Housemate

Housemate
Alexa Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

“Aaaaa!”


Make up yang tersusun rapi di meja rias jatuh berantakkan ke lantai. Semua ini ulah Alexa yang mengamuk di kamar siang itu. Dia tidak terima atas kabar yang beredar di kampus kalau Luna dan Dylan sudah resmi berpacaran.


Alexa tidak ingin satu wanita pun memiliki Dylan selagi dia belum bisa melupakan pemuda itu. Gadis ini jatuh ke lantai sembari menangis.


“Mengapa kamu nggak bisa ngertiin perasaan aku? Tinggal serumah dan menganggap lo Kakak saja itu sudah berat. Bagaimana sekarang aku harus melepasmu untuk orang lain.”


Alexa tidak sengaja melihat botol dari salah satu make up miliknya pecah. Ia mengambil salah satu pecahan dan mengesekan pada pergelangan tangan.


“Aaah! Aak!”


Gadis yang mempunyai rambut super cantik itu melukai diri sendiri. Darah menetes ke lantai membuat Alexa menangis menjadi-jadi.


Tidak lama Alexa jatuh pingsan dengan luka di tangan yang sudah banyak.


“Alexa makan siang dulu yuk!” Alika mengetuk pintu kamar yang tertutup itu. Namun, karena Alexa tidak bersuara Alika akhirnya membuka saja pintu kamar sang anak.


Alangkah terkejutnya Alika melihat putri semata wayangnya sudah jatuh pingsan di lantai dengan darah yang berceceran.


“Alexa!” teriakan Alika membuat Arga yang ada di ruang makan terkejut.


“Ada apa dengan Alexa?” tanya Arga pada pelayan yang sedang menghidangkan masakan.


“Saya juga nggak tahu Tuan.”


“Tolong bawa saya ke atas!” Arga berusaha berdiri dari kursi roda, “saya ingin melihat Alexa.”


Pelayan itu menghentikan pekerjaannya, lalu berlari ke sisi Arga. Pembantu perempuan ini memapah Arga ke lantai dua.


“Alexa bangun sayang!” Alika yang memeluk separuh tubuh anaknya juga menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu, “kamu kenapa sih sayang melukai diri sendiri?”


“Tolong! Siapa saja tolong saya. Mas Arga!” Alika berteriak sembari menangis.


Pelayan yang sedang memapah Arga berteriak ke bawah hingga pelayan yang lain berdatangan.


“Itu tolong istri saya meminta bantuan!” ujar Arga pada pekerjanya.


“Baik, Tuan.” Pelayan-pelayan itu berlari lebih dulu ke arah kamar Alexa.


Ketika sampai di atas Arga melihat putrinya di bawa keluar dengan kedua tangan terbungkus kain yang basah karena terkena darah segar.


Arga melepas tangan yang dipapah oleh pelayan. Ia melangkah mendekati Alika.


“Mengapa Alexa bisa luka seperti itu?”


Alika yang masih menangis menjawab, “Saya juga nggak tahu, Mas. Saat saya masuk ke kamarnya. Kondisi kamar sudah berantakan dan Alexa pingsan dengan tangan yang terluka. Alexa sepertinya sengaja melukai tangannya.”


“Kalau begitu cepat-cepat bawa ke rumah sakit!”

__ADS_1


Arga dan Alika mengikuti para pelayan yang menggotong Alexa turun dan masuk ke dalam mobil.


•••


Dua hari berikutnya...


“Kalian sudah mengurus persyaratan untuk KKN?” tanya Kendro pada Javier dan Dylan saat bersama-sama jalan ke parkiran kampus.


“Sudah,” jawab keduanya.


“Gue kira lo sibuk pacaran sampai lupa kalau kita mau pergi KKN, Lan.” Javier menggoda Dylan yang sedang memutar arah motornya.


“Mana mungkin gue sampai melupakan urusan kuliah karena pacaran.” Dylan menoleh ke belakang, “lagi pula Luna ‘kan juga tahun ini pergi KKN-nya.”


“Kasihan yang baru beberapa hari jadian sudah mau pisah lama.” olokan datang dari Kendro kali ini.


“Demi masa depan yang cerah,” balas Dylan dengan senyum serta alis yang dinaik-turunkan.


“Dylan!”


Ketiga lelaki yang ada di atas kendaraannya masing-masing itu menoleh ke sumber suara. Terlihat Luna berlari ke arah mereka.


“Kok kamu malah ke sini?” tanya Dylan ketika Luna berhenti di depannya.


“Nggak apa-apa. Aku keluar lebih dulu jadi langsung saja ke sini. Kamu sudah nggak ada jam?”


“Masih, tapi nanti siang.”


“Lo mau bertemu Alexa, Lun. Nggak takut di serang?” pertanyaan Kendro membuat Luna menoleh pada lelaki itu, “apa lagi alasan dia melukai dirinya sendiri itu karena lo jadian sama Dylan.”


“Iya lebih baik nggak usah kamu jenguk,” tambah Dylan yang setuju dengan Kendro.


“Karena ini ada hubungannya dengan aku.” Luna menunjuk dada, “aku merasa nggak enak kalau nggak menjenguk adikmu. Aku bisa jaga diri dan perginya juga sama kamu.”


Dylan menghela napas, lalu menoleh ke kedua temannya bergantian.


“Ya sudah, ayo!” Dylan memberikan helm pada Luna, “gue pergi sebentar ya guys.”


“Iya hati-hati!” pesan Javier.


Dylan mulai menyalakan mesin motor saat Luna sudah duduk di belakang sembari memeluk pinggang lelaki itu.


Ada sekitar 20 menit mereka menempuh perjalanan menuju rumah sakit. Setelah memarkirkan motor terlebih dulu Dylan dan Luna berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tangan Luna yang digandeng oleh Dylan. Sedangkan tangan Luna yang lain memeluk parsel.


Dylan berhenti melangkah. Luna melihat ke dalam dari kaca besar yang gordennya terbuka. Di sana ada Alexa yang terbaring serta Arga dan Alika menjaganya. Rania jelas tidak ada karena biasanya wanita itu datang pada malam hari itu pun sebentar karena besok pagi akan bekerja lagi.


“Begitu keadaan Alexa sekarang. Kata dokter, Alexa mengalami stres berat hingga melukai dirinya sendiri,” jelas Dylan yang menatap ke dalan.


“Kasihan Alexa. Dia sangat terpukul dengan gosipnya mahasiswa yang membicarakan hubungan kita. Mungkin, harusnya kita nggak jadian.”

__ADS_1


Mendengar ucapan sang kekasih Dylan menoleh. Genggaman di tangan gadis itu semakit erat, “Kamu bicara apa sih? Aku nggak suka. Alexa memang stres memikirkan kita yang pacaran, tapi kita juga punya hak untuk melakukan yang kita suka.”


Luna mendongakkan kepala, “Ke mana hatimu? Itu adikmu-loh. Masa kita bahagia di atas penderitaannya?”


“Terus kamu maunya aku mengikuti mau Alexa? Apa kamu bisa menjamin kalau nggak balik kamu yang sedih setelah aku tinggalkan?”


Luna menundukkan kepala dan menjadi murung seketika. Dylan menarik gadisnya ke dalam pelukan.


“Sudah jangan terlalu dipikirkan! Alexa akan membaik seiring waktu. Dia hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan.” Dylan menepuk-nepuk pelan punggung Luna.


Dylan melepas pelukan. Kemudian menarik sebelah tangan Luna untuk mengikutinya masuk ke dalam ruang rawat Alexa.


Arga dan Alika seketika menoleh saat mendengar salam dan pintu kamar terbuka.


“Mengapa kamu membawa gadis ini ke sini?” tanya Alika yang sedikit tinggi volume suaranya.


Arga memberi kode dengan tangan agar Alika berbicara sopan. Ketika sang istri menoleh padanya, lelaki di kursi roda itu menggeleng.


Dylan mengambil parsel buah dari tangan Luna dan meletakkan ke meja samping brankar.


“Luna ke sini cuma ingin menjenguk Alexa kok, Tante.” Dylan tersenyum.


“Kalian sengaja ya? Kalau Alexa melihat gadis ini di sini pasti dia akan mengamuk lagi,” ujar Alika menunjuk Luna.


Luna bersembunyi ke belakang Dylan. Ia sedikit takut karena Alika tidak suka padanya padahal baru pertama kali bertemu.


“Luna itu punya niat baik ke sini malah Anda marah-marahi. Nggak ada yang ingin Alexa sakit. Ini dia saja yang bodoh menyiksa diri.”


Tiba-tiba Alexa membuka matanya. Tadinya dia tersenyum melihat Dylan ada di samping tempat tidurnya. Namun, ketika bergeser melihat Luna.


“Mengapa kamu mebawa dia?” Alexa melempar bantal ke arah Luna, “pergi! Pergi dari hadapanku!”


Utung sana bantal itu cepat ditepis Dylan sebelum mengenai Luna.


“Sayang tenang sayang!” Alika berusaha membujuk anaknya. Ia menoleh pada Dylan dan Luna, “lebih baik kalian keluar!”


Arga pun mengangguki, “Iya kamu dan pacarmu itu pulang saja, Nak.”


Dylan menarik Luna untuk meninggalkan ruang rawat. Berpapasan dengan mereka yang keluar seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar Alexa.


“Apa aku bilang kamu nggak usah menegok Alexa. Mending kita pulang, bisa pacaran.”


“Ish, kamu ini.” Luna menepuk perut Dylan, “kita harus balik ke kampus. Katanya, kamu ada kelas lagi?”


Dylan mengangkat sebelah tangan yang memakai arloji, “Masih ada waktu satu jam. Kita makan saja dulu.”


“Ayo!”


Mereka lantas pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


•••


__ADS_2