Housemate

Housemate
Datang Lagi


__ADS_3

“Gue rasanya lebih bersemangat.” Luna menusuk buah di hadapannya dengan garpu, lalu melahap masuk ke mulut.


Dylan yang masih mengupaskan buah mangga itu melirik Luna sekilas. Setelah itu dia kembali fokus pada pisau di tangan.


Luna mencondongkan tubuh ke depan Dylan, “Lo menginap saja di sini!”


Lelaki ini menaruh semua buah yang sudah dipotong-potong ke piring. Ia meletakkan pisau dan berdiri.


“Gue nggak bisa menginap.” Dylan melangkah mendekati keran air, “kasihan kalau Ibu tinggal sendiri di rumah.”


Gadis itu cemberut dan memperlihatkan raut wajah kecewanya. Namun, ia tetap memakani buah hasil potongan Dylan.


Sesudah mencuci tangan Dylan kembali mendekati meja makan dan duduk di tempat sebelumnya.


Ia mengulurkan sebelah tangan. Menempelkan punggung tangan ke dahi Luna. Kemudian menarik kembali tangan setelah mengecek suhu tubuh gadis itu.


“Besok sudah mulai kuliah lagi?”


Luna mengangguk pelan dan tidak bersemangat. Ia menoleh pada Dylan, lalu meletakkan garpu ke piring.


“Lo jemput gue! Kita sama-sama ke kampusnya.”


Dylan tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala.


“Asyik!” Luna berseru dengan kedua tangan menggepala ke atas.


“Lo jangan lupa tetap minum obat. Demamnya sudah makin turun. Jangan biarkan tambah parah.”


“Siap, Bos.” Luna memberikan hormat pada Dylan, “omong-omong kata Elin, Brian terkena skorsing 3 hari.”


“Bagus dong. Gara-gara dia kita sampai jatuh.”


“Sebenarnya gue mau minta terima kasih ke Brian sudah bikin kita jatuh.”


Dahi Dylan mengerut mendengar penuturan Luna, “Kenapa malah berterima kasih?”


“Karena kalau bukan Brian sudah bikin kita jatuh. Lo nggak akan seperhatian ini sama gue.” Luna tersenyum di akhir kalimatnya. Berbeda dengan Dylan yang menatap datar Luna.


•••


Dylan mengambil ransel yang ada di sofa ruang tengah. Hari sudah semakin sore. Ia harus segera pulang ke rumah.


“Kak, kenapa nggak menginap saja sih? Bhiru ‘kan masih mau main sama Kakak.” Pertanyaan Bhiru mendapat anggukan setuju dari Luna.


Dylan mengusap rambut anak laki-laki itu, “Ibu Kakak sendirian di rumah, Dek. Besok Kakak main lagi deh.”

__ADS_1


“Janji ya?” Bhiru mengulurkan jari kelingkingnya.


Lelaki ini membalas dengan menutkan jari kelingkingnya pula pada jari Bhiru, “Janji.”


Sinta mengusap kepala anak bungsunya, “Kamu ini jangan memaksa Kak Dylan. Siapa tahu dia ada tugas besok.”


Bhiru hanya mendongak sebentar untuk menatap sang ibu yang berdiri di sebelahnya.


“Nggak apa-apa, Tante. Kalau ada tugas aku akan kerjakan malam atau kita belajar bersama di sini.”


“Itu ide bagus. Dari pada main terus,” ujar Wardana yang sangat setuju.


Berbeda dengan Dylan yang tersenyum, Bhiru malah memasang wajah malasnya.


“Ya sudah, saya pamit Om, Tante, semuanya.”


Dylan berjalan keluar dari rumah saat semua keluarga itu mengangguki. Luna sendiri yang mengantarkan Dylan sampai ke depan pintu.


“Hati-hati ya!” Luna melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.


Dylan menundukkan pandangan dan mengangguk. Ia segera memakai helm dan melanjukan motor.


•••


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di seberang rumah Rania. Wanita yang baru pulang bekerja itu tidak mengetahui kalau dirinya sedang diikuti seseorang.


“Mas, saya sudah ada di rumahnya. Kamu harus kemari! Akan segera saya kirimkan lokasinya.”


Setelah menutup telepon. Ia sibuk mengutak-atik smartphone itu. Dia menyelesaikan tugasnya bersamaan dengan Dylan yang baru sampai di rumah.


“Assalammulaikum, Bu!” Dylan mencopot helm dan meletakkan di bangku bambu yang ada di teras rumah.


“Waalaikumsalam!” Rania keluar dengan baju yang telah berganti. Dylan lekas mencium punggung tangan sang ibu, “bagaimana keadaan Luna? Sudah membaik?”


Dylan menjatuhkan bokong ke bangku bambu itu, “Dia sempat demam.”


“Astaga sampai demam?”


“Jangan khawatir, Bu. Sekarang demamnya sudah turun. Dia sudah terlihat lebih baik.”


“syukurlah, kamu sudah makan?” tanya Rania memperhatikan anaknya yang sedang melepas sepatu.


“Sudah, Bu.” Dylan mendongakkan pandangan menatap sang ibu, “Tante Sinta sudah menghidangkan makanan tadi.”


“Kalau begitu ayo masuk! Mandi dulu. Mandi pasti belum ‘kan?”

__ADS_1


Dylan berdiri dan menggelengkan kepala. Dengan pundak dirangkul Rania, anak dan ibu itu berjalan masuk ke dalam rumah.


Seorang pria bersyal dan memaki switer turun dari mobil dengan dituntun oleh anak buahnya.


“Di mana rumahnya Alika?” tanya pria dengan bibir pucat.


Wanita yang dipanggil Alika ini menunjuk rumah kecil yang ada di seberang.


“Menurut tetangga mereka baru seminggu pindah ke rumah itu, Mas.”


“Ayo kita ke sana!” Alika mengangguk dan menuntun suaminya untuk ke rumah yang sekarang sedang dihuni Rania dan Dylan.


Alika mengetuk pintu sampai tiga kali. Arga yang sekarang kesehatannya menurun hanya diam menunggu seseorang membukakan pintu.


“Tunggu sebentar!” teriak orang dari dalam dan tak lama pintu terbuka. Senyuman ramah dari orang yang menyambut kedatangan mereka luntur saat tahu siapa yang sedang dia lihat sekarang.


Rania ingin menutup pintunya kembali tapi bodyguard yang Arga bawa menahan pintu itu.


“Untuk apa kalian kemari? Pergi kalian dari sini!”


Teriakan Rania terdengar sampai ke telinga Dylan. Pemuda yang baru selesai mandi itu menghentikan langkah saat ingin memasuki kamar.


“Saya dan Istri ke sini hanya ingin melihat Dylan. Kami ingin Dylan tinggal bersama kami,” jelas Arga dengan perlahan.


Rania menoleh pada wanita di sebelah Arga. Ia terkejut saat mengetahuinya.


“Ibu yang di restoran itu? Ibu membuntuti saya?”


“Maaf, Mbak. Saya memanfaatkan ketidaktahuan Mbak terhadap saya.”


Rania menatap ke Arga kembali sembari menggeleng, “Nggak ada yang boleh membawa Dylan! Dylan itu anak saya bukan anak kalian!”


Karena khawatir mendengar Rania marah-marah Dylan berlari keluar dengan handuk yang masih melingkar di leher.


“Ada apa, Bu?” tanya Dylan pada wanita paruh baya itu.


Rania memeluk putranya sangat erat. Ia sangat takut Dylan dibawa pergi Arga. Dylan menoleh pada tamu yang tidak dia duga akan datang.


“Kalian mau apa ke sini?” Dylan menunjuk keluar, “cepat pergi! Jangan buat Ibu saya menderita lagi.”


“Ayah ke sini untuk... agh...” Arga tiba-tiba lemas dan hampir terjatuh kalau Alika tidak memeganginya.


“Mas!”


Dylan dan Rania juga terkejut dengan apa yang terjadi pada pria itu.

__ADS_1


•••


__ADS_2