Housemate

Housemate
Dilabrak


__ADS_3

Alexa merapikan rambut dengan bercermin melalui kaca kecil di tangan. Ia juga berjalan keluar dari rumah besarnya.


Gadis ini berhenti melangkah, lalu menyimpan cermin ke dalam sling bag. Kedua mata bergerak menyusuri halaman rumah.


“Pak Septo!” teriak gadis itu membuat seorang pria berseragam sopir berlari mendekatinya, “mobil saya mana?”


Sopir itu menuduk, “Maaf Non. Belum saya keluarkan dari garasi.”


“Bagimana sih saya sudah mau berangkat nih.” Alexa menghela napas, “cepat keluarkan!”


“Baik, Non.” Sopir itu berlari pergi meninggalkan majikannya.


Alexa yang berharap pagi ini mood-nya membaik, makin kesal dengan kelakuan pekerja ayahnya. Bisa-bisanya belum menyiapkan mobil gadis itu.


Pandangan gadis ini tertuju dengan motor Dylan yang ada di pinggir teras.


“Bisa-bisanya motor Dylan sudah siap. Sedangkan punya aku masih ada di garasi,” gerutu Alexa berjalan mendekati motor matic itu.


Tidak sengaja Alexa melihat selembar foto di selipan motor itu, “Apa ini?”


Ia mengambilnya tanpa meminta izin dahulu. Betapa kesal saat mengetahui kalau itu potret Luna dan Dylan tersenyum bahagia. Alexa tidak suka dengan kedekatan mereka.


“Sok cantik banget ini cewek. Lihat kamu nggak aku restuin. Dylan cuma punya aku!”


Tiba-tiba dari belakang foto itu direbut seseorang. Alexa baru akan merobeknya. Ketika gadis itu berbalik ternyata Dylan yang merebut paksa foto dari tangan Alexa.


“Kembalikan!” Gadis itu berusaha merampas kembali dari Dylan. Namun, tangan lelaki itu lebih cepat menghindar.


“Untuk apa? Ini ‘kan punya gue.”


“Mau aku robek.”


Dylan mendengus. Ia membuka ransel dan menyimpan foto itu ke dalam tas.


“Jangan pernah sentuh barang gue lagi!”


“Kenapa? Aku ‘kan adikmu. Harusnya kamu ramah dan baik sama aku. Cuma memegang barang saja nggak boleh.” Protes Alexa.


Pemuda itu berjalan mendekati motor dan mengambil helm. Ia menoleh pada Alexa yang masih berdiri di tempatnya.


“Jadilah adik yang baik dulu. Bersikaplah lo sebagai seorang adik, bukan seperti pacar yang posesif. Baru gue akui sebagai adik.”


Setelah menyampaikan kalimat terakhir itu Dylan memasang helm dan melanjukan motor meninggalkan Alexa yang terlihat kesal.


•••


Suasana kantin dipagi hari tidak seberapa ramai dibanding siang. Maka dari itu Dylan bisa menyelesaikan tugas dengan tenang. Ia juga ditemani kedua sabahabatnya yang sedang sarapan.


“Dy...” Panggil Javier yang mendapat dehaman dari sang empunya nama, “lo suka ya sama Luna?”


Mendengar pertanyaan itu Dylan mengalihkan pandangan dari laptop menatap Javier.


“Nggaklah, ada-ada saja lo ini.” Lelaki itu fokus lagi pada tugas di depan mata.

__ADS_1


“Nggak benar lo.” Kendro menyenggol lengan Javier yang duduk di sebelahnya, “lo mau suruh Dylan jadi pebinor? Luna ‘kan pacarnya Brian.”


“Sikapnya dia mirip orang lagi jatuh cinta,” tutur Javier.


“Luna sama Brian itu nggak pacaran. Luna jelas-jelas menolak dia, tapi kemarin Luna cerita Brian nggak akan kejar-kejar dia lagi,” sela Dylan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


“Kalau begitu nggak apa-apa lo yang pacarin Luna,” celetuk Javier.


Dylan mendonggak lagi kepala, “Apa sih, gue sudah bilang nggak suka sama Luna. Kita itu teman dan kebetulan keluarga kita saling kenal.”


“Nah, pas!” Javier memukul meja, “gas saja-lah, Dy. Keluarga sudah saling kenal pasti kalian direstuin.”


Dylan menoleh ke Kendro, “Teman lo tuh kenapa sih?”


Kendro yang sedang menghabiskan bubur ayam itu menggelengkan kepala. Sedangkan Javier yang memberi saran dengan semangat menggebu-gebu ini mencebikkan bibir. Ia lanjut menyantap makanan yang tinggal setengah porsi itu


“Oh iya, kenapa Brian tiba-tiba bisa melepas Luna begitu saja?” tanya Kendro setelah meneguk air mineral di dekatnya, “aneh awal nolak, tiba-tiba nembak dan tiba-tiba putus.”


Dylan yang telah melanjutkan mengetik itu hanya menjawab, “Kata Luna, Brian disuruh Alexa. Agar Luna bisa jauh dari gue.”


Javier menggelengkan kepala, tak percaya akan perbuatan gadis yang terkenal lembut dan sopan itu.


“Nggak sangka Alexa bisa begitu,” ujar Kendro.


Dylan menghentikan aktifitas sebentar. Ia menempelkan siku pada meja dan saling menautkan jari-jari tangan. Kedua mata memandang ke depan.


“Gue juga nggak sangka dia bisa begitu. Gue melihat Alexa yang bukan gue kenal dulu.” Dylan menoleh pada kedua temannya, “dia seperti terobsesi dengan gue.”


•••


Semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu bersorak senang. Seakan mereka baru bebas dari penjajahan.


Elina juga ikut bersorak dengan yang lain dan besyukur beberapa jam tidak ada kelas dan perutnya yang sedari tadi berbunyi bisa diisi makanan sekarang.


Berbeda dengan Luna dari tadi menopang dagu dan memandangi kotak musik di depannya yang tak bersuara.


Elina menoleh pada Luna. Gadis itu sedikit memiringkan kepala untuk lebih jelas menatap sahabatnya yang sedari tadi masih senyum-senyum sendiri.


“Awas kesambet.” Elina kembali duduk tegak, “temani gue ke kantin yuk, Lun! Laper banget nih tadi nggak sempat sarapan.”


“Nanti ada dosen,” jawab Luna tanpa menoleh pada Elina.


“Lo nggak dengar kata ketua kelas kita? Pak Samsul izin. Ayok, Lun!” Elina memeluk sebelah lengan Luna, “kita ke kantin yang dekat fakultas Dylan deh. Bagaimana?”


Mendengar nama Dylan, gadis ini lekas menoleh.


“Ayok!”


Elina melepas pelukan, “Kalau ngomongin Dylan saja cepat.”


“Oh iya dong, siapa tahu ketemu sama orangnya.” Luna tersenyum, “gue bisa sambil PDKT.”


Mereka lekas membereskan barang-barang di meja dan memakai tas. Setelah itu segera keluar dari kelas yamg sudah agak sepi. Karena sebagian mahasiswa dan mahasiswi telah membubarkan diri.

__ADS_1


Dari tadi Luna masih memperhatikan otak musik yanh dia peluk. Hal ini membuat Elina penasaran.


“Itu dari Dylan ya?”


Luna menoleh pada Elina yang berjalan di sebelahnya, “Iya, kok lo bisa tahu?”


“Lo ngelihatnya lebay banget. Pakai dibawa ke kampus lagi. Kayak bocah.”


Mendengar penuturan sahabatnya Luna cemberut, “Gue nggak tega tinggalin di rumah. Kalau gue bawah bisa jadi penyemangat belajar.”


Gadis itu tersenyum di akhir kalimat. Ucapannya membuat Elina mencebikkan bibir.


“Luna!”


Panggilan seseorang dengan nada ketus itu membuat langkah Luna dan Elina terhenti. Mereka sama-sama menoleh ke sumber suara.


“Alexa?” gumam Elina yang membuat Luna menoleh pada gadis itu sebentar.


Ia melihat Alexa mendekatinya. Gadis dengan rambut panjang terurai itu terlihat kesal.


“Mau apa dia kemari?” tanya Luna dalam hati.


Gadis behenti tepat di depan Luna, “Aku peringatkan sama kamu jauhin Kakak aku! Kamu nggak pantas sama dia.”


“Nggak pantas bagaimana? Gue cantik dan Tante Rania juga baik ke gue. Orang tua Dylan saja nggak larang kami berteman.”


“Keluarga Dylan sekarang bukan Ibu saja, Tapi ada aku, Daddy, dan Mommy. Sebagai adiknya Aku nggak suka lihat Dylan berdekatan sama cewek lain.”


Elina tertawa meremehkan. Gadis ini menaikan kacamata yang sempat merosot, “Adik kok posesif.”


“Tutup mulutmu! Aku lagi nggak bicara sama kamu.” Alexa menunjuk-nunjuk Elina. Namun, Elina tidak menghiraukannya.


“Aku peringatkan sekali lagi sama kamu.” Gadis berkulit putih ini menatap Luna lagi, “jauhi kakak aku atau aku akan memberikan peringatan yang lebih keras dari ini.”


“Lo nggak bisa suruh gue tiba-tiba menjauhi Dylan. Gue suka sama Dylan dan Dylan juga sudah menujukan kalau dia juga suka sama gue.”


“Mimpi, jangan kebanyakan ngehalu!”


“Gue ngomong sesuai fakta kok. Kemarin saja Dylan datang ke rumah bela-belain bolos kuliah hanya untuk bikin surprise ulang tahun untuk gue. Walau dia belum bilang suka, tapi sudah kelihatan. Kalau dia juga suka gue.” Luna menunjukan kotak musik pemberian Dylan, “dia sampai beri gue kado.”


Tangan Alexa menggepal. Ia baru tahu kalau Dylan membuatkan kejutan untuk Luna. Dia sangat tidak terima kalau Dylan mulai jatuh cinta pada gadis lain.


“Aku benci kamu!” Alexa merebut kotak musik di tangan Luna. Kemudian membuang ke bawah hingga pecah dan berserakan.


Luna dan Elina yang melihat kejadian itu sampai membulatkan mata dan membuka mulut sedikit. Alexa berlari pergi meninggalkan kedua orang yang masih diam di tempat ini.


Mata Luna mulai berkaca-kaca. Bibir bergetar dan tubuh serasa tak bertenaga. Gadis ini berjongkok di depan kotak musik yang sudah tidak berbentuk itu.


“Wuaaaa!”


Tangis Luna akhirnya pecah. Begitu keras hingga menjadi pusat perhatian orang yang berlalu-lalang. Elina mencoba menenangkannya.


•••

__ADS_1


__ADS_2