Housemate

Housemate
Jadian


__ADS_3

Banyak orang berlalu-lalang di taman hiburan yang Luna pilih. Wajar saja ini hari minggu pasti akan ramai pengunjung yang akan melepas penatnya sehabis beraktivitas dari Senin hingga Sabtu.


“Lo mau main apa?” tanya Luna yang mendongakkan kepala untuk menatap Dylan.


Dylan menoleh pada gadis yang hanya mempunyai tinggi sebahunya, “Terserah lo saja mau main apa. Gue ikut saja.”


“Kalau begitu kita main Rolle Coaster dulu sebagai permulaan.” Luna menggandeng tangan Dylan, “ayo sini ikut gue!”


Gadis itu menarik Dylan dengan semangat. Dia sudah tak sabar menikmati permainan-permainan yang ada di taman hiburan itu.


Selesai menikmati permainan yang sangat menantang itu Luna baru tahu kalau Dylan juga takut naik Rolle Coaster. Lelaki itu tidak berhenti berteriak. Sekarang dia malah diam saja sambil memegangi dada.


“Pusing ya?” tanya Luna yang duduk di samping Dylan.


Mereka menepi dahulu setelah menaiki permainan pertama itu. Menstabilkan keadaan tubuh sebelum jalan lagi.


“Sedikit, gue lebih khawatir kalau jantung gue copot.”


Luna tertawa mendengar ucapan Dylan. Namun, hal itu membuat lelaki ini menoleh padanya.


“Lo pusing banget? Butuh minum?”


Luna menggeleng, “Pusingnya sudah berkurang. Gue nggak butuh minum, tapi butuh lo.”


Dylan tersenyum dibuatnya, “Masih bisa saja gombal. Mau main yang lain?”


Luna mengangguk, lalu mengulurkan sebelah tangan ke depan Dylan. Lelaki itu berdiri lebih dulu. Kemudian menarik tangan Luna sampai gadis itu berhasil berdiri.


Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mencoba hampir semua permainan yang ada di sana. Sekarang kedua orang itu sedang ada di stan pemanah. Kalau berhasil menancapkan panah tepat di titik tengah akan berhasil mendapatkan satu boneka taddy bear.


“Ayo Dylan! Lo pasti bisa.” Luna menunggu di pinggir serta memberikan semangat pada Dylan yang akan memanah.


Tap. Anak panah tertancap tepat pada tempat yang diinginkan.


“Selamat.” Penjaga kios memberikan Dylan boneka taddy bear ukuran sedang karena berhasil memenangkan permainan.


“Terima kasih, Pak.”


Dylan bersama Luna berjalan santai menjauhi kios pemanah. Tiba-tiba Dylan mengulurkan boneka ke arah Luna. Gadis ini menoleh, menatap lelaki itu dan bonekanya bergantian.


“Buat lo.”


“Gue?” Luna menunjuk dirinya sendiri.


Dylan menganggukkan kepala, “Iya, buat lo saja.”


Luna mengambil boneka dari tangan Dylan, “Terima kasih."


“Sama-sama.”


“Gue kira ini untuk adik lo. Secara lo punya adik cewek.”


“Nggak, Alexa resek orangnya. Kelakuannya nggak seperti adik. Lebih baik itu untuk lo.”


Luna tertawa, “Sepertinya semua adik itu memang punya sikap resek. Bhiru juga resek orangnya.”


Mendadak Dylan berhenti melangkah di tempat yang lumayan ramai. Luna juga mengikutinya.

__ADS_1


“Lun!”


“Hem? Ada apa?” tanya Luna menatap Dylan sekilas, lalu memperhatikan sekelilingnya.


“Mau nggak jadi pacar gue?”


Suara Dylan yang kecil membuatnya tertelan dengan suara dari speaker toko es krim.


“Es Krimnya... Murah... Ada aneka rasa, coklat, stowbery, vanila dan masih banyak lagi. Es krim... Es krimnya!”


Luna mendongak, “Mau.”


“Jadi lo mau?” tanya Dylan tidak percaya.


Luna menunjuk ke depan, “Mau beli es krim.”


Seketika Dylan melemas. Dia kira Luna menjawab pernyataannya. Tahunya gadis itu minta dibelikan es krim.


“Ayo beli!” Luna menarik sebelah tangan Dylan, “kelihatannya enak.”


Karena Dylan tetap tidak bergeser dari posisi. Luna berlari lebih dulu mendekati penjual es krim.


“Sepertinya dia nggak dengar.” Lelaki itu menghela napas, “sudah susah-susah mengungkapkan perasaan ini.”


Setelah memegang es krim masing-masing Luna dan Dylan duduk di sebuah bangku yang ada di pinggir jalan. Luna hanya asyik menghabiskan es krim vanilanya saja. Sedangkan Dylan memilih waktu yg tepat untuk mengungkapkan perasaannya lagi.


“Itu es krim lo mencair cepat di habiskan!” ujar Luna yang melihat ke arah es krim di tangan Dylan.


Dylan juga terkejut tangan kanannya sudah basah terkena cairan es krim. Lelaki ini cepat memakan es krim yang masih utuh.


“Bersihkan pakai ini saja.” Luna memberikan selembar tisu.


“Sama-sama.”


Luna kembali melanjutkan menyantap es krim yang tersisa. Dylan pun curi-curi pandang pada gadis itu sembari membersihkan tangan.


“Ada yang mau gue omongin.”


Luna menoleh dan menatap serius, “Apa? Ngomong saja.”


“Gue suka sama lo. Mau nggak jadi pacar gue?” dengan satu tarikan napas Dylan mengucapkan kalimat itu.


Luna bergeming. Ia sampai cengok mendengar pernyataan cinta dari orang yang memang dia suka.


“Kenapa?” tanya Dylan karena Luna tidak merespon apa pun, “nggak romantis seperti orang-orang ya nembaknya? Gue sudah nggak tahu mau nembak yang bagaimana.”


Dylan menggaruk-garuk kepala dengan tertawa kecil.


“Nggak apa-apa, nggak masalah, tapi ini mimpi bukan sih?”


“Bukan, gue beneran nembak lo. Bagaimana jawabannya?”


“Gue mau!” pekik Luna dan lantas berdiri untuk memeluk Dylan.


Gadis ini melingkarkan tangan ke leher Dylan. Sangking senangnya dia sampai melompat-lompat. Dylan yang membalas melingkarkan tangan pada pinggang Luna ikut bahagia dan tersenyum.


Luna memberi jarak antara tubuhnya dan Dylan, “Sebenarnya gue sudah tahu kalau lo suka gue.”

__ADS_1


“Tahu dari mana?”


“Bunga dan coklat yang lo buang itu.”


“Hah!” Dylan jadi malu kalau mengingat saat itu dia cemburu.


“Nggak apa kali. Cemburu itu wajar.” Luna kembali menjilat es krim di tangannnya, “karena baru jadian. Teraktir aku makan.”


“Aku?”


“Iya, sekarang pakai aku-kamu saja. Biar lebih sweet.”


“Oke.” Dylan menggeser posisi Luna, lalu berdiri, “ayo kita cari kafe!”


Mereka melangkah pergi dengan Dylan yang lebih dulu menggandeng tangan Luna.


•••


Luna menunggu Dylan melepaskan helm di kepalanya. Hampir seharian mereka pergi untuk jalan-jalan.


“Hati-hati ya pacar!” ujar Luna yang membuat Dylan menoleh.


Dylan mengangguk sembari tersenyum, “Pasti. Kamu langsung masuk dan mandi. Sebentar lagi magrib.”


“Siap, bos.” Luna memberikan hormat pada kekasih barunya itu.


“Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang. Sampai bertemu besok di kampus.”


Dengan pipi yang bersemu Luna menganggukkan kepala. Dylan memutar kendaraan roda duanya, lalu melaju pergi meninggalkan Luna yang masih diam di tempat sampai benar-benar tak melihat pemuda itu lagi.


Gadis dengan rambut sebahu ini masuk rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Ia sampai membelkan Bhiru oleh-oleh.


“Untuk kamu,” ucapnya meletakkan paper bag di atas meja.


Bhiru yang asyik menonton televisi mendongakkan kepala, “Seriusan untuk Bhiru, Kak?”


“Iya!” teriak Luna karena dia sudah pergi lebih dalam memasuki rumah.


“Mama!” Luna memanggil Sinta yang kebetulan lewat melintasinya. Luna memeluk sang ibu sembari membawanya berputar-putar.


“Apa-apaan ini Luna?” Sinta melepaskan pelukan, “pusing Mama.”


“maaf, Ma. Luna lagi senang banget.”


“Senang kenapa? Coba cerita ke Mama?”


“Mama pasti nggak percaya ini.” Dahi Sinta mengerut dan alisnya tertaut, “Luna sama Dylan sudah jadian.”


Sorakan Luna membuat Bhiru menoleh ke dalam. Namun, setelah itu memainkan robot Iron Man pemberian Luna barusan.


“Serius kamu?” tanya Wardana yang baru datang ikut bergabung.


“Iya, Pa.” Luna tersenyum sembari menganggukan kepala, “boleh ‘kan Pa?”


“Boleh saja, Dylan anaknya baik. Papa malah ikut senang.”


“Mama juga nggak sangka kalian bisa sama-sama suka gini.” Sinta mengusap lengan Luna, “semoga langgeng terusa ya.”

__ADS_1


“Amin.”


•••


__ADS_2