
“Kak mati lampu! Gelap!” teriakan Bhiru dari dalam kamar membuat Dylan tersadar dari lamunannya.
“Apa-apaan sih lo.” Pemuda ini mendorong Luna sampai pelukan terlepas.
Setelah itu Dylan segera masuk ke dalam kamar untuk mengecek keadaan Bhiru. Sedangkan Luna mengulurkan kedua tangan ke depan seperti orang buta.
“Dylan gue takut!” Luna bersandar di kusen pintu, “gue susah bernapas di tempat gelap.”
“Luna!”
Sayup-sayup telinga gadis ini mendengar namanya disebut. Walau tiba-tiba bulu kuduk merinding Luna tetap menoleh ke belakang.
“Aaaa!”
Lagi, Luna berteriak keras. Ia terkejut melihat kedatangan Sinta yang membawa lilin. Cahaya dari lilin yang menyala membuat wajah Sinta seram di mata Luna.
“Hei, Luna ini Mama.” Sinta menepuk-nepuk bahu anak perempuannya.
Akhirnya, Luna terdiam. Ia menatap sang ibu lebih tenang sekarang. Dylan bersama Bhiru juga berlari menghampiri Luna setelah mendengar teriakan gadis itu.
“Ada apa?” tanya Bhiru yang berdiri di belakang Dylan sambil memegangi senter handphone.
“Ini Mama ngagetin Kakak,” jawab Luna dengan ekspresi cemberut.
“Mama nggak maksud buat ngagetin.” Sinta menunjukkan lilin dan korek api yang dia bawa, “Mama cuma mau antar lilin buat kalian.”
“Terima kasih, Tante. Baru saja aku akan ambil lilin di bawah.” Dylan menerima lilin yang dibagikan Sinta.
“Sama-sama sayang.” Sinta beralih memandang Luna, “ini lilin buat kamu.”
Luna menggeleng, “Nggak usah, Ma. Luna mau tidur di kamar Bhiru.”
“Eh, nggak boleh!”
“Benar tuh, nggak boleh. Nanti tempat tidur Bhiru sempit ada Kakak. Kakak punya kamar sendiri gitu.”
“Tidur di sofa saja kayak biasanya,” ucap Luna yang masih memaksa.
__ADS_1
“Bukan, nggak boleh itu, tapi di kamar Bhiru ada Dylan. Masa kalian mau sekamar.” Sinta masih keras melarang.
“Luna takut kalau tidur di kamar sendiri, Ma.” Gadis itu merengek manja, “biasanya juga kalau mati lampu Luna tidur sama Bhiru.”
“Nggak apa-apa, Tante. Izinin saja, saya janji nggak akan ngapa-ngapin,” sambar Dylan yang berusaha membujuk Sinta.
“Tante percaya kok sama kamu, Dy.” Ibu dua anak itu memperhatikan Luna lagi, “ya sudah kamu boleh tidur di kamar Bhiru. Ingat jangan saling berdekatan tidurnya!"
“Siap, Ma!” Luna menjawab dengan tegas.
Ketika Sinta pergi meninggalkan ketiga orang itu Luna segera mendesak masuk ke dalam kamar. Bhiru ikut berlari masuk untuk mengamankan ranjangnya.
Dylan menghela napas melihat kelakuan kakak-beradik itu. Ia masuk dan menutup pintu.
“Jangan di ranjang Bhiru dong, Kak! Kita sudah sepakat Kakak di sofa.”
Bhiru menarik-narik piama yang dipakai Luna. Gadis itu curang, ia menepati ranjang Bhiru dan berbaring di sana.
“Kamu sekasur saja sama Dylan.”
Dylan yang sedang menyalakan lilin di meja lantas menoleh mendengar ucapan Bhiru.
“Nggak bisa. Sempit!” cetus Dylan.
Luna membuka mata yang sebelumnya dia pejamkan. Gadis ini mendadak senyum menatap ke arah Dylan.
“Idemu bagus!” Luna mengacak rambut adiknya dan lekas pindah turun ke kasur yang ada di bawah.
Bhiru tersenyum. Ia tidak sama sekali memikirkan kalau kedua orang itu bahaya jika disatukan. Terpenting bagi anak laki-laki itu adalah dia bisa tidur di ranjang.
Aroma bantal yang biasa Dylan gunakan tercium oleh Luna. Begitu wangi dan sangat khas.
“Duh, gila. Bantalnya saja wangi,” ucap Luna di dalam hati, “kalau begini tambah cinta deh gue.”
“Pindah lo atau mau gue seret?”
Bayangan Luna tentang pesona Dylan buyar saat mendengar laki-laki itu mengancamnya.
__ADS_1
Gadis yang berbaring ini menatap Dylan kesal, “Gue mau tidur di sini. Lo di sofa saja!”
“Enak saja. Pindah!"
Dylan menarik sebelah kaki Luna. Hal tersebut membuat gadis ini menjerit, lalu berpegangan pada kasur.
“Bisa nggak sih jangan berisik?” Bhiru menegur kedua orang itu, “ini sudah tengah malam, tidur Kak!”
Dylan menoleh pada Bhiru. Mendengar perkataan anak kecil itu membuat Dylan melepas kaki Luna yang dia tarik-tarik sejak tadi.
Bhiru kembali berbaring di kasur saat Dylan dan Luna sudah tenang.
“Kalau lo nggak mau pindah ya sudah, tapi gue tetap tidur di sini.” Dylan menjatuhkan tubuhnya di sebelah Luna.
Sekarang dengan dekat Luna bisa memandangi wajah lelaki yang mulai membuat dirinya bisa melupakan Brian.
Dylan menoleh ke samping, “Kenapa lo lihatin gue begitu?”
Gadis ini tersenyum, “Senang bisa tidur bareng. Kapan lagi coba bisa sekasur berdua.”
Dahi lelaki itu mengerut. Pikirannya jadi kemana-mana. Apa lagi tiba-tiba Luna memeluknya.
“Kalau begini kita sudah mirip suami-istri ya?”
Dylan memberontak sampai pelukan terlepas dan mengubah posisi menjadi duduk.
“Sudah gila lo ya?” Dylan bangkit, lalu mengambil bantal, “mending gue tidur di sofa saja.”
Luna cekikikan milihat reaksi Dylan.
“Dylan!”
Baru saja akan meletakkan bantal di sofa lelaki itu menoleh ke Luna yang memanggilnya.
Luna memberikan fly kiss pada Dylan. Seketika Dylan bergidik jijik dan merebahkan tubuh ke sofa dengan posisi membelakangi gadis itu. Sedangkan Luna tertawa lagi sebelum memutuskan untuk memejamkan mata.
•••
__ADS_1