
Dylan berjalan mendekati Luna yang duduk di ruang tamu sembari menatap layar laptopnya. Lelaki itu meletakkan segelas teh hangat di samping laptop.
“Bagaimana hari pertama kerja?” tanya Dylan yang memperhatikan Luna sedang berkutik dengan benda persegi di meja.
Luna mengalihkan pandangannya, “Seru.”
Dahi Dylan mengerut, “Kamu kerja atau main-main? Kok jawabannya begitu."
Gadis ini meninggalkan laptop yang masih menyala itu sebentar. Ia fokus menatap suami yang duduk di sebelahnya.
“Seru gitu. Semua orang di sana baik-baik. Atasanku baik. Sepertinya aku akan betah kerja di sana.” Luna mengulas senyum, “kalau kamu bagaimana? Oh iya aku lupa hari ini ‘kan hasil tes kamu keluar. Bagaimana hasilnya? Dapat nilai berapa?”
Seperti biasa Luna selalu antusias apa pun tentang Dylan.
“Aku dapat nilai A. Besok sudah mulai menjalankan tugas koas.”
“Aaa!” Luna sedikit memekik, “suamiku selalu pintar.” Gadis itu mencubit pipi Dylan dengan kedua tangannya.
Dylan melepaskan tangan itu dari pipinya. Ia tidak marah sama sekali atas perlakuan sang istri. Walau terasa sedikit sakit di pipi.
“Aku dapat rumah sakit yg kira-kira satu jam dari sini. Jadi, masih bisa pulang-pergi, tapi kalau ada sif malam dan padat mungkin akan menginap di sana. Kamu terpaksa tinggal berdua Ibu saja. Nggak apa ‘kan?”
Luna melemas dan kedua bahu menurun. Dia menghela napas, tetapi masih menatap laki-laki itu.
“Mau bagaimana lagi? Ini demi masa depanmu dan kita. Kejar mimpimu itu sampai dapat. Aku nggak mau jadi penghambat cita-citamu. Aku nggak apa di tinggal sama Ibu, tapi sering-sering kabari aku ya!”
Dylan menganggukkan kepala, “Pasti aku akan terus mengabari kamu dan Ibu.”
Luna mengulas senyum menatap suaminya. Entah sejak kapan jarak antara wajah mereka mulai menipis. Gadis ini bisa merasakan deru napas Dylan di wajahnya. Namun, saat sedikit lagi bibir mereka akan menempel Luna menyentuh dada lelaki itu, lalu mendorongnya.
“Ada Ibu.”
Rania yang kebetulan lewat tiba-tiba mematung. Dylan menoleh ke belakang. Wanita berdaster ini menggaruk kepala dengan tertawa garing.
“Maaf menganggu, Ibu mau ambil minum.” Setelah menjelaskan Rania cepat-cepat melangkah masuk ke dapur.
Dylan menoleh lagi menghadap sang istri. Namun, Luna berbicara dengan suara dikecilkan padanya.
“Jangan di sini, nggak enak ada Ibu.”
Pria itu menjauhkan jaraknya dengan Luna. Tidak sengaja melihat Rania kembali lewat dengan sangat terburu-buru. Wanita itu masuk ke kamarnya kembali.
Luna melirik Dylan sembari meneguk teh yang tadi suaminya buatkan itu. Dylan menatap Luna sebentar, kemudian terfokus pada laptop yang masih menyala. Pria ini mematikan laptop dan melangkah pergi dengan membawa benda persegi itu.
Gadis ini mengejar Dylan dari belakang. Lelaki tadi masuk ke dalam kamar. Ketika Luna ikut masuk dengan masih memegangi gelas Dylan yang bersembunyi di belakang pintu segera mengunci kamarnya. Luna terkejut, lalu menolehkan kepala ke belakang.
“Kenapa laptopku kamu bawa?”
Dylan melangkah mendekati meja, “Sudah malam. Waktunya tidur.”
__ADS_1
Refleks Luna melihat ke jam dinding yang ada di kamar, kemudian menatap suaminya lagi.
“Baru jam sembilan.”
Laki-laki itu meletakkan laptop di atas meja dan menoleh pada Luna, “Apa hari pertama bekerja, pekerjaanmu sudah sebanyak itu?”
Luna ikut meletakkan gelas di meja. Ia berdiri di sebelah suaminya.
“Sebenarnya tugas itu bisa dikerjakan besok. Aku iseng saja mengerjakan sekarang. Kalau dicicil akan cepat selesai.”
Luna tersenyum hingga mempelihakan deretan giginya. Berbeda dengan Dylan yang menatapnya tanpa ekspresi.
“Senyum dong sayang!” Luna menepuk-nepuk pipi Dylan dengan kedua tangan, “kamu begitu jadi menyeramkan.”
Dylan mengangkat tubuh Luna. Gadis ini mengerti apa yang harus dia lakukan. Luna melingkarkan kaki ke pinggang lelaki itu dan tangan ke lehernya. Sekarang dia ada di atas gendongan Dylan.
“Kalau ada sesuatu di kantor barumu bilang aku. Aku jadi kepikiran kata-kata Javier tadi siang.”
“Memang Vier bilang apa?”
“Katanya, kamu bisa kepincut dengan laki-laki tampan di kantormu.”
Luna tertawa sembari menutup mulut menggunakan sebelah tangan.
“Aku lagi nggak bercanda. Kenapa kamu tertawa?”
“Kamu cemburu ya?” Luna tersenyum dengan kepala sedikit miring, “baru kali ini lihat kamu cemburu.”
“Khawatir aku kepincut CEO ganteng ya? Seperti yang di novel-novel itu?” Luna bertanya dengan masih cekikikan.
Dylan menghela napas dan menatap tajam Luna. Gadis ini berhenti tertawa.
“Kamu tenang saja. Aku nggak akan kepincut CEO tampan atau teman kator yang tampan.” Luna meraih kalung yang terpasang di leher Dylan dan dirinya, lalu menyatukan kedua hati kalung itu, “karena hati kita sudah menyatu seperti kalung ini."
Pria itu ikut melihat ke arah lehernya, kemudian mendongak lagi untuk menatap Luna. Istrinya ini mengulas senyum.
“Kamu percaya sama aku ‘kan?”
Dylan menganggukkan kepala, “Percaya.”
“Gitu dong.” Luna kembali mengalungkan tangan pada leher Dylan. Sebagai hadiah dia mengecup pipi suaminya sekilas.
Namun, tanpa aba-aba Dylan melahap bibir Luna. Iris mata gadis itu melebar karena terkejut. Tangan Luna meremas jari-jarinya yang lain saat cumbuan itu terasa makin ganas.
Luna memejamkan mata ketika merasa dirinya sudah bisa menikmati. Secara bersamaan Luna juga bingung bagaimana cara membalas aksi dari suaminya. Luna belum pernah melakukan ini sebelumnya. Ciuman panas ini pertama kali untuknya. Namun, dia juga bingung. Mengapa Dylan bisa selihai ini. Padahal aslinya terlihat kaku dan pemalu.
Dylan menjatuhkan tubuh kecil Luna di ranjang. Posisi laki-laki itu ada di atas Luna sekarang. Kecupan itu sudah pindah ke leher. Luna bisa mengatur napasnya sebentar. Gadis itu baru tahu kalau cumbuan pada leher ini terasa geli. Tangannya refleks menarik rambut Dylan agar menjauhkan wajah dari sana, tapi lelaki itu tidak mudah digeser.
Luna menatap langit-langit kamar. Mata gadis itu kembali melebar saat dadanya mulai di sentuh sang suami. Hawa panas menyeruak di dalam kamar itu. Ia merasa ingin melepas pakaiannya. Luna berpikir apa saat ini waktunya dia memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Ia merasa malu memikirkan semua itu.
__ADS_1
Satu-persatu pakaian Luna dilucuti oleh Dylan. Lelaki itu juga meminta Luna untuk melepaskan bajunya.
“Bukannya besok kamu harus pergi pagi untuk koas? Apa nggak akan kelelahan?” tanya Luna disela-sela dia melepaskan pakaian suaminya.
“Ini masih jam sembilan. Waktu untuk tidur masih banyak,” jawab Dylan dengan napas yang ngos-ngosan.
Akihirnya Luna pasrah. Kalau suaminya itu mau dia tidak bisa menolak. Kata Mama, dosa jika aku menolaknya. Gadis itu berteriak dengan suara yang dia tahan karena takut terdengar ibu dan meremas bantal yang ada di bawah kepalanya saat merasakan sakit di sekitar pinggul. Tidak lama semua tubuh Luna bergoyang. Dylan kembali melahap bibirnya.
Lelaki itu tampak sudah paham apa yang harus dia lakukan. Sebagai orang pasif Luna hanya bisa menikmati. Namun, Luna masih bertanya-tanya saja. Dari mana Dylan paham semua ini. Hah, apa dia menonton film dewasa?
Sebelumnya...
Javier mencondongakan tubuhnya ke depan Dylan. Kendro yang melihat itu mengikuti tingkah laku Javier.
“BTW, lo sudah melakukan itu belum? Adegan ranjang?” bisik Javier agar tidak terdengar orang yang ada di kantin.
Dylan yang sedang meminum kopi tersedak dan sedikit menyembur keluar. Kedua sahabatnya ini, lantas menjauh agar tidak terkena cipratan.
“Hah, pasti belum.” Tebak Javier setelah melihat reaksi Dylan.
Dylan memang belum melakukan itu walau sudah tiga hari menikah. Hari pertama mereka kelelahan. Hari kedua Dylan hanya berhasil mengecup pipi Luna dan hari ketiga belum melakukan apa pun.
“Padahal gue udah berharap dapat ponakan,” tambah Kendro.
Tiba-tiba handphone Dylan yang ada di atas meja berbunyi. Pria ini segera mengambil ponselnya, lalu mengecek pesan masuk. Ia melirik Javier.
“Rekomendasi film bagus.”
Pesan itu memang dari Javier. Laki-laki ini mengirimkan sebuah film berdurasi 20 menit.
“Jangan nonton di sini! Nanti saja di rumah.”
Hampir saja Dylan akan melihatnya di situ. Untung Javier cepat mencengah. Kalau tidak bisa gempar sekantin.
“Video apa, Er? Kok gue nggak di kasih?”
Javier yang kembali memakai ransel menjawab, “Bukan untuk jomblo.”
“Eh ngaca! Situ juga jomblo,” umpat Kendro tidak terima.
Sesampai di rumah. Tepat di dalam kamar Dylan mencoba menonton film yang Javier bilang ketika pulang tadi bagus dan wajib ditonton.
Setelah memutar film itu beberapa detik Dylan mematikannya kembali videonya. Ia mengirim pesan berisi umpatan pada Javier.
Namun, sahabatnya ini membalas.
Sudah tonton saja kali. Sudah umur lo wajib tahu begitu. Lo enak bisa langsung dipraktekin lah gue? Jomblo.
Kalimat Javier berhasil membuat Dylan sedikit tertawa membacanya.
__ADS_1
•••