Housemate

Housemate
Gaji


__ADS_3

Dylan sudah berganti pakaian dengan baju yang bersih. Karena setelah ini dia akan kembali ke kampus sebelum balik berkerja lagi. Sedikit rumit kalau terus setiap hari begini. Namun, mau bagaimana lagi. Ibu tidak mungkin dia paksakan kerja terus menerus. Lelaki itu tidak mau melihat Rania jatuh sakit. Apa lagi pingsan seperti kemarin. Ibu adalah harta berharga satu-satunya yang Dylan punya sekarang.


“Dylan mau balik ke kampus?” tanya Alexa menghampiri Dylan yang sedang berjalan menuju gerbang luar.


Lelaki ini berhenti sejenak, “Iya, Sa. Lo mau balik ke kampus juga?”


“Nggak, aku nggak ada jam kuliah lagi.”


“Oh begitu, gue kira mau ikut bersama ke kampus.” Dylan membenarkan tali ransel yang sempat turun.


Alexa tersenyum, lalu mengulurkan sebelah tangan yang memegang amplop putih.


“Apa ini?” tanya Dylan yang bingung.


“Gaji kamu.” Alexa mengerakkan tangan yang memegang amplop, “ambil!”


“Gue baru kerja hari ini. Masa sudah dapat gaji?” Dylan tertawa pelan, “ada-ada saja lo, Sa.”


“Memang gaji lo dikasih diawal kerja. Ini Daddy sendiri yang kasih loh. Ayo ambil!”


Pemuda itu masih bergeming dengan mata memperhatikan amplop di tangan Alexa.


“Sudah ambil!” Alexa menarik sebelah tangan Dylan, lalu memberikan uang itu dengan paksa, “aku rasa dengan uang itu kamu sudah bisa menyewa rumah baru. Seperti ceritamu waktu itu.”


“Terima kasih ya, Sa. Bilang terima kasih gue ke bokap lo juga.” Alexa mengangguk dengan tersenyum, “gue akan membayarnya dengan bekerja keras di sini.”


“Iya, aku tahu kok. Kamu itu orangnya sangat bertanggung jawab dengan tugas. Makanya, aku jadi suka.”


Kedua alis Dylan menaut dan Alexa terlihat malu-malu menatap lelaki di depannya.


“Ini nggak ada embel-embel maksa gue jadian sama lo ‘kan?"


Alexa cepat menggeleng, “Nggak kok. Aku bukan begitu orangnya. Walaupun aku suka kamu, tapi aku nggak maksa kamu harus suka aku juga atau harus jadi pacarku.”


“Maaf ya, Sa. Gue nggak bisa balas perasaan lo.” Alexa tertunduk, “gue hanya anggap lo sahabat sama dengan Ken dan Vier.”


Perlahan Alexa menatap Dylan kembali, “Lalu kamu suka sama siapa? Luna?”


Dylan menggeleng dengan tertawa kecil.


“Apa lagi itu. Gue nggak suka sama siapa-siapa sekarang. Gue cukup fokus kuliah dulu. Meraih cita-cita yang selama ini gue impikan, lalu bisa membahagiakan Ibu. Itu saja dulu yang gue mau.”


“Aku mendukungmu untuk meraih semua itu. Kalau ada masalah bilang saja. Aku dan keluarga bisa membantu.” Alexa menarik kedua sudut bibir hingga membentuk setengah lingkaran.


Dylan membalas dengan senyuman tipis, “Terima kasih, tapi sebisa mungkin gue nggak mau menyusahkan orang lain.”


“Aku ini bukan orang lain, Lan. Katamu, kamu anggap aku sahabat. Bukannya, sahabat itu ada dikeadaan susah mau pun senang? Aku mau di posisi itu. Bisa membantu sahabatku.”


“Kamu baik banget, Sa. Terima kasih sekali lagi. Pekerjaan saja dari keluarga lo sudah sangat membantu gue.”


Alexa tidak berhenti tersenyum, “Sama-sama. Kamu nggak jadi ke kampus?”

__ADS_1


Lelaki itu melirik jam tangan yang ada di pergelangan.


“Oh iya, sudah jam setengah satu.” Dylan menepuk sebelah bahu Alexa, “gue pergi dulu. Terima kasih gajinya.”


“Sama-sama.”


Alexa memperhatikan Dylan yang melangkah menuju tempat motornya terparkir.


“Hati-hati, Lan!” teriak gadis itu mengingatkan sang pujaan hatinya.


•••


Luna berlari turun dari kamar menuju teras rumah saat mendengar suara motor yang sudah tidak asing lagi di telinganya.


Gadis itu tersenyum ketika Dylan berjalan mendekati dirinya. Namun, lelaki itu melewati Luna tanpa menyapa.


“Dylan kok gue dikacangin?” Luna mengerutkan bibir, lalu menghentakkan satu kaki ke lantai. Kemudian dia berlari masuk ke dalam rumah menyusul pemuda itu.


“Kok lo nggak kelihatan di Kampus seharian tadi?” tanya Luna yang sudah ada di samping lelaki ini.


“Gue kerja di tempat Alexa.” Dylan menjawab tanpa menghentikan langkah yang sedang menaiki anak tangga.


“Harus ya pulangnya sesore ini?”


Pemuda itu melirik jam tangannya. Sudah pukul setengah enam sore.


“Jadwal pulang jam lima. Dari tempat kerja ke rumah ini ada setengah jam. Jadi, wajar kesorean.”


Luna melangkah lebih cepat, lalu berhenti di depan Dylan. Hingga lelaki ini terpaksa ikut berhenti.


Dylan menundukkan pandangan untuk menatap gadis dengan tinggi tubuh jauh di bawahnya.


“Cari kerja itu susah. Untung saja Alexa mau kasih gue kerjaan.” Dylan menatap penuh curiga ke Luna, “kenapa sih lo? Tumben banget ngurusin gue."


“Gue cemburu!”


Perkataan Luna berhasil membuat Dylan terkejut. Namun, sesudah itu tertawa sambil menggelengkan kepala.


“Sakit lo ya?” Dylan melanjutkan langkah dengan melewati Luna yang masih berdiri di posisinya.


Luna memutar tubuh, “Gue nggak sakit, tapi sepertinya gue gila. Gila karena suka sama lo.”


Tangan lelaki ini berhenti memutar gagang pintu. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Luna berlari kecil mendekati Dylan.


“Lo suka juga nggak sama gue?” mata Luna berbinar-binar menunggu jawaban Dylan.


Pemuda ini menoleh padanya. Melihat Luna begitu serius, lalu mengeluarkan suara lagi.


“Nggak!”


Gadis ini mencebikkan bibir mendengar jawaban Dylan yang tidak dia inginkan. Sedangkan lelaki itu memasuki kamar setelah menjawabnya.

__ADS_1


•••


Rania menegakkan leher dan menoleh ketika dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Wanita ini lekas melangkah mendekati pintu dan membukakan. Terlihat di sana wujud anak laki-lakinya.


“Dylan? Ada apa, Nak?”


“Ada yang mau aku omongin sama Ibu.”


“Ayo masuk dulu!”


Dylan melangkah masuk ke dalam kamar. Rania kembali menutup pintu. Mereka duduk di tepi ranjang.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Rania lagi.


Lelaki berumur 20 tahun itu mengeluarkan amplop putih dari dalam saku celana. Ia lantas memberikan ke depan Rania.


Dahi wanita ini mengerut, “Ini apa?”


“Gaji Dylan, Bu. Semuanya untuk Ibu. Ibu mau kita menyewa rumah sendiri ‘kan? Ini uangnya.”


“Gaji?” Rania tidak langsung menerima uang itu, “kamu bekerja, Nak?”


Dylan mengangguk ragu-ragu. Takut ibunya akan marah.


“Maaf, Bu. Aku terpaksa melakukan ini. Diam-diam bekerja tanpa sepengetahuan Ibu. Aku nggak mau Ibu terlalu capek bekerja.”


“Nak...” Kedua bahu Rania menurun. Ia jadi tidak bersemangat, “Ibu sudah bilang sama kamu fokus saja kuliah. Soal cari uang itu urusan Ibu.”


“Maafkan aku, Bu. Aku cuma nggak ingin Ibu jatuh sakit. Aku nggak mau kehilangan keluarga satu-satunya yang aku punya.”


Rania merentangkan tangan, lalu memeluk anaknya.


“Andai, Ayahmu nggak meninggalkan kamu, Nak. Mungkin kamu nggak perlu banting tulang juga untuk kelangsungan hidup kita,” ucap Rania dalam hati.


Wanita itu mengusap-usap punggung Dylan, menyalurkan rasa kasih sayangnya.


“Jadi, Ibu mau ‘kan menerima uang ini?” pertanyaan Dylan membuat Rania menyudahkan pelukan.


Wanita berambut panjang sepunggung itu mengambil amplop berisi uang.


“Terima kasih, sayang.”


“Sama-sama, Bu.” Dylan tersenyum.


Rania memeriksa isi amplop, “Ini banyak sekali, Lan. Kamu sudah kerja berapa Bulan?”


“Aku baru bekerja tadi, Bu. Bos aku itu ayah dari temanku. Orangnya baik banget sampai memberikan gaji di muka. Katanya, biar aku sama Ibu bisa sewa rumah dengan cepat.”


“Baik banget Bosmu. Bilang terima kasih dari Ibu.”

__ADS_1


Dylan menganggukkan kepala dengan tersenyum menatap sang ibu.


•••


__ADS_2