
“Jadi lo sama dia benar tinggal serumah?” tanya Elina yang masih tidak percaya.
“Sttt!” Luna meletakkan jari telunjuk di depan bibir, “jangan gede-gede ngomongnya!”
Sore ini kedua gadis itu sedang memantau Dylan yang bermain basket bersama Bhiru di halaman rumah.
“Kenapa coba kita ngintip-ngintip di sini. Langsung masuk saja.” Ketika Elina ingin pergi dari persembunyian mereka, yaitu di balik pohon besar. Luna menarik kembali sahabatnya itu.
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Dylan nggak mau kalau orang lain tahu dia tinggal di rumah gue. Cukup teman-temannya saja.”
“Lo juga yang tahu cuma gue ini.” Elina meremas tali tas, “gue sekalian mau numpang ke kamar mandi.”
“Kayak begini lo sempat-sempatnya kebelat? Ayo deh!” Luna menggandeng tangan Elina untuk masuk ke rumahnya.
Dylan dan Bhiru berhenti bermain. Mata mereka menatap kedatangan Luna dan Elina.
“Hai Dylan!” Elina mencoba melambaikan tangan dan tersenyum ramah.
Lelaki itu membalas dengan tersenyum tipis.
Elina menoleh pada Luna, “Gue numpang ke kamar mandi dulu ya.”
Luna mengangguk, “Iya, sana nanti malah keluar di sini.”
Setelah Elina berlari masuk ke dalam rumah Dylan menarik sebelah lengan Luna. Menyeret gadis itu menjauh dari Bhiru.
“Kenapa lo malah bawa teman ke sini? Sekarang teman lo itu jadi tahu ‘kan.”
“Kalem-kalem, Mas.” Luna mencoba menenangkan Dylan, “Elin itu sahabat gue. Dia sering main ke sini. Sejak ada lo, dia jadi jarang ke sini. Lo sendiri saja nggak masalah kasih tahu ke sahabat-sahabat lo. Gue pikir juga nggak masalah Elin tahu. Dia nggak ember.”
“Kak Dylan ayo main lagi!” panggilan Bhiru membuat Dylan menoleh sekilas.
“Sebentar!”
__ADS_1
Pemuda ini menatap Luna tajam, “Awas saja kalau ini jadi menyebar satu kampus.”
“Tenang semua aman terkendali.” Luna tersenyum lebar, “silakan dilanjutkan permainannya. Gue masuk dulu ya. Jangan kangen!”
Dylan mengerutkan bibir menatap kepergian Luna yang berlari masuk ke dalam rumah.
•••
Luna mengetuk pintu kamar adiknya. Pintu itu terbuka dan menampakkan sosok lelaki tinggi dengan ekspresi datar.
“Bhiru nggak ada di kamar,” jawab Dylan seakan tahu siapa yang dicari gadis itu.
“Gue tahu kok. Bhiru ada di bawah lagi nonton TV sama Papa.” Gadis yang memeluk buku di dada itu tersenyum-senyum membuat yang melihatnya menjadi merinding.
“Terus lo mau apa ke sini?”
Tidak menjawab pertanyaan cowok itu Luna mendorong dada bidang Dylan ke dalam kamar. Ia menutup pintu membuat Dylan harap-harap cemas akan nasibnya.
“Gue mau minta tolong.” Luna mengulurkan buku yang dia bawa, “ajarin gue ngerjain tugas doang.”
Dylan menghela napas berat, “gue kira tadi ada apa.”
Pemuda itu memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku, lalu berjalan mendekati meja belajar.
“Nggak ada. Sini! Yang mana harus gue ajarkan?” Dylan menarik satu kursi dan duduk.
Luna tersenyum senang. Kemudian berlari kecil mendekati lelaki itu. Ia mengambil kursi lain dan duduk di sebelah Dylan.
“Ini.” Luna membuka buku yang dia bawa ke atas meja.
Dengan serius Dylan menjelaskan apa saja yang dia paham dari tugas milik Luna. Namun, berbeda dengan gadis itu. Ia memperhatikan wajah Dylan sampai tidak berkedip.
Luna tersenyum sambil menopang dagu menatap lelaki di depannya, “Lo pernah jatuh cinta nggak sih?”
Dylan berhenti berbicara, lalu menoleh. “Dari tadi lo nggak dengarin gue?”
Luna seketika duduk dengan tegap, “Dengar kok, cuma pengin tahu saja. Lo yang dingin dan nggak punya gebetan ini pernah nggak merasakan jatuh cinta. Jujur saja sih selama hidup gue sudah lima kali jatuh cinta.”
__ADS_1
Pemuda itu lantas mengalihkan pandangan ke buku, “pernah sampai sekarang gue juga cinta.”
“Bohong ya lo? Katanya, waktu itu nggak punya gebetan.”
“Memang nggak punya,” jawab Dylan menatap gadis yang sewot itu.
“Terus lo cinta sama siapa?”
“Ibu.” Luna menghela napas, “setiap detik gue cinta sama Ibu dan pengin membuatnya terus bahagia.”
“Sama perempuan?”
“Lo pikir Ibu gue bukan perempuan?”
Luna menjatuhkan kepala ke atas meja dengan tubuh melemas. Ia pusing menerangkannya pada Dylan. Sedangkan tanpa Luna sadari lelaki itu tersenyum kecil.
Dylan merapikan buku-buku itu kembali dan meraih pulpen.
“Ayo, bangun! Tugas lo belum kelar.” Dylan memberikan pulpen ke depan wajah gadis itu, “ini lo tinggal salin ke buku tulis.”
Luna akhirnya bangkit, lalu mengerjakan tugas miliknya. Tidak berhenti di situ saja. Dylan masih terus mengawasi dan menunjukkan jawaban yag benar. Walau sesekali mereka tetap berdebat.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ketika pintu kamar dibuka oleh anak laki-laki belasan tahun itu, Dylan terbangun dari tidur. Ia melihat Luna juga tertidur di sebalahnya.
“Kak Luna di sini?” tanya Bhiru yang merasa terkejut.
Dylan meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, “Sttt, habis mengerjakan tugas. Jangan beresik kasihan sepertinya kecapekan.”
Bhiru melangkah mendekati ranjang tidurnya, “Terus dibiarkan saja tidur di situ?”
Dylan melihat ke arah Luna kembali, lalu berganti menatap Bhiru.
“Kakak gendong saja ke kamar.”
Bhiru mengangguk saja. Kemudian merebahkan tubuh ke kasur. Dylan berdiri, lalu membereskan buku-buku dan alat tulis milik gadis itu. Selesai itu dia lantas mengangkat tubuh mungil Luna. Ia membopong Luna kembali ke kamar gadis ini.
Dylan membaringkan dengan hati-hati tubuh gadis ini. Tidak lupa dia juga menyelimuti Luna. Sebelum memutuskan untuk pergi Dylan memperhatikan mimik wajah Luna saat tidur.
__ADS_1
Setelah itu Dylan lekas berjalan keluar dari kamar dan tidak lupa menutup pintu.
•••