Housemate

Housemate
Mendatangi Tersangka


__ADS_3

Tidak sengaja Dylan menabrak seorang suster yang membawa makanan di troli. Lelaki itu mengelus paha yang terkena ujung troli.


“Hati-hati dong, Mas. Bagaimana kalau makanannya tumpah?” gerutu suster itu yang memang sedikit judes.


“Iya maaf, Sus.” Dylan menundukkan kepala karena meresa bersalah.


Suster itu melangkah pergi dengan wajah masam. Deana yang kebetulan tadi berjalan di belakang Suster itu, segera mendekati Dylan.


“Lo kenapa?” Dylan menoleh ke arah Deana, “gue lihat dari tadi suka melamun dan nggak fokus. Ada masalah?”


“Nggak, cuma tadi kebetulan nggak fokus." Lelaki ini melangkah pergi, tetapi Deana mengikutinya.


“Kalau butuh teman curhat gue siap. Gue bakal jadi pendengar yang baik. Lo bisa cerita apa saja,” ucap Deana yang terus menawarkan.


“Sudah gue bilang kalau nggak kenapa-napa. Sana kembali ke perkerjaan lo!”


Deana berjalan lebih cepat dan menghadang jalan lelaki itu. Dylan terpaksa menghentikan langkah kakinya.


“Jangan main-main Dea! Awas gue masih banyak pekerjaan.”


“Sebentar, curhat lima menit nggak akan membuat pekerjaan lo terlantar. Apa lo nggak merasa beban menanggung itu sendiri?”


Dylan bergeming dengan menatap gadis di hadapannya. Lelaki ini pikir makin lama Dea seperti berusaha mengambil perhatiannya.


Dengan satu tangan Dylan mendorong sebelah pundak Deana ke samping, kemudian berjalan kembali meninggalkan gadis itu.


Deana tersungut-sungut menatap kepergian Dylan, “Gue ‘kan cuma mencoba untuk care. Susah banget mau akrab sama tuh cowok.”


“Dylan memang tertutup. Susah dekat sama dia. Pengecualian sama cowok sepertinya karena gue dan Kendro bisa dekat sama dia cuma beberapa bulan.”


Mendengar penjelasan dari Javier membuat Deana menoleh ke belakang. Kendro melambaikan tangan hingga membuat Deana bergidik jijik.


“Kalau gitu kalian tahu kenapa Dylan sering melamun hari ini?”


“Lagi berantem sama Luna. Katanya, istrinya selingkuh.” Jawaban Kendro membuat Deana tercengang.


“Seriusan?”


Javier menganggukkan kepala, “Tadi pagi Dylan curhat sih gitu, tapi kurang yakin juga kalau Luna selingkuh."


“Gue juga kurang percaya kalau orang bucin bisa selingkuh.” Tambah Kendro.


“Bisa saja sih menurut gue. Apa lagi kalau dia nggak mendapatkan balasan yang sama.” Deana pun mencoba berpendapat.


“Kalau gue jadian sama lo nggak ada tuh gue bakal selingkuh, De. Ayo kita pacaran!” ajak Kendro membuat gadis itu mendelik, sedangkan Javier tertawa mendengarnya.

__ADS_1


“Jadian saja sana lo sama tembok!” Deana memutar arah tubuh dan pergi dari depan kedua pria ini.


Javier tertawa lebih keras hingga membuat Kendro menatapnya tidak suka.


“Lo itu, teman lagi usaha malah diketawain.” Kendro yang merajuk melangkah pergi dari sana.


Javier menghentikan tawa, lalu mengejar sahabatnya itu, “Ndro, jangan ngambek gitu ah! Maaf...”


•••


Rania memutar kunci rumah, lalu membuka pintu dan masuk bersama Luna. Wanita paruh baya ini memapah menantunya sampai duduk di sofa.


“Kamu dengarkan kata dokter, jangan kecapekan, nggak boleh banyak pikiran dan rajin makan makanan yang sehat agar cucu Ibu itu ikut tumbuh sehat!”


Luna memegang perut yang masih datar itu mengangguk, “Iya Ibu, Luna paham.”


Rania mengusap punggung Luna. Ia tahu Luna masih sedih mengingat kalau Dylan tidak mempercayainya.


“Ibu akan coba berbicara pada Dylan nanti.” Luna menoleh pada mertuanya, “kamu jangan bersedih lagi. Ibu nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan anak dalam kandunganmu”


“Luna cuma nggak menyangka saja, Bu. Dylan bisa menuduh kalau ini bukan anaknya.” Luna mengelus perut dengan mata berkaca-kaca akan menangis kembali.


“Kesalah pahaman ini ‘kan awalnya dari bekas di lehermu itu. Maka itu Dylan berpikiran nggak-nggak dan kamu menunjukkan gejala hamil bisa bertepatan dengan masalah itu pula.”


Luna menunduk dan air mata mengalir di pipi kirinya. Rania memeluk menantunya lagi.


“Jangan sekarang! Tadi saja kamu mengeluh pusing. Kalau pingsan di jalan bagaimana?”


“Kalau ditunda nanti Dylan makin salah paham.


“Nggak, nanti Ibu bantu jelaskan. Sekarang Ibu siapakan makan siang untukmu. Kamu tunggu di sini saja atau kalau nggak berbaring di kamar.”


Rania berdiri dan melangkah memasuki dapur meninggalkan Luna yang masih ada di ruang tamu.


Luna bersandar ke sofa dengan mengusap-usap perut sembari menikmati angin semilir dari pintu rumah yang sengaja dibuka.


•••


Dylan menepikan motor di depan sebuah kantor. Kebetulan saat dia sampai di sana karyawan baru saja pada keluar dari dalam gedung tinggi itu.


Sembari menunggu orang yang dicarinya keluar, Dylan terlebih dulu melepas helm. Ada sekitar lima menit menunggu orang yang Dylan cari menampakkan batang hidungnya.


Tidak perlu di panggil, orang itulah yang menghampiri Dylan. Arjun nampak bingung melihat lelaki yang duduk di atas jok motor ini.


“Bukannya Luna nggak masuk kantor. Kok Anda masih ke sini?” tanya Arjun tanpa mencurigai apa pun.

__ADS_1


“Saya sudah tahu.” Dylan menautkan jari ke sela-sela jarinya yang lain, “saya ke sini mau bertemu Anda.”


Satu alis Arjun terangkat, “Mau bertemu saya? Ada apa ya? Perasaan selama ini kalau ketemu kita nggak pernah ngobrol lama.”


“Ini bukan antara saya dengan Anda, tapi Luna. Saya ingin mengobrol sebentar tentang Luna pada Anda.” Dylan masih terihat biasa saja.


“Kalau begitu kita bicara di taman. Mari!” Arjun mempersilakan Dylan untuk mengikutinya.


“Nggak usah!” Arjun tidak jadi berjalan, “kita bicara di sini saja.” Dylan bangkit dan berdiri ke depan Arjun.


Arjun masih terlihat bingung seakan tidak paham maksud Dylan sekarang.


“Apa maksud Anda mencium istri saya?” Mata lelaki yang memakai kemeja biru dan jas hitam ini membelalak, “membuat bekas di lehernya. Ada hubungan apa Anda sama Luna?”


Arjun menggelengkan kepala, “Saya nggak merasa melakukan semua itu.” Pria ini berusaha mengingat-ingat apa ada kejadian yang terlupakan olehnya.


“Mana bisa bekas itu tiba-tiba ada di leher istri saya tanpa ada yang melakukan?” Dylan mulai membentak, “Luna sendiri yang bilang kalau Anda pelakukannya. Luna beralasan kalau Anda melakukannya saat keadaan mabuk dan tiba-tiba menciumnya di kamar mandi.”


“Tenang-tenang!” Arjun menepuk-nepuk dada Dylan, “kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin. Begini, saya baru ingat kemarin memang bertemu Luna ketika karaoke bersama karyawan lain. Setelah itu saya pergi minum-minum. Saya mabuk dan tidak ingat apa yang saya lakukan lagi. Kata sopir saya, saya ditemukan pingsan di kamar mandi wanita."


Dylan bergeming menatap tajam ke arah Arjun sembari mendengarkan penjelasan pria itu.


“Mungkin saja, saat itu saya nggak sengaja melakukan itu pada Luna.” Arjun mengambil sebelah tangan Dylan, “Maafkan saya, Mas. Saya dan Luna nggak ada hubungan apa pun. Luna itu selalu menjaga dirinya.”


Lelaki memakai kaus yang dilapisi kemeja flanel itu menarik tangannya yang Arjun genggam, “Anda nggak sedang menutupi hubungan kalian? Luna hamil dan saya curiga kalau Anda dan Luna sudah main di belakang saya.”


Arjun menggeleng, “Saya nggak pernah menyentuh Luna. Itu anak Anda.”


Dylan diam lagi, kali ini tubuhnya melemas setelah mendengar semua penjelasan Arjun. Penyesalan yang kini ada di hati lelaki itu.


“Saya boleh ikut Anda pulang?” Dylan menoleh menatap Arjun yang bertanya, “maksudnya, saya ingin ke rumah Anda untuk menjenguk Luna. Sekalian meminta maaf. Gara-gara saya Anda jadi salah paham bukan sekarang?”


“Memang ini semua gara-gara Anda! Mengapa harus melakukan kelakuan nggak pantas seperti itu pada perempuan lain yang bukan istri Anda sendiri.”


Arjun menundukkan kepala melihatkan mimik wajah penyesalan atas kebodohannya.


“Maafkan saya. Saya akan mencoba menebus rasa bersalah ini dengan menjelaskan lagi di depan Luna dan Anda. Bagaimana?”


Dylan mengambil helm, “Ikuti saya dari belakang!”


Arjun tersenyum, kemudian menganggukkan kepala.


“Siap! Saya ambil mobil dulu.” Pria itu berlari ke arah parkiran.


•••

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote ya kawan. Yang banyak kalau bisa hehe. Terima kasih 🙏🏻❤


__ADS_2