Housemate

Housemate
Berkunjung ke Rumah Dylan


__ADS_3

Luna menyeret kedua kaki susah payah mendekati Dylan. Air mata sudah membasahi pipinya. Sembari terisak bibir dia manyunkan.


“Dylan...” panggilnya dengan suara parau.


Dylan yang masih melamun itu seketika sadar dan mendongak. Ia terkejut saat melihat Luna menangis.


Lelaki ini berdiri dan mendekati Luna, “Lo kenapa? Ada yang gangguin lo?”


Luna mendongakkan kepala, “Lo kenapa ciuman sama Alexa? Gue sakit hati tahu.”


Alis lelaki itu tertaut dan dia menghela napas, “Gue kira kenapa.”


“Ih!” Luna memukul dada pemuda di depannya dengan kedua tangan, “kalau gue sakit hati itu gawat tahu. Gue bisa mendadak kurus.”


“Makan yang banyak biar nggak kurus.”


“Ih, Dylan jahat-jahat.” Luna bertubi-tubi memukulkan kedua tangannya ke dada lelaki itu. Beberapa orang di kantin menoleh pada mereka.


Dylan menggenggam kedua pergelangan Luna agar pukulannya berhenti. Ia menoleh ke sekitar, lalu menatap Luna.


“Lihat tuh kita dilihatin orang-orang.” Luna menoleh ke kanan dan ke kiri.


Gadis ini menarik tangan yang digenggam Dylan, “Bodo!”


“Nggak usah cemberut begitu.” Luna tambah memajukan bibir, “tadi gue dicium bukan ciuman. Gila saja di tempat seramai ini melakukan itu.”


Dylan merendahkan tubuh hingga sejajar dengan wajah gadis di hadapannya.


“Lo sendiri ‘kan tahu kalau gue dan Alexa itu saudara,” lanjut Dylan dengan suara dikecilkan.


Luna menatap Dylan dengan serius bukan menyimak ucapan lelaki itu. Namun, ia sedang mengatur detak jantung yang tiba-tiba tidak stabil.


“Lo dengar ucapan gue ‘kan?”


Gadis ini mengangguk dengan wajah tegang. Dylan kembali berdiri dengan tegak.


“Jadi mau main ke rumah?” Dylan melihat jam tangan di pergelangan, “tapi kalau jam segini Ibu masih di restoran.”


Luna menghela napas, lalu menjawab dengan cepat.


“Nggak apa-apa. Ayo kita ke rumah lo!” Gadis ini menarik sebelah lengan Dylan.


Dylan mengambil ransel yang ada di kursi. Kemudian mengikuti Luna yang masih menarik-narik lengannya.


•••


Sekitar lima belas menit kedua muda-mudi itu berhenti di depan sebuah rumah bercat biru toska. Luna turun dari jok belakang dan menyerahkan helm.


“Bagus juga rumah lo,” ucap Luna menoleh pada Dylan.


Lelaki ini turun dari motor dan membuka helmnya. Tidak lupa mencabut kunci motor yang masih tergantung.


“Ini bukan rumah gue kali. Cuma mengontrak.”


“Kalau lo yang tempati berarti rumah lo.”

__ADS_1


Dylan mengibaskan tangan, “Terserah lo saja. Ayo masuk!”


Luna mengangguk, tetapi baru jalan selangkah suara dari perut gadis itu membuat Dylan menghentikan langkah dan menoleh pada Luna.


“Hehe...” Luna menyengir sembari memegangi perut.


“Lo lapar?”


“Iya...” Luna memajukan bibir, “tadi lo suruh gue ke kantin cepat-cepat. Jadi, keluar kelas gue langsung datangi lo. Nggak sempat makan deh.”


“Ya sudah, ayo masuk dulu!” nanti gue kasih makanan.”


Senyum dari gadis yang rambut dicepol tinggi ini mengembang ketika mendengar makanan.


“Ayo-ayo!” kali ini Luna yang menarik Dylan agar cepat masuk ke dalam rumah.


Tanpa Luna tahu Dylan tersenyum sembari pasrah lengan ditarik gadis itu.


Setelah menyimpan helm dan meletakkan tas kedua orang itu lekas masuk ke dapur. Dylan memeriksa makanan yang dapat Luna santap.


“Nggak ada makanan, Lun.” Lelaki ini meletakkan kembali tudung saji yang dia angkat.


“Ya sudah, masakin buruan!” ujar gadis yang kini duduk di depan meja makan.


Dylan mendengus dan memeriksa apa yang bisa dia masak dengan cepat.


“Mie pakai telur saja ya?” tanya Dylan tanpa menoleh pada Luna.


“Memang nggak ada yang lain?”


“Jadi, kulkas lo kosong?”


Pemuda itu menoleh sambil membuka bungkus mie, “Gue mana punya kulkas. Belum ada uang untuk beli.”


“Gue kira ada kulkas. Pantas nggak ada yang mau dimasak.” Luna terdiam sebentar, “kalau nggak salah di gudang rumah gue ada kulkas kecil yang nggak dipakai deh. Lo ambil saja.”


“Itu gudang atau kantong Doraemon.”


“Maksudnya?”


“Semua ada.” Dylan mengaduk-aduk masakan, “kemarin Om Ardan sudah kasih televisi. Katanya, nggak terpakai, tapi masih bagus. Dari pada disimpan doang di gudang makanya di kasih ke Ibu.”


“Oh, TV yang di depan itu?” Dylan berdeham, “gue nggak sadar kalau itu TV punya gue.”


Dylan menggeleng-gelengkan kepala saja dengan masih menatap fokus masakannya. Setelah lima menit mie rebus pakai telur telah matang.


•••


Luna asyik menyantap mie buatan Dylan dengan tambahan sepiring nasi. Katanya, tidak kenyang kalau tidak pakai nasi. Lelaki itu hanya menuruti saja mau gadis yang duduk di sebelahnya itu.


“Bagaimana enak?” tanya Dylan.


Luna mengangguk saja dengan terus makan. Gadis itu mendongakan kepala. Tersenyum menatap Dylan.


“Enak banget. Makasih,” ujarnya setelah itu lanjut makan lagi.

__ADS_1


“Sama-sama.” Dylan meletakkan sendok yang sedari tadi dia pegang, “harusnya kalau lo ke sini gue siapin makanan yang enak dan sehat. Bukan malah makan mie instan.”


Luna menghentikan aktifitasnya sebentar, “Nggak masalah. Apa saja asal enak gue suka kok.”


“Iya, kelihatan banget lo menikmati.” Luna tersenyum, “sampai pipi saja ikut makan.”


Dylan mengulurkan sebelah tangan dan mengambil nasi yang menempel di pipi Luna. Sedangkan gadis itu bergeming dengan mata tak berkedip.


“Kenapa jadi diam? Makan lagi, gih! Abiskan.”


Luna mengangguk kikuk. Kemudian dia meneruskan menghabiskan makanan miliknya. Baru saja Dylan memasukan mie ke mulutnya suara seseorang terdengar dari luar.


“Assalamualaikum!” seru Rania berjalan memasuki rumah.


Dylan meneguk air agar makanan di dalam mulut cepat tertelan, “Waalaikumsalam, Bu. Masuk saja!”


“Eh, ada Luna juga.” Luna tersenyum sembari meneguk air di dalam gelas.


“Ibu kok jam segini sudah pulang? Biasanya sorean?” tanya Dylan yang bingung karena ini baru pukul 3 sore.


“Kepala Ibu agak pusing. Maka itu Ibu minta pulang 2 jam lebih cepat. Ini saja Ibu belum sempat belanja.”


“Bagaimana kalau belanja serahkan ke Luna sama Dylan saja Tante,” ujar Luna memberi saran.


“Memangnya lo bisa belanja ke pasar?” tanya Dylan meremehkan gadis itu.


“Bisa dong, gue sering ikut Mama belanja.” Luna teringat sesuatu, dia menoleh pada Rania, “tapi Luna suka belanja ke supermarket, Tante. Mama jarang ke pasar. Kalau ke pasar Luna nggak ikut.”


Dylan mencebikkan bibir.


“Kalau supermarket mahal sayang. Tante dan Dylan harus berhemat.” Rania tersenyum di akhir kalimatnya.


Luna menggaruk kepala yang tidak gatal sembari cengengesan.


“Tulis saja Bu apa yang harus aku beli! Nanti aku yang ke pasar,” ucap Dylan menyelesaikan masalah.


“Gue ikut ya?” Luna mengacungkan sebelah tangan.


“Nggak usah! Nanti lo cuma merepotin gue.”


“Tapi Luna mau ikut...” rengeknya sambil mengoyangkan kedua bahu.


“Sudah ajak saja, Dy!” ujar Rania.


Dylan menatap sang ibu. Kemudian berganti melihat Luna yang cemberut.


“Iya, ikut.”


“Asyik!” Luna bersorak gembira sampai Rania tersenyum dibuatnya.


“Ya sudah, Ibu ke kamar dulu. Mau mencatat yang harus kalian beli.” Dylan dan Luna mengangguk.


Dylan menatap Luna tajam, “Awas lo kalau ngerepotin gue. Gue tinggal di pasar.”


Luna memgembungkan pipi dengan bibir kecilnya yang maju setelah mendengar ancaman Dylan.

__ADS_1


•••


__ADS_2