Housemate

Housemate
Ingin Pindah


__ADS_3

Dylan melempar ransel ke atas kasurnya, lalu duduk di ranjang milik Bhiru. Tidak lama selagi melepas kancing kemeja Rania muncul dari balik pintu.


“Ibu ganggu kamu?” tanya Rania dengan lembut.


“Nggak, Bu. Masuk saja!”


Rania membuka pintu dengan lebar. Kemudian berjalan mendekati anaknya. Ia duduk di samping Dylan.


Lelaki itu menghentikan aktifitasnya. Ia mengubah posisi duduk sedikit menyerong ke kiri.


“Ada apa, Bu?”


“Begini rencananya Ibu akan buka warung makan lagi. Kamu setuju?”


“Modalnya dari mana?” Dylan balik bertanya.


“Sementara ini Ibu akan cari kerja dulu. Sebagai pelayan restoran atau rumah makan nggak masalah. Nanti uangnya Ibu tabung agar kita bisa sewa ruko seperti dulu.”


“Ibu yakin? Nanti Ibu kecapekan. Aku nggak mau Ibu sakit.”


Rania mengenggam kedua tangan putranya, “Ibu bisa jaga kesehatan sayang. Kamu nggak usah khawatir.”


“Bagimana aku nggak khawatir. Ibu sudah nggak muda lagi. Pasti akan cepat lelah. Biar aku saja yang kerja. Nanti sepulang kuliah aku cari kerja paruh waktu.”


Rania menggeleng cepat, “Jangan! Kamu itu harus fokus kuliah dan belajar saja. Cari uang itu urusan orang tua.”


“Tapi...”


Wanita paruh baya ini meletakkan jari telunjuk ke depan bibir Dylan. Lelaki itu lantas terdiam sebelum selesai bicara.


“Ibu nggak apa-apa, Nak. Ibu sanggup melakukan ini.” Rania menurunkan jari kembali.


“Kalau Ibu capek, istirahat dulu kerjanya ya!”


Rania mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu melepaskan genggaman pada tangan sang putra. Ia melihat ke arah pintu kamar yang terbuka.


“Ibu nggak enak sama Tante Sinta dan Om Ardan. Terlalu lama menumpang berarti kita terlalu lama merepotkan mereka.”


Dylan jadi terpikir masalahnya bersama Luna. Benar juga keinginan ibunya. Kalau mereka keluar dari rumah itu kecemasan Dylan tentang dia serumah dengan Luna tersebar lebih luas nggak akan terjadi.


“Walau mereka bilang nggak masalah kita tinggal berapa lama di sini. Tetap saja ibu nggak enak,” lanjut wanita bergaun putih itu.


“Aku pikir kita memang nggak sepantasnya terlalu lama di sini, Bu. Aku doakan semoga Ibu cepat dapat kerja dengan gaji yang besar agar kita cepat keluar dari sini.”

__ADS_1


Rania tersenyum, “Amin.” Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.


“Kamu ganti baju dulu.” Rania menepuk-nepuk bahu sang anak, “kamu mau makan nggak? Tadi Ibu yang masak.”


Dylan mengangguk, “Mau, Bu. Kalau masakan Ibu pasti aku mau makan terus. Walau masih kenyang.”


Rania yang sudah berdiri itu mencebikkan bibir, “Bisa saja kamu.”


Pemuda ini tertawa sambil mendongakkan kepala menatap Rania yang posisinya lebih tinggi.


Setelah wanita itu keluar. Dylan mengunci pintu kamar dan berganti pakaian.


•••


Baru saja melangkah untuk mendekati tangga dan turun ke bawah. Perhatian Dylan tercuri dengan pintu kamar Luna yang terbuka lebar. Dari dalam terdengar single baru dari Blackpink melantun.


Lelaki ini berjalan mendekati kamar gadis itu. Ia hanya berdiri di depan pintu. Luna sedang berbaring di ranjang dengan memeluk boneka doraemon besar miliknya. Bibir bergerak-gerak mengikuti lirik dari lagu girlband asal korea selatan itu.


“Lun!”


Panggilan Dylan berhasil membuat Luna menoleh padanya. Gadis itu lekas bangun dan meletakkan boneka. Ia juga mematikan musik dari speaker bluetooth.


“Ada apa?”


“Gue cuma mau kasih tahu sama lo. Kalau sahabat gue dan Alexa sudah tahu gue tinggal di sini.”


Mendengar itu Luna lantas berdiri dan mendekati ke pemuda itu, “Kok lo malah kasih tahu? Bukannya, ini nggak boleh bocor.”


“Gue terjebak saat itu. Terpaksa gue ngaku kalau kita ini saudara.” Dylan membuang muka, “padahal ogah banget punya saudara berisik seperti lo.”


Luna mengangkat satu tangan yang terkepal. Namun, kembali dia turunkan saat Dylan menatapnya.


“Mau ngapain? Mau pukul?”


“Nggak.” Kali ini Luna yang membuang muka, tatapi hanya bertahan beberapa detik, “oh iya kata-kata lo tadi Alexa juga tahu? Dia cemburu?”


“Setelah gue jelasin kita saudara dia biasa saja, tapi gila...”


“Gila kenapa?”


“Dia nembak gue.”


“Lo terima?”

__ADS_1


Dylan menggeleng, “Gue nggak jawab apa-apa. Gue langsung pergi saja.”


“Kenapa nggak di terima saja? Padahal Alexa idaman semua laki-laki di kampus kita.”


“Gue nggak suka.”


“Dih, aneh lo. Lo itu laki-laki yang beruntung disukai Alexa yang cantik seperti bidadari itu.” Luna memperhatikan Dylan dari atas ke bawah, kemudian kembali ke atas lagi, “jangan-jangan lo nggak normal ya? Gak suka cewek?”


Dylan mencekram pipi Luna sampai bibir gadis ini maju.


“Jaga ya bacot lo itu! Gue masih suka cewek.”


Luna menepis kasar tangan Dylan dan mengusap pipinya, “Sakit tahu!”


Lelaki itu seperti tidak peduli. Ia melihat ke arah Luna kembali.


“Lo pikir coba.” Dylan melirik Luna, “kalau lo jadian sama Alexa pasti gosip kita itu langsung hilang. Nggak akan ada yang akan tertarik lagi tentang kita.”


“Gue nggak mau menjalankan hubungan yang terpaksa.”


Luna mendecis, “Nggak asik lo. Kalau kita ketahuan bukan saudara lo yang tanggung. Satu lagi, kalau yang lain tahu kita serumah. Lo juga yang tanggu resikonya.”


“Lo tenang saja sebentar lagi gue akan pergi dari rumah ini.”


“Maksudnya?”


“Gue mau pindah bodoh! Begitu saja nggak ngerti.” Luna mendengus saat mendengar kata-kata itu terlontar dari bibir Dylan, “gue pastiin cukup teman-teman gue saja yang tahu masalah ini?”


“Lo mau tinggal di mana? Memang punya rumah?”


Dylan menundukkan kepalanya, “Gue juga belum tahu. Ibu masih mengusahakan uangnya.”


“Bagus deh. Cepat-cepat ya lo pergi!”


Lelaki ini menatap Luna kembali, “Lo ngusir gue?”


Luna gelagapan dengan jari menyentuh bibir. Tampaknya dia terlalu kasar berucap, “maksudnya bukan begitu...eee.. gue...”


“Gue akan usahakan cepat pergi dari sini sama ibu.” Setelah menyampaikan kalimat itu Dylan berlari kecil menuruni anak tangga.


“Yah, sepertinya dia baper.” Gadis ini menepuk bibir sendiri, “lo juga sih, Lun. Ngomong asal jeplak saja.”


•••

__ADS_1


__ADS_2