
Selagi Luna berpikir bel rumah berbunyi lagi. Gadis itu tersenyum pada sang bayi yang masih menangis.
“Itu pasti Mamamu. Kakak buka dulu ya.”
Ia bergegas lari keluar dari kamar meninggalkan Zayn yang meronta-ronta. Numun, senyum Luna buyar saat melihat Dylan di balik pintu itu.
“Kok lo sih?”
Dahi Dylan berkerut, “Memang lo ngarep yang datang siapa?”
“Mbak Ayu.”
“Siapa itu Mbak Ayu?” Dylan berjalan masuk ke dalam rumah.
Luna kembali menuntup dan mengunci pintu, “Tetangga depan.”
Lelaki yang memakai ransel dengan satu tali ini berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang saat mendengar suara asing ada di rumah itu.
“Suara bayi? Bayi siapa itu?” tunjuk Dylan ke atas, “lo nyulik bayi sekarang?”
Gadis yang ditanya ini buru-buru melangkah mendekati Dylan, “Sembarangan. Cewek imut, lucu dan polos seperti gue mana tega culik bayi orang.”
Dylan menjulurkan lidah seperti orang ingin muntah saat mendengar ucapan Luna.
“Terus itu bayi siapa?”
“Anak Mbak Ayu, dia titip anaknya ke gue.”
“Mbak Ayu itu ingin anaknya cepat mati.”
“Maksud lo apa?” tanya Luna dengan nada tinggi. Ia juga berkacak pinggang di depan pemuda ini.
“Dia titip anak ke orang yang salah. Gue saja nggak yakin lo bisa ngurus bayi. Ngurus diri sendiri saja belum beres.”
Luna memajukan kedua tangan ingin mencakar Dylan. Namun, dia urungkan karena ingin meminta tolong pada lelaki itu.
“What ever! Sekarang lo harus bantu gue!”
“Bantu apa?”
“Bantu diamkan Zayn!”
“Zayn?”
“Anak Mbak Ayu itu namanya Zayn.” Luna menarik salah satu lengan lelaki itu, “ayo ke atas!”
Dylan mengeraskan tubuh agar tidak bergeser dari posisi, “Nggak mau. Yang disuruh ‘kan lo. Kenapa gue jadi kebawa-bawa?”
__ADS_1
“Lo sudah ngatain gue nggak bisa ngurus bayi. Sekarang waktunya tanggung jawab. Lo harus ikutan ngurus bayi.”
Pemuda itu mencengkram erat pada pegangan tangga. Tidak menyangka tarikan Luna kuat juga.
“Gue ‘kan ngomong sesuai fakta. Gue masih ada urusan nggak bisa bantu lo,” ucap Dylan berusaha mengelak agar bisa kabur.
“Alasan lo. Bilang saja mau kabur.” Luna mencoba mengatur napas, “berat banget sih tubuh lo. Kebanyakan dosa ya?”
Dylan mencebikkan bibirnya.
Akhirnya, lelaki itu mengalah saja dan mengikuti Luna ke kamar. Ia meletakkan ransel di atas kasur, lalu memperhatikan bayi yang masih menangis.
“Sudah lo kasih susu?” tanya Dylan pada Luna.
Gadis berkaus kebesaran dan celana pendek itu mengangguk.
“Sudah, tapi dia tetap nggak diam. Susunya pun nggak diminum.”
Dylan meletakkan jari berbentuk centang ke dagu dan satu tangan bersidekap di perut. Kemudian jari itu mengusap-usap dagu sambil berpikir.
“Sudah cek popok yang dia pakai?”
Luna menggeleng, “Belum, jijik.”
“Cek dulu. Mungkin saja sudah penuh atau dia poop.”
Dylan menghela napas. Namun, ia tetap berjongkok di depan Zayn. Lelaki ini melepas celana bayi itu.
“Oh ini, popoknya penuh.” Lelaki itu mendongak menatap Luna, “ada yang baru?”
“Ada.” Luna cepat bergerak ke sisi lain. Ia mengambil tas yang ada di dekat Dylan. Gadis ini memberikan popok baru pada lelaki di sebelahnya saat sudah menemukan, “nih.”
Dylan menerima, lalu menggantikan dengan yang baru.
“Ada plastik nggak?”
Ketika Dylan bertanya itu Luna lantas berlari keluar. Tidak lama dia datang dengan membawakan plastik permintaan lelaki itu.
“Nih buang.” Melihat plastik berisi popok kotor itu di depan dirinya. Luna lantas menggeleng, “buangin doang juga nggak mau?”
Luna menggeleng lagi. Dylan menghela napas kembali. Ia dengan terpaksa membuangnya sendiri ke bawah.
“Sudah nggak berat lagi ya? Jadi dari tadi nangis karena popoknya?” Luna mengajak Zayn mengobrol. Bayi itu hanya membalas dengan tertawa.
•••
Air keran mengalir membasahi tangan Dylan. Setelah bersih lelaki ini menutup kembali kerannya. Ia mengeringkan tangan, lalu berjalan menuju tangga untuk kembali ke atas.
__ADS_1
“Gue nggak sangka lo bisa ngurus bayi. Belajar dari mana?”
Pertanyaan Luna membut langkah Dylan di tangga berhenti sebentar. Gadis berambut sebahu itu ada di ujung tangga atas.
“Gue nggak pernah ngurus bayi. Ini pertama kali ganti popoknya.”
Alis Luna tertaut, “Tapi kok bisa.”
Dylan berdiri di samping Luna dengan tatapan ke depan, “Cuma pernah lihat tetangga gue di rumah lama, lalu dia kasih tips buat gue saat bayi menangis. Apa saja yang harus kita lakukan. Karena lo nggak bisa ganti popok gue nekat saja untuk gantikan."
Luna bergeming memperhatikan Dylan dari samping. Tidak heran kalau sampai primadona kampus saja naksir sama dia. Luna tidak pungkiri kalau lelaki di depannya itu tampan, baik, pintar, terus ayahable lagi.
Seketika lamunan Luna menghilang saat mengingat kelakuan Dylan yang menyebalkan. Selalu memancing untuk dirinya marah-marah.
“Ngapa lo ngelihatin gue begitu? Naksir?”
Luna mencebikkan bibir, lalu membuang muka.
“PD banget lo.”
Dylan tersenyum melihat reaksi yang diberikan Luna. Hal itu pun ditangkap oleh gadis yang ada di sampingnya itu.
“Gini dong senyum.”
Digoda oleh Luna, Dylan langsung berhenti tersenyum dan melangkah masuk ke kamar. Gadis ini tertawa, lalu berlari menyusul Dylan.
“Astaga!” Dylan dengan cepat mengambil Zayn dan menggendongnya.
“Ada apa? Kenapa?” tanya Luna yang terkejut mendengar Dylan bersuara keras.
Pemuda itu menoleh pada Luna, “lo gimana sih? Zayn, lo tinggal sendiri. Hampir jatuh tahu!”
“Serius lo?”
“Kelihatan muka gue ini kayak bercanda?” Dylan menunjuk wajah.
Luna tertunduk lemas, “Maaf, gue pikir tadi nggak masalah meninggalkan Zayn di kasur.”
“Lalai!”
Gadis itu cemberut dan menatap Dylan. Lelaki ini tidak memedulikan perkataan menyesal dari Luna. Ia menggoyang-goyangkan Zayn digendongan. Kemudian melangkahkan kaki membawa bayi kecil ini keluar dari kamar.
“Dylan!”
Sampai di bawah Luna melihat Dylan yang bermain di sofa bersama Zayn. Gadis ini baru tahu Dylan suka anak kecil. Ia jadi senyum-senyum sendiri melihat pemandangan di depannya.
Luna berlari mendekati mereka dan ikut bergabung. Selama bermain bersama bayi itu kedua orang yang tidak pernah akur ini terus berdebat mempermasalahkan hal yang tidak penting.
__ADS_1
•••