Housemate

Housemate
Cemburu


__ADS_3

“Serius?”


Javier bertanya sangat antusias. Ia tidak mengira kalau hari ini akan ada juga. Di mana Dylan bilang kalau dia akan segera menyatakan perasaan pada Luna.


Dylan mengangguk, “Iya.”


“Wih!” Javier berdiri dan bertepuk tangan. Kendro juga ikut menepuk tangannya. Namun, hanya sembari duduk saja, “akhirnya Ken, teman kita menyadari perasaannya.”


“Sttt! Jangan keras-keras!” Dylan meletakkan jari telunjuk di depan bibir, “kalau ada yang dengar gue malu.”


Javier memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di koridor. Ia mengibaskan sebelah tangan.


“Nggak ada yang peduli juga.” Lelaki itu mengedikkan kedua bahu.


“Jadi rencana lo buat nembak bagaimana?” tanya Kendro.


Dylan bergeming untuk beberapa detik, kemudian menggelengkan kepala.


“Kalian ada yang tahu bagaimana cara nembak cewek yang romantis?”


Javier menepuk kening, lalu kembali duduk di bangku yang memang disediakan di setiap koridor.


“Gue kira lo sudah memikirkan sampai di sana.” Dylan menggelengkan kepala, “gini saja. Lo beli satu tangkai bunga dan coklat. Terus lo cari tuh Luna di kelasnya. Ajak ke tempat yang sepi, lalu tembak. Bagaimana?”


“Pantes saja lo jomblo mulu, Vier. Ide lo terlalu klasik.”


“Semprul!” Javier memukul kepala Kendro dari belakang, “lo ‘kan juga jomblo. Sesama jomblo nggak boleh ngatain.”


“Kalian berdua jomblo kenapa nggak jadian saja?” tanya Dylan menahan tawanya.


“Wah, wah, parah.” Kendro menggeleng-gelengkan kepala, “ngelawak dia, Vier.”


“Sikat!” sorak Javier yang ingin memberikan pelajaran pada Dylan bersama Kendro. Namun, Dylan sudah berlari lebih dulu.


•••


“Masih ngambek lo?” tanya Brian yang menemukan Luna sedang duduk sendirian di depan tugu fakultas.

__ADS_1


Luna mendongak dan menggelengkan kepalanya.


“Gue punya sesuatu buat lo.”


“Apa?” tanya Gadis itu yang kini menatap ke depan.


“Sebentar.” Brian membuka ranselnya, lalu mengeluarkan coklat dari sana. Ia duduk di samping Luna, “ini buat lo. Semoga bisa memperbaiki mood.”


Luna menoleh dan tidak langsung menerima coklat dari pemuda itu. Dia berpikir sebentar. Kemudian perlahan mengambil coklat dari tangan Brian.


“Makasih.” Luna mengerakkan coklat di tangan, “tapi nggak diracun 'kan?”


Brian tertawa mendengar pertanyaan dari Luna, “Ya nggaklah. Masa gue kasih lo makanan beracun.”


Luna mengangguk saja. Kemudian membuka bungkus coklat dan melahap isinya.


Dylan yang sudah menyiapkan sesuai intruksi Javier telah melanju ke arah gedung fakultas Luna. Namun, tiba-tiba dia menghentikan kendaraan roda duanya, membuka kaca helm, dan memperhatikan orang yang duduk berdua di tugu. Senyum Dylan seketika luntur melihat Luna yang tertawa dan berbincang dengan Brian.


“Manis ‘kan? Nggak kalah manis sama yang ngasih?”


Luna menjulurkan lidah pada Brian, “Najis! Manisan gue.”


“Sialan lo.” Luna membalas dengan memukul lengan lelaki itu sembari ikut tertawa.


Tidak sengaja pandangan Luna tertuju pada Dylan yang melihat ke arahnya. Ia ingin melambaikan tangan, tetapi tidak jadi karena masih kesal.


Luna kira Dylan akan menghampirinya. Namun, lelaki itu memutar arah motor. Sebelum pergi dia membuang sesuatu ke tong sampah, lalu setelah itu melajukan motor dengan cepat.”


“Gue pergi dulu.” Luna menepuk paha Brian beberapa kali, lalu berlari pergi.


“Mau ke mana?” teriak cowok yang masih duduk ini.


“Ada urusan!” balas Luna dengan teriakan pula.


Luna berhenti berlari saat sampai di tong sampah. Ia melihat ke dalam, lalu memungut coklat dan setangkai mawar segar yang Dylan buang.


“Kenapa malah dibuang ya?” Gadis ini melihat ke arah Dylan pergi. Kemudian membuka kartu ucapan yang ada di bunga, “I love you?”

__ADS_1


Isi hanya sebuah kalimat I Love You. Namun, Luna tidak tahu kalimat itu ingin ditujukan pada siapa. Bukannya GR, tapi Luna merasa semua hadiah itu untuknya.


•••


“Ini sudah pasti buat lo,” ucap Elina memeriksa hadiah yang Luna ambil dari tong sampah siang tadi.


Luna meletakkan gelas berisi es jeruk ke meja di depannya, “Kok lo bisa yakin gitu?”


“Kalau sesuai dengan cerita lo itu. Dylan ini cemburu ketika lihat lo sama Brian berduaan. Mungkin saja dia punya niat buat menembak lo tadinya.” Elina memukul gemas paha sahabatnya, “Hah lo juga sih ngapain duduk berdua sama Brian?”


“Mana gue tahu kalau dia mau nembak. Dia bilangnya anggap gue teman doang. Bukannya GR ya gue juga berpikiran yang sama tadi dengan lo.”


“Cowok dingin itu kalau jatuh cinta lucu juga ya,” ucap Elina yang menghayal sembari meneguk es jeruk miliknya yang sudah dibuatkan Luna.


“Terus gue harus bagaimana? Kasih solusi dong!”


“Kak Bhiru main bola di lapangan dulu ya. Bilangin sama Mama.” Anak laki-laki yang melintasi ruang tamu itu membuat kedua gadis yang duduk lesahan di sana menoleh.


“Oke, sebelum magrib harus sudah pulang!” teriak Luna karena sang adik sudah melewati pintu.


“Gue ada solusinya nih.”


Luna kembali serius mendengarkan ide dari gadis berkacamata ini, “Lo ajak jalan saja. Nanti di sana lo bilang, kalau lo mau sahabatan sama dia. Biar dia bisa terbuka sama lo.”


“Nggak langusung nembak balik saja? Itu ‘kan dia sudah jelas mau nembak gue. Kali ini gue pasti diterima dong.”


Elina tertawa terlebih dulu membuat Luna kesal karena gadis itu selalu mengejeknya.


“Ngegas banget lo mainnya. Santai saja. Jaga image sebagai perempuan yang pari purna.”


“Kelamaan,” bantah Luna.


“Lo mau ikutin cara gue apa nggak nih?” Elina bergerak seperti ingin berdiri, “kalau nggak gue pulang.”


Luna dengan cepat menarik tangan sahabatnya, “Jangan ngambekkan dong. Iya-iya gue ikutin cara lo. Terus bagaimana lagi?”


Kemudian Elina menerangkan apa yang harus Luna lakukan saat berjalan dengan dylan weekend ini. Jangan sampai gadis itu malah benaran menembak ulang.

__ADS_1


•••


__ADS_2