Housemate

Housemate
Sebuah Mimpi


__ADS_3

Sebuah tangan Dylan genggam dengan erat. Itu adalah tangan Luna. Mereka saling meleparkan senyum. Tiba-tiba angin kencang datang. Menariki tubuh Luna dan Dylan bersamaan seakan-akan ingin memisahkan mereka.


“Dylan ini bagaimana? Gue takut,” ujar Luna dengan cemas karena dia sudah tidak kuat mengenggam tangan Dylan.


“Pegang tangan gue yang kuat, Lun! Gue nggak akan membiarkan kita terpisah,” ujar Dylan dengan berteriak.


Angin semakin kencang. Bahkan menggulung mereka. Pegangan Luna makin lama semakin ke ujung jari.


“Gue nggak kuat lagi.” Luna menangis.


Dylan pun harap-harap cemas. Namun, sayang Luna terlepas dan terseret oleh angin besar itu.


“Luna...”


Dylan bangkit dan duduk di atas kasur. Bulir-bulir keringat timbul di pelipisnya. Ia menghela napas, lalu bersyukur bahwa itu semua hanya mimpi.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat Dylan menoleh pada orang yang ingin masuk itu.


“Kamu kenapa?”


Pemuda itu menggeleng, “Aku cuma mimpi buruk, Bu.”


Rania melangkah masuk dengan membiarkan pintu kamar terbuka. Wanita paruh baya ini duduk di tepi kasur.


“Mimpiin Luna? Ibu dengar dari sebelah kamu memanggil namanya.”


“Iya,” jawab Dylan sembari menganggukan kepala, “aku mimpi ada angin besar yang memisahkan kami.”


Rania tersenyum. Menepuk-nepuk pelan sebelah kaki sang putra yang terjulur ke dekatnya.


“Itu hanya sebuah mimpi. Jangan terlalu dipikirkan!”


Lelaki itu mengangguk saja. Perkataan ibu ada benarnya. Mimpi adalah bunga tidur. Ia harus selalu berpikiran positif.


“Bu, aku mau tanya.”


Kening Rania mengerut, “Mau tanya apa? Tanya saja.”


“Aku boleh pacaran nggak?”

__ADS_1


Rania menutup mulut dengan telapak tangan. Wanita itu tertawa.


“Ibu kok malah tertawa?”


“Maaf, maaf, habisnya kamu lucu. Kamu izin pacaran sudah seperti balita minta izin jajan ke warung tahu nggak.”


“Aku takut Ibu nggak setuju.”


“Ibu setuju saja kalau kamu mau punya kekasih. Asal jangan lupakan kuliahmu. Semua itu ‘kan cita-cita dari lama.”


“Aku janji, Bu. Tetap akan berprestasi. Punya pacar nggak akan membuat nilaiku turun.”


“Memangnya kamu lagi suka sama siapa?” satu alis Rania terangkat.


Dengan malu-malu Dylan berucap, “Luna.”


Rania tertawa lagi. Namun, kali ini tidak dia tutup-tutupi.


“Kenapa Ibu malah ketawa lagi. Memang ada yang lucu dari aku suka sama Luna?”


Rania menggeleng dan susah menghentikan tawanya.


“Ibu jadi teringat kalau Tante Sinta mau menjodohkan kalian.” Rania mencoleh hidung Dylan, “tahunya kalian sudah saling suka.”


“Ibu bilang, Ibu terserah anaknya saja. Kalau tahu soal ini Tante Sinta pasti senang.”


Dylan merangkak mendekati sang ibu. Ia duduk di depan Rania sekarang. Tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri, menolak ucapan Rania barusan.


“Jangan bilang siapa-siapa dulu, Bu. Tunggu Luna terima aku dulu. Malu kalau ternyata ditolak.”


“Luna kelihatan suka sama kamu gitu. Pasti dia terima. Ibu sangat senang kalau kalian bisa berpacaran.”


Pemuda dengan rambut berantakan dan wajah kucel ini bergeming.


“Ibu nggak tahu saja beberapa hari ini banyak terjadi masalah,” ujar Dylan dalam hati.


“Iya, iya, Ibu nggak akan beritahu dahulu.” Melihat Dylan yang terdiam saja Rania menuruti permintaan putranya, “tapi kalau sudah beritahu Ibu.”


Dylan mengangguk.

__ADS_1


Rania mengusap kepala Dylan, “Sudah sana mandi dulu. Kamu mau ke kampus ‘kan?”


“Iya Ibu.”


Di depan kamar tanpa mereka sadari sedari tadi Alexa menguping pembicaraan. Gadis itu terlihat kesal sampai mengepalkan tangan, lalu di tangga Alika memperhatikan sikap sang putri. Alexa juga tidak menyadari kalau dirinya diantau oleh sang ibu.


Ketika Rania ingin keluar melewati pintu. Alexa berjalan cepat untuk turun. Sedangkan Alika yang tadinya ingin naik untuk memanggil sang putri malah tergesa turun kembali ke lantai satu.


•••


KLING!


Luna membuka pesan yang ada di ponselnya. Dahinya berkerut saat membaca pesan dari Dylan. Yang menurutnya sedikit aneh.


Dylan


Selalu hati-hati dimanapun lo berada. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama lo.


“Ugh, so sweet-nya,” sorak Elina, “kalian sudah jadian ya? Kemaren kata lo, Dylan sudah menolak.”


Luna menggeleng, “Memang menolak dan kita itu nggak jadian.”


“tapi kok chat-nya Dylan romantis gitu? Perhatian.” Elin mencolek dagu Luna, “takut banget sahabat gue ini celaka.”


“Memang nggak jadian. Gue pun bingung tiba-tiba dia kirim pesan begitu.” Luna merengut karena diolok-olok terus.


“Siapa yang jadian?” tanya Brian yang baru datang dan menghampiri kedua gadis itu di depan mading.


“Ini Luna, katanya nggak jadian sama Dylan, tapi chatting-nya romantis.”


“Memang nggak kok.” Luna mulai geram, “gue juga nggak mengerti maksud pesannya, tapi ‘kan apa salahnya kalau gue hati-hati.”


“Pesan apaan?”


“Nih.”


Luna menunjukkan ponsel pada Brian. Lelaki ini mengangguk paham.


“Mungkin, si Dylan lagi parnoan.” Brian memasukan sebelah tangan ke dalam saku celana, “nggak masalah buat lo hati-hati, Lun. BTW, kenapa lo nggak jadian juga sama dia?”

__ADS_1


“Dia nggak suka gue!” Luna berjalan meninggalkan kedua orang menyebalkan itu. Merusak mood paginya saja. Padahal dia sedang berusaha move on.


•••


__ADS_2