Housemate

Housemate
Duka


__ADS_3

Rania mengetuk beberapa kali pintu kamar anaknya, “Dylan sudah siap belum? Itu Luna sudah datang.”


Dylan meraih kalung setengah hati berwarna hitam di meja, “Sudah, Bu. Sebentar lagi aku keluar.” Lelaki ini memasang kalung pada lehernya.


Hari ini Dylan berencana akan menjenguk Arga di Rumah Sakit bersama Ibu dan Luna. Terpaksa memilih hari minggu dulu karena makin hari kuliah makin padat bagi Dylan.


“Kamu yakin mau ikut?” tanya Dylan setelah mendatangi Luna yang duduk di ruang tamu.


Luna mendongak, lalu tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Yakin banget. Aku ‘kan juga pengin tahu keadaan Om Arga.”


“Aku takutnya kamu jadi sasaran Alexa lagi,” tambah Dylan.


Luna lekas berdiri. Gadis itu memeluk sebelah tangan kekasihnya.


“Jangan khawatir Alexa nggak akan macam-macam sama aku. Ada kamu ini juga. Nanti aku ngumpet di belakang kamu.”


Dylan tersenyum mendengar ucapan Luna. Rania melintasi ruang tamu membawa rantang makanan.


“Ayo ke depan! Sepertinya taksi pesanan Luna sudah sampai.”


“Siap, Tante!” Luna berdiri dengan semangat. Gadis itu menggenggam salah satu tangan Dylan, lalu membawa kekasihnya keluar rumah dengan bergandengan.


Sekitar 20 menit berlalu mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah bertanya ke resepsionis ketiga orang ini melangkah mencari ruangan Arga. Ketika sampai di depan ruang rawat itu. Terlihat Alexa dan Alika sedang duduk menunggu di luar.


“Selamat Pagi. Apa kabar Alika?” tanga Rania berbasa-basi dahulu.


“Mbak!” Alika tiba-tiba berdiri dan memeluk Rania. Ia menangis dipelukan wanita itu. Rania yang tidak tega membalas memeluk Alika dan mengusap-usap punggungnya.


Luna tidak sengaja saling berpandangan dengan Alexa. Gadis ini memeluk erat lengan Dylan dan merapat ke lelaki itu. Sedangkan Aexa tersenyum pada Luna.


“Mas Arga tambah parah kesehatannya, Mbak.”


Dylan yang menyimak percakapan kedua wanita di dekatnya ini merasakan hati begitu sakit saat mengetahui kesehatan Arga terus menurun.


“Sekarang harus masuk ICU. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Alika menyudahi aksi peluknya, “dari kemari Mas Arga menanyakan Dylan.”


Alika menatap Dylan, “Cobalah kamu masuk ke dalam, Nak. Siapa tahu Daddy bisa sembuh.”


“Baik, Tante. Aku akan lihat Ayah.” Dylan tersenyum tipis, kemudian menoleh pada Luna dan perlahan melepas pelukan gadis ini, “aku jenguk Ayah ke dalam dulu. Kamu sama Ibu di sini ya!”

__ADS_1


Luna mengangguk dengan tersenyum. Dylan melangkah masuk setelah mengusap rambut Luna sebentar.


Gadis ini segera mendekati Rania. Luna sebenarnya belum seberapa percaya dengan perubahan Alexa. Apa lagi waktu melihat Alexa mengamuk saat itu. Membuat Luna trauma.


Rania dan Alika sudah duduk di kursi ruang tunggu. Wanita dengan rambut di sanggul ini memberikan rantang yang dari tadi dia bawa.


“Saya bawa makanan untuk kamu dan Alexa. Semoga kalian suka.”


“Terima kasih, Bu,” balas Alexa yang duduk di sebelah Alika.


“Sama-sama, sayang. Kalian juga harus jaga kesehatan. Jangan sampai sakit karena hanya menjaga Mas Arga!"


“Iya, Mbak. Terima kasih sudah datang dengan Dylan.”


Rania mengangguk sembari tersenyum lebar.


Suara dari mesin pendeteksi denyut jantung memenuhi ruangan Arga yang dingin dan aroma khas rumah sakit. Dylan sudah ada di dalam dengan memakai pakaian khusus serta masker.


Terenyuh rasanya hati lelaki itu melihat Arga yang kekar, tegap, dan sehat sekarang terbaring lemah di atas kasur dengan banyak selang-selang ditubuhnya.


Dylan sedikit membungkuk, “Ayah ini aku, Dylan. Ayah harus berjuang ya biar bisa sembuh dan kita berkumpul lagi di rumah. Ayah bisa kapan saja datang ke kontraan aku dan Ibu. Yang penting Ayah sehat dulu.”


“Maafkan aku, Yah. Kalau selama kita sudah bertemu aku belum bisa membanggakan dan membahagiakan Ayah. Aku malah meninggalkan Ayah, tapi Ayah sendiri tahu ‘kan alasannya.” Dylan terus berbicara dengan suara di kecilkan.


Sedang berbisik di dekat telinga Arga, pria yang terbaring lemas ini tiba-tiba membuka mata. Senyuman mengulas di wajah Dylan.


“Ayah sadar? Ayah ini aku, Dylan.” Dylan menepuk-nepuk dadanya.


“Dy-Dylan...”


Dylan mengangguk dan tersenyum, “Apa yang Ayah rasakan sekarang. Sudah membaik?”


Bukan menjawab pertanyaan sang anak. Arga mengulurkan salah satu tangan ke atas. Dylan yang mengerti makasud ayahnya, lantas menundukkan kepala dan membiarkan pria itu menyentuh pipinya.


“Maafkan Ayah, Nak.” Arga menjatuhkan air mata, “selama ini hanya menyusahkan Ibumu dan kamu. Ayah tidak pernah membahagiakan kalian. Maafkan dosa-dosa ayah selama ini.”


Dylan mengangguk cepat, “Ibu sama aku sudah memaafkan Ayah. Ayah nggak usah khawatir. Aku nggak lagi menyimpan dendam. Terpenting sekarang kesehatan Ayah. Ayah harus sembuh!”


Pria yang dibantu dengan alat pernapasan itu menggeleng. Dia berpindah menggengam tangan anak laki-lakinya itu.


“Tolong bantu Ayah jaga Mommy-mu dan Alexa. Alexa anaknya manja dan ceroboh. Jadi kamu harus lebih sabar mendidik adikmu itu. Setelah Ayah tiada kalian tetap harus jadi kakak-adik ya! Jangan turuti ucapan Mommy-mu. Dia cuma terlalu sayang dengan Alexa. Maafkan dia sudah mengusirmu dari rumah.”

__ADS_1


Tidak terasa air mata Dylan menetes, “Ayah bicara apa sih? Ayah harus sembuh. Ayah sendiri yang akan mengawasi Alexa. Tante Alika kasihan kalau harus menjanda. Ayah harus tetap di sini!”


Arga tersenyum. Tiba-tiba dia menarik napas yang dalam. Membuat Dylan khawatir.


“Ayah nggak apa-apa?”


“Sekali lagi maafkan ayah Dylan.” Arga berucap dengan suara serak hampir habis dan menatap ke atas, “sa-sampaikan maaf Ayah ke Ibumu!”


Mulut Arga bergerak tanpa mengeluarkan suara lagi. Ia menarik napas panjang sampai dada ikut naik, lalu memejamkan kedua mata. Alat pendeteksi denyut jantung itu memperlihatkan garis lurus di layar.


“Ayah!” teriak Dylan mulai panik, “Ayah bangun! Buka lagi matanya.”


Lelaki ini menekan-nekan bel yang ada di atas kepala pasien untuk memanggil dokter. Keempat wanita yang menunggu di luar mulai cemas saat Dokter dan suster berlarian masuk ke ruang ICU.


“Mas Arga!” Alika menangis seakan sudah tahu kondisi suaminya.


Rania yang ikut merasakan sedih memeluk Alika dan terus menegarkannya.


Luna melihat Dylan keluar dari ruangan setelah diusir oleh suster. Dylan menangis di depan pintu. Karena tidak tega gadis ini berlari mendekati Dylan.


Alexa menatap ke dalam melalui kaca. Walau tidak dapat melihat kondisi sang Ayah, anak perempuan itu juga bersedih.


•••


Banyak orang berkumpul menggunakan baju putih mengelilingi sebuah gundukan tanah berbatu nisan. Orang-orang itu mengantarkan Arga ke peristirahatan terakhirnya. Mau bagaimanapun Dylan harus ikhlas melepas Ayahnya untuk selama-lamanya.


Lelaki yang memakai kacamata hitam itu tidak lepas menatap lisan bertuliskan nama sang ayah. Rania yang juga sedih memeluk anak laki-lakinya ini dari samping.


Alexa juga tak kalah sedihnya bersama Alika. Namun, mau bagaimana lagi Arga terkalahkan oleh penyakit yang menggerogotinya beberapa tahun ini. Setidaknya pria itu sudah tidak merasakan sakit.


Luna yang datang bersama keluarga besar berdiri di sebelah Dylan. Gadis ini memasukan jari-jari ke sela jari Dylan. Menggengam tangan lelaki itu hingga menoleh padanya.


Luna tersenyum. Ia hanya mencoba menghibur Dylan agar tak berlarut-larut sedih.


Satu-persatu orang meninggalkan pusara. Namun, Dylan masih belum sanggup meninggalkan makan ayahnya.


“Ayo Nak, kita pulang!” ajak Rania dengan lembut.


Terus dibujuk Dylan akhirnya mau mengikuti Rania. Ia mulai melangkah pergi ke dekat Luna dan keluarga yang sudah menunggu di dekat mobil terparkir.


•••

__ADS_1


__ADS_2