Housemate

Housemate
Alexa Menyatakan Cinta


__ADS_3

Pemuda yang baru saja datang dan memarkirkan motor itu menoleh saat namanya dipanggil seseorang. Ternyata yang memanggil Javier.


Dylan mencabut kunci motor yang masih menggantung. Ia mengedikkan dagu ke arah Javier seakan bertanya ada apa?


“Alexa nangis tuh dari tadi di kantin fakultas kita,” jelas cowok belasteran itu setelah sampai di depan Dylan.


“Nangis kenapa?” Dylan menyimpan kunci ke dalam saku, “terus hubungan sama gue apa?”


“Ya ada hubungannya sama lo. Karena dia nangis setelah baca dan lihat foto lo sama cewek kemarin. Gue penasaran siapa sih itu cewek?”


Lelaki ini menepuk bahu Javier beberapa kali, “Ayo kita temui Alexa!”


Dylan berjalan lebih dulu meninggalkan sahabatnya itu. Javier yang mengekori dari belakang terus menuntut jawaban atas pertanyaannya.


“Lo belum jawab gue. Siapa dia?”


Tetapi Dylan mengacuhkannya. Pemuda itu fokus jalan menuju kantin yang terletak tidak jauh dari laboraturium.


Benar saja, di sana Alexa meneteskan air mata dengan beberapa tisu berserakan di meja. Kendro yang ada di sampingnya berusaha menenangkan.


Javier mencolek lengan Kendro dan membuat pemuda itu menoleh. Ia yang mengerti maksud Javier lekas memberi tempatnya pada Dylan.


“Lo kenapa, Sa?”


Alexa menoleh. Pipi yang basah tercetak dengan jelas.


“Dylan!” ia berhambur memeluk cowok di dekatnya.


Sedangkan Dylan mengangkat kedua tangan dan sedikit terkejut atas tindakan Alexa.


“Apa benar kamu sama cewek yang ada di foto itu pacaran?”


Pertanyaan gadis yang sedang memeluknya ini membuat Dylan ingin tertawa. Perlahan lelaki itu menurunkan kedua tangan, lalu mendorong pundak Alexa agar gadis ini memberi jarak kembali antara mereka.


Cara Dylan ampuh dan membuat Alexa melepas pelukannya. Gadis itu menatap Dylan penuh selidik.


“Gue sama dia nggak pacaran, Sa.”


“Terus kenapa kalian bisa jalan berdua?” sambar Javier membuat Dylan dan Alexa menoleh padanya.


Dylan bergeming.


“Iya, kenapa?” Alexa menodong pertanyaan pada lelaki di depannya.


“Itu karena kami saudara.”


Kendro yang menopang dagu dan menyimak saja dari tadi mulai buka suara, “Bukannya lo nggak punya saudara?”


Dylan memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal, “Gue juga baru tahu. Karena orang tua dia datang ke rumah Pak RT buat jemput gue dan ibu. Mereka tahu rumah kami ke bakaran dari TV.”


Alexa sudah berhenti menangis, “Oh yang waktu itu?”


Dylan mengangguk dan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Lo tahu, Sa?” tanya Kendro menatap gadis dengan rambut panjang tergerai ini.


Alexa mengangguk, “Waktu aku antar Dylan pulang. Aku sempat bertemu dengan tamunya. Mereka bawa kamu tinggal bareng ‘kan? Jadi, kamu sama cewek itu...”


“Tinggal serumah?” sambar Javier.


Dylan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya yang dia takutkan diketahui juga sama teman-temannya.


“Sttt!” Dylan menempelkan jari telunjuk ke depan bibir, “jangan gede-gede ngomongnya. Gue takut ini bakal jadi gosip lagi. Cuma kalian yang gue kasih tahu.”


Alexa kembali cemberut, “Aku kira kamu cuma tinggal sama bapak dan ibu itu saja.”


“Gue ‘kan nggak tinggal berdua doang. Ada orang tuanya, adik laki-lakinya, dan ibu gue.”


“Sepertinya kalian berjodoh. Sering bertemu kan?” ucap Kendro tiba-tiba hingga membuat Alexa melototkan mata ke arahnya.


“Nggak, mereka bukan jodoh!” Kendro menciut, lalu membungkam mulutnya saja.


“Dylan.” Alexa mengambil salah satu tangan Dylan, “kamu sudah tahukan selama ini aku suka kamu. Apa kamu nggak mau menjalin hubungan yang serius sama aku?”


Dylan mematung hingga susah untuk menelan air liurnya sendiri.


Javier menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan, “Kita ada kelas lima menit lagi. Ayo ke kelas!”


Cowok yang sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMA itu bersama Dylan tahu saja kalau lelaki bernama lengkap Dylan Priansyah itu tidak nyaman di dekat Alexa.


Dylan menarik cepat tangan, kemudian berdiri. “Gue sama yang lain masuk kelas dulu. Bye, Sa!”


Alexa hanya bisa meratapi kepergian Dylan. Ia sangat peka kalau Dylan menghidar darinya. Namun, Alexa tidak akan pernah menyerah.


•••


Motor matic milik Dylan berjalan lambat saat masuk ke kompleks perumahan. Dia menghela napas saat teringat Alexa menyatakan cintanya untuk pertama kali.


Walau itu pertama kali dan dadakan. Desas-desus Alexa menyukai Dylan sudah tersebar dari 1 setengah tahun lalu. Namun, lelaki ini tidak pernah menganggap serius.


“Itu Kak yang tengah!”


Hampir mendekati rumah Dylan mendengar suara Bhiru yang berteriak-teriak pada kakaknya. Pemuda ini mencari keberadaan mereka.


Ternyata kakak-adik itu sedang memanjat pohon jambu yang ada di depan rumah tetangga mereka. Cuma Luna yang memanjat pohon sedangkan Bhiru meneriaki dari bawah.


“Sabar dong! Ini banyak semutnya.” Luna beberapa kali membersihkan kaki dari semut yang mengerogoti kaki. Bukan semut mereka. Cuma terasa geli saja saat menjalar di kakinya.


“Iya, Bhiru juga dari tadi sabar. Hati-hati, Kak!”


Pandangan Bhiru tercuri saat Dylan berhenti di dekatnya berdiri.


“Eh, Kak Dylan!”


Dylan tersenyum pada anak laki-laki yang dia anggap seperti adik sendiri. Baru saja pemuda itu melepas helm dari kepala. Teriakan Luna membuat Dylan berlari cepat ke dekat pohon.


Bhiru hanya tercengang melihat kakak perempuannya terpeleset dari batang pohon.

__ADS_1


Untung saja Dylan sigap. Luna jatuh ke pelukan lelaki itu. Lagi-lagi mereka saling pandang.


“Jangan pacaran depan anak kecil dong!”


Luna dan Dylan tersadar.


“Ngapain lo gendong-gendong gue?” Luna mengerak-gerakan kedua kaki, “turunin gue.”


Dylan merasa tidak sanggup menahan gadis ini di kedua tangan karena terus memberontak. Ia menuruti perintah Luna.


“Bukannya terima kasih sudah ditolongin. Malah marah-marah,” ucap Dylan melihat sinis ke arah gadis pendek di depannya.


Luna membenarkan kausnya yang terlipat.


“Makasih,”ucapnya dengan cepat.


“Kayak nggak ikhlas?”


“Terima kasih ya Dylan yang cakep.” Luna tersenyum lebar dengan terpaksa, “puas?”


“Boleh jugalah.”


Bibir gadis itu naik sedikit.


“Bhiru kenapa suruh kakaknya naik pohon? Ini ‘kan berbahaya.”


Anak laki-laki itu menundukkan pandangan. Ada penyesalan di hatinya.


“Maaf, Kak. Bhiru dan Kak Luna cuma mau makan jambu, tapi Bhiru takut ketinggian. Jadi, Kak Luna yang manjat.”


Dylan mengangguk mengerti, “Sekarang masih mau makan jambu? Kalau mau kakak ambilkan.”


Bhiru yang tadinya cemburut kini telah tersenyum lagi.


“Mau banget kalau nggak ngerepotin,” jawab Bhiru dengan antusias.


“Nggak ngerepotin.” Dylan melepas ransel yang dia pakai, lalu memberikan kepada Luna, “pegangin!”


“Memang lo bisa manjat pohon?” tanya Luna yang tampak ragu.


Lelaki yang sedang bersiap-siap di depan pohon itu menoleh, “Lihat saja.”


Dylan sudah kelihat biasa memanjat. Tidak ada yang rumit saat dia memetikkan buah untuk Bhiru dan Luna yang menunggu di bawah.


“Yang paling merah itu, Kak!”


Bhiru sangat senang menyambut buah jambu yang sedari tadi ingin dia makan.


•••


note:


ayo kalian shipper siapa? Dylan dan Luna atau Dylan dan Alexa? 😃

__ADS_1


__ADS_2