Housemate

Housemate
Happy Luna Day


__ADS_3

Nada dering dari handphone yang ada di atas nakas berbunyi sejak tadi. Dylan yang sudah terlelap tidur terpaksa membuka mata. Ia mengusap kedua mata yang masih merasakan kantuk. Tangannya terjulur untuk mengambil benda pipih yang tak mau berhenti bersuara ini.


Tanpa melihat nama yang tertera di ponsel, Dylan langsung saja mengangkat panggilan masuk itu.


“Halo!” sapanya dengan suara parau.


[Happy birthday] ujar orang yang ada di seberang sana.


Dahi Dylan mengerut dan alisnya tertaut, “Gue nggak ulang tahun.”


[Memang bukan lo yang ulang tahun, tapi gue. Nggak mau ngucapin selamat?]


Dari suara cempreng dan gilanya yang menelepon tengah malam begini Dylan sudah tahu kalau orang yang berbicara dengannya sekarang adalah Luna.


“Happy birthday Luna,” balas Dylan dengan malas-malasan.


[Senang banget bisa diucapain pertama kali sama gebetan. Lo siapain kado nggak buat gue?”]


Dylan mengubah posisi tidur menjadi miring ke kiri, “Gue nggak siapin.”


[Ya sudah nggak apa-apa yang penting sudah ngucapin. Begini saja gue sudah senang.]


“Sekarang lo sudah puas?” Luna berdeham, “kalau begitu sekarang lo tidur! Besok harus kuliah lagi. Ini sudah larut.”


Setelah memerintahkan Luna untuk tidur. Dylan memutuskan sambungan telepon sepihak. Dia menyimpan kembali handphone, kemudian melanjutkan tidur yang tertunda.


Sedangkan di tempat yang berbeda Luna menggerutu karena Dylan mematikan ponsel begitu saja.


“Ih, main matiin saja.” Luna menatap ponsel dengan kesal. Beberapa detik kemudian dia tersenyum, “nggak apa-apa deh. Mungkin, colon pacar ngantuk.”


Gadis ini meletakkan ponsel ke nakas, lalu segera berbaring di kasur dengan sprei motif karakter kartun doraemon.


“Kalau gini gue bisa tidur nyenyak.” Luna memeluk guling, “mungkin juga akan mimpi indah.”


•••


Sedari bangun tidur Luna sudah tampak ceria. Mama dan Papa juga sudah memberikan hadiah dan kue ulang tahun ketika sarapan tadi. Karena terlalu bahagia Luna yang tidak pernah memberi uang tip pada Ojol yang dia tumpangi sekarang memberikan ongkos yang berlebih.

__ADS_1


Ucapan dari orang-orang yang Luna sayang memang bisa menaikan mood pagi ini. Namun, ada yang tampak berbeda pagi ini pada Brian. Luna mendapati lelaki itu duduk di koridor depan kelas sendirian.


Luna tidak jadi masuk ke dalam kelas. Ia melangkah mendekati Brian dan duduk di sebelah lelaki itu. Gadis ini melihat ada kesedihan di wajah Brian.


“Lo kenapa?”


Brian menoleh saat mendengar suara Luna.


“Dari kapan lo di sini?”


Ternyata Brian sampai tidak menyadari keberadaan Luna.


“Barusan saja. Lo ada masalah?” tanya Luna lagi.


Lelaki ini menghela napas panjang, menatap lurus ke depan dan mulai bercerita.


“Gue cuma menyesal mencintai orang yang sama sekali nggak cinta sama gue.”


“Alexa nggak suka lo?”


Brian menoleh sekilas ke Luna, kemudian melihat ke depan kembali, “Iya Alexa, siapa lagi? Dia bilang akan jadi pacar gue kalau berhasil bikin lo sama Dylan jauh. Gue nggak berhasil dia marah-marah. Dia jujur ke gue cuma manfaatkan gue saja. Menyesal gue ngalakuin ini semua.”


Lelaki ini menatap Luna dengan pandangan merasa bersalah, “Iya, itu permintaan dia. Maafkan gue, Lun. Waktu itu bikin lo dan Dylan sampai jatuh dari motor. Sekarang gue nggak akan ganggu lo dan Dylan lagi.”


Luna tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung pemuda itu.


“Gue sudah maafkan. Lagi pula gara-gara jatuh dari motor Dylan jadi perhatian sama gue. Sampai seharian di rumah gue.”


“Baguslah, semoga kali ini cinta lo nggak bertepuk sebelah tangan.”


“Amin.” Luna mengusap kedua telapak tangan di wajah, “jadi sekarang lo nggak akan maksa gue jadi pacar lo lagi ‘kan?”


Brian menggelengkan kepala, “Nggak. Sekarang gue ‘kan nggak kerjasama lagi sama Alexa. Lo bebas mau pacaran sama siapa saja.”


“Yes!” Luna tersenyum bahagia.


Pemuda di sebelah Luna ini ikut tersenyum. Ia mengalihkan pandagan kembali pada orang-orang yang berlalu-lalang.

__ADS_1


“Gue sadar Alexa nggak suka sama gue ini mungkin hukum karma buat gue. Secara banyak cewek menyatakan cintanya pada gue, tapi gue tolong dengan cara mempermalukan mereka.”


Luna yang tadi tersenyum tak henti. Sekarang ikut sedih mendengar perkataan teman sekelasnya ini.


“Lo jangan ngomong begitu. Gue doakan juga deh semoga lo bisa dapat pengganti Alexa. Bukan saja lo yang suka, tapi doi juga.”


“Amin...” Brian menarik kedua ujung bibirnya.


Luna menepuk-nepuk bahu Brian, lalu berdiri.


“Ayo, masuk kelas!” Luna menunjuk ke dalam, “sudah ramai tuh.”


Gadis ini berlari lebih dulu ke kelasnya. Kemudian Brian menyusul dengan berjalan santai.


•••


“Gue cabut dulu ya.” Dylan menepuk bahu Javier dua kali, “jam berikutnya tolong isikan absen.”


“Lo mau bolos?” tanya Kendro yang mendengar Dylan berpesan pada Javier.


Dylan mengangguk, “Sesekali nggak apalah. Gue ada keperluan.”


Javier meletakkan pena dan duduk menghadap Dylan, “Keperluan apa? Ibu lo sakit?”


“Nggak. Alhamdulillah Ibu sehat-sehat saja. Hari ini Luna ulang tahun gue mau buat surprise.” Dylan berjalan mundur menjauhi teman-temannya, “sudah gue berangkat dulu. Bye!”


Dylan berbalik badan dan lari keluar dari kelas dengan membawa ransel di bahu.


“Lo merasa ada yang aneh nggak sama Dylan?” tanya Javier pada Kendro yang duduk bersebelahan dengannya.


Kendor mengangguk, “Banget, sejak kapan dia sangat peduli sama cewek itu?”


Javier menjentikkan jari ketika pemikiran mereka sama.


“Gue juga ngerasain itu. Dylan sudah sering senyum, mulai banyak bicara, dan mementingkan Luna.”


Kendro menatap serius ke arah Javier, “Apa Dylan kita ini lagi jatuh cinta?”

__ADS_1


Javier bergeming memikirkan ucapan Kendro.


•••


__ADS_2