semoga selalu sehat bersama bayinya dan kelahirannya lancar.”
“Amin.” Luna menarik tangan kembali setelah berjabatan, “saya permisi, Pak.”
Wanita berblazer dan rok sebatas lutut itu keluar dari ruangan atasannya. Ia melangkah menuju ruang kerjanya yang bersebelahan dengan manajer.
Sesampai di depan meja kerja, Luna, lantas memasukan barang-barang ke dalam kardus. Sekarang dia sudah bisa kembali ke rumah.
“Saya pasti merindukan kamu.” Mina yang mendatangi meja Luna ini terlihat sedih, “semoga bayimu terlahir sehat dan nggak kurang satupun.”
“Amin, terima kasih Mina.” Luna memeluk rekan kerjanya ini.
“Sama-sama.” Pelukan mereka sudahi, “kamu pulang sama siapa?”
“Sendiri saja pakai taksi. Suamiku masih di rumah sakit.”
“Enak nggak sih punya suami calon dokter?”
Dahi Luna mengerut mendengarkan pertanyaan Mina.
“Ya kali saja aku jadi pengin cari suami dokter seperti kamu,” lanjutnya sembari tertawa.
Terus membereskan barang-barangnya Luna menjawab, “Enak nggak enak. Sering di tinggal karena dia sibuk sama urusan rumah sakit, tapi nggak masalah karena yang dia lakukan adalah menolong sesama.”
“Hem, omonganmu sweet banget.”
Luna jadi tertawa setelahnya. Selesai berberes wanita ini mrngangkat satu kardus yang dia akan bawa pulang.
“Aku pergi ya.” Pamit Luna pada Mina yang sih berdiri di depannya.
“Iya hati-hati.”
__ADS_1
“Jangan lupa, main-main ke rumah. Nanti alamat aku kirim ke HP-mu.”
“Oke!” Mina tersenyum.
“Teman-teman saya pamit.”
Luna juga tidak lupa beramitan dengan rekan kerja yang lain, kemudian dia melanjutkan langkah keluar dari gedung bertingkat itu. Namun, saat di lobby tidak sengaja bertemu Arjun yang akan masuk.
“Luna mau saya bantu?” tawar Arjun melihat wanita itu membawa kardus.
“Nggak usah! Saya masih bisa, ini nggak berat, Pak.”
“Baiklah, kamu pulang naik apa?”
“Taksi.”
“Bagaimana kalau pakai mobil saya saja?” Luna menggelengkan kepala, “maksudnya bersama sopir saya. Kalau saya ada meeting satu jam lagi. Jadi, nggak bisa ke mana-mana.”
“Nggak usah repot-repot, Pak. Lagi pula di depan banyak taksi.” Luna menundukkan kepala sejenak agar terlihat sopan, “permisi.”
Luna berjalan meninggalkan Arjun. Lelaki itu melepas kepergian Luna dengan ikhlas. Lebih baik memang begini karena dia tidak ingin menyebabkan hubungan orang lain hancur.
•••
“Buka dong!” ujar Luna tersenyum dan tidak sabar melihat ekspresi kaget adik iparnya itu.
“Boleh dibuka sekarang?” tanya gadis itu memastikan.
Dylan mengangguki saja, kemudian Alexa dengan rasa penasaran buru-buru membuka kotak kadonya. Sebuah gaun cantik yang belum lama dia inginkan akhirnya terwujud dari kado pemberian Dylan dan Luna.
“Bagaimana suka? Kata Dylan, kamu mau gaun itu. Ya sudah aku belikan,” ucap Luna menunggu reaksi berikutnya.
“Ini gaun yang waktu itu aku lihat di Mall, Kak. Kata Kak Dylan jangan beli, pemborosan karena baju aku sudah banyak.”
Dylan yang duduk bersandar pada sofa menjawab dengan enteng, “Ini karena kamu sedang ulang tahun.”
Alexa menunjukkan wajah cemberutnya. Namun, tidak lama dia tersenyum lagi melihat gaun cantik itu sudah menjadi miliknya.
“Maaf minum dan cemilannya lama.” Alika yang baru datang menghidangkan beberapa gelas minuman berserta cemilannya pupula.
“Nggak perlu repot-repot, Mom. Kalau kami haus bisa ambil sendiri,” ujar Dylan pada ibu tirinya.
__ADS_1
Luna mengangguk setuju, “Iya lebih baik Mom istirahat saja.”
“Ah kalian ini seperti sama siapa saja. Nggak apa-apa, Mommy butuh banyak bergerak. Kata dokter, itu bagus untuk kesehatan Mommy. Anggap olahraga ringan.”
Setelah mempersilakan anak-anaknya untuk makan dan minum Alika melangkah pergi kembali meninggalkan mereka.
"Begitulah, Mommy, Kak. Susah buat dilarang. Aku cuma takut dia kecapekan terus ngedrop lagi," curhat Alexa yang sedih dengan keadaan ibunya sekarang.
"Kamu terus pantau saja. Jangan sampai Mommy mengerjakan yang berat dan terlalu lama." Dylan memberikan sedikit nasihat pada sang adik dan mendapat anggukkan Alexa.
“Brian bagaimana kabarnya?” tanya Luna mulai menyicipi cemilan yang terhidang di depannya.
“Biasa masih sibuk sama kuliahnya,” jawab Alexa sembari melipat gaun hadiahnya.
Sejak lulus Brian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Walau begitu Brian sempat menyatakan perasaannya lagi pada Alexa. Gadis ini memang tidak sepenuhnya tertarik pada Brian. Namun, ia menerima pernyataan cinta lelaki itu. Alexa pikir dia akan berusaha mencintai Brian dengan tulus.
Tidak berselang lama Brian mengabarkan akan melanjutkan S2 ke Singapura. Meski begitu Alexa tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan hubungan walau harus jarak jauh.
“Kalian masih sering komunikasi?” kali ini pertanyaan datang dari Dylan.
Alexa mengangguk, “Sering banget, Kak. Dari mulai telepon, kirim pesan, sampai video call. Aku saja suka heran bnyak sekali waktu senggang Brian untuk kasih kabar setiap waktu.”
Luna tertawa mendengar cerita adik iparnya ini.
“Ternyata cowok itu nggak berubah. Tetap saja bucin sama kamu. Dulu dia cerita kalau nggak mengharapkan cinta kamu lagi. Tahunya prett!” Luna mencebikkan bibir di akhir bicara.
Tiba-tiba handphone Alexa yang tergeletak di meje berdering. Gadis itu lekas meraihnya.
Alexa tertawa saat melihat siapa yang mengirim pesan padanya, “Baru diomongin orangnya sudah kirim pesan, Kak.”
Luna yang akan meneguk minuman pada gelas yang sudah dia pegang hanya merespon dengan tersenyum.
Dylan menegakkan punggung, lalu mengambil keripik di piring dan melahapnya.
“Kalian nggak berpikir mau menikah?” tanya lelaki itu sesudah mengunyah makanan di dalam mulut.
Alexa menggeleng, “Nanti saja deh. Biar dulu Brian dapat pekerjaan bagus. Aku juga masih sibuk sama peternakan.” Gadis ini memotret cepat Dylan dan Luna, kemudian mengirimnya pada Brian.
“Pikiran bagus juga.” Dylan mengangguk setuju.
“Aku juga mau tunggu Kak Luna melahirkan dulu,” ujar Alexa menatap ke arah Luna.
__ADS_1
“Masih lama.” Semprot Luna.
•••