
Pagi ini Dylan dan Luna berangkat bersama kembali. Ini semua gara-gara Wardana yang meminta Dylan memberi tumpangan pada putrinya. Mau tak mau lelaki itu mengangguk.
Di jalan Luna memperhatikan wajah Dylan dari pantulan spion. Sedaru tadi pemuda itu tidak bicara sepatah katapun padanya.
“Lo masih marah?” tanya Luna saat mereka sedang menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
“Nggak.”
“Terus kenapa diam saja?”
Dylan menoleh, “Gue ‘kan memang nggak berisik seperti lo.”
Kali ini Luna tidak marah. Ia malah tersenyum senang umpannya di makan lelaki itu.
“Lo kenapa senyam-senyum begitu? Masih waras ‘kan?” ternyata Dylan memperhatikan Luna juga dari kaca spionnya.
“Lo lucu. Gue pancing sedikit langsung ngomong.”
Dylan mendengus. Kemudian kembali diam. Kendaraan roda dua yang mereka tunggangi berjalan kembali bersama kendaraan lain.
“Maaf ya soal kemarin. Gue nggak maksud ngusir lo sama Tante,” ucap Luna yang sedikit berteriak agar Dylan mendengarnya.
“Iya, nggak apa-apa. Lagian gue sama ibu memeng punya rencana pergi dari rumah lo.” Lelaki itu membalas dengan mata fokus pada jalanan.
Luna memiringkan kepala untuk melihat wajah Dylan, “Tuh ‘kan lo baper. Jangan baperan gitu ah.”
“Siapa yang baper?”
“Nggak usah bohong. Dari lo bicara saja sudah kelihatan sensinya.” Luna menarik-narik jaket yang lelaki itu gunakan, “maafin gue!”
Pemuda itu kembali bergeming dan hanya menatap jalan raya.
“Dylan lo dengar gue nggak sih?”
Tiba-tiba Dylan menghentikan motornya mendadak hingga Luna menabrak tas punggung yang pemuda itu pakai.
“Turun!”
“Lo benaran masih marah?” Luna panik saat Dylan malah ingin menurunkannya.
“Gue nggak marah. Ini sudah sampai,” ucap Dylan dengan santai.
“Hah?” Luna melihat sekeliling. Benar saja ini sudah sampai di kampus mereka, tapi bukan di fakultas Luna, “belum sampai di gedung gue.”
“Lo sampai sini saja! Lo jalan sana ke kelas.”
“Nggak mau! Antar dulu dong sampai depan parkiran saja nggak apa-apa.”
“Ogah, banget.” Dylan menoleh ke belakang, “cepat turun sebelum ada yang lihat!”
Bukannya segera turun dari boncengan Luna malah memeluk Dylan dari belakang, “Nggak mau! Nggak akan gue lepasin sebelum sampai di fakultas psikologi.”
“Luna apaan sih lo?” Dylan memberontak dan berusaha melepas tangan gadis itu, “lepasin gue! Kalau ada yang lihat bahaya. Bisa-bisa kita benar di cap pacaran.”
Gadis yang sekarang rambut dicepol tinggi itu memperhatikan wajah Dylan. Walau hanya terlihat setengahnya saja. Berhasil membuat Luna terpesona. Perkataan lelaki itu saja sampao tidak menyerap ke otaknya. Ia lebih fokus pada paras tampan Dylan.
__ADS_1
Tiba-tiba jantung Luna berdetak lebih cepat dan keras. Dia bergumam di dalam hati, “Gila, kenapa gue malah deg-degkan?”
“Luna!”
Sapaan dari seseorang membuat Luna dan Dylan sama-sama menoleh.
“Jadi, benar ya kalian ini sudah jadian?” tanya lelaki yang ada di atas motor itu.
“Sembarangan lo kalau ngomong. Kita ini cuma saudara,” lagi Dylan coba menepis gosip yang beredar.
“Saudara kok peluk-pelukkan?”
Dylan dan Luna sama-sama menunduk menatap pinggang cowok berjaket danim ini masih terpeluk gadis itu.
“Lepas!” Dylan menepis kasar tangan kecil milik Luna. Gadis ini cepat menarik tangan miliknya, “turun lo!”
“Tapi gue belum sampai.”
“Tuh.” Dylan menunjuk lelaki yang ada sebelah mereka dengan bibir, “bareng Brian saja. Kalian sefakultas ‘kan?
“Memang Brian mau kasih Luna tumpangan?” tanya gadis itu dengan lembut.
“Gue nggak mau bareng Luna.” Brian buru-buru pergi meninggalkan kedua orang itu.
“Najis!” Dylan tertawa keras, “sok manis banget lo di depan Brian. Ngomongnya pakai panggil nama. Sama gue saja lo-gue doang.”
“Sudah kebiasaan begitu. Kalau sama lo nggak pantas dimanisin.”
“Ya sudah turun sekarang!”
“Nggak mau!” Luna menggeleng, “Brian sudah pergi gue sama siapa numpang sampai sana? Masih lumayan jauh loh.”
Luna cemberut, lalu turun. Tidak lupa memberikan helm yang dia pakai pada lelaki di depannya.
Gadis ini cemberut menatap kepergian Dylan bersama motor itu. Mau tidak mau dia harus jalan sampai ke kelas.
•••
“Hai, Sa!” Lelaki bertubuh besar dan lumayan berotot ini mem-blokir jalan Alexa saat gadis itu baru saja keluar dari kelasnya.
Alexa tersenyum, “Hai juga, Brian.”
“Gue sengaja ke kelas lo buat ngakin makan di kantin.”
“Maaf, aku nggak bisa.”
“Kalau kita makan diluar saja. Mau ke kafe yang ada nggak jauh dari sini?”
“Aku bukan pilih-pilih tempat makan. Mau di mana pun itu bebas, tapi saat ini aku ada kumpulan UKM. Hari ini resmi bisa masuk Jurnalistik. Jadi, aku nggak boleh telat.”
“Sekarang lo masuk jurnalistik?”
Alexa mengangguk dengan senyum lebar. Sedari pagi dia memang senang sekali memikirkan akan selalu bisa melihat Dylan.
“Kenapa harus pindah?” tanya Brian, “padahal yang lama sudah cocok untuk lo.”
__ADS_1
“Capek.” Alexa mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan, “sudah ya, aku hampir telat nih. Bye Brian!”
Gadis dengan rambut tergerai sepunggung itu melambaikan tangan dan perlahan menjauh meninggalkan Brian.
Hanya butuh beberapa menit Alexa sampai di depan basecamp jurnalistik. Ia sangaja tidak membawa mobil ke situ. Terlalu repot menurutnya.
Mata gadis ini menangkap sosok Dylan yang sedang menempelkan sesuatu di dinding manding yang ada di samping ruangan UKM itu.
Alexa tersenyum bahagia. Langkahnya mendekati Dylan terasa sangat ringan. Namun, tanpa dia sadari Brian mengikutinya sedari tadi.
“Hai, Lan. Lagi apa?” sapa Luna sangat lembut.
“Ini pajang puisi buatan Dennis.” Alexa mengangguk dengan memandangi kertas puisi itu, “buatan kamu mana?”
“Gue nggak punya bakat buat berpuitis. Di sini saja posisi gue hanya editor buletin.”
“Kata orang, senggak puitis-puitisnya laki-laki, tapi ketika dia jatuh cinta bakat puitisnya akan keluar sendiri.”
Dahi Dylan berkerut, “Gitu?”
Alexa mengangguk dengan tersenyum.
“Tapi gue nggak jatuh cinta, Sa.”
“Coba kamu cintai aku! Siapa tahu bakat itu benar muncul.”
Karena merasa mulai melantur Dylan berlalu pergi masuk ke basecamp-nya. Alexa cemberut saat Dylan terus berusaha menghindarinya.
Baru saja Alexa akan menyusul Dylan ke dalam sebelah tangannya di tahan seseorang dari belakang. Otomatis gadis itu berhenti melangkah dan menoleh.
“Brian, apa-apaan sih?” Alexa mengerak-gerakkan tangan, “lepasin!”
“Jadi, lo masuk jurnalistik agar ketemu Dylan terus?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Buka mata lo, Sa!” Dahi Alexa mengernyit, “di sini yang cinta sama lo itu gue. Bukan Dylan!”
Alexa menarik tangannya lagi. Kali ini Brian lepaskan genggaman itu.
“Kamu pikir aku mau sama kamu? Kamu itu sudah terkenal playboy-nya. Aku nggak akan menyerahkan hati ini untuk disakiti.”
“Gue janji akan berubah, Sa.”
“Berubah setelah menyakiti banyak perasaan perempuan? Aku nggak percaya kalau laki-laki sepertimu mudah untuk berubah, Yan.” Alexa mundur selangkah, “lebih baik kamu sama Luna. Yang suka sama kamu. Kasihan dia sudah kamu permalukan di depan orang banyak.”
“Lo nggak tahu? Luna sama Dylan itu sudah jadian.”
Gadis itu tertawa kecil, lalu menatap Brian penuh amarah.
“Jangan fitnah Dylan! Luna itu hanya saudaranya.”
“Gue lihat sendiri dengan mata kepala gue. Mereka boncengan naik motor tadi pagi sambil peluk-pelukan. Itu yang dinamakan saudara?”
Alexa bergeming. Ia bingung harus percaya kata-kata Brian atau tidak.
__ADS_1
“Lo sudah dibohongi!”
•••