
Perlahan Dylan mulai membuka mulut karena dari tadi di tuntut untuk menjawab pertanyaan wanita di sebelahnya.
“Om ini Bos di tempat aku bekerja, Bu.”
“Jadi kamu sudah tahu kalau dia Ayahmu?” Dylan menganggukkan kepala, “kamu kenapa nggak cerita ke Ibu?”
“Aku takut Ibu syok mendengar ceritaku. Maaf, Bu.” Pemuda itu melihat ke Arga, “tapi aku menyesal setelah tahu kalau dia Ayahku. Ibu tahu? Dia ternyata meninggalkan kita karena nggak mau hidup susah. Sekarang dia sudah kaya raya dengan memiliki istri dan anak.”
Rania mengusap pipi yang dialiri air mata. Luna yang mendengar penjelasan Dylan menutup mulut dengan telapak tangan. Gadis ini juga ikut terkejut mendengarkan fakta itu.
“Bukan begitu, Nak. Ayah bisa jelaskan ke kamu.”
“Nggak usah!” Rania melarang dengan tegas, “memang kamu meninggalkan saya karena wanita lain ‘kan? Kamu sendiri yang bilang waktu itu. Mengapa kamu kembali lagi setelah puluhan tahun meninggalkan kami?”
Arga tertegun dan bergeming untuk beberapa detik. Kemudian pria ini mengangkat kepala kembali untuk menatap mantan istri dan anaknya.
“Maafkan saya, Rania. Kamu benar kalau saya lebih memilih Alika, tapi waktu itu saya sangat kalut memikirkan nasib bersamamu. Karena orang tua Alika membuka peluang waktu itu. Saya menyetujui menikah dengan anaknya.”
“Itu artinya anda egois. Memikirkan nasib anda sendiri. Apa anda pernah berpikir bagaimana cara Ibu saya bertahan hidup saat hamilnya semakin besar? Anda nggak pernah ingin tahu itu ‘kan?”
“Maka dari itu Dylan. Ayah ke sini ingin menebus semuanya. Ayah ingin kamu tinggal bersama ayah dan Ibu Alika. Nanti biaya kuliah, kehidupanmu, serta yang lainnya Ayah yang menanggung,” ucap Arga menepuk dada pelan.
Rania tiba-tiba menggenggam satu pergelangan tangan anaknya. Kemudian menarik Dylan ke belakang. Sekarang pemuda itu berdiri di belakang sang ibu.
“Kamu pikir saya akan berikan Dylan?” tanya Rania dengan tatapan marah.
“Kenapa kamu nggak membolehkan saya mengasuh Dylan juga? Kamu jangan egois Rania.”
“KAMU YANG EGOIS!”
Teriakan Ibu satu anak itu mengejutkan Bhiru serta sang Papa. Kedua laki-laki yang asyik bermain catur ini jadi ikut mengintip bersama Sinta dan Luna.
“Saya nggak akan menyerahkan Dylan padamu!” Rania menangis histeris, “pergi kamu dari sini!”
Dylan berusah memegangi ibunya yang kini mendorong-dorong tubuh Arga untuk keluar rumah. Andre yang ada di belakang pria itu menjaga-jaga takut majikannya itu akan jatuh.
__ADS_1
“Maafkan saya, Ran. Saya janji akan membuat hidup Dylan enak.”
“Saya nggak mau melihat mukamu lagi. Pergi!” Rania berteriak hingga suara menjadi serak.
“Bu, sudah.” Dylan melihat ke arah Arga, “lebih baik anda pergi dulu!”
“Saya nggak akan pergi tanpa kamu ikut pulang sama Ayah, Nak.”
Sinta khawatir keributan itu tidak akan selesai-selesai sampai tetangga datang untuk menonton. Ia buru-buru menghampiri Rania.
“Bapak sebaiknya pergi dulu saja!” Sinta memeluk wanita yang masih menangis sambil berteriak-teriak itu, “saya nggak enak sama tetangga. Lebih baik Bapak pulang.”
Wardana datang dan lekas menyeret Arga dan Andre keluar dari rumahnya. Ayah dua anak ini juga mengunci pintu.
“Sudah, Mbak. Orang itu sudah pergi.” Sinta berusaha menenangkan Rania. Ia dengan teliti mengusap pelipis, lalu wajah wanita yang dia peluk.
Rania teringat oleh Dylan. Ia berdiri tegak dan menoleh ke belakang. Dengan cepat mendekati anak laki-lakinya lagi.
“Kamu jangan pergi ya, Dylan! Kamu harus tetap terus sama Ibu. Ibu pasti bisa membiayai kuliahmu sampai selesai.” Rania mengusap-usap wajah Dylan. Namun, dia sudah sedikit tenang sekarang.
Dylan berusaha tersenyum di depan ibunya, “aku akan selalu bersama Ibu. Bahkan kalau aku sudah menikah Ibu tetap tinggal bersama aku. Aku nggak akan tinggal bersama pria itu, Bu.”
Mereka berpelukan. Saling menyalurkan rasa kasih sayang. Luna yang melihat kejadianu itu dari jauh jadi turut bersimpati dengan masalah keluarga Dylan.
•••
Setelah suasana kembali tenang Luna datang ke kamar adiknya. Di sana tidak ada Bhiru, hanya ada Dylan yang sedang duduk di tepi ranjang dengan menatap lurus ke pintu. Tatapan pemuda ini kosong. Gadis itu memberanikan diri untuk masuk dan duduk di samping Dylan.
“Ketika gue berharap Ayah masih hidup. Gue dan Ibu akan bahagia. Ada lelaki lain selain gue yang bisa menjaga Ibu. Ibu nggak akan repot-repot lagi untuk mencari uang, tapi semuanya nggak seperti keinginan gue.”
Luna tertegun saat mendengar Dylan tiba-tiba berbicara padanya. Gadis itu mengulurkan tangan, lalu menepuk-nepuk pelan punggung lelaki itu.
Gadis ini menarik tangannya lagi, “Tuhan kadang memang nggak memberikan yang kita inginkan, tapi dia memberikan yang kita butuhkan. Ini sudah kehendaknya untuk lo bertemu bokap dengan cara seperti ini. Pasti ada tujuan dari takdir yang sudah terjadi.”
Dylan menoleh sekilas ke Luna. Kemudian menatap ke pintu lagi.
__ADS_1
“Buat lo yang punya keluarga utuh ini memang nggak sulit. Coba lo ada di posisi gue. Sebenarnya, gue juga mau disayang sama Ayah. Ngelakuin hobi sama beliau, tapi sekarang nggak ada harapan. Karena gue nggak mungkin egois ninggalin Ibu buat tinggal sama Ayah.”
“Gue paham kok. Walau keluarga gue bisa dibilang harmonis, tapi gue ngerti perasaan lo.” Luna yang berbicara dengan volume sedikit meninggi itu, menghela napas, “saran gue lo tetap sama Tante, Rania. Lo boleh tinggal sama bokap lo, tapi Tante Rania ikut bersama lo.”
Dylan menyerap nasihat dari gadis yang biasanya selalu menyusahkan hidupnya itu.
Tiba-tiba lelaki ini menjatuhkan kepala di bahu Luna hingga si empunya bahu tubuhnya menegang dan mata melebar.
“Sepertinya nggak mungkin, dia punya istri. Pasti Ibu nggak akan nyaman tinggal di sana. Gue harus lupain Ayah dan fokus bahagiakan Ibu saja.” Dylan menguntai senyum, “lo mau tahu nggak siapa istri baru bokap gue?”
Luna tersadar dari lamunan, “Hah? Si-siapa?”
Gadis ini mendadak gugup. Ia berharap Dylan tidak mendengar detak jantungnya yang begitu kuat.
“Ibu Alexa,” jawab Dylan kembali menegakkan kepala. Kemudian menoleh pada Luna.
“Alexa anak hukum itu?”
“Iya yang kasih gue kerjaan. Akhirnya, bertemu bokap di sana.”
“Yes!”
Mata Dylan mendelik saat melihat Luna mendadak senang.
“Kenapa lo?”
“Gue senang saja. Karena lo sama Alexa berarti kakak dan adik. Kalian nggak mungkin pacaran atau menikah.”
“Kemarin juga gue bilang begitu.”
“Yes! Peluang gue jadi istri lo masih lebar.”
Dylan mengerutkan bibir mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir mungil gadis di sebelahnya.
•••
__ADS_1