Housemate

Housemate
Kehidupan Baru


__ADS_3

Matahari bersinar dengan terik sepagi ini. Tampaknya hari ini akan sangat panas. Luna menggeliat kecil sembari tersenyum. Ia membuka mata perlahan dan memperhatikan sekitarnya. Tidak terasa sudah 2 hari dia menjadi Nyonya Priansyah.


Luna memang sudah sah menjadi istri dari Dylan. Tidak banyak yang berubah. Namun, Luna memang ikut tinggal dengan Dylan dan Rania di kontrakan mereka.


Gadis ini menoleh ke samping. Ia tidak melihat Dylan ada di kasur yang sama. Luna merapikan rambut, kemudian turun dari kasur. Dia bergegas keluar dari kamar yang dulunya hanya kamar pribadi Dylan, sekarang menjadi kamar mereka berdua.


“Sayang!” Luna menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan sekitar.


Perlahan Luna menyeret kedua kaki untuk melangkah ke depan rumah. Hampir saja gadis itu menabrak Rania yang ingin masuk ke dalam rumah sehabis dari warung.


“Eh menantu Ibu sudah bangun. Luna mau sarapan sayang?” tanya Rania begitu ramah.


“Dylan ke mana ya, Bu?” Luna malah balik bertanya.


Rania yang sudah berjalan ke dapur sedikit berteriak, “Dari pagi tadi Dylan sudah berangkat ke kampus sayang. Katanya sih, ada ujian koas.” Wanita paruh baya ini melangkah keluar dengan membawa masakan yang telah matang.


Luna mendongak ke arah jam dinding. Betapa malu dia bangun sudah pukul delapan seperti ini.


“Luna kesiangan Ibu,” ujarnya sedikit merengek, “harusnya Luna bangun lebih pagi dari Dylan.”


Rania tertawa kecil, “Sudah nggak apa-apa. Ibu paham kamu pasti masih capek sehabis acara kemarin ‘kan. Dylan juga bilang dia nggak tega bangunin kamu.”


Luna menghela napas dan bahu pun menurut. Wajahnya terlihat tidak bersemangat.


“Sudah sana mandi dulu. Ibu sudah siapkan sarapan di dapur. Kamu ambil sendiri ya.” Rania kembali melangkah pergi, “Ibu mau buka warung.”


•••


Pukul satu siang motor Dylan memasuki halaman rumah. Luna yang sedang mengantarkan makanan ke pengunjung warung mertuanya tersenyum ketika melihat sang suami sudah sampai di rumah.


“Dylan!” panggil Luna dengan nada manja.


Dylan baru saja melepaskan helm di kepala, lalu menatap istrinya yang memeluk nampan. Lelaki itu melemparkan senyuman pada Luna.


“Kamu bantu Ibu?”


Luna mengangguk, “Dari pada nggak ngapa-ngapain jadi aku pikir lebih baik bantu Ibu kamu. Sekarang Ibumu ‘kan juga Ibuku.”


Pemuda itu mengusap-usap kepala gadis mungil di depannya.

__ADS_1


“Ayo masuk!” Luna memeluk Dylan dengan sebelah tangan, “kamu mau minum apa?” mereka melangkah masuk rumah bersama.


Dylan dan Luna berpisah ketika ada di dalam rumah. Lelaki itu memilih untuk masuk ke kamarnya terlebih dulu, sedangkan Luna membuatkan minum untuk suaminya.


Baru saja Dylan melepaskan kemeja di tubuhnya sebuah handphone di meja berdering. Lelaki itu membiarkan tubuh bagian atas tidak ditutup sehelai kain.


Dylan meraih hendphone dengan case berwarna biru itu, “Luna HP kamu bunyi nih. Sepertinya ada pesan.”


Baru saja membuka pintu kamar ternyata Luna juga sudah ada di depan pintu.


“Aaaa!”


Luna refleks berteriak saat melihat Dylan bertelanjang dada. Rania pun sampai mengintip ke dalam.


“Ih, kamu.” Gadis ini memukul tubuh Dylan pelan, “ngapain nggak pakai baju?”


Pria itu menatap tubuh sendiri, kemudian mendongak untuk melihat pada Luna kembali.


“Maaf, aku tadi lagi ganti baju. HP-mu berbunyi sampai lupa aku pakai baju.” Dylan mengulurkan ponsel ke depan istrinya, “sepertinya ada pesan.”


Luna mendorong masuk tubuh Dylan dan dia pun ikut ke dalam. Tak lupa menutup pintu kamarnya.


Dylan yang sedang memakai baju sampai terkejut karenanya, “Ada apa sih? Kenapa berteriak-teriak begitu? Nanti dikira Ibu, aku ngapa-ngapain kamu.”


Luna menoleh ke arah pintu. Tidak ada pergerakan apa pun yang mendekat dari luar. Perempuan itu tersenyum, lalu melangkah mendekati suaminya.


“Lihat ini.” Luna menunjukkan ponsel ke Dylan, “aku diterima kerja.”


Dylan menarik kedua sudut bibirnya, “selamat ya. Semoga kamu betah kerja di sana. Kamu melamar jabatan apa di sana?”


“Nggak nyangka aku. Kalau nggak salah ada setengah bulan nunggu hasil ini keluar.” Luna mendongakkan kepala, “aku ambil HRD. Lumayan unagnya bisa bantu keperluan kita sehari-hari sama Ibu.”


“Lebih baik uangnya kamu tabung saja.” Pria yang sudah memakai baju kembali itu mendudukan tubuh di pinggir ranjang, “itu ‘kan hasil kerja kerasmu.”


Mendadak semangat Luna lenyap mendengar ucapan Dylan. Gadis itu membuka kedua kaki dan duduk di paha sang suami. Ia menatap Dylan yang kini berhadapan dengan dirinya.


“Di kamusku nggak ada uang istri ya uang istri dan uang suami, uang istri juga.” Luna menunjuk dirinya dan Dylan bergantian, “Uang aku uang kamu. Uang kamu uang aku juga.” Gadis ini menggerakkan kepala ke kiri dan kanan semabari mengulas senyum. Terlihat kekanakan, tapi menggemaskan di mata Dylan.


“Oke, besok kamu mulai berkerja?”

__ADS_1


Ditanya seperti itu Luna mengecek handphone-nya lagi.


“Iya, besok aku kerja pagi.”


“Aku antar.”


“Memang ujianmu sudah selesai?”


Dylan menganggukkan kepala, “Sudah selesai tinggal melihat hasil nilai saja besok siang.”


•••


Luna merapikan pakaian di depan cermin. Ia tersenyum menatap pantulan diri yang sudah siap untuk berangkat bekerja.


Dari pintu kamar yang terbuka Dylan bisa melihat istrinya berdiri di dalam. Lelaki itu berjalan masuk ke kamar dengan membawa segelas susu.


“Ini minum susunya dulu. Biar kamu bertenaga.”


Gadis ini mengambil gelas dari tangan sang suami. Ia mengulas senyum.


“Terima kasih, sayang.”


“Hari ini aku antar, tapi kalau udah jelas bakal koas. Aku nggak bisa antar lagi ya."


Luna mengangguk dengan meneguk susu di gelas, kemudian dia menjauhkan gelas setelah menyisakan setengah porsi.


“Nggak apa-apa, besok-besok aku bisa naik angkot.”


Dylan tersenyum dan mengusap bibir atas Luna yang putih terkena susu. Gadis itu hanya pasrah saat diperlakukan seperti ini dengan suaminya.


Sekitar 35 menit Dylan dan Luna sampai di sebuah gedung bertingkat. Menurut info yang Luna beri itulah tempat kerja barunya. Namun, tiba-tiba sebuah mobil menabrak bagian belakang motor Dylan yang kebetulan sudah berhenti.


Akibat motor jatuh miring ke kanan mengakibatkan Luna ikut jatuh dan terduduk di tanah.


“Akh, sakit!”


Luna merintih kesakitan memegangi bokongnya.


•••

__ADS_1


__ADS_2