
“Go Dylan! Go Dylan Go!”
Luna menyoraki nama Dylan dengan melompat-lompat layaknya pemandu sorak. Kedua sepeda yang melaju kencang berhenti di depan gadis itu.
Bhiru mengatur napas yang tersengal-sengal, “Dari tadi Kakak cuma menyemangati Kak Dylan saja.”
Luna tertawa kecil dengan menutupi mulut menggunakan telapak tangan.
“Iya dong ‘kan Dylan pacarnya kakak.”
Anak laki-laki yang duduk di atas sepeda ini mencebikkan bibir mendengar jawaban Luna.
“Siapa yang menang?” tanya Dylan mengalihkan pembicaraan mereka.
Luna terdiam karena dia tidak memperhatikan saat lomba berakhir. Ia mencoba menerka-nerka.
“Seri. Nggak ada yang menang,” ucapnya dengan tersenyum di akhir.
Bhiru menatap kakak perempuannya itu penuh curiga.
“Sudah ayo pulang!” Luna berjalan ke sisi Dylan, “aku capek dan lapar.” Gadis ini lekas naik ke boncengan.
“Ya sudah kita pulang.” Dylan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, “sudah jam delapan juga. Habis ini aku harus cari buku.”
Luna yang berdiri dengan melingkarkan kedua tangan di leher Dylan memiringkan sedikit kepala untuk menatap wajah lelaki itu.
“Aku boleh ikut ‘kan?”
Dylan menoleh ke belakang, “Boleh, tapi mandi dulu.”
Luna mengangguk.
“Masih lama ngobrolnya?” tanya Bhiru yang masih setia menunggu.
“Sudah selesai. Ayo kamu jalan duluan!” balas Dylan pada adik pacarnya.
Bhiru lebih dulu mengayuh sepeda dan pergi meninggalkan taman. Mereka baru saja selesai dari olahraga pagi. Namun, Luna lebih banyak beristirahat dari pada jogging. Alasannya karena lelah.
“Duduk yang benar nanti jatuh,” ujar Dylan pada Luna yang masih saja berdiri saat lelaki itu mengayuh sepeda.
“Nggak mau.” Luna mengeratkan pelukan pada leher Dylan dan menempelkan kepalanya ke kepala sang pacar, “aku pegangan yang kuat. Nggak akan jatuh.”
“Bhiru tunggu!” teriak Luna membuat Dylan memejamkan sebelah mata. Gadis ini menepuk bahu kekasihnya, “kejar! Balap dia! Cepat!”
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Biar kita sampai rumah lebih dulu.” Luna menepuk bahu Dylan lagi, “ayo kejar Dylan!” rengek gadis ini.
Dylan mempercepat kayuh sepeda hingga Bhiru tertinggal. Namun, remaja laki-laki itu menyadarinya dan ikut mempercepat laju sepeda.
•••
Dylan melipat jas putih sesudah menjalankan tugas praktik. Ia menyimpannya ke dalam tas.
Tidak sengaja mata Dylan menangkap sosok Alexa berdiri di depan pintu kelasnya. Saat itu kelas Dylan memang ramai. Karena akan melanjutkan ke pelajaran selanjutnya.
“Mau ke mana, Lan?” tanya Javier yang kebetulan melihat sahabatnya itu ingin keluar kelas.
Dylan menunjuk Alexa menggunakan dagu. Javier memandang ke arah yang lelaki itu tunjuk.
“Tumben, mau apa ya dia?”
Dylan mengedikkan kedua bahunya, “ini mau gue tanya dulu.”
Javier mengangguk saja. Setelah selesai berbincang dengan sahabatnya Dylan melangkah keluar dari kelas dan menghampiri Alexa.
“Ada apa, Sa?”
“Apa bisa kita makan siang di kafe depan kampus?” tanya Alexa.
Dylan melihat ke dalam ternyata Javier dan Kendro memperhatikan dirinya dan Alexa dari dalam. Lelaki ini menatap adik perempuannya lagi.
Alexa mengangguk, “Iya nggak apa-apa. Aku tunggu di kafe jam satu. Jangan lupa ajak Luna juga, Kak.”
“Lo yakin?”
“Iya, ada yang mau aku sampaikan ke Luna.” Alexa tersenyum, “aku pergi dulu.”
Setelah menyampaikan isi hatinya, Alexa melangkah pergi meninggalkan Dylan. Lelaki ini mengeluarkan ponsel dari aku celana, lalu mengabarkan Luna lewat pesan singkat.
Selesai jam pelajaran Dylan benar-benar pergi mengajak Luna makan siang. Untung saja kekasihnya tidak memiliki kelas lagi dari satu jam lalu.
Luna turun dari motor dan menatap kafe sederhana di depannya.
“Tumben banget kamu ngajakin makan siang ke kafe. Biasanya makan di kantin biar hemat.”
Dylan menarik kunci motor, lalu segera turun dari kendaraan roda dua ini.
“Ada yang mengajak kita makan siang bersama.”
“Siapa?”
__ADS_1
Pemuda ini tidak menjawab. Ia malah menggandeng sebelah tangan Luna untuk lekas masuk ke dalam kafe.
Luna sedikit terkejut ketika melihat Alexa sudah menunggu di meja nomor 6. Dylan tersenyum tipis ke arah sang adik.
“Sudah lama, Sa?” Dylan menarik satu kursi untuk Luna. Setelah Luna duduk barulah dia menyusul untuk duduk pula.
“Baru sepuluh menit kok, Ka.” Alexa menatap Luna yang duduk di depatnya, “apa kabar, Lun?”
Luna tersenyum canggung, “Baik.”
“Tante Alika bagaimana kabarnya, Sa?” tanya Dylan mencairkan suasana.
Alexa tertunduk lesu. Mimik wajahnya menjadi sedih.
“Lo kenapa?” tanya Dylan lagi.
“Mommy sekarang lagi sakit, Kak. Mommy selalu memikirkan Daddy.” Gadis yang bercerita ini mendongak kembali, “terkadang Mommy bilang kalau dia melihat Daddy.”
Luna jadi ikut bersimpati mendengar cerita Alexa.
“Lo harus lebih kuat dari Tante Alika. Lo yang harus semangati Tante Alika memghadapi ini. Gue pun perlahan bisa lebih ikhlas kehilangan Ayah.”
Alexa mengangguk pelan, “Aku akan coba itu, Kak.”
“Semoga Tante Alika cepat sembuh,” tambah Dylan.
“Oh iya, lebih baik kita pesan makanan dulu.” Alexa mengalihkan pembicaraan. Gadis itu memanggil pelayan, “kalian mau pesan apa?”
Luna dan Dylan memilih menu dari buku menu yang diberikan pelayan kafe.
Makanan terhidang setelah 15 menit menunggu. Ketiga orang itu terdiam menyantap makanan masing-masing. Tidak disangka Alexa mengeluarkan suara lagi.
“Aku minta maaf sama kamu, Luna.”
Mendengar kata maaf keluar dari gadis yang dulunya sangat membenci Luna itu membuat gadis ini berhenti menyuap, lalu menoleh ke Alexa.
“Maaf kalau selama ini aku selalu marah-marah sama kamu karena kamu mendekati kakakku. Sekarang aku sudah rela kalian berpacaran. Aku nggak apa-apa.”
Luna melirik Dylan sebelum menyentuh salah satu tangan Alexa, “Nggak apa-apa Alexa. Aku sudah maafkan. Aku paham kalau melupakan orang yang kita suka itu memang nggak mudah. Aku pernah ada di posisimu.”
Senyum di bibir Alexa merekah, “Terima kasih, Luna. Sekarang kamu mau menjadi kakak iparku?”
Dylan dan Luna saling pandang. Luna menjawab, “Tapi aku dan Dylan belum memutuskan untuk menikah.”
Alexa menatap ke arah Dylan, “Kakak ayolah lamar Luna untuk jadi kakak iparku!”
__ADS_1
Dylan menunduk sembari menggaruk tengkuknya. Lelaki itu tidak menjawab perkataan sang adik. Ia sibuk menyantap makanan yang tinggal setengah porsi.
•••