Housemate

Housemate
Happy Luna Day 2


__ADS_3

Motor hitam milik Dylan masuk ke dalam halaman rumah Luna. Ia melepas helm dan mencabut kunci kendaraan roda 2 itu. Kemudian membawa belanjaan mendekati pintu rumah.


Ketika bel rumah ditekan 3 kali oleh lelaki itu muncullah sosok Sinta dari balik pintu. Wanita itu dengan ramah menyapa sembari membukakan pintu.


“Luna masih di kampus, Dy.”


“Aku tahu kok Tante. Aku ke sini bukan cari Luna.”


Sinta memperhatikan barang-barang yang pemuda itu bawa, “Terus kamu mau ngapain?”


“Aku mau buat suprise buat Luna. Boleh ‘kan Tante?”


Sinta terdiam sebentar. Ia tidak menyangka Dylan sampai memikirkan ke sana.


Wanita yang masih menggunakan celemek ini mengangguk, “Boleh kok. Silakan masuk.”


Ibu dua anak itu bergeser dan memberi jalan untuk Dylan masuk ke rumahnya. Setelah laki-laki itu di dalam, Sinta kembali menutup pintu.


“Oh iya Tante, aku boleh kan masuk ke kamar Luna?” Sinta bergeming, tetapi Dylan cepat meluruskan maksudnya, “jangan salah paham dulu Tante. Aku mau hias kamar Luna sebagai surprise-nya agar Luna pulang nanti dia kaget saat masuk kamar.”


Sinta menarik kedua sudut bibirnya, “Ya boleh dong. Kerjakan saja apa yang mau kamu buat.”


“Terima kasih, Tente.” Dylan tersenyum karena semua rencananya berjalan mulus.


“Tante lanjut ke dapur ya. Masih masak untuk makan siang.”


Sinta berjalan lebih masuk ke rumahnya.


“Iya, Tente. Tante kerja saja.” Dylan pun mengikuti wanita paruh baya itu dari belakang. Namun, mereka berpisah saat Dylan menaiki anak tangga menuju kamar yang ada di atas.


Dylan membuka pintu kamar. Terlihat kamar serba biru itu telah rapi. Lelaki ini mulai mengeluarkan barang belanjaannya. Ia lantas mengiasi kamar Luna dengan pernak-pernik yang senada dengan cat kamar itu. Ia juga harus meniup balon sendiri.


Tiba-tiba Sinta datang dengan membawa segelas jus. Ia takjub saat kamar telah terhias 80% oleh Dylan.


“Cepat juga kerjamu. Luna pasti senang sekali melihat ini.”


Dylan yang masih sibuk meniup balon menghentikan pekerjaannya dan menoleh.


“Aku takut Luna pulang Tante. Jadi sedikit ngebut mengerjakannya.”


“Hari ini seingat Tante, Luna itu pulang pukul 4. Tadi pagi dia bilang ada pergantian mata pelajaran. Karena dosennya nggak datang dua hari yang lalu.”


“Syukurlah.” Dylan bisa bernapas lega sekarang, “aku masih bisa kerja dengan tenang.”


Sinta tersenyum, lalu meletakkan jus di meja.


“Minum dulu, Dy. Pasti kamu haus ‘kan?”


Dylan mengangguk, “Iya terima kasih, Tante.”


“Setengah jam lagi ke bawah ya, Dy. Makan siang dulu sama Tante.”


“Nggak usah repot-repot Tante!”


“Tante nggak merasa direpotkan kok.” Sinta melangkah keluar kamar, “nanti kalau sudah siap Tante teriakan saja. Kamu harus turun!”


Teriak Sinta di akhir kalimat, karena dia sudah menjauh dari kamar. Dylan berdiri, lalu meraih gelas berisi jus. Pemuda ini meneguk minuman yang telah Sinta buat.


Setelah setengah jam terlewati pekerjaan Dylan telah selesai. Lelaki ini tersenyum menatap kamar yang terlihat cantik. Dia berharap Luna juga senang melihat semua ini.


“Dylan ayo turun dulu! Kita makan sama-sama.”


“Iya, Tante.” Lelaki ini cepat turun dari lantai dua.


•••


“Kamu mempersiapkan kado juga, Dy?”


Dylan sedikit tersentak saat Sinta bertanya padanya. Lelaki yang sibuk membungkus kado itu mengangguk.


“Iya, Tan.” Lelaki ini mengulas senyum, “tadi nggak sempat membungkus kadonya. Karena masih banyak waktu aku bungkus dulu.”


“Itu isinya apa?” tanya Sinta yang dari tadi kepo.


“Kotak musik karakter kartun kesukaan Luna, Te.”


“Luna pasti suka banget. Dia ‘kan belum punya itu.”


Tiba-tiba terdengar dacit pintu utama yang dibuka. Dylan dan Sinta yang memang ada di ruang tami menoleh.


“Ada Kak Dylan?”


Kedua orang yang ada di dalam rumah itu menghela napas lega ternyata yang datang Bhiru.


“Kirain Mama kamu Luna,” ucap Sinta pada si bungsu.


“Ini Bhiru, Ma. Baru pulang.”


“Makanya masuk itu pakai salam.”

__ADS_1


Anak laki-laki ini cengengesan, “Assalammualikum.”


“Waalikumsalam,” jawab Sinta dan Dylan bersamaan.


Bhiru menutup pintu, lalu berjalan mendekati sang ibu. Ia mengambil sebelah tangga Sinta dan bersalaman. Mata Bhiru tertuju pada kado yang telah selesai dibungkus.


“Kak Dylan mau kasih Kak Luna kado?”


Dylan mendonggakan kepala, “Bukan itu saja, tapi mau kasih surprise juga.”


Bhiru cemberut, “Enak banget Kak Luna.”


Dylan tertawa kecil mendengar ucapan anak remaja itu.


“Kak Dylan waktu itu ingkar sama janjinya. Bhiru sudah tunggu sampai setengah jam tahu.”


“Maaf, Kakak ada urusan mendesak. Kakak sudah kasih tahu Kak Luna agar memberi tahumu. Apa Kak Luna nggak kasih tahu?”


“Kasih tahu sih, tapi Bhiru sudah keburu kesal.”


Dylan tersenyum tipis, “Bagaimana kalau kita main sekarang, tapi sampai hampir Kak Luna pulang saja ya?”


Anak laki-laki berseragam putih-biru ini tersenyum lebar. Ia cepat menganggukkan kepala.


“Bhiru mau Kak.”


“Eh, ganti baju sama makan dulu. Baru habis itu main,” ujar Sinta menasihati.


“Iya, Ma.” Bhiru merengut, kemudian dia beralih menatap Dylan, “tunggu sebentar ya, Kak.”


Dylan mengangguki. Bhiru segera berlari menuju kamarnya.


•••


“Lo pulang naik apa, Lun?” tanya Elina berjalan beriringan dengan Luna.


“Pakai ojol saja biar sampai depan rumah. Capek gue kalau harus jalan lagi.”


“Luna!”


Panggilan seseorang yang menghadang jalan kedua gadis itu membuat mereka berhenti. Ternyata itu panggilan dari Javier yang terlihat berkeringat. Tidak lama Kendro juga datang bergabung.


“Kalian kenal gue?” Luna menunjuk dirinya sendiri.


“Oh iya, selama ini kita belum ketemu ya.” Lelaki itu mengulurkan sebelah tangan, “kenalin gue Javier sahabat Dylan.”


Kemudian Kendro ikut berjabat tangan dengan Luna sambil menyebut nama, “Kendo sahabat Dylan juga.”


Luna tersenyum dan juga mengenalkan orang disebelahnya, “Ini Elina sahabat gue. Ada apa kalian datang ke gue?”


“Lo ulang tahun?”


“Iya, hari ini gue emang lagi ulang tahun,” jawab Luna dengan dahi berkerut, “ada apa?”


“Dylan mau kasih surprise ke lo,” ujar Kendro, lalu mendapat satu pukulan di lengan yang dilakukan Javier.


“Apa sih lo? Sakit tahu.”


“Kenapa lo bocorin?”


Kendro menepuk dahi, “Oh iya, gue lupa.”


“Seriusan Dylan buat surprise untuk gue?”


Javier mengangguk, “Katanya begitu.”


Luna tersenyum lebar. Hatinya sekarang merasa berbunga-bunga. Ada sedikit getaran sat mendengar ucapan Javier tentang surprise itu.


“Kalau gitu gue pulang dulu.” Luna menarik Elina yang dari tadi hanya menyimak, “terima kasih infonya.”


Javier dan kendo mengangguk. Mereka melihat kepergian kedua gadis itu.


“Mudah-mudah surprise-nya Dylan nggak ancur karena lo ember.” Javier menoyor kepala kendro. Sedangkan yang di toyor malah memasang tampang sedih.


“Gue nggak sengaja, keceplosan.”


“Sudah, ayo main lagi!” Javier berjalan lebih dulu masuk ke lapangan sepak bola kembali. Mereka bergabung bersama teman-temannya lagi.


•••


Luna tergesa-gesa turun dari ojol yang dia tumpangi. Karena terlalu buru-buru gadis itu hampir saja membawa masuk helm si driver. Ia sempat mali saat ditegur. Namun, tidak memedulikan itu lantas segera berlari mendekati pintu rumah.


Baru akan mengetuk pintu dia melihat ke arah halaman.


“Kok nggak ada motornya? Apa Dylan nggak kasih surprise di sini.” Luna merogoh posel yang ada di dalam tas. Ia memeriksa kalau-kalau ada pesan masuk dari pemuda idamannya itu, “nggak ada pesan juga dari Dylan. Terus surprise-nya kapan?”


Dengan lemas Luna mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dari dalam Sinta menjawab kemudian menyuruh Luna membuka saja pintu yang tidak dikunci itu.


Dari pertama masuk Luna sudah memperhatikan setiap inci rumahnya. Ia tidak mendapati siapa-siapa di ruang tamu. Setelah lebih masuk dia bertemu dengan Bhiru yang sedang menonton televisi sendirian.

__ADS_1


“Dek, Kak Dylan nggak datang ke sininya?”


Bhiru menoleh, “Nggak ada tamu yang datang ke sini. Kalau Kak Dylan ke sini pasti sudah Bhiru ajakin main basket.”


Kalau Luna pikir-pikir perkataan adiknya benar juga. Motornya saja nggak ada di depan.


“Sepertinya gue dikibulin nih,” gumam Luna.


“Dikibulin siapa?” tanya Sinta yang melewati Luna saat akan memberikan segelas es teh pada Bhiru.


“Bukan apa-apa, Ma. Luna ke kamar dulu ya.” Sinta hanya mengangguk saja.


“Awas saja besok. Kedua orang itu bakal gue kasih pelajaran.” Luna mendumel saat naik ke lantai dua.


Gadis ini membuka pintu kamar. Namun, dia heran dengan ruangan yang sangat gelap. Ia berpikir apa Sinta tidak membuka gorden kamarnya.


Luna memutuskan untuk masuk saja ke dalam. Ia menyipitkan mata saat melihat sebuah lilin di tengah kasur. Sebenarnya, itu adalah kue tart dengan lilin yang menyala. Karena terlalu gelap Luna tidak jelas melihatnya.


“Kasur gue kebakar atau bagaimana? Ma kasur Luna kebakar.” Gadis ini berteriak dengan segera menyalakan lampu tengah kamar.


“Surpire!” sorak Dylan dengan menarik sebuah benang dari party popper yang dia pengang sampai meletup keras.


Luna terdiam dengan memegang dada. Ia tidak bisa berkata-kata saat Dylan ada di hadapannya.


“Happy birthday, Luna. Semoga keinginan dan cita-cita lo bisa terkabul,” ujar Dylan diakhiri senyuman.


Bukannya membalas gadis ini malah menangis membuat Dylan menjadi panik.


“Lo kenapa?” Dylan melangkah mendekati Luna. Pemuda itu menangkup pipi gadis ini, “nggak suka sama surprise-nya?”


Masih menangis Luna mendongak untuk menatap lelaki yang lebih tinggi darinya ini, “Bukan, gue terharu. Huwaaaa gue kira tadi Javier sama Kendro membohongi gue. Ternyata lo benar beri surprise. Seumur-umur baru kali ini dapet kejutan dari gebetan.”


Dylan menurunkan kedua tangan. Ia hampir saja tertawa mendengar Luna menjelaskan dengan sesegukan karena menangis keras.


“Bisa nggak lo jangan bilang gue gebetan lo terus.”


“Terus apa? Gue suka panggil itu.”


“Sudah-sudah, hapus air matanya!” Dylan mendekati kasur dan mengambil kue yang ada di sana. Ia membawanya ke depan Luna, “buat wish, lalu tiup lilinya."


Luna mengusap pipi yang basah. Kemudian mengangkat kedua tangan.


“Ya tuhan, berikan Luna kesempatan untuk membahagiakan Papa dan Mama. Kabulkan keinginan Luna yang ingin menjadi komikus, dan...” Luna menatap Dylan, “jodohkan Luna dengan laki-laki yang ada di hadapan Luna sekarang, Amin.”


Gadis itu mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu meniup semua lilin yang masih menyala.


“Terima kasih, Dylan.” Sekarang Luna memeluk lelaki di depannya yang masih memegang kue tart itu.


Dylan merasakan hal aneh pada dirinya saat tangan gadis itu melingkar di pingangnya. Jantung juga terasa berdebar lebih kuat dari biasanya. Ia takut Luna mendengar debaran itu. Apa lagi gadis ini menempelkan pipi ke dada Dylan.


Luna menatap Dylan, “Lo deg-degkan?”


Baru saja hal yang ditakutkan ini dipikirkan. Namun, Luna sudah mengetahuinya.


Dylan mendorong bahu Luna agar gadis itu melepaskannya, “Nggak, lo salah dengar kali. Gue baru ingat. Ada kado buat lo.”


“Masih ada kado?” tanya Luna dengan mata berbinar-binar.


“Masih.”


Dylan meletakkan kue ke meja. Kemudiankan mengambil kado yang tadi dia bungkus. Lelaki itu menyerahkan kotak berwarna biru dengan pita merah melilit kepada Luna.


“Isinya apa?”


“Buka saja!”


Luna bergegas membukanya. Mulutnya sampai menganga, terpukau dengan apa yang dia lihat. Sebuah kotak musik dengan karakter doraemon.



“Makasih,” ucapnya sambil tersenyum.


“Sama-sama. Suka?"


"Suka banget. Lucu." Mata gadis itu tidak lepas memandangi kotak musik barunya.


“Sudah selesai acaranya? Tadi Mama dengar ada nangis-nangisnya.” Sinta datang bersama Bhiru.


“Sudah Tante. Itu tadi Luna yang nangis.”


Bhiru mencebikkan bibir, “Kak bagi kuenya dong.”


“Iya, sabar. Gue saja belum makan kue.”


“Tunggu! Mama ambilkan piring dan pisau dulu.”


Sinta kembali turun ke lantai dasar.


•••

__ADS_1


__ADS_2