
Dylan yang serius membaca di taman rumah itu mendongak, lalu menatap seseorang yang mengulurkan segelas jus.
Gadis yang memberikan satu minumannya pada Dylan ikut duduk tanpa dipersilakan terlebih dulu.
“Segelas jus agar lebih semangat belajarnya.” Alexa menggerakkan tangan yang memegang gelas, “kata Ibu, lo suka minum jus jeruk.”
“Nggak usah, terima kasih.” Dylan kembali membaca buku, “gue lagi nggak pengin minum.”
“Kalau begitu gue letakkan di sini saja.” Gadis itu meletakkan gelas berisi jus ke bangku panjang yang mereka duduki, “siapa tahu nanti lo haus.”
Dylan mengacuhkan saja gadis itu ingin apa. Ia hanya mencoba fokus pada buku yang dibaca sekarang.
Ponsel di dalam saku celana Dylan berbunyi membuat Alexa ikut menoleh ke sana.
“Siapa?”
Dylan mengedikkan kedua bahu saja. Ia merogoh saku dan membaca pesan masuk ke ponsel itu.
“Luna?” gumam Dylan yang masih terdengar dengan Alexa yang berusaha mengintip layar handphone.
“Jangan dibalas!” Alexa merebut ponsel milik kakak tirinya itu, “dia cuma mengganggu quality time kita.”
Pemuda ini menadahkan sebelah tangan, “Kembalikan handphone gue, Alexa!”
Alexa berdiri dan menyembunyikan benda pipih itu ke belakang tubuhnya, “Nggak, aku nggak akan kasih ini ke kamu. Besok pagi aku kasih.”
Dylan pun ikut berdiri dan berusaha merampas kembali barang miliknya. Namun, Alexa berlari ke dalam rumah.
“Alexa kembalikan!” teriak Dylan yang mengejar adiknya itu ke dalam.
Rania dan Alika yang asyik berbincang-bircang sembari menonton acara di televisi itu menoleh pada kedua anak mereka yang berlari-larian.
“Aduh, kalian ngapain malem-malem malah main lari-larian?” tanya Alika yang merasa pusing.
Alexa menjatuhkan tubuh duduk di samping sang ibu, “Ini Mom masa Kak Dylan masih berhubungan sama cewek nggak benar.”
Alika memperhatikan ponsel yang ditujukkan oleh putrinya. Dylan berhenti berlari dan mengatur napas terlebih dulu.
“Jaga ya omongam lo! Luna itu anak baik-baik,” ujar Dylan tidak terima.
“Mana coba Ibu lihat.” Rania mengambil ponsel dari tangan anak tirinya, “oh, masa kamu lupa Alexa kemarin itu kita ‘kan sudah bertemu keluarga Luna.”
Rania mengembalikan handphone ke tangan Dylan.
“Dasar lo bermuka dua. Di depan keluarga Luna sok manis sedangkan di sini fitnah-fitnah Luna nggak bener ke Tante Alika.”
“Dylan!” panggilan Rania membuat lelaki itu menoleh pada ibunya. Rania menggelengkan kepala, “nggak boleh berbicara seperti itu!”
Pemuda ini akhirnya diam. Kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
“Mommy masa aku dibilang muka dua sama Kakak.” Alexa memeluk Alika.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mengusap-usap punggung anak perempuannya. Kemudian menatap Rania.
“Maaf, Mbak. Saya masih sopan ya ke Mbak. Tolong ajarkan anaknya bicara. Alexa ini gadis yang baik.”
“Tapi...”
“Saya nggak mau Alexa jadi sedih karena ucapan Dylan. Alexa seperti ini karena dia masih susah untuk melupakan perasaan sukanya pada Dylan.”
Rania menganggukkan kepala, “Saya permisi dulu.”
Ibu dari Dylan ini melangkah meninggalkan kedua orang yang ada di ruang tengah itu.
Dylan kembali membuka handphone setelah masuk ke dalam kamar. Sekarang keadaannya aman, kamar sudah dia kunci. Jadi, si pengganggu itu tidak mungkin bisa masuk.
Cewek berisik
Dylan tadi siang kenapa malah pitar balik?
Kedua mata Dylan melebar. Ternyata gadis itu melihatnya.
“Gawat, gue ketahuan dong.”
Dylan
Ada yang ketinggalan.
Ada sepuluh menit balasan dari Luna datang. Dylan bergegas membuka ponselnya.
Oh, kalau begitu minggu ini mau jalan? Ada yang mau gue omongin. Jam 9 di taman dekat kontrakan lo. Sampai bertemu.
Dylan
Oke.
Lelaki ini berbring ke kasur sembari memandangi pesan terakhir Luna dengan senyuman.
“Akhirnya Luna nggak ngejauhin gue lagi.”
Dylan menjatuhkan kedua tangan di kasur, lalu menatap langit-langit kamarnya.
“Sepertinya saat bertemu nanti bisa gue manfaatin buat coba nembak lagi.” Selagi menghayal Dylan jadi teringat Brian, “tapi Brian? Apa Luna suka Brian lagi?”
Lelaki itu menarik tangan kembali. Mengutak-atik handphone dan memeriksa sosial media milik Luna yang dia tahu.
Tidak ada tanda-tanda Luna sudah pacaran dengan Brian. Facebook-nya saja masih berstatus lajang. Menurut Dylan ini harus dia pertanyakan langsung kepada yang bersangkutan.
•••
Tinggal 15 menit lagi jarum jam akan menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi Dylan sudah duduk di bangku taman untuk menunggu kedatangan Luna.
Untuk datang ke taman saja dia harus berdrama dulu dengan Alexa. Gadis menyebalkan itu memaksa ikut. Untung saja Arga melarang putrinya membuntuti Dylan.
__ADS_1
“Sudah lama?”
Dylan menoleh dan mendongakkan kepala. Ia segera berdiri dan memberikan senyuman tipis pada Luna.
“Belum, baru 10 menit.”
“Gue pikir, gue datang paling cepat. Tahunya lo lebih cepat.” Luna tertawa seakan tidak ada lagi kekesalan di hatinya.
“Oh iya, lo kenapa ngajakin bertemu? Sudah nggak marah sama gue?” tanya Dylan.
Luna menggelengkan kepala, “Sudah nggak. Gue sudah bisa terima keputusan dari lo. Sekarang gue mau sahabatan sama lo.”
Dahi Dylan mengerut. Luna tersenyum, lalu mengacungkan jari kelingking ke depan Dylan.
“Sahabat?”
“Memang Brian nggak marah kalau lo punya sahabat cowok?”
Alis Luna tertaut, “Untuk apa dia marah?”
Beberapa detik mereka terdiam. Kemudian Luna bicara lagi, “Jangan bilang lo berpikir kalau gue sama Brian jadian?”
“Gue mengira kalian memang jadian.”
Luna tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut. Ia mengusap sudut mata yang berair.
“Aduh sampai sakit perut gue.” Gadis berusaha menghentikan tawanya. Apa lagi Dylan menatap tidak suka padanya sekarang, “gue dan Brian itu cuma teman. Sejak Brian mengakui kesalahannya kami berdamai dan berteman seperti teman sekelas lainnya. Perasaan gue juga sudah habis untuk dia.”
“Syukurlah,” ujar Dylan yang bergumam sembari menghela napas.
“Hah, Apa?”
Lelaki ini menggeleng. Kemudian mengambil kelingking Luna dan menautkan dengan jari kelingking miliknya.
“Kita sahabatan.”
Luna menarik kedua sudut bibir membentuk setengah lingkaran. Senyum itu menular pada Dylan.
“Sudah.” Luna menarik tangan kembali, “ayo kita rayakan ini dengan jalan-jalan.”
“Ke mana?”
Gadis dengan rambut dikepang modern ini mengacungkan jari telunjuk, “Bagaimana kalau ke taman hiburan. Naik roller coaster atau komedi putar.”
“Boleh. Ayo pergi!” Dylan berjalan lebih dulu dan Luna mengikutinya.
Ketika Dylan memberikan helm Luna bukan menerima malah menundukan kepala minta di pasangkan. Walau terlihat ragu Dylan tetap memasangkan helm itu pada kepala Luna.
Luna tersenyum. Kemudian menyusul naik ke atas jok motor setelah Dylan naik lebih dulu. Kendaraan roda dua ini melaju ke tujuan yang Luna mau.
Gadis itu pun dengan sengaja memeluk pinggang lelaki di depannya. Dengan beralas dia takut jatuh. Padahal Dylan membawa motor dengan santai saja.
__ADS_1
•••