
Luna turun dari boncengan saat motor milik Dylan sudah menepi di depan gedung fakultasnya. Gadis itu mengembalikan helm.
“Lo ada masalah?”
Dylan mendongak ketika mendengar gadis itu melontarkan pertanyaan pada dirinya.
“Nggak.”
“Bohong!” sela Luna cepat, “dari sikap lo kelihatan kali. Sama sekali jarang ngomong. Ada apa sih?”
“Walaupun gue ada masalah itu bukan urusan lo.”
“Urusan gue juga dong. Secara gue ini calon istri lo.”
Dahi Dylan mengerut, “Sudah jangan bercanda! Gue lagi nggak mood.”
Luna merengut, lalu menlangkah mendekati Dylan. Ia memeluk sebelah lengan lelaki itu.
“Gue tahu pasti masalah lo berat ya?” Dylan menatap gadis yang ada di sampingnya, “kalau nggak berat lo nggak mungkin sampai menangis. Nggak apa-apa kalau belum mau cerita sekarang.”
Luna tersenyum di akhir kalimatnya. Sedangkan Dylan menatap gadis itu tajam.
“Dylan!”
Seseorang membuat pandangan Dylan teralihkan. Luna juga ikut menoleh dan melepas pelukan di lengan Dylan.
Alexa yang baru datang dan mendekati kedua orang yang sedang mengobrol itu.
“Aku mau bicara soal kemarin sama kamu. Bisa?”
Alis Luna tertaut mendengar tuturan Alexa. Ia lantas menoleh pada Dylan yang menerima ajakan gadis itu.
“Bisa, ayo naik!”
Alexa lekas naik boncengan dengan sedikit melirik sini Luna. Gadis itu sengaja berpegangan pada pinggang Dylan. Sayangnya motor matic hitam itu sudah pergi sebelum Luna berhasil menarik rambut pajang Alexa yang tergerai.
Alexa dan Dylan duduk di bangku taman kampus. Taman itu tidak ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang mengerjakan tugas.
“Kamu benar anak Daddy?”
Dylan menoleh, “Kata bokap lo sih gitu. Dia sangat mengenal Ibu gue.”
“Kamu sudah tanya ke Ibumu?”
Dylan menatap ke depan dengan menghela napas berat, “Gue belum sanggup ngomongnya ke Ibu. Ternyata Ayah nggak seperti bayangan gue selama ini. Dia tega meninggalkan Ibu demi nyokap lo.”
__ADS_1
“Harusnya kamu cerita ke Ibu. Apa benar Daddy suaminya dulu,” ucap Alexa dengan nada suara yang meninggi.
Lelaki ini menoleh lagi pada gadis itu, “Kenapa lo sekeras itu memaksa gue? Gue nggak sanggup lihat air mata Ibu yang akan membasahi pipinya kalau dia tahu semua ini.”
“Aku cuma mau memastikan kalau semua ini nggak benar. Aku nggak mau kita jadi saudara.” Alexa meneteskan air mata, “aku mau kita bersama, tapi bukan ditakdirkan menjadi adik dan kakak. Aku cinta kamu. Aku mau jadi pendampingmu.”
Dylan memperhatikan saja gadis yang menangis di depannya itu.
“Mungkin ini pertanda, Sa. Untuk lo lupakan gue. Hilangkan perasaan suka lo itu. Kita saudara. Walau berbeda ibu.”
Alexa menangis sambil menggelengkan kepala, “Aku nggak mau. Aku nggak mau Dylan.”
Gadis itu mendekat dan memeluk pinggang Dylan. Sedangkan yang dipeluk hanya diam bak patung.
“Lo menangis?” tanya Brian memiringkan kepala untuk melihat wajah Luna.
Luna yang merengut dan pipi sudah basah itu menoleh pada Brian. Lelaki yang duduk di atas motor ini mengerutkan dahi.
“Memang kamu nggak cemburu melihat mereka berdua pelukan? Katanya, kamu suka sama Alexa.”
Brian melihat ke arah kedua orang yang berada di taman itu.
“Gue cemburu, tapi melihat Alexa menangis seperti itu jadi nggak tega. Biarkan dulu saja. Dylan nggak akan bisa merebut Alexa dari gue.”
Brian menatap Luna kembali, “Hapus air mata lo! Kita balik ke kelas.”
“Terus lo mau berdiri di sini saja?”
Luna menghela napas. Tanpa berkata apa pun dia naik ke motor milik Brian. Kendaraan roda empat itu berlalu pergi.
•••
“Ini Daddy!”
Alexa menyerahkan amplop berisi uang kepada sang ayah yang duduk di hadapan meja kerja dengan mata mengarah ke layar laptop.
Arga lekas mendongak, “Apa ini?”
“Uang sisa gaji Dylan. Dia menyuruh aku buat kembalikan itu pada Daddy. Katanya, kekurangan uang itu akan dia cicil, lalu dia juga bilang keluar dari pekerjaannya,” jelas Alexa.
“Mengapa dia harus kembalikan. Daddy ikhlas beri ini pada Dylan. Kalau dia sudah nggak mau bekerja juga tak apa.”
Alexa mengedikkan kedua bahu, “Mungkin dia marah sama Daddy.”
Setelah itu gadis ini lekas melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
“Alexa!”
Si empunya nama ini berhenti berjalan. Namun, dia tidak menoleh ke belakang.
“Kamu juga masih marah sama Daddy, Nak?”
“Aku kecewa sama Daddy. Ternyata Daddy sudah mempunyai istri sebelum Mommy. Yang nggak tahu cuma aku. Terus yang nggak habis pikir anak Daddy itu Dylan. Kenapa harus Dylan?”
Arga berdiri dari duduknya. Ia menatap sang putri yang membelakangi dirinya.
“Daddy sangat mengerti perasaanmu sayang, tapi ini bukan maunya Daddy untuk kamu dan Dylan menjadi bersaudara.”
Air mata menetes dari mata kiri Alexa. Gadis itu mengusap pipo yang basah sekilas, lalu berlari kecil keluar dari ruang kerja.
•••
Dylan membersihkan motor kesayangannya di halaman rumah. Luna yang baru pulang dari kampus lantas menghampiri lelaki itu.
“Enak ya tadi yang peluk-pelukkan,” sindir gadis itu dengan mata melirik ke arah Dylan.
Dylan yang sedang menjongkok sambil mengaliri air membersihkan ban motor ini mendongak menatap Luna sekilas.
“Maksud lo apa?” tanya lelaki itu sibuk melanjutkan kegiatannya.
“Masa nggak ngerti?” Luna melipat kedua tangan di dada, “tadi lo pelukan sama Alexa di taman kampus. Nggak ada malu banget.”
“Gue nggak pelukan.” Dylan berdiri dan menatap Luna, “tapi dipeluk.”
“Sama saja! Tetap pelukkan.”
“Beda dong.” Dylan menyemprotkan air ke arah roda belakang, “lagi pula apa urusannya sama lo? Gue mau pelukkan, ciuman, nikah sekalipun bukan urusan lo.”
Luna memajukan bibir, “Semuanya urusan gue. Gue nggak suka lo dekat-dekat sama Alexa!”
“Jangan ngatur-ngatur gue! Lo itu bukan pacar atau istri gue.”
“Lulus kuliah kita mau menikah ‘kan?”
“Mimpi! Lagi pula gue sama Alexa nggak akan bisa pacaran atau pun menikah.”
“Kenapa?” Luna terlihat penasaran, “karena lo nggak suka dia?”
Dylan menoleh pada gadis di sebelahnya itu, “tapi lo jangan bilang-bilang ke Ibu!”
“Bilang apa?”
__ADS_1
Luna dan Dylan menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba bergabung ke pembicaraan mereka.
•••