
Dylan melangkahkan masuk kaki ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Di dalam sudah ada beberapa teman-temannya.
Lelaki itu menjatuhkan tubuh ke sofa yang ada di ruangan itu. Hari ini kumpulan anak jurnalistik. Katanya, ingin membahas isi dari buletin bulan depan.
“Eh, Lan. Lo ada hubungan apa sama gadis yang ada di lambe turah kampus?” Pertanyaan itu datang dari Caca yang membawa es degan ditangan. Ia baru saja masuk ke basecamp bersama Rea.
“Nggak ada.”
Dylan menjawab dengan tenang. Namun, dibenaknya sedang berpikir mengapa jadi tersebar gosip tentang dirinya dan Luna sekarang.
“Bohong ya lo?” Caca menjatuhkan tubuh ke sofa dan duduk di sebelah Dylan, “jangan ditutup-tutupin deh. Kalian pacaran ‘kan?”
Dahi pemuda itu berkerut, “Gue serius kali. Benar nggak pacaran. Lagi pula ini gosip dari mana sih?”
“Lo nggak tahu, Lan?” Rea yang sedang memakan siomay dari plastik ikut berbincang, “foto lo dan dia sudah tersebar di grup lambe turah kampus. Dengan caption, gara-gara ditolok Brian, Luna terlihat dekat dengan seorang pria dari fakultas kedokteran yang bernama Dylan.”
“Hah?” Dylan terkejut dan duduk dengan tegap, “cepat amat berita begitu tersebar.”
“Ada fotonya lagi, tapi posisi dari belakang.” Tambah Haikal yang sedang mengecek kamera di tangan.
Dylan lekas merogoh ponsel di saku dan membuka sosial medianya. Benar saja sampai dirinya ditandai pada foto itu.
Tia memutar kursi yang dia duduki menghadap ke arah teman-temannya, “Gue pikir kasus anak psikologi ini bagus deh masuk buletin kita bulan depan.”
“Apa-apaan nggak ada! Jangan lo masuk-masukin ke buletin.”
Tia tertawa melihat reaksi temannya itu.
“Dylan lucu ya kalau panik,” ujar gadis berhijab bernama Aisyah.
Lelaki itu menghela napas. Sekarang dia benar-benar kesal dengan Luna. Orang-orang jadi tahu kedekatan mereka. Dylan tidak mau karena gosip ini hidupnya menjadi tidak tenang.
Setelah menunggu anggota lain datang sekarang mereka sedang mendengarkan Tia menjelas tema dan topik apa yang akan mengisi keseluruhan buletin. Ada beberapa halaman yang tiap bulan harus ganti topik. Biasanya, akan ada hal-hal yang sedang tren di kampus muncul juga di buletin.
“Permisi!”
Suara dari depan pintu basecamp membuat anggota yang ada di dalam menoleh bersamaan.
“Bidadari dari mana nih?” celetuk Haikal, lalu disusul tawa Dennis.
Sedangkan yang ada di depan pintu tersenyum malu. Aisyah berdiri dan meminta izin pada Tia untuk menemui Alexandra.
Aisyah membawa Alexa untuk menepi ke samping, “Kamu jadi pindah UKM?”
__ADS_1
Alexa mengangguk, “Jadi, bagaimana kamu sudah bicara?”
“Aku sudah bahas ke Tia. Kata Tia, lebih baik masuk ketika ajaran baru.”
“Lama dong, Aisyah. Aku sudah nggak mau di UKM itu.” Alexa meraih kedua tangan sepupunya, “tolong aku ya Aisyah. Coba bicara lagi ke Tia. Pasti bisa kok.”
“Kamu punya bakat menulis?”
Alexa menggeleng.
“Lalu tertarik masuk jurnalistik kenapa?”
“Gara-gara Dylan.”
Aisyah memutar bola matanya.
“Aku menyesal mengapa nggak masuk UKM yang sama denganmu dari awal. Coba saja aku kenal Dylan dari pertama masuk kampus.”
“Kamu itu. Gara-gara cowok saja pindah UKM. Untung nggak pindah alam.”
“Isss.” Alexa menepuk lengan gadis di depannya dengan pelan, “bagaimana?”
“Nanti aku usahakan lagi. Kamu sudah tahu gosip terbaru Dylan?”
Aisyah mengangguk, “Iya, akun lambenya kampus.”
“Aku nggak bawa handphone. Tertinggal di rumah.”
“Pantas saja. Kamu terlihat tenang. Kata akun lambe, Dylan dikabarkan dekat dengan gadis bernama Luna.”
“Luna yang lagi viral-viralnya itu ‘kan? Yang menembak Brian?”
Aisyah mengangguk, “Iya yang itu. Anak jurnalistik pada bahas kasus ini. Malah ingin dimasukan buletin.”
“Jangan dong! Jangan dimasukin ke buletin! Dylan itu nggak boleh dapat gosip sama cewek lain.” Alexa terlihat lemas dan menekuk wajah, “aku kira nggak akan dapat saingan.”
“Wajar sih banyak yang suka Dylan. Dia cakep, baik, pintar terus cool seperti cowok yang ada di novel-novel.”
“Tetap saja Dylan nggak boleh sama cewek lain. Selain aku!”
“Aisyah masih lama ngobrolnya?” Tia muncul dari balik tembok, “nanti lo ketinggalan pembahasan kita.”
“Iya, Ti. Ini aku sudah mau masuk.” Aisyah tersenyum ke Tia, lalu menatap sepupunya, “aku mau masuk dulu. Kamu mau ikut gabung.”
__ADS_1
Gadis berhijab ini menarik kedua tangan yanh tergenggam oleh Alexa. Ketika ditawarankan itu Alexa lekas mengangguk. Lumayan, bisa memandang Dylan yang ada di dalam.
Grup Chat
_____________
Trio Kadal
Ken: Dy, lo sudah lihat lambeh turah kampus?
Javier: Ada lo di situ sama cewek yang tadi pagi.
Ken: Gila teman gue langsung famaous.
Ken: Traktir dong, Dy. Kalau jadian itu. Jangan diam-diam bae.
Dylan: Nggak ada yang jadian! Itu cuma gosip yang nggak benar kadal buntung!
Javier: Hahaha mam*pus dikatain kadal buntung. Tapi emang mirip sih.
Ken: Sialan! Gue ‘kan cuma mastiin gosip itu.
Dylan: Gosip itu nggak benar. Jangan lo percaya begitu saja.
Ken: Padahal Luna itu cantik kenapa sih nggak sikat saja.
“Cantik , tapi berisik.” Dylan membatin.
Pemuda ini hampir frustasi memikirkan dirinya yang menjadi topik hangat mahasiswa dan mahasiswi di kampus. Yang dia takutkan selama ini dekat dengan Luna adalah hal semacam ini.
“Chat dari cewek itu ya, Dy?” tanya Caca yang bernada godaan.
Dylan menoleh, “bukan.” Ia melihatkan layar ponsel ke Caca.
“Teman-teman gue.”
Caca mengangguk dan membulatkan bibirnya. Pandangan Dylan teralihkan saat melihat Alexa masuk ke ruangan yang sama dengan dirinya.
“Alexa jadi gabung di sini?” Dylan bertanya di dalam hati.
Gadis yang sedang Dylan perhatikan itu tiba-tiba tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Pemuda ini membalas dengan tersenyum tipis, lalu menoleh kembali ke depan untuk memperhatikan ketua jurnalistik yang dari tadi menjelaskan.
•••
__ADS_1