Housemate

Housemate
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Elina berjalan menyusuri koridor. Matanya terus mengamati sekitar. Namun, yang dia cari-cari tidak tampak batang hidungnya. Sudah di telepon dan kirim pesan juga tidak ada balasan. Handphone aktif, tapi pemiliknya entah di mana.


Gadis berkacamata itu mendatangi tempat yang sering sahabatnya kunjungi kalau di kampus.


“Tuh ‘kan benar dia di sini.” Sekarang Elina sudah tenang dapat menemukan Luna.


Ia memperhatikan sahabatnya yang sedang mengelilingi lapangan.


“Luna!” teriak Elina membuat Luna menoleh.


Luna menghentikan gerakan kaki. Tersenyum dan melambaikan tangan pada Elina yang berlari mendekatinya. Gadis itu mengusap pelipis yang berkeringat. Kemudian melanjutkan lari memutari lapangan basket yang semakin lama semakin ramai oleh mahasiswa yang telah usai jam kuliah.


Elina menghadang jalan Luna dengan berdiri di depan sahabatnya sembari merentangkan kedua tangan.


“Apa sih, Lin? Awas! Gue masih mau lanjut lari.” Luna terpaksa menghentikan gerakan kakinya.


“Ternyata lo bolos kelas karena lari di sini? Kenapa? Lagi ada masalah? Cerita sama gue. Jangan menyiksa diri lo.”


Luna menghela napas dan berjalan ke atah tribun, “Siapa juga yang menyiksa diri? Gue cuma butuh olah raga.”


Elina menurunkan kedua tangan. Kemudian melangkah mengikuti Luna dan duduk di sebelah gadis itu.


Gadis dengan rambut kepang dua itu mengeluarkan sebotol air dan memberikan pada orang di sebelahnya. Luna menerima dan lantas meneguk air di dalam botol.


“Pasti lo ada masalah ‘kan? Lo nggak mau berbagi dengan sahabat lo ini?”


Luna menoleh dan mengembalikan botol air pada Elina, “Gue sudah putuskan nggak akan mengejar Dylan lagi.”


Elina menerima botol air itu. Ia tercengang mendengar penuturan Luna, “Kenapa? Bukannya lo sangat suka dia. Cuma dia yang berhasil bikin lo lupa sepenuhnya dengan Brian.”


Luna menatap ke depan. Memperhatikan orang yang berlalu-lalang.


“Sekarang Dylan terang-terangan bilang kalau dia anggap gue sekedar sahabat. Mungkin, dia sudah risi selama ini gue kejar-kejar. Gue pun sadar untuk apa gue memaksa orang yang gak punya perasaan yang sama dengan gue.”


Elina masih memperhatikan Luna bicara, “Omongan lo ada benarnya. Cinta sendiri juga nggak bagus.”


“Gue sudah putuskan untuk mulai menjauhi dia.”


“Gue selalu support apa pun pilihan lo.” Elina menepuk-tepuk pelan bahu Luna, “yang peting itu semua terbaik buat lo.”


•••


Dylan mengikat lukisan berbingkai itu pada motor dengan tali yang baru saja dia minta pada ibu kantin.


Setelah selesai lelaki itu bergegas menyalakan mesin motor, lalu melaju ke arah gedung fakultas Luna. Ketika akan sampai Dylan bertemu dengan Elina yang berjalan sendirian. Ia menghadang jalan gadis culun itu dengan motor.


“Lin, Luna mana?”


“Sudah pulang dari tadi.” Dylan tertunduk memikirkan sesuatu. Kemudian dia mendongak saat gadis di depannya itu bicara lagi, “ada pesan dari Luna untuk lo.”


“Apa?”


“Kata Luna, lo jangan cari-cari dia lagi! Dia nggak mau sahabatan sama lo.”


“Luna bilang begitu?”


Elina mengangguk, “Iya, gue suruh sampaikan kalau bertemu lo. Sudah ya, gue mau pulang.”

__ADS_1


Gadis berkacamata ini melewati jalan yang tidak dihalangi oleh motor lelaki itu. Kemudian meneruskan perjalanannya.


Dylan mengangguk saja saat Elina pamit padanya. Lelaki ini terduduk lemas di atas jok motor.


“Apa omongan gue semalem kelewatan? Gue ‘kan cuma mau menjelaskan agar dia nggak kebawa perasaan.”


•••


Sesampainya di rumah Dylan menggantung lukisan buatan Luna di dinding kamar. Ia tempatkan pada sisi yang terbaik agar mudah dipandang.


Dylan meraih ponsel yang ada di meja. Memotret lukisan yang telah dia pajang. Kemudian mencari kontak Luna dan mengirimkan foto dan pesan ke gadis itu.


Dylan


Sudah dipajang di kamar gue. Bagus, lo berbakat. Terima kasih.


Tiba-tiba balasan dari Luna muncul. Lelaki itu tersenyum.


Cewek Berisik


Y


Namun, melihat balasan.yang cuma satu itu Dylan kembali tidak bersemangat. Pemuda itu membalas pesan Luna.


Dylan


Lo masih marah? Maafkan gue. Bukan maksudnya mau melukai perasaan lo, tapi sebelum ini semua terlalu jauh.


Luna menghela napas panjang setelah melihat balasan Dylan lagi. Namun, yang kali ini dia tidak berniat untuk membalasnya.


Gadis itu menggeletakkan saja handphone di meja belajar dan kelur dari kamar.


“Sepertinya Mama masak banyak banget?”


Pertanyaan Luna membuat Sinta yang sibuk di depan kompor jadi menoleh ke belakang.


Wanita itu tersenyum, “Mama mengundang Dylan dan Tante Rania untuk makan malam di sini. Bagaimana kamu senang ‘kan mau bertemu Dylan?”


Mulut Luna sedikit terbuka. Ia tercengang dengan ucapan sang ibu barusan. Senang dari mana pikirnya yang ada ini mimpi buruk untuk Luna yang sedang berusaha menjaga jarak dengan Dylan.


“Dalam rangka apa?”


“Papa naik jabatan. Setelah bertahun-tahun Papamu ada kemajuan juga di kantor.” Sinta berbicara dengan mengaduk-aduk masakan, lalu menoleh lagi ke belakang, “Papa kalian sekarang sudah menjadi manajer.”


Luna tersenyum paksa. Bukan tidak bersyukur atas perkembangan karier sang ayah. Namun, mengingat Dylan akan datang ke rumah membuat Luna frustasi.


“Alhamdulillah, jatah bulanan Luna bakal menambah.” Sinta mencibir mendengar ucapan syukur dari putrinya.


Baru saja akan membalas perkataan Luna saat Sinta berbalik sembari memegang masakan yang sudah jadi di piring, gadis itu tidak ada lagi di tempatnya.


“Bagaimana ini? Gue bakal canggung habis,” gerutu Luna dengan melangkahkan kaki menuju kamar kembali.


•••


Gadis dengan rambut sebahu jatuh tergerai itu menatap pantulan dirinya di cermin. Luna sudah siap dengan baju terbaiknya. Ia tambah cantik dengan dua jepit di rambut. Namun, tetap saja Luna yang masih merajuk itu belum siap bertemu Dylan malam ini.


Suara bel terdengar. Makin berdebar sama jantung Luna. Sampai dia memegangi dada.

__ADS_1


“Nggak apa-apa gue harus hadapi kenyataan ini. Walau pahit.”


Luna memutuskan untuk keluar dan segera turun ke lantai dasar. Gadis itu terdiam saat berhenti di depan meja makan. Dylan dan Rania memang datang, tetapi mengapa Alexa juga ikut? Padahal diundangan gadis itu tidak diundang.


Sinta tersenyum saat anaknya sudah datang tanpa dipanggil dulu.


“Sayang, Dylan dan Tante Rania sudah datang tuh, tapi kita bertambah satu tamu lagi. Adiknya Dylan.”


Alexa tersenyum sinis ke arah Luna.


“Kita sudah kenal kok Tante. Satu kampus juga,” ujar Alexa bersikap ramah.


Sinta mengangguk, “Oh begitu. Sini Luna duduk!”


Luna menarik satu kursi berhadapan dengan Dylan. Lelaki itu melihat ke arahnya. Namun, Dylan tidak bicara apa pun.


Acara dimulai dengan sambutan singkat dari Wardana, lalu dilanjutkan dengan makam malam. Sembari menyantap masakan Sinta yang begitu lezat. Sesekali mereka berbincang ringan, tetapi tidak dengan Luna dan Dylan yang fokus pada makanan saja.


Tiba-tiba Rania mengalihkan pembicaraan mereka.


“Maaf ya Luna, Tante harus membawa Alexa. Anaknya memaksa mau ikut,” jelas Rania.


“Nggak apa-apa, Mbak. 'Kan masih anak Mbak juga,” jawab Sinta.


Luna menatap tidak suka pada Alexa. Gadis yang merasa diperhatikan itu memberikan tambahan lauk pada piring Dylan.


“Sudah-sudah, gue sudah kenyang!” tolak Dylan.


“Makan yang banyak Dylan biar tubuhmu berisi seperti Om,” ujar Wardana diiringi tawa.


Dylan hanya mengangguk saja, lalu curi-curi pandang pada Luna yang kini tidak melihat ke arahnya.


“Tante, Om.” Alexa bersuara lagi hingga Sinta dan suami menoleh, “kalau Kak Dylan main ke sini lagi Alexa juga boleh ke sini?”


“Boleh, kapan pun kamu mau main. Silakan, jadi Luna juga ada temannya.”


“Males banget,” gumam Luna yang melirik sinis Mamanya. Hal ini ditangkap oleh mata Dylan.


“Iya, main saja,” tambah Wardana yang memberikan Bhiru lauk yang dia minta.


“Asyik, makasih Tante, Om. Benar kata Ibu kalian baik sekali.” Wardana dan Sinta tertawa setelah mendapat pujian dari Alexa.


Luna meletakkan sendok dan garpu, “Luna sudah kenyang.”


Sinta menoleh ke sebelah, “Tapi itu makananmu masih banyak.”


Gadis itu meneguk air di gelas. Kemudian berdiri dari kursinya. Ia menatap orang yang masih duduk.


“Permisi.”


Tanpa memghiraukan ucapan sang ibu Luna melangkah ke halaman samping.


“Maaf, mungkin suasana hati Luna sedang nggak baik,” ujar Sinta yang tidak enak atas sikap si sulung.


Rania menggeleng, “Nggak apa-apa, Sin. Perempuankan mood-nya susah ditebak.


“Iya benar, Mbak. Ayo kita lanjutkan makannya!” ajak Sinta mencairkan suasana.

__ADS_1


•••


__ADS_2